Sesi Praktek Training Joyful Learning in Mathematic QITEP SEAMEO 2016

Sebanyak 31 guru-guru sekolah dasar dari 8 negara anggota SEAMEO melakukan praktek mengajar pembelajaran Matematika metode Joyful Learning in Mathematic. Jum’at, 2 September 2016 seluruh peserta hadir di SDIT Alam Nurul Islam, mereka akan masuk ke kelas 5 dan kelas 6. Para peserta berasal dari Brunei Darussalam sebanyak 2 orang, dari Laos, Vietnam, Timor Leste, Malaysia, Thailand masing-masing 1 peserta. Sisanya berasal dari Indonesia. Sesuai dengan pelatihannya, mereka akan mempraktekkan pembelajaran yang menarik siswa dalam memahami Matematika.
 Seluruh peserta dibagi menjadi 6 kelompok yang akan mengampu 6 kelas. Masing-masing kelompok melaksanakan skenario pembelajaran Matematika sesuai kelasnya. Karena menggunakan Joyful Learning tentu siswa tidak pasif mengikuti pembelajaran. Tapi mereka dikondisikan aktif untuk memahami konsep Matematika dengan melakukan. Di awal pembelajaran mereka diberi permainan menarik dahulu supaya gembira mengikuti pembelajaran Matematika. Materi kelas 5 adalah KPK sedangkan untuk kelas 6 adalah Debit dan Volume.
 Karena sudah biasa dengan kegiatan outdoor, sehingga dengan model pembelajaran yang dilakukan oleh para peserta pelatihan para siswa sangat enjoy sekali. Mereka sudah sigap dengan instruksi yang diberikan.
 Menjadi sebuah tantangan bagi guru Matematika untuk menghadirkan pembelajaran yang joyful, karena memang usia sekolah dasar level pengetahuannya masih kongkrit sehingga selain harus gembira mereka harus mempelajarai sesuatu yang nyata.
Karena jika pembelajaran hanya mengandalkan di kelas saja, untuk siswa yang mempunyai modalitas belajar baik akan bisa cepat mengikuti dan memahami materi. Namun bagi siswa yang punya kecenderungan motorik yang tinggi tentu butuh cara belajar dengan melakukan.


Buka Tema : Game Pokemon Go

Untuk membuka sebuah tema pembelajaran dibutuhkan sebuah kegiatan yang memancing perhatian, keingintahuan dan motivasi belajar para siswa. Manakala tiga hal tersebut bisa tumbuh bersemi di setiap siswa, bisa dijamin selama satu tema penuh mereka akan antusias mengikuti dan memuaskan dahaga ingin tahunya dengan pengetahuan dan pengalaman. Di tema baru Lingkungan ini, siswa kelas 3 akan mempelajari terkait dengan lingkungan, baik alami maupun buatan, sehat dan tidak sehat, lalu mempelajari terkait dengan denah, tata aturan dan pentingnya. Nah, sebagai pemantik untuk masuk ke dalamnya  kelas 3 membuka tema pembelajaran Lingkungan dengan sebuah permainan yang diberi judul ‘Pokemon Go’. Serius? pake gadget, trus jalan-jalan memburu monster-monster gitu? Tunggu dulu, Pokemon Go yang ini tidak menggunakan perangkat gadget. Tapi pemain diharuskan memburu benda-benda yang dinamakan Pokemon.
Hari Kamis pagi 1 September 2016, semua siswa dikumpulkan di lapangan untuk menjalani pembagian kelompok dan mendengarkan penjelasan terkait dengan permainan ini. Seluruh siswa dibagi menjadi 15 kelompok. Setiap kelompok diberi misi untuk menyelesaikan tugas serta mengikuti petunjuk yang diberikan di setiap pos. Karena di setiap pos pasti akan ada petunjuk untuk berjalan ke pos berikutnya. Mereka dilengkapi dengan 2 lembar kertas berupa denah dan tabel kontrol. Di lembar denah mereka diharuskan memberi nomor urut tempat mana saja yang disinggahi ketika menemukan pos. Sedangkan di lembar kontrol mereka diwajibkan menuliskan nomor pos yang disinggahi, jawaban tugas yang muncul serta berapa jumlah pokemon yang didapatkan. Mereka juga diinformasikan bahwa di setiap pos akan terdapat pokemon yang letaknya tersembunyi tersebar di sekitar pos. Pokemon tersebut berbentuk snack dengan bentuk beraneka rupa. Setiap kelompok diperkenankan mencari pokemon dengan syarat di setiap pos hanya satu macam pokemon saja yang boleh dikumpulkan.

