Khotmil Qur’an dan Imtihan Metode Qiroaty Ke-7

Menjadi prosesi tahunan sebagai momen meresmikan ketuntasan para siswa yang sudah menempuh pembelajaran baca Qur’an dengan metode Qiroaty, Khotmil Qur’an dan Imtihan tahun ini sudah dilaksanakan pada hari Sabtu, 22 April 2017 kemarin. Alhamdulillah 35 wisudawan berhasil lulus dalam ujian akhir yang dilaksanakan sebelumnya. Acara Khotmil ini merupakan semacam walimah untuk merayakan keberhasilan sekaligus bentuk verifikasi akhir bahwa para wisudawan memang layak lulus.
Para wisudawan terdiri dari siswa kelas 4, 5 dan 6. Target ideal lulus sebenarnya adalah pada saat kelas 4 sehingga para siswa secara mandiri mampu untuk menambah sendiri hafalan dengan bacaaan yang tepat. 
Rangkaian acara dimulai dengan acara khataman membaca juz 30 dan surah pilihan kemudian dilanjutkan bacaan ghorib. Yaitu bacaan yang mempunyai kekhususan cara baca di beberapa tempat di al Qur’an. Kemudian semua wisudawan menjalani proses imtihan yaitu mereka menerima pertanyaan sebagai ujian dengan topik hukum bacaan yang diberikan oleh para hadirin. 
Menjadi kesyukuran guru dan orang tua wali serta siapapun jika menyaksikan para anak didik mampu berhasil lulus menjalani pembelajaran Qur’an. Harapan supaya mampu membaca Qur’an dengan baik dan benar menjadi hal yang layak menjadi kebanggaan disertai kesyukuran. Harapan selanjutnya semoga dari segi kuantitas para wisudawan semakin tahun semakin meningkat jumlahnya. Amin.
Tim Guru BTAQ metode Qiroaty

Aksi Hari Bumi 2017 : Dari Jogja Selamatkan Dunia

Menutup kegiatan pembelajaran di tema terakhir pada semester 2 kali ini, kelas 3 dan kelas 4 bekerjasama untuk mengadakan even kolaborasi, Bertepatan dengan momen Hari Bumi 2017 yang diperingati setiap 22 April, kegiatan tutup tema bersama mengambil bentuk Aksi Hari Bumi 2017. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada hari Jum’at 21 April 2017 bertempat di Titik Nol Kilometer Jogja. Tepatnya di depan Museum Serangan Umum 1 Maret. 
Meskipun melibatkan anak-anak, namun aksi ini dikemas dengan bentuk penampilan sebagai ekspresi anak-anak terhadap pentingnya menjaga bumi dari kerusakan. Pesan peringatan hari bumi disampaikan dalam bentuk Orasi, Puisi, Nyanyian, pentas Teatrikal, Happening Art, Fashion Show dari barang bekas, Pembagian bibit tanaman cabe dan Flash Mob.
 Penyampaian pesan dalam bentuk aksi di ruang publik ini merupakn pembelajaran penting sehingga setiap anak akan mengalami bagaimana mulai dari perencanaan awal, mengelola masa, setiap orang hingga pelaksanaan di lapangan. Kedisiplinan menjadi hal yang penting untuk diwujudkan dikarenakan di ruang publik akan bertemu berbagai orang, khalayak dengan tujuan dan aktivitas bermacam-macam. Sedangkan massa aksi harus fokus satu komando untuk menyampaikan pesan penting hari Bumi.
Dukungan perlengkapan seperti sound system, konsumsi, transport, atribut turut menunjang kesuksesan aksi. Butuh pengorganisasian yang rapi untuk melahirkan aksi yang apik. Aksi ini sukses berjalan tidak terlepas dukungan orang tua dan wali yang siap bekerjasama manakala dirasa ada kurang dalam perencanaan dan pelaksanaan. Sehingga kerjasama siswa-guru dan orang tua itulah kunci sukses keberhasilan proses pendidikan.
Selain itu dukungan dari dinas pariwisata melalui UPT Malioboro dan aparat keamanan polsek Gondomanan serta unit ambulans dan medis Puskesmas Gamping 2 turut serta mengawal suksesnya acara. Rencananya even peringatan hari Bumi ini akan dilaksanakan rutin tahunan.

