Pra Mukhayyam Pramuka SIT SDIT Alam

Dear SDIT Alamania, menjelang berakhirnya semester ganjil 2014/2015 ini kegiatan rutin Mukhayyam akan digelar. Pelaksanaan untuk kali ini selama 3 hari, mulai Kamis, 30 Oktober 2014 hingga Sabtu, 1 November 2014. Memang, pelaksanaan Mukhayyam SDIT Alam mengalami dinamika perubahaan boleh dikata sering. Bukan berarti tidak konsisten. Namun menemukan bentuk baru untuk lebih mendekatkan pada tujuan yang sudah ditentukan. Mukhayyam sebagai bentuk media aplikasi nilai, pemahaman dan ketrampilan yang harus dimiliki anggota Pramuka SIT. Sehingga, meskipun dari formal organisasi yang dahulunya bernama Pandu SIT kini berubah menjadi Pramuka SIT tidak terlalu menjadi masalah. Karena yang tetep dipegang adalah visi, misi dan tujuannya.
Mukhayyam dari pelaksanaan pertama hanya dimulai dari sore berakhir pagi hari berikutnya dengan peserta seluruh siswa baik dari kelas 1 hingga kelas 6. Kemudian durasi waktunya bertambah menjadi 24 jam. Mulai pagi hingga pagi hari berikutnya. Dinamika berjalan dari kepesertaan dengan melihat evaluasi untuk siswa kelas 1 dan 2 yang masih agak berat untuk berkemah 24 jam, jadinya peserta kelas 1 dan 2 mulai dari sore hingga pagi hari berikutnya. Perubahan terjadi lagi merujuk dengan konsep Pramuka setelah menginduk ke Pramuka SIT, yaitu untuk kelas 1 hingga 3 cukup dengan kegiatan Pesta Siaga tanpa berkemah. Nah, konsep terbaru, mukhayyam ditambah durasi waktunya dari 24 jam menjadi lebih dari 72 jam. Dengan tujuan aplikasi nilai, pemahaman dan ketrampilan butuh waktu lebih dari 24 jam untuk kematangannya.
Nah, karena waktunya butuh 3 hari maka peserta juga harus menjalani acara persiapan. Atawa Pra mukhayyam. Apa sajakah yang dilakukan peserta di acara PraMukhayyam itu ? Mari kita simak.
Acara PraMukhayyam dilaksanakan selama 3 hari. Hari pertama, semua peserta yang dikelompokkan menjadi 20 kelompok melakukan kegiatan musyawarah pembagian tugas dan perencanaan. Kelompok-kelompok di Mukhayyam kali ini menggunakan nama pahlawan nasional. Kelompok 1 Kyai Mojo, Kelompok 2 Panglima Polim, Kelompok 3 Teuku Umar, Kelompok 4 Ki Hajar Dewantara, Kelompok 5 Fatahillah, Kelompok 6 Pangeran Antasari, Kelompok 7 Sisingamangaraja, Kelompok 8 KH Hasyim Asy’ari, Kelompok 9 Pangeran Diponegoro, Kelompok 10 Sultan Hasanuddin, Kelompok 11 Sultan Agung, Kelompok 12 Tuanku Imam Bonjol, Kelompok 13 Moh Yamin, Kelompok 14 Cut Nya’ Dien, Kelompok 15 Cut Meutia, Kelompok 16 Nyai Ahmad Dahlan, Kelompok 17 R Dewi Sartika, Kelompok 18 Laksamana Malahayati, Kelompok 19 RA Kartini dan
Kelompok 20 Nyi Ageng Serang.
Di hari kedua, semua peserta mengikuti kegiatan praktek mendirikan tenda. Sesi pertama menyimak dari pembina ust. Alim Sutopo. Sesi berikutnya peserta tiap kelompok praktek untuk lebih mantap.
Perwakilan anggota tiap kelompok lainnya mengikuti sesi demo masak oleh pembina usth. Yuni. Menu pokok yang dipraktekkan adalah menanak nasi, sayur kangkung dan lauk tempe goreng. Pembina menyampaikan kiat supaya masakan bener-bener enak dinikmati sewaktu mukhayyam.
Hari terakhir, ketiga, semua kelompok melakukan praktek masak sesuai dengan menu pokok yang sudah didemokan hari sebelumnya. Sehingga akan diketahui kesiapan tiap kelompok dalam memenuhi kebutuhan menu makannya mengingat Mukhayyam akan berlangsung selama 3 hari.
Meski PraMukhayyam hanya berlangsung 3 hari sebisa mungkin menambah kesiapan peserta Mukhayyam. Yang lebih penting persiapan peralatan lebih mudah terpantau. H-1 perlengkapan peserta yang cukup berat disarankan untuk dibawa ke sekolah dahulu untuk dipack per kelompok. Selamat bermukhayyam ya Pramuka SIT !!!

