Tutup Tema : Mengolah Hasil Ternak Ikan

Pembelajaran tema akan lebih mantap dan kuat lagi pesan yang akan dipahami siswa jika dilakukan berbasis proyek. Sehingga siswa tidak semata sebatas menghafal atau memahami konsep materi pembelajaran saja, tapi lebih jauh lagi ada realisasi bagaimana materi yang terpahami menjadi maujud nyata. Bisa diindrai, bisa dinikmati serta bermanfaat bagi lainnya. Mengangkat tema Makhluk Hidup, siswa kelas 3 mengakhirinya dengan kegiatan pengolahan hasil pemeliharaan ternak ikan Nila. Meski pemeliharaan tidak lama karena targetnya adalah adanya data yang bisa untuk membuktikan proses pertumbuhan yang ditunjukkan makhluk hidup. Indikator yang digunakan adalah berat badan. Pun juga, setiap proses pelaksanaan proyek tidak semulus perencanaannya. Ikan-ikan yang sudah diukur berat badan awalnya ternyata tidak bertahan lama. Mati sebelum tumbuh. Tapi fakta tersebut tidak kemudian menggagalkan segalanya. Masih bisa digali argumentasi kenapa ikan-ikan itu mati. Faktanya lagi, karena mati sudah tentu tidak akan ada penambahan berat badan, tidak ada proses tumbuh. Yang mati digantikan oleh yang hidup. Sehingga, ikan-ikan yang akan diolah di akhir proyek nanti memang bukan hasil dari proses pemeliharaan.
Karena tema harus ditutup maka kegiatan akhir yang harus dilaksanakan. Kegiatannya adalah, semua siswa diwajibkan untuk menangkap ikan dengan tangan kosong. Selanjutnya, ikan tersebut dibersihkan dari sisik, dan organ dalamnya. Lalu dimasak, jenis olahan yang dipilih adalah barbeque alias dibakar. Terakhir hasil olahan akan dinikmati bersama-sama. Semua proses harus dilakukan setiap anak, masing-masing.
Sesi tangkap ikan dilakukan bergiliran untuk setiap kelompok. Kelompok yang tercepat dalam memecahkan persoalan dengan penyelesaian yang membutuhkan hitungan matematika, dialah kelompok yang paling awal untuk menangkap ikan. Ada sebuah fenomena menarik, kelompok yang cepat menyelesaikan hitungan matematika, giliran saat menangkap ikan membutuhkan waktu yang cukup lama. Alasannya bermacam, karena takut, jijik, bingung caranya gimana. Tapi, giliran kelompok yang sangat lama dalam menyelesaikan soal matematika begitumendapat giliran tangkap ikan, kurang dari satu menit ada yang langsung dapat 3 ekor ikan. Besar-besar lagi. Masing-masing anak mempunyai wilayah juaranya sendiri-sendiri.
Setelah dapat tangkapannya, setiap anak diharuskan untuk membersihkan organ dalam ikan, sisik serta bagian-bagian yang tidak enak dimakan. Ada sih yang takut karena ikannya masih gerak-gerak. Ada juga yang jijik karena bau amis dan kotoran yang bau. Tapi semua bertanggung jawab pada tangkapannya. Jika tak dibersihkan tanggung sendiri ikannya kotor atau tidak mendapatkan jatah makan ikan.
Setelah dipastika bersih benar, ikan-ikan di bawa untuk dibakar. Sebelum dibakar, bumbu-bumbu sudah dipersiapkan dahulu. Ikan sebelum dibakar digoreng dahulu setengah matang, supaya saat dibakar nanti tidak ada bagian ikan yang mentah. 
Saatnya makan. Setelah semua ikan matang dibakar, setiap kelompok menyiapkan diri makan siangnya. Tidak pake piring tapi pake daun pisang. Nasi dan lauk diwadahi jadi satu, satu kelompok makan bareng dengan nuansa kali yang bergemericik.
Lahapnya anak-anak makan, ada juga yang nyeletuk “Sebenarnya aku gak suka ikan lho, tapi karena makannya di sini jadi mau makan”. Memang kebersamaan itu indah rasanya.