Parent Teaching Buka Tema Pekerjaan

Waktuny sudah memasuki tema baru lagi. Kelas tiga membukanya dengan rangkaian kegiatan wawancara di pasar dan parent teaching. Kebetulan lokasi pasar dekat dengan sekolah. Sehingga siswa bisa dekat untuk berkunjung. Tidak semata wawancara tapi siswa juga akan berbelanja di pasar. Mereka diberi cacatan belanjaan orang tua berikut uangnya seharga Rp. 10.000.
Sebelum masuk pasar anak-anak dibrifing dahulu. Diberi pengarahan adab masuk pasar. Mengingatkan bahwa pasar termasuk tempat favorit tempat tinggal setan untuk beranak pinak. Sehingga semewah apaun bentuknya, kita disunnahkn untuk membaca ta’awudz untuk menjaga diri dari gangguan setan. Bahkan pasar secanggih Hypermart pun. Kemudian adab dalam berbicara sewaktu wawancara. Karena mayoritas penjual pasar adalah ibu-ibu yang sudah tua bisa jadi tidak lancar bahasa Indonesia. Unggah-ungguh jawa harus dilakukan.
  Yang harus diketahui anak-anak dari wawancara adalah, berapa lama berjualan, berapa rata-rata penghasilannya serta suka duka berjualan. Wawancara dibagi tugs secara bergantian sehingga semua saling merasakan interksi dengan orang lain dalam berkomunikasi. Sambil mereka lengkapi daftar belanjaan dari orang tua. Rata-rata belanja sayur dan bumbu. Meski sisa uang digunakan untuk membeli snack.

 Selesai di pasar, kegiatan berlanjut pindah ke rumah salah seorang siswa kelas 3. Rumahnya Sheira 3B. Di rumah Sheira siswa-siswa akan mendapat informasi tentang pekerjaan yang dilakukan ayahnya. Ayahnya Sheira kebetulan berkebangsaan Swiss, Pak Serge namanya. Karena sulit nyebutnya maka bisa dipanggil pak Sarjo. Pak Sarjo seorang Carpenter atau tukang kayu di Swiss. Setiap 6 bulan sekali beliau pulang ke Swiss untuk menjalani pekerjaannya. Enam bulan berikutnya pulang berkumpul dengan keluarganya.

Pertama kali pak Sarjo menjelaskan beberapa tempat di Swiss. Seperti Air mancur di pusat kota Genewa yang dinamai Jet d’eau de Geneve. Air mancur ini bisa mempunyai ketinggian sampai 100 – 150 meter. Wuih tinggi banget ya. Lalu ada gedung PBB di kota Genewa juga. Pusat kantor PBB di dunia itu ada 2, selain di Genewa juga ada di New York Amerika Serikat. Selain itu juga diterangkan pabrik coklat dan pusat perkebunan anggur di Swiss. Swiss terkenal akan 3 hal : Coklat, Uang dan Jam. Uang karena di Swiss terkenal dengan banyaknya Bank yang dipergunakan para konglomerat di dunia.

 Pak Sarjo kerja berdasarkan proyek. Hampir selalu perusahaanya pak Sarjo mendapatkan pesanan perusahaan besar dunia. Seperti Louise Vuitton, yaitu perusahaan fashion besar dunia. Tugas yang diberikan adalah diminta untuk membuat hiasan toko yang terletak di 9 negara selama waktu 2 bulan. Pak Sarjo harus berlembur-lembur, sehari bisa bekerja 12 jam supaya sesuai target. Dan tidak asal jadi, hasil kerjanya juga dipantau kualitasnya. Presisi kerapian garapannya hingga ukuran milimeter. Itu yang membuat perusahaan pak Sarjo selalu dipercaya.

