Merasakan Hamil dengan Beras 2 Kg

Pembelajaran dengan mengalami memberikan makna lebih kaya. Bisa jadi tanpa uraian lisan dan narasi, tapi justru perasaan yang tak terdokumentasi sangat bisa jadi muncul spontan. Sehingga guru tinggal mengajak bersama mendiskusikan makna yang terucap untuk menanamkan kesadaran yang akhirnya melahirkan perilaku hingga kebiasaan dari nilai pembelajaran yang ingin ditanamkan. Mengangkat tema pembelajaran ‘Keluargaku’, setiap siswa kelas 1 ditargetkan untuk lebih mengenal lebih dalam lagi peran setiap anggota keluarga. Mengapa harus ada yang namanya Ayah, Ibu dan Anak. Menyadari peran tersebut dalam keluarga, idealnya siswa akan dengan penuh kesadaran berperan di keluarganya masing-masing dengan memberikan peran terbaiknya. Nah, peran Ibu bisa jadi seru untuk dibahas. Ibu yang bertanggung jawab lahirnya setiap anak dan memastikan pertumbuhan dan perkembangannya dengan baik bahkan terbaik. Ketidakpahaman betapa besar pengorbanan sang Ibu bisa jadi menyumbangkan perilaku tidak hormat, taat dan patuh pada setiap Ibunya. Untuk merasakan betapa beratnya mengandung bayi, diambillah metode, setiap siswa diharuskan menggendong beras seberat 2 kilogram selama sehari penuh di sekolah.
Metode ini pernah dilakukan juga dahulu saat mengangkat tema tentang peran Ibu. Baca juga : 72 Siswa Hamil ?
Aktivitas siswa dalam sehari seperti biasa. Saat bermain, belajar di kelas, sholat, tiduran, semua dilakukan dengan posisi menggendong beras.
Tanpa banyak menjelaskan, guru akan mendapati kesan yang langsung keluar dari lisan anak-anak terkait dengan apa yang sedang mereka jalani. Ada yang tetap ceria, berulang kali repot membenarkan posisi gendongan, diam saja hingga yang menangis karena merasa terlalu berat.
Itu semua menjadi bahan guru untuk mengikat makna yang lebih dalam kepada siswa setelah proses pembelajaran. di benak mereka sudah tergambar beratnya Ibu mengandung. Dengan pemaknaan yang tepat idealnya akan mengubah sikap siswa dengan ibunya.

 

Iklan

Tuan Rumah dan Juara Umum MTQ Kecamatan Gamping 2017

Kegiatan MTQ, Musabaqah Tilawatil Qur’an kali ini menjadi momen yang sangat menggembirakan. Alasannya, baru kali ini SDIT Alam Nurul Islam dipercaya sebagai tuan rumah pelaksanaan kegiatan yang termasuk akbar tingkat kecamatan yang melibatkan 40 sekolah baik negeri maupun swasta dengan 8 cabang perlombaan yang dikompetisikan yaitu MTQ, MTtQ, MHQ, Lukis Islami, Puitisasi Qur’an, Pidato, Adzan dan CCA. Tentu sangat dibutuhkan koordinasi yang rapi untuk melayani sejumlah 800an baik peserta berikut pendampingnya. Mulai dari tempat untuk menampung seluruh peserta saat pembukaan, ruang setiap kategori lomba, konsumsi hingga lahan parkir untuk menampung kendaraan peserta. Layanan yang prima harus diutamakan sehingga kegiatan MTQ tidak semata sukses di mata tapi juga di hati.

Pelaksanaan kegiatan MTQ kali ini sedikit berbeda, pasalnya, ruangan di SDIT Alam Nurul Islam ini setiap harinya proses pembelajaran dilaksanakan secara lesehan. Praktis, dalam kegiatan MTQ kali ini pun para peserta juga menunggu giliran di setiap ruang dengan lesehan beralaskan tikar, kecuali untuk lantai yang terbuat dari kayu.

Para peserta terlihat lebih nyaman dengan lesehan. Ditambah lagi pemberian denah ruangan serta bantuan panitia tuan rumah yang dengan ramah dan tidak segan untuk menunjukkan lokasi lomba saat ada peserta atau pendamping yang kelihatan bingung mencari tempat. Satu lagi yang berbeda. Untuk masuk ke setiap ruang lomba, para peserta dan siapapun yang ingin menyaksikan lomba diharuskan melepas alas kaki dan diletakkan di rak yang sudah disediakan di dekat setiap ruang. Karena memang setiap harinya seluruh ruang di SDIT Alam ini memang bebas alas kaki.