Kunjungan Mahasiswa Internasional UNY

Dear SDITAlamania, Jum’at, 24 Oktober 2014, beberapa orang mahasiswa Internasional Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) berkunjung ke SDIT Alam. Semuanya ada 6 orang, 1 orang dari Australia, 1 orang dari Burundi dan 2 orang dari Thailand. Kunjungan mereka dalam rangka melihat pendidikan di sekolah-sekolah di Indonesia. Nah di Jogja yang kena pilih SDIT Alam.
foto:joanlucky
Begitu datang setelah ngobrol dikit dengan kepala sekolah tentang keunikan SDIT Alam, mereka tidak sabar untuk melihat langsung ke kelas-kelas. Anak-anak juga tertarik dikunjungi tamu dari luar negeri. Meisha, meski berasal dari Australia namun cukup bisa bercakap dengan bahasa Indonesia. Sehingga anak-anak tambah tertarik. Meisha seneng sekali ngajar. Melihat SDIT Alam ia suka sekali, lain dari sekolah yang lain. Di Australia ia pernah melihat sekolah seperti ini. Ada berkebun, beternak. Bahkan di sini Meisha mengajarkan nyanyian dengan tangan yang diletakkan di atas meja.
foto:joanlucky
Dari dari Meisha. Dominic yang bereasal dari Burundi ini sangat ramah. Suka berkenalan dengan anak-anak. Anak-anak agak asingmendengar negara Burundi. Di benua apa ya, kayaknya Afrika. Dominic juga bisa berbahasa Indonesia, tapi sedikit. Ia suka menyanyi dan mengajarkan satu buah lagu ke anak-anak.
foto:joanlucky
Nah yang ini namanya Abdussalam, dari Thailand. Meski Thailand tapi lancar berbahasa melayu, karena termasuk suku Pattani. Muslim Thailand. Abdussalam sangat antusias melihat lingkungan SDIT Alam. Kalo yang lain berinteraksi dengan anak, nah dia justru jalan-jalan melihat keliling SDIT Alam. Saking tertariknya, ia mau ke SDIT Alam lagi untuk datang main.
foto:joanlucky
Temennya Abdussalam yang sama-sama dari Thailand bernama Ye. Iya Ye gitu aja waktu kenalan. Nama panjangnya sih kurang tahu. Mungkin nama Thailand banget kali ya. Si Ye ini juga lancar bahasa melayu, jadinya bisa langsung cakap dengan guru dan siswa SDIT Alam.
foto:joanlucky
Hampir 2 jam mereka melihat dan bercengkrama dengan anak-anak. Karena waktu sudah siang akhirnya harus berpisah. Beberapa anak berinisiatif meminta Pin BB. Untuk menyambung komunikasi lagi. Beberapa mahasiswa malah mau datang lagi ke SDIT Alam. Moga pertemuan ini menjadi bahan untuk saling menginspirasi.