Memang tukang kayu seperti pak Sarjo kelasnya sudah Internasional, global. Sudah wajar jika kualitas menjadi taruhan kepercayaan. Dan tidak tanggung-tanggun nilai proyeknya sampai bernilai milyaran. Jika anak-anak ingin bekerja dengan taraf internasional, modal awal yang harus dikuasai adalah bahasa Inggris. Karena itu sebagai alat komunikasi internasional. Mental kerja profesional juga harus menjadi kepribadian. Bekerja keras dengan deadline waktu yang tepat. Sekali saja telat maka tidak lagi menjadi kepercayaan. Pak Sarjo mengagumi karakter orang Jogja yang ramah tapi dalam hal kerja masih jauh diperbaiki. Karena masih kurang disiplin. 

Outing Energi Hibrid PLTH Bayu Baru

Target pembelajaran tidak semata hanya tahu. Tapi lebih jauh dan dalam lagi apabila pembelajaran yang dilakukan itu mampu membuat siswa mampu untuk melakukan sesuatu atas pengetahuan yang didapat. Tidak mesti setiap pengetahuan itu akan membuat orang yang memilikinya mampu berbuat. Hanya pengetahuan yang memicu motivasi saja yang mampu melahirkan action untuk berbuat. Untuk mencapai target itu, pembelajaran bertema Energi dan Gerak kelas 3 ditutup dengan kegiatan outing. Tujuan yang pas ada ke PLTH, Pembangkit Listrik Tenaga Hibrid Bayu Baru di Pantai Baru Srandakan Bantul.
Pertama kali yang dikunjungi adalah Bengkel Workshop Kincir Angin milik PLTH Bayu Baru. Di sini anak-anak mendapat menu yang lengkap. Penjelasan, melihat dan memegang kincir angin beserta perlengkapannya. Meski dengan tempat yang terbatas, tapi anak-anak menyimak penjelasan dari narasumber dengan antusias. Baru tahu, ternyata jumlah baling-baling kincir angin mempunyai pengaruh. Semakin sedikit baling-baling semakin cepat, semakin banyak baling-baling semakin kuat putarannya. Anak-anak juga diajak belajar cara membuat generator atau dinamo. Inti utama generator adalah adanya lilitan kawat di antara magnet. Magnet-magnet akan berputar dari tenaga kincir yang dihembus angin diantara lilitan kawat yang akan menghasilkan aliran listrik. Jumlah lilitan mempengaruhi tingginya tegangan. 
 Untuk menghitung jumlah lilitan kawat ada alat khusus yang digunakan. Sehingga jumlahnya pasti. Kemampuan mekanik menjadi wajib dikuasai bagi yang ingin menjadi ahli pembuat kincir angin listrik. Selain mekanik, kemampuan kelistrikan juga dibutuhkan. Karena aliran listrik yang dihasilkan dari dinamo selanjutnya akan dinaikkan tegangannya. Karena hasil tegangan dari dinamo adalah 12 volt. Sedangkan listrik konsumsi rumah tangga bertegangan rerata 220 volt. Selain itu arus listriknya juga harus diubah. Arus yang keluar dari dinamo adalah DC harus diubah menjadi Ac menggunakan inverter.
Selain dinamo, anak-anak juga diberitahu bagaimana cara membuat baling-baling. Bahan yang digunakan adalah fiberglass. Selain ringan, fiberglass awet tidak mudah kena karatan. Baling-baling dibuat dengan cetakan dengan model dan bentuk yang sudah tentu. Setelah jadi, dites simetrinya supaya putaran yang dihasilkan seimbang dan maksimal.
Tahap akhir adalah pengecekan arus listrik dari dinamo. Dinamo diputar menggunakan mesin dengan kecepatan tertentu. Di aliran outputnya disambungkan dengan pembalik arus dan penaik tegangan lalu dihubungkan dengan bola lampu sebagai indikator. Semakin cepat putaran, nyala lampu akan semakin terang. Menandakan besarnya arus listrik yang dihasilkan. Nah, untuk mencegah overflow atau arus yang terlalu besar yang akan merusak peralatan listrik, dipasanglah pengontrol arus. Sehingga kelebihan arus bisa dibuang dengan alat tersebut.
 Setelah memahami kincir angin secara mekanik dan kelistrikan, perjalanan outing dilanjut ke lokasi tempat stasiun PLTH berada, yaitu di pantai  Baru Srandakan Bantul. Di sini anak-anak dikelompokkan menjadi 3 grup yang akan dipandu petugas keliling di instalasi PLTH sambil dijelaskan.
Berbagai macam jenis kincir angin dipasang di stasiun PLTH Bayu Baru. Perbedaanya pada ukuran kincir dan dinamo. Untuk memasang kincir angin dibutuhkan tiang setinggi 10-15 meter. Investasi yang harus dikeluarkan untuk memasang 1 unit kincir angin kurang lebih 50 juta. Itu belum keengkapan seperti baterai aki, inverter, penaik tegangan dan instalasi listrik lainnya.