 Regu yang langsung menemukan pos segera mengerjakan tugas dari pos tersebut. Meski sempat juga mencari pokemon, tapi tujuan utama mereka tak terlupakan. Menyelesaikan misi menemukan semua pos.

Meski sudah ditegaskan di awal bahwa misi utama mereka adalah mengikuti petunjuk di setiap pos dengan menyelesaikan soalnya. Tapi ternyata perilaku yang paling dominan di peserta adalah, mereka justru berusaha memburu pokemon-pokemon. Banyak kelompok yang justru tidak memperdulikan pos bernomor berapa, asal ada pokemon yang muncul segera langsung diburu. Satu tempat sudah habis jatah pokemonnya segera berpindah ke tempat lainnya yang belum ditemukan pokemonnya. Bahkan antar kelompok saling tukar informasi tempat mana yang banyak pokemonnya.

 Tak tanggung-tanggung. Tempat yang tinggi pun mereka raih untuk mendapatkan pokemon. Pengorbanan yang luar biasa atas daya tarik kenikmatan pokemon.

 Hingga, diskusi-diskusi yang muncul di setiap kelompok bukannya diskusi untuk memecahkan soal pos atau diskusi menemukan petunjuk berikutnya. Tapi, diskusi seberapa banyak pokemon yang berhasil didapat, macamnya apa saja, gimana cara membaginya, kapan bisa dinikmati.

 Bagi regu yang menganggap pokemon adalah harta paling berharga, mereka akan sekuat tenaga menjaganya. Ada beberapa yang malah dipamerkan perolehan pokemon sehingga mengundang iri kelompok lainnya.
Waktu permainan akhirnya habis, saatnya istirahat dan sholat Dhuhur. Setelah istirahat, semua peserta berkumpul untuk melakukan pemaknaan dan pembagian hadiah. Sebelumnya mereka menyaksikan video rekaman saat mereka melakukan permainan pokemon go tadi. Betapa lucu dan konyolnya perilaku setiap pemain di permainan, mereka saling buru dengan sekuat tenaga. Bahkan tidak segan rela berkorban naik memanjat tempat yang tinggi hanya untuk mendapatkan pokemon. Semua anak-anak tertawa. Menertawakan perilaku mereka sendiri.
Akhirnya sang juara diumumkan. Siapakah yang juara? Tentulah yang juara adalah mereka yang taat pada perintah, taat pada misi. Yang juara adalah kelompok yang berhasil menemukan kelima pos dengan urut. Mereka bisa menemukan kelima pos artinya semua soal di setiap pos dijawab dengan benar. Yang mengagumkan, kelompok ini tidak tergiur untuk mengumpulkan pokemon seperti kelompok-kelompok lainnya. Ada sih mereka dapatkan pokemon cuma ala kadarnya. Sehingga mereka layak untuk mendapatkan hadiah yang nilainya melebihi jauh dibandingkan dengan jika semua pokemon terkumpulkan. Pemaknaannya : Itulah kehidupan di dunia ini. Kita oleh Allah telah diberi petunjuk berupa al-Qur’an. Seluruh isi al-Qur’an adalah petunjuk yang akan menuntun di setiap pos di kehidupan dunia ini. Yang ujung akhirnya adalah kebahagian di Surga abadi. Jika selama mengikuti petunjuk kok malah tergiur dengan keindahan dunia, mencari harta hingga seluruh waktu, perhatian dan tenaga hanya untuk mencari dunia saja, sudah pasti nasibnya seperti kelompok-kelompok yang hanya mencari pokemon-pokemon itu. Mereka terlupakan akan tujuan akhir, Surga yang justru balasannya sangat berlipat dibandingkan dunia ini. Semoga dengan game ini anak-anak menjadi tersadar untuk selalu istiqomah dengan petunjuk. Dari game ini pula anak-anak mendapatkan pengetahuan tentang membaca denah, memahami pentingnya aturan, mengenal lingkungan dan yang terpenting adalah muatan religinya.