 Lahan yang luas memungkinkan untuk menampung parkir kendaraan para peserta. Sehingga para peserta tidak merasa khawatir terjadinya kemacetan lalu lintas saat masuk maupun keluar lokasi lomba. 

Sebagai pelengkapnya, tuan rumah menyediakan food court yang dilakukan oleh para siswa kelas 6 bukan dari penjual jajan umum. Sehingga kekhawatiran terkait dengan sehat dan halalnya makanan bisa dihindari. Para siswa juga melayani para pembeli dengan ramah dan layanan yang memuaskan, persis seperti pembelajaran marketday yang setiap hari jum’at mereka lakukan. 

Mendengar kepuasan dari para peserta terasa melegakan. Amanah sebagai tuan rumah sudah tertunaikan dedngan baik. Rasa lega tersebut bertambah di saat pengumuman kejuaraan lomba. Setelah seluruh kategori lomba diumumkan, ternyata SDIT Alam Nurul Islam dari hasil akumulasi poin dari lomba yang dimenangi mendapatkan hasil terbanyak. Dengan hal tersebut berarti SDIT Alam Nurul Islam menjadi juara umum MTQ pelajar SD tahun 2017 sekecamatan Gamping kali ini.

  Sudah 2 tahun lamanya piala bergilir juara umum MTQ lepas direbut oleh sekolah lain. Kini piala tersebut apat iraih kembali. Menjadi semangat untuk memunculkan tekad di tahun depan untuk mempertahankan sebagai juara umum. Berikut ini gelar juara umum MTQ yang pernah diraih berturut-turut pada tahun 2013 dan 2014. Selamat bagi para juara an terima kasih kepada para panitia dan pelatih. 

Qurban 1438 H : Seberapa Taatkah Dirimu pada Tuhanmu ?

Sebagai kegiatan tahunan, Qurban selalu dilakukan karena sarat dengan pembelajaran. Semenjak disyariatkan pertama kali oleh nabi Ibrahim ‘Alaihisalam, Qurban setiap tahun dijalankan sebagai bentuk ketaatan kepada Allah Subhanahuwata’ala. Taat bukanlah paksaan, tapi sebuah bentuk sikap tunduk penuh percaya kepada Dzat yang memegang kuasa Jagat Raya. Ada satu proses dialog bagaimana ketaatan nabi Ibrahim ‘Alaihisalam itu disampaikan kepada putranda Ismail ‘Alaihisalam kecil. Sebenarnya perintah apalagi yang berasal dari Allah, suka dan tidak suka harus dilaksanakan. Namun, komunikasi yang disampaikan oleh nabi Ibrahim sangatlah elegan. “Ismail anakku, tadi malam aku bermimpi Allah perintahkan aku untuk menyembelihmu, bagaimana menurutmu?” Nabi Ibrahim menyentuh kemanusiaan Ismail dalam merespon perintah Allah. Tentu momen itu bukanlah tiba-tiba menguji Ismail. Ismail sudah dididik sejak kecil untuk mengamalkan apa itu sebuah ketaatan. Sehingga jawaban “Jika itu perintah Allah, maka lakukanlah Ayahku !” mengalir ringan dengan penuh kepasrahan merespon pesan Ayahanda Ibrahim. Subhanallah.
Tahun ini alhamdulillah SDIT Alam Nurul Islam diamanahi oleh para pengkurban sebanyak 1 ekor sapi dan 12 ekor kambing. Kegiatan qurban dilaksanakan pada hari Senin, 4 September 2017 yang merupakan hari ketiga tasyrik. Kegiatan qurban ini diikuti oleh seluruh siswa, guru dan karyawan SDIT Alam Nurul Islam. Dikarenakan sudah menjadi kegiatan tahunan, dari segi pengelolaannya dilakukan semakin baik. 
  Dari mulai penyembelihan, pengulitan, pengirisan, pembersihan jerohan hingga pembagian kepada masyarakat dikelola penugasannya antara siswa dan guru. Siswa yang ikut serta langsung dalam proses Qurban mulai kelas 4 hingga kelas 6. Mereka dibagi dalam kelompok-kelompok tugas yang dipimpin oleh guru. Sehingga dipastikan semua siswa berperan dalam proses Qurban. 