Outbound Periode Agustus 2016

Bulan Agustus saatnya mengawali program yang termasuk favorit semua siswa, Outbound. Pengelolaan outbound tahun ini ada sedikit perubahan dengan tujuan supaya pelaksanaannya lebih optimal. Perubahan tersebut dimaksudkan untuk mendekati dari bentuk pengelolaan yang ideal. Peran guru kelas tidak lagi mengonsep materi outbound hingga detail pelaksanaannya. Tim guru kelas bertugas untuk menginventarisasi dinamika di kelas yang menyangkut permasalahan personal maupun komunal siswa. Daftar permasalahan disampaikan kepada tim outbound untuk dibuat desain outboundnya. Mulai dari bentuk fun game, dinamika kelompok, low impact hingga high impactnya. Sebelum pelaksanaan, tim outbound bertemu dengan tim guru level untuk melakukan koordinasi terkait dengan teknis skenario hingga nilai-nilai apa yang akan disasar untuk ditindaklanjuti perubahannya pada diri anak setelah pelaksanaan outbound.

Kali ini permasalahan siswa yang diangkat adalah terkait dengan lemahnyasiswa dalam memberikan perhatian pada instruksi. Faktor mendengarkan menjadi kunci utama siswa supaya setiap instruksi bisa dilakukan dengan baik. Halangan lemahnya perhatian tersebut disebabkan banyak hal. Ngobrol antar teman, benda-benda di sekitar terkhusus mainan, suka melamun, atau bisa jadi siswa kurang mengerti dalam mencerna isi instruksi tersebut. Untuk menterapi problem tersebut, permainan Kolam Ranjau menjadi pilihan. Tim membuat track yang diberi halangan di tengah-tengah sepanjang track. Dari 2 ujung track, satu per satu siswa diminta menyusuri tanpa harus mengenai halangan. Untuk berjalan mata mereka ditutup, mereka dipandu secara lisan oleh teman-temannya di luar track. Selama proses permainan, satu per satu bisa kita amati mana siswa yang benar-benar butuh terapi perhatian dan mana yang memang sudah siap dengan setiap instruksi. 

Permainan resiko tinggi / High Impact kali ini adalah Landing Net, atau Jaring Pendarat. Setiap siswa diwajibkan untuk menaiki jaring yang terbuat dari tali hinga mencapai ketinggian tertentu. Setelah mencapai tujuan mereka kemudian terjun dengan pengamanan tali karmantel yang digantung di tubuh mereka dengan pengaman harnes. Tujuan dari permainan ini adalah adanya tantangan personal sehingga setiap siswa ditantang untuk mengendalikan rasa takutnya agar tujuan memanjat tali bisa tercapai. Selain itu kepercayaan diri menjadi kunci keberhasilan permainan ini, keuletan dan kesungguhan menjadi pendorong setiap pemanjat bisa mencapai tujuan. Ketrampilan memanjat yang benar juga diharuskan dikuasai supaya secara praktis pemanjatan mudah dilakukan. Mendahulukan tangan yang menggapai tali sebagai tumpuan kekuatan awal menjadi keharusan yang kemudian disusul dengan pijakan kaki yang mengikuti gerak tangan. Posisi ini memudahkan badan menemukan keseimbangannya. Untuk kelas atas, 4 hingga 6, ketrampilan memasang pengaman harnest secara mandiri kemudian melakukan pengamanan melalui tali atau belay temannya, sehingga nilai tanggung jawab serta respek ikut ditanamkan secara tim.Keseluruhan pengalaman, pengetahuan dan nilai dishare bersama dalam forum Debriefing atau pemaknaan di akhir kegiatan. Di forum ini akan lebih kuat jika dilengkapi dengan dokumentasi gambar atau video. Penggalian pengalaman dan kesan yang dirasakan selama outbound digali untuk menemukan respon peserta dari desain outbound yang dibuat. Dari respon yang sudah tergali tersebut, guru kelas yang berperan sebagai fasilitator melakukan pengikatan makna seluruh aktivitas dikaitkan dengan nilai-nilai yang dituju. Di penghujungnya seluruh peserta diikat dengan komitmen perubahan melalui kebiasaan baru selanjutnya di kelas dan di rumah.