Mycycling MyAdventure

Untuk mengawali kegiatan pembelajaran tambahan di setiap hari Sabtu, siswa kelas 6 mengadakan kegiatan Petualangan. Cuma, petualangan yang dilakukan menggunakan sepeda. Sabtu, 27 Agustus 2016 pagi mereka berkumpul di sekolah yang diawali dengan prosesi pembukaan dahulu. Secara beregu mereka dikelompokkan untuk menyelesaikan misi dari petualangan hari itu.
 Setiap regu diharuskan membuat yel-yel dan diminta untuk performance di depan teman-teman lainnya. Yel-yel ini berfungsi untuk membuat kompak regu selama menjalani perjalanan petualangan nanti. Setelah itu setiap regu diberikan soal dalam bahasa Inggris yang harus dipecahkan persoalannya. Kemampuan Inggris menjadi wajib dikuasai supaya isi persoalan bisa dipahami dengan baik.
     Setelah persoalan dipecahkan, regu yang selesai dahulu segera melakukan pemberangkatan. Mereka harus memastikan semua anggota regu lengkap berikut perbekalannya. Tantangan berikutnya adalah mereka harus memahami petunjuk perjalanan dalam bahasa Inggris. Jika tidak memahami bisa dipastikan perjalanan yang akan mereka lalui tidak sesuai dengan rute alias tersesat. Selama perjalanan mereka akan melalui beberapa pos yang akan berisi penugasan yang harus diselesaikan sebagai syarat untuk melanjutkan perjalanan.
Dengan berbagai gaya mereka memberi identitas pada grupnya masing-masing dengan menggunakan asesoris pendukung. Dikarenakan masih suasana kemerdekaan, asesoris yang dominan adalah merah-putih. Satu per satu regu berangkat dengan bekal petunjuk yang sudah diberikan. 
Beberapa regu terlihat kebingungan saat sampai di persimpangan. Mereka berdiskusi dalam mencerna isi petunjuk. Ke kanan atau ke kirikah. Di sebelah kanan atau di sebelah kiri kah. Selain itu, penyebab tersesatnya regu karena disebabkan adanya anggota yang sok tahu lalu memaksa diri regu untuk terus, ada juga yang hanya ikut-ikutan regu lainnya yang sebenarnya tersesat. Karakter asli setiap anak nampak selama prosesi perjalanan.
 
Khusus di kegiatan ini para peserta diperbolehkan membawa gadget yang dipergunakan untuk mengambil gambar sebagai bukti bahwa rute setiap regu sudah benar. Hasil jepretan dikirim ke guru yang memantau perjalanan setiap grup. 
 Pos ke-2 adalah Matematika. Setiap regu diharuskan menyelesaikan soal cerita yang berisi hitungan. Strategi dalam memecahkan soal harus tepat, dikarenakan untuk menyelesaikan hitungan bisa jadi lebih dari satu cara. Bisa cepat, bisa lama. Bisa pendek, bisa panjang. Ditambah lagi kemampuan dasar Matematika juga sebagai syarat wajib juga supaya dalam memecahkan persoalan menjadi lebih mudah. Penambahan, pengurangan, perkalian dan pembagian merupakan kemampuan dasar Matematika untuk memahami berbagai konsep hitungan.