Sepanjang proses kegiatan siswa belajar tentang bagaimana mengorganisasi kegiatan sehingga kerjasama dan koordinasi antar kelompok berjalan baik. Obyek kambing tak lepas dari perhatian ingin tahunya anak-anak. Mulai dari proses ajal kematian hewan, saat dikuliti, dikeluarkan organ dalamnya, dipisahkan dagingnya, bentuk tulangnya. Rasa takut dan jijik muncul di awal namun perlahan sirna dengan rasa ingin tahu siswa. Menimbang dan membagi dengan adil juga kemampuan yang terasah dalam kegiatan ini. 
Khusus siswa kelas 1 hingga 3, ada kegiatan tersendiri. Mereka belum dilibatkan secara langsung dalam kegiatan Qurban. Acara mewarnai dan menghias hewan Qurban dilengkapi dengan menyimak dongeng dari kak Ranger diharapkan nilai Qurban dapat terinternalisasi dalam hati mereka. 
 Nilai sosial dan empati terasah manakala siswa secara langsung menjalani proses pembagian ke masyarakat. Bagaimana mereka membaca kebahagiaan wajah para warga menerima daging Qurban. Karena ketaatan kepada Allah untuk membahagiakan yang di langit dan juga yang di bumi.

Diskusi Bersama Bang Lendo Novo, Ustadz Nurul Khamdi dan Peserta PPM 6 JSAN

Selasa, 11 Juli 2017 menjadi momen yang membahagiakan, Nurul Islam kehadiran rombongan peserta Pelatiahan Pemimpin Mujtahid (PPM) yang ke-6 atau terakhir dari serial pelatihan yang digelar sejak 1,5 tahun yang lalu. Menjadi sebuah kehormatan lagi di dalam rombongan turut serta bang Lendo Novo dan ustazd Nurul Khamdi ketua pusat Jaringan Sekolah Alam Nusantara (JSAN). Para peserta merupakan leader di level direktur dan yayasan di beberapa sekolah alam se-Indonesia. Kunjungan ke Nurul Islam ini sebagai rangkaian kegiatan seri terakhir PPM yang format kegiatannya dalam bentuk tour. Destinasi tour sengaja dipilih Jogja dengan maksud untuk mengunjungi masjid Jogokaryan dan Bumi Langit di Imogiri. Kedua tempat tersebut dipilih sebagai bentuk belajar langsung dengan maestro yang telah mampu menghadirkan kemanfaatan, rahamatan lil ‘Alamin bagai masyarakat sekitar bahkan sekala lebih luas. Hal tersebut persis dengan apa yang dilakukan oleh gerakan sekolah alam. Sedangkan di Nurul Islam selain silaturrahiim, para peserta bersama bang Lendo dan ustadz Nurul melakukan diskusi untuk mempertajam apa yang sudah didapat selama 6 kali sesi pelatihan ini.

Berikut resume diskusi yang berlangsung di masjid Nurul Islam.