Napak Tilas Perjuangan Kemerdekaan

Untuk memperingati hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-71 ini, siswa kelas 3 mengadakan kegiatan lain daripada yang lain. Kenapa? Karena mereka bukan mengadakan lomba-lomba seperti yang dilaksanakan pada umumnya peringatan kemerdekaan. Tapi, mereka mengadakan kegiatan diberi judul Napak Tilas Perjuangan Kemerdekaan. Apa sih kegiatannya? Kegiatannya berupa melakukan jalan kaki sejauh kurang lebih 3 kilometer. Kegiatan tersebut diadakan pada hari Selasa, 16 Agustus 2016.
Sebelum melakukan perjalanan, siswa dikumpulkan dahulu di halaman untuk mendapatkan penjelasan dari ustadz-ustadzah. Setiap siswa diwajibkan untuk membawa bekalnya sendiri menggunakan tas puggungnya. Setiap barang bawaan menjadi tanggung jawab setiap siswa. Setelah dipastikan semua siswa sehat dan memahami aturan selama perjalanan, maka dengan berbaris satu-satu mereka berangkat menuju tujuan menyusuri medan yang sengaja dipilih lebih alami.
Meski hanya jalan-jalan, kedisiplinan barisan harus menjadi perhatian setiap pasukan. Ditambah lagi manakala perjalanan sudah memasuki jarak yang lumayan jauh. Saat capek sudah mulai muncul, semangat untuk jalan semakin berat, ketangguhan mulai diuji. Suara keluhan mulai bersahutan, wajar karena memang seusia mereka memang banyak yang belum pernah jalan jauh. Tapi tekad sudah bulat, perjalanan terus berlanjut.
Suasana istirahat menjadi saat yang akrab. Masing-masing siswa mengeluarkan bekalnya untuk kemudian saling bertukar atau memberi bagi yang bekalnya kurang. Selain melepas lelah sambil menyantap bekal, sesekali berbincang disertai candaan ternyata cukup mengurangi lelah yang dari tadi membebani perjalanan.
Ingat, perjalanan masih jauh sehingga waktu istirahat harus segera diselesaikan. Segera siswa berkemas merapikan tas punggungnya dan, eits, sampah dari bungkus makanan segera dikemasi. Tanda-tanda kelelahan memang benar-benar melanda terlihat dari bentuk barisan. Dari awal satu per satu sudah mulai menggerombol. Tas punggung tidak lagi ditenteng nempel punggung tapi sudah mulai diangkat-angkat.