Pos ke-3 mereka disodori persoalan IPA. Dengan mengandalkan pemahaman konsep akan Sains, melalui diskusi berusaha untuk mendapatkan pemecahan jawaban yang tepat.

 Setelah melalui perjalanan yang cukup jauh dengan menyelesaikan tugas di setiap pos berikut lika-liku memahami petunjuk, akhirnya sampailah mereka di garis finish. Perasaan lega bersemburat di setiap wajah anak yang sudah memasuki garis finish. Selain tantangan berupa pemikiran dengan tugas soal, mereka juga diuji secara fisik dengan ketahanan dalam bersepeda dan menahan teriknya mentari. Sambil menikmati segarnya es kelapa muda mereka menerima pemaknaan dari ustadz-ustadzah. Hikmah dalam petualangan ini adalah Petunjuk tidak cukup hanya dibawa dan dibaca, tapi harus dipahami, diamalkan dan disampaikan agar semua perjalanan bisa tetap dalam rute dan jalur yang benar. Terpenting lagi sudah pasti tujuan akhir akan tercapai. Itulah al Qur’an yang merupakan petunjuk hidup manusia. Ia yang akan menuntun kita untuk selalu istiqomah menyusuri rute menuju surga.

Tutup Tema : Aku dan Keluargaku

Untuk menutup tema pembelajaran yang perdana ini, siswa kelas 1 mengadakan acara yang bertajuk ‘Aku dan Keluargaku’. Acara berlangsung pada hari Kamis, 25 Agustus 2016 di GOR SDIT Alam. Bentuk acaranya, para orang tua siswa diundang hadir ke sekolah. Para orang tua akan disambut dan dilayani hidangan oleh para putra-putrinya di tempat yang sudah disulap bernuansa resepsi pernikahan.
 Kegiatan tutup tema ini bertujuan sebagai media setiap siswa untuk mengungkapkan kasih sayangnya kepada orang tua mereka melalui kegiatan jamuan makan siang. Bagi anak yang sudah biasa diberi peluang orang tuanya untuk mandiri dan membantu keperluan meski kecil, pasti kegiatan ini menjadi hal yang sangat menarik. Namun, bagi anak yang masih mempunyai halangan dalam masalah kemandirian, kegiatan ini menjadi tantangan yang menarik. Apalagi dilakukan bersama-sama tentu satu anak dengan yang lain bisa saling mengamati sejauh mana ungkapan kasih sayang kepada orang tua masing-masing.

Sesuai undangan yang disampaikan kepada setiap orang tua siswa, berbondong orang tua hadir untuk segera mendapatkan layanan sebagai wujud kasih sayang putra-putri masing-masing. Setiap orang tua menebak-nebak, apa ya kejutanyang akan diberikan oleh anaku.

Di dalam GOR sudah menunggu putra-putri yang siap melayani para tamu yang merupakan orang tua mereka sendiri-sendiri. Para orang tua mencari-cari sebelah mana letak duduk putra-putrinya.

Begitu para orang tua sudah dipersilahkan duduk dengan nyaman, bersegera para siswa untuk mengambilkan hidangan snack kepada orang tuanya. Mereka akan pastikan layanan yang diberikan kepada orang tua masing-masing adalah yang terbaik. Setelah hidangan disajikan, orang tua dipersilahkan menyantap makan, bersama orang tua lain berbincang sesekali memberikan kesan pada layanan putra-putrinya. Tentu tak ketinggalan orang tua mengabadikan aksi putra-putrinya dengan kamera androidnya.

 Di penghujung acara, setiap orang tua dipersilahkan untuk berfoto bersama untuk menunjukkan kedekatan mereka melalui pose bebasnya Berfoto di tempat yang sudah disediakan khusus dengan bakcground seperti resepsi pernikahan.