Bang Lendo Novo :
Sekolah Alam adalah bentuk gerakan tarbiyah/dakwah yang dimanifestasikan dlm pendidikan
pilihan pendidikan krn bangsa yg besar pasti menggunakan pendidikn sebagai alat membesarkan bangsanya sebutlah Jerman, bangsa eropa.
Jogokaryan dengan kampungnya melihat masjid sebagai basis gerakan untuk menghadirkan kemanfaatan rahmatan lil ‘alamin kepada masyarakat bahkan level nasional.
Pak Iskandar Waworuntu dengan bumi langitnya bergerak berbasis pertanian parmakultur yang menghadirkan rahmatan lil ‘alamin di masyarakat imogiri
Kenapa bisa sama tujuannya? Menghadirkan kemanfaatan, rahmatan lil ‘alamin. Ya karena yg dibaca sama, yaitu sana-sama Al Quran dan As Sunnah
Kehidupan selanjutnya ini akan menuju ke kehidupan yg alami ramah lingkungan atau bahasa lainnya rahmatan lil alamin. Begitu sekolah alam, harus bertujuan untuk memberikan kemanfaatan luas, rahmatan lil ‘alamin.
Hambatan terbesar dalam proses pendidikan selama ini adalah orang tua karena seharusnya tugas mendidik itu ada di pundak mereka. Karena pilihan sekolah sebagai institusi yang dipercaya mendidik anak-anaknya namun belum sepenuhnya bisa mewujudkan harmoni dalam hal prosesnya.
Ustadz Nurul Khamdi :
Pendidikan itu hakikatnya menciptakan khalifah. Manusia yang berdaya mengampu tugas kekhalifahan. Dan hal tersebut optimal manakala bakat peserta didik bisa dibentuk. Pembentukan bakat tidak cukup hanya mengandaljan peran sekolah semata tapi butuh masyarakat. Karena di dalam masyarakat pasti terdapat maestro di bidang tertentu. Bakpia mestronya di Pathuk, Geplak maestronya di bantul, ukiran maestronya Jepara, gerabah di Kasongan dan seterusnya. Guru sangat tidak bisa diandalkan untuk menghantarkan siswa kepada bakatnya, hanya sebatas mengajarkan teori saja.
Suatu saat bentuk pendidikan yang ideal itu adalah konsep Deschooling Society. Yaitu Sebuah kondisi dimana sekolah beralih fungsi melebur bersama kumpulan masyarakat yang terorganisir untuk menjalankan proses pendidikan anak-anaknya sehingga seluruh kebutuhan terpenuhi hingga tercapai tujuan. Kita lihat Rasul melakukan proses pendidikan para shohabat dulu berbasis komunitas tanpa ada institusi sekolah. Suatu saat peran sekolah nantinya menjadi society management, yang mengelola potensi untuk tujuan pendidikan.
Bang Lendo Novo
Bangsa besar melakukan transformasi rata-rata 25 tahun, sunnahnya 23 tahun. Karena dakwah Rasul 23 tahun sudah bisa melihat hasil pendidikan/tarbiyah semenjak dakwah di Makkah.
Ust Nurul Khamdi
Fenomena disruption yang timbul saat ini perlu dijadikan warning, bisnis sevel yang booming sahamnya melonjak tiba-tiba hilang bangkrut, gejala bubarnya perguruan tinggi dikarenakan dunia digital yang membuka setiap orang mampu mendapatkan kemampuan dan ilmu tanpa harus mengeluarkan biaya tinggi. Bahkan Google sudah melakukan proses penerimaan karyawannya tanpa ijazah tapi pengalaman lapangan.
Kita lihat menteri perikanan dan kelautan itu ibu Susi yang hanya lulus SMP tapi sangat memahami 12 jenis plasmaculture yang itu selevel dengan kemampuan Doktoral.
Kita tahu schooling atau adanya sekolah itu untuk memenuhi kebutuhan industri. Sehingga banyak hal yang harusnya dikuasai dieliminasi dengan standar-standar tertentu. Dahulu para ulama menuntut ilmu langsung ke tiap guru/talaqqi. Setiap guru akan memberikan tanda kelulusan yang diberikan dengan penilaian langsung oleh sang guru dengan bashirah/mata batinnya sehingga wajar jika kemampuan ulama bukan semata pada pengetahuannya tapi juga lifeskillnya.
Bang Lendo Novo
Sebuah gerakan butuh narasi, cerita tentang apa tujuan yang akan dituju. Setiap proses tarbiyah pasti tujuannya adalah khalifatul fil ardh dg muara rahmatan lil alamin.
Gerakan dakwah rasul itu tidak lepas pada proses mencetak pemimpin, sesuai teori gerakan sosial itu butuh 30% dari populasi agar berhasil mencetak pemimpin sehingga mampu mengubah yg 100%.
Gerakan bersama dengan melakukan sinergi dengan pihak-pihak yang juga mempunyai kesamaan narasi sehingga target dan tujuan cepat sampai.
Pengalaman bang Lendo, gerakan Sobat Bumi hanya dengan 5 tahun mampu tanam 100 juta pohon.
Rekor Thailand hanya mampu tanam 12 juta pohon dalamm 10 tahun, Astra, 1,8 juta pohon dalam 10 tahun. Itulah hebatnya gerakan jejaring.
Ust. Nurul Khamdi
Sunnatullohnya magnet. Besi dengan atom tak tertata setelah ditata ada kutub utara selatan akan mampu menarik logam lain.
Ilustrasi, Google bisa dibilang khalifahnya dunia maya, hampir seluruh pelosok kehidupan dalam bantuan google. Google map, youtube, beberapa produk android didrive secara tidak langsung oleh google supaya kompatible dg perkembangan yg dilakukan google. Instagram butuh android bergrafis tinggi dll.
Bang Lendo Novo
Pendidikan no 1 dunia sekarang adalah Singapura. Rahasianya, setelah belajar dari Finlandia, Singapura menambahkn digital education krn kedepan semua orang tidak akan lepas dari digital. Semua orang akan jd native digital.
Universitas Terbuka punya biaya 1/10 perguruan tinggi formal krn digitalisasi.
Penggunaan Digital akan mempercepat proses Deschooling Society, saat masyarakat menyadari kebutuhan dalam mendidik anak-anak lebih cepat dan murah terkoneksi secara digital dengan para maestro di berbagai tempat.
Ust. Nurul Khamdi