Qurban 1435 : Belajar Berkehidupan

SDITAlamania, event tahunan Qurban di kali ini dilaksanakan pada hari Selasa, 7 Oktober 2014. Meski di beberapa tempat banyak qurbannya bisa menghadirkan sapi, untuk kali ini di SDIT Alam semua hewan qurbannya adalah kambing. Totalnya ada 24 kambing yang akan disalurkan melalui panitia di SDIT Alam Nurul Islam. Memang 7 kambing dibandingkan dengan 1 sapi banyak perbedaannya. Mulai dari beratnya, satu kambing paling gemuk dagingnya saja maksimal 15an kilo. Sedangkan Sapi bisa mencapai 100kilo. Untuk menguliti saja satu Sapi cukup dilakukan sekali, nah 7 kambing ya harus 7 kali. Pantes saja banyak yang qurban kali ini lebih suka ke Sapi.
Seperti biasa, untuk pelaksanaan qurban dilakukan oleh semua civitas SDIT Alam, siswa, guru dan karyawan. Semua dikelompokkan ke beberapa grup kerja. Ada grup Pengulitan, grup, Pencucian Jerohan, grup Pemotongan Daging, Tulang dan Jerohan, grup Pengemasan dan terakhir grup Distribusi. Tapi khusus untuk siswa kelas bawah, kelas 1 hingga 3 ada acara khusus bagi mereka dan tidak dilibatkan langsung di kerja.
 Masing-masing grup sudah jelas kerjanya, tapi untuk yang dapat bagian kerja terkahir, distribusi, bisa sementara membantu grup yang kerja di awal. Masing-masing anggota memastikan temannya menjalankan tugas dengan baik. Selain bertugas, mereka juga bersamaan belajar dengan anatomi hewan qurban.
Belajar bentuk tulang untuk setiap bagian. Kepala, kaki, perut, punggung. Organ pencernaan, organ peredaran darah, dan lain-lain. Meski ada perasaan agak jijik karena bau dan ujud isi organ pencernaan, tapi mereka semangat mencari tahu.
Paling terkahir, grup distribusi selain belajar bagaimana mengorganisir, mengenal penduduk yang dituju untuk paket qurban, mereka juga belajar sosialisasi langsung ke masyarakat. Mereka akan tahu benar bagaimana kondisi tempat tinggal masyarakat dibandingkan dengan rumahnya. Pengalaman diberi ucapan terima kasih dan kegembiraan atas pemberian. Secara umum nilai sosial akan ikut serta dirasakan oleh siswa.

Parenting School I : Membentuk Disiplin Anak dengan Bijak

Dear SDITAlamania, Alhamdulillah forum Parenting School SDIT Alam Nurul Islam kembali lagi digelar Jum’at, 3 Oktober 2014. Setelah beberapa saat vakum, Parenting School perdana ini mengangkat topik terkait dengan pembentukan disiplin pada anak. Hadir sebagai nara sumber adalah Bapak Arif Rahman Hakim. Seorang yang konsern bergerak di parenting, seorang yang mantan anggota dewan DIY sekaligus seorang ayah dengan orang anak.

Disiplin merupakan nilai yang sangat penting untuk dibentuk di diri anak. Apalagi negeri kita termasuk yang masyarakatnya masih kurang dalam sikap disiplin. Buktinya, bisa kita lihat dalam perilaku berkendaraan di jalan raya. Kita masih menemui atau bahkan diri kita yang menjadi pelaku kekurangdisiplin dalam berkendara. Namun menanamkan disiplin harus dengan cara atau metode yang tepat. Kesalahan dalam menanamkan kedisplinan justru malah berakibat muncul ketakutan dan trauma pada anak.

Ada tujuh kesalahan orang tua dalam mengajarkan disiplin pada anak, sehingga bukan disiplin yang didapat pada anak. Tapi malah efek negatif lain yang muncul.

Pertama, Orang tua yang Lepas Kontrol.
Kondisi anak yang sedang penuh dengan masa ingin tahu dan penuh ekplorasi menempatkan sebagian besar aktivitas anak itu diposisikan sebagai permainan. Bisa jadi dia akan melakukan hal-hal yang akan memancing kejengkelan dn kemarahan orang tua. Atau mana yang boleh dilakukan dan mana yang harus dihindari sepertinya sudah dipahami anak, namun tetap saja selalu dilanggar. Ditambah kondisi orang tua yang sudah lelah dan capek habis bekerja, menambah mudahnya faktor kemarahan itu muncul ke anak. Jangan sampai orang tua lepas kontrol dengan melakukan tindakan fisik kepada anak. Bisa jadi bukan pesan larangan yang dipahami anak tapi justru cara marah dengan fisik yang akan pahami bahkan ditiru anak. Cepatlah minta maaf mana kala orang tua lepas kontrol dan marah kepada anak.