Bahagianya suasana hati, raut muka yang kusut berubah menjadi ceria saat rute perjalanan tiba di sungai yang jernih airnya. Pasukan tidak sabar untuk bersegera masuk ke sungai merasakan dinginnya air setelah dterpa terik mentari selama perjalanan. Mereka tak pedulikan pakaian basah tercelup air, justru itu yang diinginkan supaya kesegaran segera merata ke sekujur tubuh.
Tak cukup berbasah-basah, berlanjut setelah tas bekal dipastikan aman disimpan, mereka langsung nyebur berenang di sungai membasahi seluruh tubuh. Air dan anak-anak, rupanya dua hal yang tidak bisa dipisahkan satu dan lainnya.
Tak jauh dari situ, ada tukang tambang pasir yang sedang mengumpulkan pasir kali. Anak-anak segera antusias untuk ikut membantu menggerakkan alat angkut pasir kali yang berupa ban dalam truk yang dipompa sehingga bisa mengambang sedangka di tengah-tengahnya ditempatkan wadah tempat pasir kali diangkut.
Alhamdulillah, sampai di tujuan sudah menjelang Dhuhur sehingga bersegera seluruh siswa untuk bersih dir dan ganti pakaian. Setelah berwudhu mereka menuju ruang kelas untuk melaksanakan sholat Dhuhur berjama’ah. Ruang yang digunakan merupakan ruang kelas baru TKIT Nurul Islam yang sudah kurang lebih 60% jadi dengan target Februari 2017 sudah bisa difungsikan. Area TKIT Nurul Islam yang baru ini menjadi tujuan akhir dari perjalanan panjang siswa kelas 3.
Setelah makan siang, acara dilanjutkan dengan menonton film Jendral Sudirman karya siswa kelas 3 juga pada tahun 2009 dahulu. Di film tersebut anak-anak bersama memaknai kegiatan perjalanan panjang yang barusan dilakukan. Hampir semua siswa merasakan lelah dan letih. Dan itu adalah normal. Justru yang tidak normal jika tidak merasakan letih dengan perjalanan panjang tersebut. Tapi, jendral Sudirman juga melakukan perjalanan panjang, bahkan lebih panjang. Dari Jogja, Gunung Kidul, Wonogiri hingga Pacitan Jawa Timur. Itu bisa dilakukan dan merupakan bagian dari perjuangan melawan penjajah. Bahkan dalam kondisi Jendral Sudirman sakit paru-paru yang parah tapi tetap memimpin pasukan. Ternyata, sama-sama lelah yang membedakan adalah adanya semangat pantang menyerah. Dengan semangat pantang menyerah tersebut apapun keinginan dan tujuan meskipun halangan merintang akan ditembus juga.

Peringatan Kemerdekaan RI Ke-71

Untuk menyambut hari ulang tahun Republik Indonesia yang ke-71, semua kelas di SDIT Alam Nurul Islam mengangkat tema pembelajaran bersama yaitu kemerdekaan. Hari Selasa, 16 Agustus 2016 dipilih sebagai hari peringatan bersama kemerdekaan Republik Indonesia. Setiap kelas dipersilahkan membuat aktivitas sendiri-sendiri sesuai dengan semangat dan kesukaannya. Bagian yang tak ketinggalan adalah kegiatan menghias kelas dengan berbagai asesoris bernuansa merah putih untuk mensuasanakan peringatan kemerdekaan RI.

 Selain dekorasi ruangan, dilengkapi pula dengan kostum bermotif merah putih. Seperti kelas satu ini, mereka tidak mau ketinggalan untuk bersama merayakan ulang tahun kemerdekaan kali ini yang diekspresikan melalui kostum pakaian yang dilengkapi asesoris merah putih. Kelengkapan senjata dari bambu turut disandang untuk mencirikan bahwa mereka meniru para pejuang kemerdekaan.

Tidak cukup di sekolah para siswa berkostum pejuang, karena mereka akan jalan berparade mengelilingi lingkungan sekitar sekolah untuk menyampaikan pesan gembira merayakan kemerdekaan Indonesia tercinta yang ke-71.

Tak kalah seru dengan parade, lomba-lomba khas peringatan kemerdekaan turut melengkapi kegiatan anak-anak. Seperti ambil koin dari buah melon ini menjadi lomba yang seru. Dengan pantang menyerah mereka mengeluarkan koin-koin di tubuh melon seperti pantang menyerahnya para pejuang mengeluarkan para penjajah dari bumi Indonesia ini.