Sekarang mau tak mau ekonomi kapitalisme runtuh sendirinya
Blue Bird dari untung 800 milyar turun 300 milyar.
Kompas grup pendapatan iklan turun tinggal 10%nya karena sekarang orang dapat membagi iklannya melalui medsos. Itulah yang disebut ekonomi
berbagi/sharing, dan itu bentuk ekonomi Islami sebenarnya. Gojek, tokopedia, bukalapak, google dan lainnya, mereka memberi informasi untuk mendapatkan transaksi yang lebih masif.
Padahal tanpa digemborkan kehidupan ekonomi suatu saat akan mendekat ke ekonomi berbagi atau Islami. Tergantung kita, mau berperan atau telat hanya mengikuti karena semua sudah berubah.

   

Pelepasan Kelas 6 Angkatan 13 : Tubing Selokan Mataram

Prosesi pelepasan siswa kelas 6 menjadi agenda yang dinantikan baik dari siswa yang akan dilepas maupun para guru. Pasalnya, bentuk kegiatan yang outdoor activity dan tidak formal menjadi alasan kenapa kegiatan pelepasan banyak disukai. Bukan semata tampil dengan bentuk yang lain dan unik saja, kegiatan pelepasan siswa yang akan lulus dibuat. Tapi, tujuan kegiatan tersebut lah yang mengharuskan untuk dilakukan di alam bebas. Tujuan setiap kegiatan pelepasan adalah untuk tersampaikannya pesan kepada siswa yang akan lulus bahwa lulus itu bukanlah tuntasnya proses belajar di kehidupan ini. Perjalanan kehidupan ini masih panjang, kebutuhan bekal dalam menjalani kehidupan ini harus menjadi kesadaran setiap siswa yang lulus untuk kesuksesan kehidupannya. 
Pelepasan kali ini berlokasi di selokan Mataram. Ritual perjalanan di malam hari akan dilakukan sepanjang 15 kilometer dari lokasi sekolah. Untuk mengawali kegiatan, seluruh siswa kelas 6 berkumpul memulai kegiatan di sekolah sore hari. Setelah sholat Maghrib, siswa akan melakukan santap makan malam. Tapi, santap malam kali ini dilakukan dengan cara unik. Anak-anak duduk berhadapan dengan pasangannya. Kemudian mereka saling menyuap makanan di depannya.

 Begitu selesai makan malam kemudian berjama’ah ‘Isya untuk kemudian dilanjut dengan packing perbekalan. Setiap anak diwajibkan untuk membawa bekalnya sendiri, termasuk di dalamnya nack dan minum. Yang terpenting lagi ialah mereka harus membawa satu buah galon air mineral. Galon tersebut akan digunakan sebagai pelampung saat mereka merakit di selokan Mataram.