Kedua, Melarang dengan Kalimat Negatif
Melarang dengan kalimat negatif terkadang justru seakan malah menyuruh untuk melakukan yang kita larang itu kepada anak. Misalkan ‘”Jangan teriak-teriak !” Yang ada di benak anak justru malah “Teriaklah!” Gantilah dengan kalimat yang positif, “Bicaralah pelan !”. Pernah ada diskusi terkait dengan hal ini, bukankah al Qur’an justru menggunakan kata “Laa” untuk Laa ilaha ilallah. Bukankah itu sama dengan Jangan !. Nah untuk perkecualian pada hal-hal yang sangat membahayakan baru boleh digunakan kata “Jangan !”. Mengilahkan pada bukan Allah adalah perkara yang sangat membahayakan maka Qur’an menggunakan kata “Laa”. Yang paling penting lagi adalah keharusan untuk menjelaskan kenapa anak tidak boleh melakukan larangan yang disampaikan. Karena keseringan melarang tanpa penjelasan akan membuat anak ragu dan takut untuk mencoba hal-hal yang baru.

Ketiga, Tidak Taati Aturan
Aturan yang sering dilanggar akan mengakibatkan tidak bergunanya lagi aturan itu sendiri. Begitu juga dengan orang tua yang membuat banyak aturan ke anak, tapi justru orang tua sendiri yang pertama melanggarnya. Anak akan langsung berkesimpulan bahwa melanggar itu boleh. Buatlah aturan bersama dengan anak dan berusahalah untuk selalu konsisten. Konsekuensi yang didapat bagi yang melanggar harus dikenakan dengan tegas.    

Keempat, Memberi Imbalan
Pemberian iming-iming supaya anak melakukan sesuatu yang kita inginkan bukanlah cara yang tepat. Justru hal tersebut kurang baik dalam menumbuhkan sikap sosial anak. Anak akan menjadi ‘materialis’ untuk melakukan sesuatu. Lebih bijak jika imbalan itu diganti dengan penghargaan. Hargailah setiap prestasi yang ditunjukkan anak. Misalnya mampu mandiri memakai pakaian sendiri. Berilah ungkapan yang menunjukkan penghargaan dengan ucapan terima kasih atau pelukan. Jika memang mau memberi sesuatu kepada anak, berilah anak tanpa dikaitkan karena iming-iming. Bisa jadi iming-iming yang disampaikan kepada anak saat waktunya harus diberikan kebetulan kita lupa atau ada kendala untuk memberikan, justru anak akan memahami jika kita tidak menepati janji.

Kelima, Disiplin tapi Tidak Konsisten
Tetapkan batas dan toleransi terhadap perilaku anak. Jika memang kesepakatannya tidak boleh ya tegas tidak boleh tanpa ada negosiasi. Yang tahu kondisi anak adalah kita, kapan anak itu memang dalam kondisi payah, kapan sedang berpura-pura payah. Setiap prestasi harus ada konsekuensi penghargaan, begitu juga pelanggaran ada hukuman. Tapi yang harus diingat, bahwa hukuman itu hakekatnya adalah adanya target anak tahu bahwa dia salah. Dan siap menerima konsekuensi. Bukan hukuman tanpa unsur pendidikan.

Keenam, Terlalu Banyak Harap
Jangan terlalu stress atas usaha kita untuk mendisiplinkan anak. Boleh jadi dia bertindak disiplin sesuai aturan, tapi lebih banyak melanggarnya. Kita harus pahami anak kita merupakan pribadi yang baru tumbuh sehingga banyak dinamika yang muncul. Berilah porsi kelembutan yang banyak supaya anak bisa berbuat baik. Jangan selalu menggunakan pendekatan kekerasan. Perkaya dengan bermacam emosi sehingga pribadinya menjadi mantap.