Lomba tarik tambang juga menjadi aktivitas menarik untuk digunakan sebagai wahana ikut merasakan usaha kerasnya para pejuang dalam mengusir penjajah dari bumi pertiwi. Sehingga bukan semata gembira berseru-seruan namun yang lebih penting adalah pesan untuk mensyukuri nikmat kemerdekaan yang tentu tidak bisa kita rasakan saat ini betapa beratnya perjuangan dalam merebutnya.

Rangkaian kegiatan peringatan kemerdekaan RI ke-71 ditutup dengan kegiatan upacara pengibaran bendera Merah-Putih tanggal 17 Agustus 2016. Seluruh siswa dan guru hadir untuk melaksanakan kegiatan upacara bendera yang dipimpin langsung oleh kepala sekolah, ustadzah Sunarsih.

Dalam amanatnya pembina upacara menyampaikan pentingnya kita untuk mensyukuri atas kemerdekaan yang sudah diberikan Allah pada negeri kita. Karena masih banyak negeri, terutama negeri Islam yang masih dalam kungkungan penjajahan. Tentu sangat beda suasana negeri merdeka dan negeri terjajah. Dalam kondisi merdeka kita bisa melakukan aktivitas apapun dengan aman. Sedangkan dalam kondisi terjajah perasaan was-was dan takut akan selalu menyertai dimanapun aktivitas kita. Semoga dengan usia yang ke-71 ini negeri kita segera dibebaskan dari permasalahan dan Allah berkenan menurunkan kemakmuran dan keberkahan bagi rakyatnya.

Ekplorasi Klasifikasi Tumbuhan

Belajar tentang makhluk hidup tidak akan lepas dengan mempelajari dunia tumbuhan. Untuk lebih mengenal sifat dan karakteristik berbagai macam tumbuhan bisa dimulai dengan melakukan pengelompokan tumbuhan. Pengelompokan bisa dilakukan dengan menemukan kesamaan bentuk yang terdapat pada tumbuhan. Belajar tentang pengelompokan tumbuhan, siswa kelas 3 terjun langsung ke lapangan. Lapangannya tentu bukan lapangan bola ya, tapi ladang dimana letak berbagai tumbuhan bisa didapat.
Semua siswa dikelompokkan menjadi 5 kelompok. Setiap siswa mencari minimal 2 tanaman yang berbeda. Setelah terkumpul setiap kelompok, masing-masing melakukan pengelompokan terhadap tanaman tersebut. Pengelompokan dilakukan dengan dasar kesamaan. Bebas. Bisa atas kesamaan bentuk akar, kesamaan bentuk daun atau yang lainnya.
Setelah dikelompokkan, setiap kelompok diminta menggambarkan bentuk akar dan daun dai setiap tumbuhan yang mereka kelompokkan. Dari berbagai tanaman yang mereka peroleh, ternyata ada 2 jenis bentuk akar yang didapat. Akar berbentuk keriting lembut dan kecil, serta bentuk akar yang besar-besar namun diliputi serabut akar lembut. Bentuk daun pun mereka dapatkan bermacam. Bentuk bulat dan memanjang. Di tengah daun terlihat tulang daun. Bentuk tulang daunnya pun ada yang seperti tulang ikan dan ada yang seperti jari manusia. 
Dengan belajar langsung di alam, anak merasakan langsung bagaimana menjadi seorang Botanist, ahli tanaman yang tahu benar seluk beluk tanaman yang berada di alam ini.