 

baterai aki yang digunakan ada 2 macam. Aki kering dan aki basah. Memang sangat butuh banyak aki yang berfungsi sebagai penyimpan energi listrik yang dihasilkan oleh kincir angin dan panel surya. Oya mengapa disebut hibrid, karena listrik yang dihasilkan berasal dari 2 sumber. Kincir angin dan panel surya. 
Listrik yang dihasilkan selain disalurkan kepada 60 unit warung makan yang berada di pantai, juga digunakan untuk menaikkan air dengan pompa. Air itu ditampung terpusat di tandon yang juga dialirkan ke konsumsi penduduk. Pengembangan lain dari PLTH adalah adanya lahan pertanian di pasir pantai dan tambak udang galah yang energi listrknya diambil dari PLTH.
Selain kincir angin dan panel surya, PLTH Baru Baru juga mengembangkan energi biogas yang dihasilkan dari kotoran Sapi. Selain budidaya ternak Sapi, kotoran yang dihasilkan bisa diolah untuk diambil biogasnya. Dua Sapi sudah cukup untuk konsumsi biogas satu buah rumah tangga. Butuh 40an kilogram kotoran yang diendapkan dalam tabung reaksi yang besar selama 12 – 14 hari. Baru gas metana akan keluar dan bisa dimanfaatkan untuk kompor gas. Hasil biogas juga didistribusikan ke warung dan penduduk sekitar pantai Baru. Selain dari Sapi, kotoran manusia ternyata juga bisa dimanfaatkan. Butuh minimal kotoran dari 200 orang supaya mampu bisa mencukupi konsumsi biogas 1 unit rumah tangga.

Untuk mengetahui sejauh mana internalisasi para siswa dari pembelajaran tema Energi dan Gerak serta ditutup dengan kegiatan outing perlu dilakukan dengan pengisian worksheet setelah outing. Mengapa dilakukan setelah outing. Untuk siswa kelas bawah, membawa worksheet saat kegiatan outing justru akan menyusahkan proses pengamatan dan pemenuhan ingin tahunya. Kita bisa panggil ingatan mereka melalui worksheet yang dibuat khusus.

Kita bisa minta 3 hal yang yang paling diingat dari kegiatan outing, baik dengan tulisan maupun gambar. Kita bisa lihat, bahkan kejadian guru yang salah ucap ATV dengan TVS saja melekat kuat sehingga diungkapkan dengan gambar dalam worksheet.

Bisa jadi target harapan motivasi kita dengan pembelajaran tema Energi dan Gerak supaya anak lebih menyukai dunia mekanik dan sains agak meleset. Justru anak malah tertarik dengan fenomena sepanjang outing meski tidak menjadi bahan utama penjelasan di outing. Karena minat anak kita tidak bisa kita batasi.

Yang ideal pun juga bisa kita jumpai. Dengan pembelajaran dan outing ada anak yang terpicu untuk mentarget cita dan berbuat menghasilkan karya yan bermanfaat bagi lainnya. 