Ketujuh, Metode Disiplin yang Tidak Cocok
Setiap anak punya karakter dna sifat tertentu. Sehingga butuh cara yang tepat dalam menanamkan displin. Ada anak yang sekali disampaikan langsung jalan, tapi ada juga yang harus berulang. Pak Arif Rahman punya 8 orang anak yang masing-masingnya punya cara tersendiri dalam menanamkan displin.

Lawatan dari MMEA (Malaysian Muamalah Educators Association)

Dear SDITAlamania, sungguh menjadi suatau kebahagiaan untuk dapat disilaturahiimi oleh para pegiat dan pemerhati pendidikan dari negeri Malaysia yang tergabung dalam MMEA (Malaysian Muamalah Educators Association), atawa Pertubuhan Pendidik Muamalah Malaysia (Senin, 22 September 2014). Rombongan terdiri dari beberapa orang yang mempunyai latar belakang bermacam. Dari dosen, guru, dokter bahkan dari kementrian pendidikan Malaysia. MMEA adalah organisasi yang bertujuan untuk memfasilitasi adanya jurang kesenjangan masyarakat kepada para ahli dan kalangan yang menjadi ahli di bidang pendidikan. Supaya inovasi dan perkembangan pendidikan bisa berjalan sinergi antara elit dan masyarakat.

 Rombongan melakukan kunjungan di beberapa tempat, terkhusus di daerah Yogyakarta dan sekitarnya. Diantaranya kantor pengurus wilayah Nahdlatul Ulama (NU), kantor pusat Muhammadiyah, pondok pesantren Assalam Solo, Universitas Islam Indonesia dan termasuk SDIT Alam Nurul Islam.

 Di SDIT Alam Nurul Islam, rombongan tertarik terhadap bentuk konsep kurikulum yang mampu menggabungkan antara kurikulum pendidikan Nasional yang diintergrasikan dengan nilai-nilai Islam. Disamping itu juga tertarik dengan kurikulum pengembangan pribadi melalui program outbound, beternak, berkebun dan berjualan.

 Belum ada di Malaysia yang menerapkan konsep pendidikan yang seperti ini. Apalagi keunikan bangunan kelas yang semi terbuka, lesehan tanpa kursi yang akan membuat pembelajaran siswa menjadi lebih fresh dan memancing kreasi.

 Di Malaysia memang ada sebuah fenomena baru setelah tahun 2010an bahwa banyak orang tua yang lebih mementingkan pendidikan agama dibanding dengan akademik. Apalagi tingkat sekolah dasar yang merupakan pembentuk pondasi karakter anak harus banyak muatan pembentukan karakternya. Sehingga sekolah-sekolah yang berbasis agama banyak dilirik oleh para orang tua.

Terima kasih atas silaturrahiim dan tukar informasi pendidikannya. Semoga kami bisa membalas silaturrahiim ini untuk bisa bergantian berkunjung ke Malaysia.

Outing Kelas 5 : From The Waste to The Grace

Dear SDIT Alamania, bulan ini waktunya outing perdana di tahun ajaran 2014. Meski sudah menjalankan kurikulum 2013 dengan masa adaptasinya, program outing tetep berjalan. Outing kelas 5 kali ini (Kamis, 18/09/2014) adalah kegiatan untuk memperdalam pembelajaran untuk tema Benda-benda di Lingkungan Sekitar Kita. Dipilihlah balai Instalasi Pengolahan Air Limbah [IPAL], kemudian tambang batu di Bokoharjo dan menyaksikan pentas Sendratari Ramayana di teater terbuka candi Prambanan. Outing kali ini berangkat siang hari jam 13.00 dikarenakan obyek terakhir adalah Sendratari Ramayana yang mulainya jam 19.30. Berakhir jam 21.30.

Di IPAL anak-anak langsung meninjau instalasi pengolah limbah. Limbah yang diolah disini mayoritas adalah limbah rumah tangga. Sebelum dilepas ke saluran perairan keluar, limbah-limbah tersebut harus dipastikan aman agar tidak membahayakan kehidupan.