Grand Launching Marketday

Marketday adalah salah satu program yang termasuk daftar favorit di siswa SDIT Alam. Pasalnya, aturan tidak diperbolehkannya jajan membuat rasa rindu yang mendalam di hati anak-anak🙂 Bayangkan, jajan dan anak-anak itu seperti 2 mata uang logam yang tidak pernah dipisahkan. Larangan untuk jajan bukan semata mutlak tidak boleh. Tapi, hasrat jajan masih diberi ruang anak-anak untuk melepas dahaganya. Di marketday-lah rasa kangen jajan itu bisa dipenuhi.
Loh, katanya marketday. Kok malah ada monster gurita dan Wiro Sableng sih. Jangan kaget dulu, ini adalah bagian dari acara pembukaan launching atau pembukaan marketday di tahun ajaran 2016-2017 ini. Sengaja untuk menghibur dan menarik perhatian, pengunjung disuguhi dahulu drama pendek Monster Gurita vs Wiro Sableng. Marketday dibuka pada hari Jum’at, 5 Agustus 2016, dan setiap Jum’at mulai jam 14.00 semua siswa bisa berjajan ria di marketday.
Berbagai dagangan digelar. Memang sih yang paling laku adalah dagangan berupa makanan atau minuman. Es dengan berbagai bentuk menjadi barang yang sangat laku. Para pengunjung diperingatkan supaya menikmati jajannya dengan duduk serta menjaga kebersihan dari sampah bungkus makanan.
Sebagai awalan, yang menjadi penjual adalah ustadz/ah. Sehingga para siswa bisa modelling, mencontoh barang apa yang harus mereka jual nantinya. Ternyata tidak hanya makanan yang laku keras. Ikan hias Cupang juga tidak ketinggalan minat para siswa untuk membelinya. Pilih-pilih warna ikan mana yang paling disuka.
Tidak hanya ikan hias, ada juga stand yang memberikan layanan pijat elektrik. Dengan menggunakan alat pijat elektrik dengan bersumber listrik, cukup dengan Rp. 1000, anak-anak bisa merasakan sensasi pijat elektrik. Ustadz ingin memberikan gambaran bahwa untuk menjadi penjual marketday tidak harus jualan barang. Bisa juga menjual jasa seperti jasa pijat elektrik ini. Harapannya, marketday ini akan menjadi media inspirasi setiap siswa untuk menumbuhkan sense wirausahanya. Memahami apa yang layak dijual dan menjadi minat pembeli hingga kiat bagaimana mendapatkan keuntungan. Bukan sebaliknya, hanya menjadi konsumen semata. 

Teacher Morning Motivation

Guru dan pendidikan adalah pasangan klop dalam membangun suatu bangsa. Kemajuan suatu negara sangat bergantung pada kualitas dan karakter manusia di sebuah negara tersebut. Dan hal tersebut sangat bergantung pada bagaimana bentuk pendidikannya. dan pendidikan sendiri aktor pelaku utamanya adalah guru. Pentingnya peran guru ini sangat tentu harus ditopang dengan penyiapan dan pemeliharaan kualitas guru. Karena guru akan menjalankan peran perubahan anak manusia yang menjadi peserta didik yang akan tidak semata menguasai kemampuan akademik namun lebih penting lagi adalah peserta didik mampu mempunyai kepribadian dari nilai-nilai yang ditransformasikan oleh guru. Sehingga menjadi sosok guru yang selalu berenergi setiap saat mengimbaskan semangat dan motivasi untuk menjadi lebih baik tidak bisa ditawar lagi.
 Dalam proses aktivitasnya, guru memang sudah terpandu dengan segenap perencanaan kurikulum yang sudah dstandarisasi dan dibakukan. Tapi untuk menggerakkan perubahan lebih nyata dan mantap, guru harus selalu disuntikkan motivasi yang akan menyegarkan cita-cita besar membangun peradaban. Tanpa hal ini niscaya aktivitas guru akan hanya menjadi rutinitas mekanis tanpa ruh besar yang mengerakkan dan mengubah menjadi lebih baik.
Sangat tentu pula forum motivasi guru ini bukanlah forum pengajian. Bukanlah forum yang harus ada sebagai bentuk formalitas lembaga. Sehingga pilihan materi harus rutin, singkat tak bertele, tepat mengena,  memberikan energi yang akan bereaksi menjadi semangat sehingga sesederhana apapun dalam aktivitas yang dilakukan guru ditangkap peserta didik penuh ruh dan mengimbaskan semangat untuk menjadi lebih baik.