Peserta dibariskan sesuai dengan kelompoknya. Mereka menyimak pengantar dari wakil kepala sekolah, ust. Mukhtasar. Supaya selama perjalanan nanti tidak merepotkan, setiap barang bawaan dipacking dan dikemas sehingga mudah untuk dibawa. Tidak merepotkan selama peserta berjalan. 
Track yang dilalui bermacam-macam. Terkadang masuk kampung, jalan raya, persawahan dan hutan. Tak terkecuali juga tracking naik ke bukit dan melewati kuburan. Panjang dan berlikunya track tidak menyurutkan langkah para peserta. Beberapa waktu rehat dilakukan untuk menyegarkan badan dari kelelahan.
Meski hari semakin malam, dengan track naik tetap ditapaki dengan penuh semangat. Peserta tidak hanya dari siswa, namun guru dan karyawan. Yang hebat lagi, karyawan catering yang dari segi usia sudah cukup senior namun tidak mematahkan semangat dalam menyusuri track. Setelah sampai puncak bukit, perjalanan tetap berlanjut menuruni bukit. Di ujung kaki bukit setiap peserta diminta untuk berhenti sejenak. Satu per satu kelompok diberi tugas untuk mengambil surat yang terdapat di dalam lokasi kuburan. Satu anak satu surat.

Tidak hanya fisik saja yang dibutuhkan dalam acara pelepasan ini. Mental juga harus dikendalikan dari rasa takut. Meski berkelompok dengan waktu menunjukkan jam 01.30 sudah memberi nuansa menakutkan sendiri di dalam kuburan. Tapi semua peserta berhasil mendapatkan suratnya masing-masing.
Pagi harinya meski dengan istirahat yang singkat, mengawali pagi dengan pemanasan dahulu. Kegiatan awal adalah pembuatan rakit dari galon dan bambu. Setiap kelompok dibrifing dahulu oleh ust. Irman teknis pembuatan rakit. Setiap kelompok harus dipastikan memahami dan mampu membuat rakit. Karena rakit itu yang akan digunakan sebagai kendaraan pulang. Jika rakit tidak kuat bisa jadi akan hancur di tengah selokan. 

Perjalanan selesai dan ditutup dengan pemaknaan dan ucapan secara resmi pelepasan kelas 6 di rumah makan Sego Wiwit