Siswa dipandu melihat dan memahami cara kerja setiap instalasi oleh petugas IPAL. Meski bau menyengat, namun penasaran mereka penuh untuk memahami proses limbah diolah.

Saking luasnya lahan pengolahan air limbah ini, semua siswa jadi jalan-jalan deh di teriknya matahari siang. Mereka berjalan mengitari kolam pengolahan limbah yang dalamnya hingga 5 meter. DI tengah-tengah kolam terdapat alat pemutar yang disebut aerator berfungsi untuk mengolah limbah menggunakan bakteri. Ada 4 kolam yang masing-masing berhubungan dan merupakan tahap pengolahan limbah.

Nah, bagian ini yang luar biasa. Luar biasa baunya. Disini merupakan bak yang dipenuhi pasir. Tujuannya untuk pengeringan limbah yang dibawa oleh tanki-tanki yang berasal dari rumah tangga. Bagi yang gak kuat jangat mendekat. Nanti malah muntah deh cium baunya.

Setelah sholat ‘Ashar berjama’ah, perjalanan berlanjut ke lokasi tambang batu di daerah Sambirejo Prambanan Sleman. Tepatnya di jalur menuju candi Ijo. Di sekitar situ memang ada beberapa situs candi. Diantaranya, sebelum naik ada candi Banyunibo, candi Barong dan di puncak ada Candi Ijo.  Di lokasi ini, anak-anak akan bereksplorasi dengan aktivitas tambang batu. Bagaimana sebuah bukit batu dipotong-potong untuk kemudian diangkut dengan truk-truk.

Butuh keahlian khusus untuk membelah bebatuan ini. Mereka menggunakan baji, sejenis batangan logam yang pendek namun tajam dan gepeng di depannya. Batu-batu itu dipotong berbentuk kotak. Rata-rata satu kotak dihargai sebesar Rp. 50.000.

Yang gak kalah serunya adalah melihat sunset dari atas bukit. Lokasi tambang ini lumayan tinggi di ketinggian 400 mdpl. Sehingga jika cuaca tidak ada kabut, di arah barat akan terlihat bandara Adisucipto. Sehingga pesawat yang mau take off maupun landing bisa teramati dari kejauhan.

Selain itu bisa aja sama berpose seperti wall climbing atau nempel di tebing.

Setelah sholat maghrib, santap malam bareng-bareng di dalam kompleks teater terbuka Ramayana. Sete;ah sholat ‘Isya anak-anak siap untuk masuk ke teater terbuka karena jam 19.30 pertunjukan akan dimulai.

 

Sebelum masuk tempat duduk, berpose dulu dengan latar belakang candi Prambanan. Untuk masuk ke dalam teater disediakan beberapa jenis tiket sesuai dengan tempat duduknya. Untuk pelajar bisa mendapatkan harga pelajar sebesar  Rp. 30.000. Bisa berkesempatan duduk di tribun sebelah selatan.

Adapun Alur Sendratari Ramayana adalah sebagai berikut :

Perkenalan

Prabu Janaka, raja Kerajaan Mantili mempunyai putri yang sangat cantik bernama Dewi Shinta. Kompetisi diadakan untuk menetukan siapa yang pantas untuk menjadi suami Dewi Shinta. Pangeran Kerajaan Ayodya bernama Raden Rama Wijaya akhirnya yang menjadi pemenang.

Prabu Rahwana, raja Alengkadiraja sangat ingin menikahi Dewi Widowati. Setelah bertemu Shinta, dia berpikir jika Dewi Shinta itu adalah inkarnasi dari Dewi Widowati yang sudah diharapkan sejak lama.

Hutan Dandaka

Rama Wijaya, pangeran kerajaan Ayodya bersama Dewi Shinta yang ditemani adiknya Lesmana berpetualang hingga sampai di hutan Dandaka. Bertemu Shinta di tempat tersebut, Rahwana menjadi ingin sekali untuk memilikinya. Untuk mewujudkannya, Rahwana memerintahkan salah satu pengikutnya bernama Marica untuk berubah wujud menjadi Kijang emas yang bernama Kijang Kencana untuk menarik perhatian Shinta. Karena tertarik kecantikan kijang tersebut, Shinta meminta Rama untuk menangkapnya. Rama meninggalkan Shinta untuk memburunya.