Buka Tema : Survival

Jika ada tutup tema tentu sebuah pembelajaran akan diawali dengan buka tema. Jika tutup tema ditujukan untuk eksibisi atau menunjukkan sisi kemanfaatan atas pembelajaran sebuah tema, maka buka tema ditujukan untuk menarik perhatian, memahami tujuan sebuah tema akan dipelajari. Sehingga perhatian, fokus dan daya tarik siswa bisa ditumbuhkan di awal sebelum mempelajari tema pembelajaran.
Untuk membuka tema pembelajaran bertajuk Survival atau Mempertahankan diri, siswa kelas 5 mengadakan kegiatan Survival. Mereka akan mengasah ketrampilan diri bagaimana cara mempertahankan diri. Di kegiatan awal, semua siswa dijelaskan dahulu aturan main dalam kegiatan ini. Secara kelompok, semua siswa akan melakukan perjalanan menyusuri track yang sudah ditentukan.
 Jalur yang dipilih adalah sepanjang persawahan. Di kanan-kiri tampak membentang persawahan yang menghijau. Sehingga pandangan bisa terlihat meluas tak terhalang. Arah perjalanan kemudian setelah melalui persawahan adalah menyusuri tepi sungai Bedog.

Sampai di pos, setiap kelompok diberi perintah
tertulis di atas kertas. Perintah ditulis menggunakan huruf Jawa.
Sehingga mereka harus berpikir dua kali, pertama membaca tulisan Jawa
kemudian memahami isi perintah tersebut supaya perintah yang ada di dalam kertas tersebut bisa dilakukan dengan benar

Satu jalur mewajibkan setiap siswa untuk menyeberangi sungai. Mereka harus memastikan barang bawaan tidak basah ataupun hanyut di sungai. 
Untuk makan siang, setiap anak diharuskan untuk mencari ubi di sekitar tepian sungai. Keuletan kelompok sangat menentukan menu makan siang mereka. Setelah didapatkan ubi-ubi itu, mereka kemudian memasaknya dengan bahan bakar ranting dan dedaunan kering di tepian sungai. Ketrampilan menghidupkan api menjadi wajib, karena jika api gagal dihidupkan, dipastikan ubi yang dimakan akan mentah. 
Tak terasa, waktu Dhuhur sudah tiba saatnya. Sebelum menyantap makan siang mereka melakukan sholat Dhuhur berjama’ah setiap kelompok di tepi sungai. Sunggh nikmatnya menu ubi bakar kali ini, meski tidak biasa makan, katanya makanan orang kampung jika dimakan bersama-sama pasti terasa enaknya. Di akhir acara ustadz-ustadzah memberikan pemaknaan tentang pentingnya bertahan hidup. Karena kita tidak akan pernah bisa menduga bagaimana kondisi di sekitar kita. Sehingga dalam kondisi darurat pun kita bisa tetap bertahan hidup.