Tarhib Ramadhan 1438 H

Menjelang bulan Ramadhan tiba, kegiatan yang ditunggu-tunggu adalah pawai tarhib Ramadhan. Mengajak orang lain untuk bergembira dan bersiap menyambut Ramadhan. Bergembira untuk menjemput anugrah Allah dengan dilipatgandakannya pahala ibadah. Bergembira menikmati ibadah puasa dengan bukanya. Meramaikan masjid dengan berbagai aktivitas yang meningkatkan iman dan taqwa. 
Tema pawai tarhib kali ini adalah Aku Cinta Al Qur’an. Karena Qur’an turun di waktu Ramadhan sehingga sangat tepat di bulan Ramadhan kecintaan Al Qur’an diserukan supaya sepanajang Ramadhan kegiatan tilawah, tadabur, menghafal Al Qur’an selalu menghiasi. Anak -anak setiap kelas merancang kostumnya sendiri-sendiri sesuai dengan tema tarhib Ramadhan. 
   Kreativitas anak ditantang disini. Bagaimana inti pesan gembira beramadhan yang akan disampaikan kepada audiens sepanjang pawai bisa dipahami dan mensuasanakan bahwa benar memang Ramadhan kan tiba. Tentu supaya audiens melihat, peserta pawai harus sepandai mungkin menarik perhatiannya. Kostum, suara, marchandise harus pelengkap wajib pasukan pawai.
Di awal, sebelum pasukan pawai dilepas, ada fragmen singkat dahulu untuk memperkuat tema yang akan dibawa di pawai kali ini. Fragmen diawali dengan adegan ada 2 orang santri yang membacakan Qur’an surah Al Baqarah ayat 138 – 135 beserta terjamahnya. Tampak khusyuk dan bersuara merdu lantunan tilawah para santri. Para siswa menyimak dan merenungi perintah puasa dari Sang Maha Khalik melalui surat cintaNya, Al Qur’anul Karim.
Tiba-tiba datanglah di tengah acara sesosok orang berkacamata yang langsung menghentikan tilawah 2 santri tersebut. Santri kaget dengan wajah penuh heran. Orang berkacamata tersebut kemudian mengatakan supaya jangan percaya kepada apa yang sudah dibaca oleh santri tadi. Melarang untuk mempercayai Qur’an, tapi yang harus dipercayai adalah koran, sambil mengeluarkan secarik koran. Orang itu beralasan, karena koran lebih lengkap dengan gambar penuh warna serta beritanya up to date tidak kuno seperti Al Qur’an. Para siswa menjadi heboh, dan santripun berubah menjadi marah mendengar perkataan orang berkacamata itu. Tapi terus saja si kacamata itu terus menjelekkan Al Qur’an dan mengunggulkan koran.
 Suasana makin memanas hingga orang berkacamata juga terpancing emosi yang membuatnya melakukan tindakan fisik dengan memberikan tendangan kepada kedua santri. Kedua santri terjatuh tapi masih tetapi bertahan bahwa Al Qur’an adalah kitab yang paling benar terjaga hingga hari Qiamat. Isinya harus diyakini sebagai pedoman hidup seluruh manusia. Merasa usahanya tidak berhasil, orang berkacamata menelepon aparat untuk membantunya.
  Dengan waktu cepat aparat yang ditelepon hadir. Orang berkacamata tersebut lantas menceritakan peristiwa yang baru saja dialaminya. Orang tersebut melaporkan bahwa dirinya baru saja dianiaya oleh kedua santri saat lewat. Dirinya dijelekkan di depan umum hingga dilakukan pemukulan kepada dirinya. Mendengar laporan orang berkacamata seluruh anak langsung berteriak “Huuuuu” sambil berkata “Bohong !!” Orang berkacamata tadi memutar balikkan fakta yang terjadi. Aparat yang menerima laporan itu langsung menerima dan akan segera menindaklanjuti. Anehnya lagi, aparat malah menahan kedua santri karena laporan si orang berkacamata itu. Anak-anak berteriak-teriak untuk membela kedua santri yang sudah difitnah. 
  Di tengah kegaduhan audiens, tiba-tiba datanglah sesosok yang mengenakan sorban dan berkacamata. Bersuara lantang berusaha untuk menenangkan massa. Setelah massa terkendali, Orang bersorban tersebut kemudian mengajak dialog aparat yang tadi menahan kedua santri. Orang bersorban mencari tahu kejadian sebenarnya. Karena informasi yang dipahami aparat tidak sesuai dengan kenyataan, audiens kembali gaduh mengatakan bahwa yang salah adalah orang berkacamata. Karena telah melakukan penistaan terhadap Al Qur’an dan melakukan tindak kekerasan kepada kedua santri. Menyimak seluruh informasi, orang bersorban menginginkan supaya aparat bertindak adil. Mendindak setiap pelanggaran sesuai dengan fakta yang terjadi. Bukan sebaliknya. Karena manakala aparat tidak bertindak adil sesuai hukum, pasti akan terjadi kegaduhan. Tapi, anehnya, aparat masih saja tetap bertahan bahwa laporan dari orang yang berkacamata lah yang benar. Karena situasi semakin gaduh, kemudian aparat menelepon presiden untuk menengahi situasi.
 Presiden kemudian hadir di tengah situasi ketidakpastian dikarenakan aparat tidak bertindak sesuai dengan hukum yang berlaku. Bahwa penista agama sesuai hukum merupakan pelanggaran yang harus ditindak tegas. Kemudian Bapak Presiden memberikan arahan kepada aparat dan yang berselisih serta massa audiens. Intinya, Bapak Presiden meminta supaya aturan ditegakkan, serahkanlah urusan kepada pihak yang berwenang. Janganlah bertindak main haim sendiri. Tapi, orang bersorban tidak terima dan mendesak Presiden supaya bertidak tegas kepada Penista Al Qur’an. Sekali lagi, Presiden mengatakan supaya kembali pada aturan dan prosedur yang berlaku serta diminta menyerahkan urusan hukum kepada aparat yang berwenang. Massa tidak segera tenang, justru makin gaduh dikarenakan Penista tidak jelas tindakannya. 
  Bapak Presiden mendapat telepon dari raja Arab., jika ia akan hadir berkunjung. Tak begitu lama, rombongan raja Arab datang dengan perlengkapan yang megah. Kendaraan, pengawal serta karpet yang digelar sebagai tempat untuk berjalan.
Raja Arab kemudian berkeliling menyapa para audien dengan memberikan salam. Anak-anak pada takjub kepada kemegahan raja Arab beserta rombongannya. 
Selanjutnya, raja Arab memberikan sambutannya di depan para hadirin. Bahwa Al Qur’an sebagai kitab suci berisi nilai–nilai yang jika diikuti akan memberikan arah manusia dalam kehidupan ini. Sehingga siapapun sudah selayaknya untuk menghormati, mensucikannya. Sangatlah tidak bijak dan merupakan pelanggaran bagi yang menistakannya. Bagi penista sudah selayaknya untuk mempetanggungjawabkan perilakunya. 
Sebagai penghormatan atas kunjungannya, raja Arab memberikan hadiah berupa Al Qur’an raksasa kepada sang Presiden. Raja berpesan supaya selalu senantiasa menjaga Al Qur’an, memahami isi dan mengamalkan isinya, maka kehidupan bangsa dan negara akan aman makmur dan sentosa dengan berkeadilan dan beradab.
Selanjutnya barisan pawai tarhib Ramadhan berjalan mengelilingi wilayah di sekitar sekolah. Al Qur’an raksasa dibawah di barisan depan untuk membuka barisan. 
Tak lupa sepanjang jalan para peserta membagikan asesoris untuk menyampaikan pesan bergembira sambut Ramadhan. Para penduduk yang menyaksikan pawai tampak antusias dan bergembira menerima asesoris. Energi gembira sambut Ramadhan menyebar, suasana Ramadhan pun makin terasa.
Seperti biasa, setelah pawai anak-anak melakukan tugas kebersihan masing-masing kelas. Untuk penilaian kebersihan pada kesempatan kali ini, tim yang bertugas mengenakan ksotum bertema putri-putri Arab. Semarakkan Ramadhan 1438 kali ini, semoga ketaqwaan tergapai dan semua amal ibadah kita diterima Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Eksplorasi dari Puncak Kayangan