Setelah menunggu lama, Shinta menjadi khawatir karena Rama tidak juga kembali. Dia meminta Lesmana untuk mencari Rama. Sebelum meninggalkan Shinta sendirian, Lesmana membuat lingkaran ajaib di atas tanah untuk melindunginya dari bahaya.

Segera setelah Rahwana tahu bahwa Shinta sendirian, Rahwana berusaha menculik Shinta namun gagal karena lingkaran ajaib itu. Lalu dia berubah menjadi seorang pengemis tua. Segera setelah Shinta seluar dari lingkaran ajaib untuk memberikan bantuan kepada pengemis tua, Rahwana memegang tangan Shinta dan terbang bersamanya menuju kerajaan Alengka.

Mengejar Kijang

Rama memanah kijang dengan panah ajaib, tapi kijang itu berubah wujud menjadi raksasa (Marica). Perang terjadi antara Rama dan Marica. Rama memanah Marica. Akhirnya Lesmana datang dan meminta Rama untuk kembali ke tempat Shinta.

 Penculikan Shinta

Dalam perjalanan menuju Alengka, Rahwana bertemu burung bernama Jatayu. Setelah memperingatkan jika Shinta itu adalah putrinya Prabu Janaka, Jatayu menyerang Rahwana untuk membebaskannya tapi dikalahkan oleh Rahwana

Setelah menemukan jika Shinta tidak di tempatnya semula. Rama dan Lesmana mencari Shinta. Kemudian mereka menemukan Jatayu yang terluka parah. Rama semula berpikir Jatayu yang menculik Shinta. Rama mau membunuh Jatayu tapi Lesmana mencegahnya, Jatayu menjelaskan apa yang terjadi padanya dan kemudian mati.

Selanjutnya, kera putih bernama Hanoman datang. Dia diminta pamannya Sugriwa untuk mencari dua pendekar yang bisa membunuh Subali. Subali adalah pendeta yang memperistri Dewi Tara, kekasih Sugriwa dengan paksa. Rama memutuskan untuk membantu Sugriwa.

Gua Kiskendo

Ketika Subali, Dewi Tara dan anaknya berbincang. Sugriwa datang. Dengan bantuan Rama, Sugriwa menyerangnya. Subali dikalahkan Sugriwa dan membawa kembali Dewi Tara. Sugriwa memutuskan membantu Rama untuk mencari Shinta. Untuk tujuan tersebut, Hanoman dikirim ke kerajaan Alengka.

Taman Argasoka

Keponakan Rahwana, Trijata merawat Shinta di taman. Rahwana datang dan meminta Shinta untuk bersedia menjadi istrinya. Shinta menolaknya. Hal itu membuat Rahwana marah dan mau membunuhnya tapi Trijata mencegahnya dan menasehatinya untuk sabar dan Trijata berjanji untuk merawat Shinta. Ketika Shinta sangat sedih, tiba-tiba ia mendengar sebuah nyanyian merdu yang dinyanyikan oleh Hanoman, Si Kera putih. Hanoman menyampaikan tujuannya adalah untuk menyelamatkan Shinta dan tugas itu yang memerintahkan adalah Rama. Segera setelah penjelasan itu, Hanoman mulai mencari semua kekuatan pasukan kerajaan Alengka. Lalu ia hancurkan taman itu. Indrajid, anaknya Rahwana, menangkap Hanoman, Kumbakarna mencoba mencegahnya, tapi ia terlempar keluar. Hanoman dihukum dengan dibakar hidup-hidup. Hanoman dengan api ditubuhnya membakar kerajaan Alengka.

Jembatan Rama

Setelah memerintahkan Hanoman, Rama dan pasukan keranya pergi ke laut dan membuat jembatan menuju Alengka. Ketika jembatan selesai, Hanoman datang dan melaporkan tentang situasi Alengka dan kekuatan pasukannya. Menerima laporan itu, Rama sangat gembira dan memerintahkan Hanoman, Hanggada, Hanila dan Jembawan untuk memimpin pasukan menyerang Alengka.