Ninja Warrior Save The Eggs

Nyawa penting aktivitas pembelajaran adalah keingintahuan. Manakala semua siswa sudah tumbuh rasa ingin tahunya, maka proses pembelajaran dijamin menekati targetnya. Tapi sebaliknya, sebuah pembelajaran menjadi seakan beban yang membosankan manakala siswa belum menjalaninya dengan motivasi dari rasa ingin tahunya. Sehingga menjai sebuah kewajiban untuk memulai pembelajaran itu dibutuhkan metode atau aktivitas sebagai media untuk menghantarkan masuk pembahasan yang memancing rasa ingin tahu siswa. Memulai tema Gerak, siswa kelas 3 mengikuti kegiatan buka tema yang diberi tajuk game Ninja Warrior Save The Eggs, Ninja Warrior menyelamatkan telur-telur. Apa hubungannya Ninja Warrior dan telur? Nah, judulnya saja sudah memancing ingin tahu kan? 🙂
  Untuk memulai game ini, anak-anak dijelaskan dahulu aturan mainnya. Setiap anak diharuskan membawa satu butir telur utuh yang dibungkus plastik bening. Telur itu ibarat nyawa bagi para ninja, jika tetap utuh maka selamatlah ninja, namun, jika pecah maka si ninja gagal dalam mengemban misi ini. Mereka bergerak sesuai kelompok. Setipa kelompok menapatkan bahan berupa tali plastik, koran bekas, kotak kardus dan karet gelang. Setiap kelompok dipersilahkan berembug untuk mendesain bentuk alat untuk mengamankan telur. Dikarenakan setiap anak harus membawa telurnya sepanjang perjalanan. Jalur yang harus ditempuh sengaja dipenuhi halangan dan rintangan. Inilah tantangan yang harus diselesaikan oleh setiap ninja.
 Setiap anak harus memastikan telurnya aman dari goncangan dan benturan. Karena setiap ninja akan menyusuri jalur dengan loncat, meluncur, hanyut, mendaki, lari, jatuh. 
Jalur bahaya pertama, ninja diharuskan untuk melompat ari ketinggian satu setengah meter. Tidak sembarang lompat karena mereka juga harus pikirkan keselamatan telur yang dibawanya.
Tak kalah menantangnya, jalur ini setiap ninja iharuskan melewati jembatan jaring setinggi 5 meter. Keseimbangan tubuh wajib ada. Setelah itu mereka diharuskan untuk turun melalui tiang pipa dengan meluncur. Bagi yang membawa telur di sakunya, ancaman pecah sewaktu meluncur sangatlah besar.

Bagian ini tak kalah serunya. Apapun bisa kemungkinan terjadi. Selain basah, mereka juga berjuang melawan arus sungai yang mengalir. Kekompakan tim juga diuji, apakah masing-masing anggota mementingkan keselamatannya sendiri atau bersama kelompok.

Persis dengan diibaratkan dengan kehiupan ini yang tidak selalu datar terus. Kadangkala harus mendaki yang membutuhkan segenap energi untuk melewatinya. Mereka selain mengangkat dirinya sendiri juga memikirkan telur supaya tidak pecah.

Selesai menyusuri track, setiap kelompok memeriksa kondisi telur setiap anggota. Keselamatan telur an ketepatan waktu selesai kembali ke tempat akan menentukan kemenangan setiap kelompok. Setelah semua selesai, masing-masing anggota memasak telur dengan menu sesuai selera masing-masing. Apalagi makan siang suah menjelang. Dengan semangatnya mereka masak untuk mendapatkan tambahan lauk sesuai dengan seleranya.

Kiranya seru sekali acara buka tema kali ini. Harapannya ingin tahunya mulai tumbuh untuk kemudian menjadi bahan bakar pembelajaran selama satu bulan ke depan. 