Mengakhiri tema pembelajaran Kenampakan Alam, siswa kelas 3 melaksanakan outing. Obyek yang dipilih adalah puncak Kayangan atau sekarang dikenal dengan puncak Paralayang Watu Gupit. Melihat lokasinya yang berada tepat di atas pantai Prangtritits, semula dikira masuk wilayah kabupaten Bantul. Eh, ternyata sudah melewati batas Bantul dan masuk wilayah Gunung Kidul. Dengan ketinggian 150 mdpl berada di timur pantai Parangtritis.

Seluruh siswa menuju puncak Kayangan harus tracking dahulu dikarenakan jalan yang terjal sekali sehingga trnsport tidk bisa langsung ke lokasi. Sepanjang perjalanan yang dilalui dijumpai kiri kanan merupakan hutan. Semakin naik, pemandangan laut makin menampakkan wajah pantainya.

Kurang lebih 30 menit tracking, sampailah di tempat pendopo sebelum naik ke puncak Kayangan. Seluruh siswa istirahat menikmati air minum dan snack sembari melepas lelah dri tracking dengan jalur yang menanjak.

Sebelum naik ke puncak, siswa diberi penjelasan dahulu terkait dengan informasi lokasi serta teknis mendaki ke puncak. Di sebabkan kondisi puncak yang tidak datar tapi miring yang dipenuhi bebatuan. Sengaja dibuat miring supaya mudah untuk tolakan para penerbang paralayang maupun gantole. Selain itu ternyata ank-nak baru tahu, meskipun wilayah puncak Kayangan yang dekat dengan pantai Parangtritis, namun secara kewilayahan sudah masuk kabupaten Gunung Kidul.

 Untuk mendaki, setiap anak menyusuri anak tangga berkelok. Semakin ke atas pemandangan yang terlihat semakin indah. Pantai dan lautan semakin terlihat jelas.

 Pantai yang memanjang dari Parangtritis ke barat hingga terlihat paling jauh perbatasan dengan Kulonprogo terlihat jelas. Muara sungai Opak yang menuju laut samudra Indonesia juga terlihat. Hampir kenampakan alam mulai dataran tinggi berupa bukit hingga lautn nampak jelas sekali.

Selain kenampakan alam di bawah, bisa juga disaksikan kenampakan alam di atas, yaitu berupa awan. Nampak jelas sekali jenis awan stratus, comulonimbus dan sirus menghiasi langit yang cerah. Kiranya Kelelahan tracking terobati dengan pemandangan indah dari puncak Kayangan serta mendapatkan banyak informasi dari eksplorsi bersama langsung di alam ini.