Perang Total

Ketika pasukan raksasa Alengka sedang berjaga di perbatasan kerajaan, mereka tiba-tiba diserang oleh pasukan kera. Terjadilah perang besar diantara mereka. Di perang ini Indrajid terbunuh oleh Lesmana. Kumbakarna, saudara termuda Rahwana tewas sebagai pejuang patriot. Setelah kematian Kumbakarna, Rahwana akhirnya menjadi komandan pasukan Alengka untuk menghadapi Rama. Di perang ini, Rahwana terbunuh oleh panah Rama dan Hanoman menjatuhkan gunung Sumawana ke atas Rahwana.

Pertemuan Rama dan Shinta

Setelah kematian Rahwana, Shinta ditemani Hanoman bertemu Rama. Rama menolak Shinta karena menganggap Shinta tidak suci lagi. Untuk membuktikan kesuciannya, Shinta membakar diri. Dengan bantuan dewa Api, Shinta terselamatkan dari api. Pembuktiannya membuat Rama bahagia dan akhirnya menerima Shinta

Nah di akhir pertunjukan, para penonton diperkenankan foto bareng dengan para pemain. Tinggal pilih deh mau foto sama siapa.

 Ni sama pasukan kera

 Sama Hanuman si kera putih

Kalo ini si Rahwana

MTQ Gamping 2014 : SDIT Alam Panen 6 Kejuaraan

SDITAlamania, Even MTQ tingkat SD tahun ini sudah mulai dilaksanakan. Dimulai dari tingkat kecamatan, kemudian kabupaten dan propinsi. Di kecamatan Gamping, MTQ dimulai hari ini. Kamis, 11 September 2014 bertempat di SD Negeri Gamol.
   Peserta yang berasal dari 39 sekolah siap untuk berkompetisi di 8 cabang perlombaan. MTQ, MTtQ, MHQ, Lukis Islami, Puitisasi Qur’an, Pidato, Adzan dan CCA. MTQ dibuka secara resmi oleh Bapak Camat Gamping, Drs. Budiharjo.
 Pada ajang MTQ kali ini, SDIT Alam bertekad untuk mempertahankan juara umum yang berhasil diraih di MTQ tahun 2013 lalu. Sehingga, peserta yang mengikuti dipilih benar. Dari mulai penjaringan, akhirnya berhasillah terpilih peserta dengan rata-rata cukup punya pengalaman berkompetisi terutama untuk lomba keagamaan.
Mereka dipersiapkan secara alami. Artinya muncul dari beberapa klub minat dan bakat serta hasil dari saringan melalui lomba-lomba yang diadakan secara internal. Tinggal melengkapi dengan mental ‘petarung’ siap kompetisi. Untuk cabang lomba yang memang membutuhkan teknik khusus, sengaja dipertajam dengan latihan. Sebagai contoh MTQ dan adzan.
Alhamdulillah, setelah siang hari setelah seluruh perlombaan berakhir, tibalah pengumuman kejuaraan. Dari seluruh cabang lomba, SDIT Alam meraih 6 kejuaraan. Dari MHQ putra atas nama mas Yusuf Akbar, MTtQ Putra atas nama Faris Abdurrahman, Pidato Putra atas nama Sofyan, Puitisasi Qur’an Putri atas nama Nisrina Rahadatul Aisy, Adzan atas nama Bimo Prakoso dan CCA atas nama Salma, Refah dan Kinan. Di kejuaraan lain, untuk MTQ putra meraih juara 3 atas nama Nabiel, MTQ putri juara harapan 1 atas nama Vina, MTtQ Putri juara 2 atas nama Alifia dan MHQ Putri juara 2 atas nama Radjani. Sehingga, alhamdulillah trophy juara umum dapat dipertahankan untuk MTQ tahun 2014 ini. Selamat ya untuk para pemenang. Tahun depan siap dipertahankan lagi, Amiin.