Panen Hiroponik dan Masak Omelet

Proses pembelajaran tidak saja melulu hanya yang dipahami, dihafalkan dan diingat. Tapi sampai pada apa yang dirasakan sehingga menjadi refleksi hidupnya. Menjadi ketrampilan dan sikap yang merupakan kelengkapan dalam menjalani kehidupan keseharian si anak. Oleh karena itu proses pembelajaran akan lengkap saat anak juga melakukan apa yang menjadi pemahamannya. Jika ia memahami bahwa sampah itu kotor dan sumber penyakit, maka ia harus bisa meletakkan sampah pada tempat yang selayaknya hingga menjadi kebiasaan serta sikap. Jika sholat itu dipahami merupakan aktivitas sangat penting, maka anak harus bisa melakukannya dengan benar hingga menjadi kebiasaan yang jika terlambat saja melakukan, tubuhnya sudah bereaksi menandakan rasa bersalah yang sangat.
 Mengajari anak bahwa menjaga lingkungan dengan melestarikan tumbuhan tidaklah cukup hanya dengan hafalan istilah reboisasi, terasering, intensifikasi dan sebagainya. Tapi mereka juga harus melakukan upaya penjagaan lingkungan tersebut. Mereka harus melakukan proses menanam tanaman. Untuk menghadirkan suasana asyik dan gembira dipilihlah kegiatan berkebun. Sekarang ini berkebun tidak harus mempunyai lahan yang luas karena di perkotaan pun sudah berkembang urban farming. Berkebun menggunakan lahan rekayasa. Sebagai contoh metode bertanam hidroponik.
   Ditambah lagi sayur menjadi jamak tidak disukai anak-anak. Begitu mereka ikut merasakan usaha menanam sayur, sedikit demi sedikit bisa ditumbuhkan rasa suka terhadap sayur. Anak-anak dilibatkan langsung menanam tanaman mulai dari bibit kecilnya. Mereka akan merasakan betapa tanaman yang masih kecil itu seperti bayi yang masih lemah, rapuh sehingga butuh kehati-hatian alam memegang dan melatakkan. 

Setiap hari mereka pantau pertumbuhan tanaman sayuran tersebut. Apakah tumbuh dengan normal ataukah ada yang kurang. Sedihnya hati ini manakala mendapati tanaman sayuran yang melayu, kering dan mati. Rasa empati tergugah dengan melihat tanaman yang menjadi tanggung jawab setiap anak tersebut. Bagi yang mendapati tanaman yang tumbuh membesar dan sehat, rasa gembira ikut memenuhi rasa hatinya. Hingga tak sabar menantikan masa panen tiba.

Panen sayuran bukan semata dipanen saja. Acara panen massal kali ini akan dilanjut dengan memasak bersama. Menu yang dipilih adalah Omelet. Setiap anak dikelompokkan menjadi beberapa regu. Mereka berbagi tugas untuk membawa perlengkapan masak dan bahannya. Setiap anak memanen tanamannya sendiri, digabung dalam dalam satu kelompok untuk dijadikan Omelet bersama.
Bagi yang awalnya tidak suka sayur, dengan memasak sendiri ini mereka jadi suka. Apalagi rame-rame. Seakan-akan baru kali itu makan Omelet. Ditambah lagi hiasan masakan setiap omelet yang dikreasi sesuai dengan selera mereka sendiri. Aktivitas masak menjadi menyenangkan. Idealnya memang kegiatan berkebun itu harus terkoneksi dengan kegiatan masak. Kita sudah secara langsung mengajarkan kepada anak tentang pentingnya ketahanan pangan.  

Workshop Bersama President of National Green School Network America

Menjadi sebuah kesempatan yang sangat menarik bisa berkesempatan untuk mengadakan workshop dengan narasumber dari luar negeri. Dari Florida Amerika. Bahkan seorang Presiden dari National School Green Network America. Presiden dari Jaringan Green School di Amerika. Dialah Allen Stenstrup. Al, panggilan Allen memberikan workshop tentang School Garden Project di SDIT Alam Nurul Islam, Rabu 9 November 2016.
 Workshop diikuti oleh guru-guru dari level PAUD hingga guru kelas 3 SD. Karena memang workshop ini ditujukan untuk guru-guru kelas awal. Par guru berasal dari 10 sekolah alam di wilayah DIY-Jateng dalam koordinasi Jaringan Sekolah Alam Nusantara (JSAN) Regional DIY-Jateng. Sesuai dengan tema workshop bahwa fokus utama dari pembelajaran yang diberikan guru kepada para siswa adalah tentang konservasi pohon, hutan. Karena pohon dan hutan adalah masa depan kita di bumi ini. Sehingga manakala para siswa kita memiliki kepedulian akan pohon dan hutan, kita sedang menyiapkan masa depan bumi ini dengan baik. Begitu awalan yang disampaikan oleh Al dalam workshop ini. Al sebelumnya merupakan guru yang sudah berpengalaman mengajar selam 40 tahun. Sebelumnya pernah menjadi Managing Director Program di lembaga Project Learning Tree yang konsern pada konservasi hutan. Kini ia mempunyai lembaga ‘Our First Garden’ yang berfokus untuk menyebarkan pentingnya setiap sekolah di seluruh dunia memiliki program berkebun untuk menanamkan kepedulian terhadap lingkungan.
    Di workshop ini peserta dilatih untuk memberikan pembelajaran kepada siswa dengan aktivitas di luar ruangan. Alasannya, dengan memberi kesempatan siswa untuk kontak dengan alam langsung memungkinkan siswa melakukan observasi langsung secara kongkrit. Menemukan kondisi setiap benda dalam bentuk sejatinya. Anak diasah untuk menemukan, berdiskusi atas temuannya karena kemungkinan persepsi yang berbeda. Seperti saat para peserta diminta membuat kalung dari berbagi bentuk bangun datar. Dengan kalung tersebut peserta diminta mencari benda di luar ruang yang bentuknya persis dengan bentuknya. Atau dengan benda-benda di luar ruangan siswa diajak berimajinasi membuat bentuk hewan.
    Bisa jadi dalm mengenalkan sebuah konsep kepada siswa tidak harus dijelaskan secara lisan. Tapi siswa dilibatkan dengan simulasi langsung yang akan membuat sebuah konsep menjadi riil, kongkrit dan mudah dipahami. Seperti saat Al mengenalkan cara mengajarkan tentang fungsi organ dalam pohon. Semua peserta dibagi menjadi beberapa kelompok yang memerankan sebagai akar, batang, daun, xilem, floem dengan gerakan khas masing-masing. Siswa tentu akan merasakan langsung dan konsep akan melekat kuat.
   Dengan media pohon, para peserta juga diajarkan bagaimana menghitung diameter pohon dengan mengukur pnjang lingkar batang pohon. Dengan memberikan tanda di setiap pohon, setiap tahun hasil hitungan diameter siswa tersebut menjadi data bagi sekolah dalam memantau keberdaan pohon di setiap sekolah. Ditambah lagi misal observasi terhadap kondisi daun yang difoto dan didokumentasikan tentu data setiap pohon akan menjadi lengkap. Di satu sesi, Al juga memaparkan tentang pentingnya membuat sekolah itu menjadi green school. Al memberikan sebuah poster yang mendeskripsikan bahwa sebuah sekolah itu merupakan green school.  
Para peserta diminta mengidentifikasi sekolahnya masing-masing, jika dibuat level dari 1 – 10 dimana letak masing-masing sekolah untuk menjadi green school. Tidak masalah kondisi sekolh sekarang, tetapi setiap tahun setiap sekolah harus berubah menuju kondisi ideal green school. Karena green school memberi kesempatan luas kepada siswa untuk belajar secara aktif, atraktif, riil dan kongkrit sekaligus menanamkan sikap peduli kepada kelestarian alam ini.    
Di akhir sesi, para peserta dikenalkan dengan cara menyemai biji tanaman Pollinator atau pemancing hewn penyerbuk di dalam pot. Dalam satu kemasan terdapat 3 sampai 5 jenis biji tanaman bunga penarik serangga. Keberdaan tanaman pollinator sangtlah penting untuk kelangsungan tanaman supaya secara alami diserbuk dengan bantuan hewan seperti serangga. Al juga menawarkan komitmen bantuna dana bagi sekolah peserta yang diperuntukkan untuk membangun kebun sekolah yang digunakan sebagai media pembelajaran bagi siswa.           

update :
Rilis di Kedulatan Rakyat