Tutup Tema : Mengolah Hasil Ternak Ikan

Pembelajaran tema akan lebih mantap dan kuat lagi pesan yang akan dipahami siswa jika dilakukan berbasis proyek. Sehingga siswa tidak semata sebatas menghafal atau memahami konsep materi pembelajaran saja, tapi lebih jauh lagi ada realisasi bagaimana materi yang terpahami menjadi maujud nyata. Bisa diindrai, bisa dinikmati serta bermanfaat bagi lainnya. Mengangkat tema Makhluk Hidup, siswa kelas 3 mengakhirinya dengan kegiatan pengolahan hasil pemeliharaan ternak ikan Nila. Meski pemeliharaan tidak lama karena targetnya adalah adanya data yang bisa untuk membuktikan proses pertumbuhan yang ditunjukkan makhluk hidup. Indikator yang digunakan adalah berat badan. Pun juga, setiap proses pelaksanaan proyek tidak semulus perencanaannya. Ikan-ikan yang sudah diukur berat badan awalnya ternyata tidak bertahan lama. Mati sebelum tumbuh. Tapi fakta tersebut tidak kemudian menggagalkan segalanya. Masih bisa digali argumentasi kenapa ikan-ikan itu mati. Faktanya lagi, karena mati sudah tentu tidak akan ada penambahan berat badan, tidak ada proses tumbuh. Yang mati digantikan oleh yang hidup. Sehingga, ikan-ikan yang akan diolah di akhir proyek nanti memang bukan hasil dari proses pemeliharaan.
Karena tema harus ditutup maka kegiatan akhir yang harus dilaksanakan. Kegiatannya adalah, semua siswa diwajibkan untuk menangkap ikan dengan tangan kosong. Selanjutnya, ikan tersebut dibersihkan dari sisik, dan organ dalamnya. Lalu dimasak, jenis olahan yang dipilih adalah barbeque alias dibakar. Terakhir hasil olahan akan dinikmati bersama-sama. Semua proses harus dilakukan setiap anak, masing-masing.
Sesi tangkap ikan dilakukan bergiliran untuk setiap kelompok. Kelompok yang tercepat dalam memecahkan persoalan dengan penyelesaian yang membutuhkan hitungan matematika, dialah kelompok yang paling awal untuk menangkap ikan. Ada sebuah fenomena menarik, kelompok yang cepat menyelesaikan hitungan matematika, giliran saat menangkap ikan membutuhkan waktu yang cukup lama. Alasannya bermacam, karena takut, jijik, bingung caranya gimana. Tapi, giliran kelompok yang sangat lama dalam menyelesaikan soal matematika begitumendapat giliran tangkap ikan, kurang dari satu menit ada yang langsung dapat 3 ekor ikan. Besar-besar lagi. Masing-masing anak mempunyai wilayah juaranya sendiri-sendiri.
Setelah dapat tangkapannya, setiap anak diharuskan untuk membersihkan organ dalam ikan, sisik serta bagian-bagian yang tidak enak dimakan. Ada sih yang takut karena ikannya masih gerak-gerak. Ada juga yang jijik karena bau amis dan kotoran yang bau. Tapi semua bertanggung jawab pada tangkapannya. Jika tak dibersihkan tanggung sendiri ikannya kotor atau tidak mendapatkan jatah makan ikan.
Setelah dipastika bersih benar, ikan-ikan di bawa untuk dibakar. Sebelum dibakar, bumbu-bumbu sudah dipersiapkan dahulu. Ikan sebelum dibakar digoreng dahulu setengah matang, supaya saat dibakar nanti tidak ada bagian ikan yang mentah. 
Saatnya makan. Setelah semua ikan matang dibakar, setiap kelompok menyiapkan diri makan siangnya. Tidak pake piring tapi pake daun pisang. Nasi dan lauk diwadahi jadi satu, satu kelompok makan bareng dengan nuansa kali yang bergemericik. Beberapa anak memang sudah terbiasa dengan makan di tempat yang bersih, rapi bahkan lux. Namun di tempat yang ‘sangat darurat’ ini pun mereka tetap lahap. Harapannya, akan tercipta manusia yang tidak katrok dengan layanan Bintang 5 dan tetap nyaman dengan yang Kaki 5.
Lahapnya anak-anak makan, ada juga yang nyeletuk “Sebenarnya aku gak suka ikan lho, tapi karena makannya di sini jadi mau makan”. Memang kebersamaan itu indah rasanya. Kegiatan ini sarat dengan pemaknaan. Saat menangkap ikan. Cara menangkap ikan secara bersama-sama dengan tanan kosong serta masuk ke kolam akan membuat kondisi kolam keruh, ikan-ikan stress bahkan beberapa darinya lepas masuk ke sungai. Berbeda jika cara menangkap ikannya dengan memancing. Meski satu-satu mendapatkannya, kondisi air tetap jernih. Ikan tidak stress dan panik. Begitulah jika kita menangani sebuah masalah. Jangan sampai kita buat kondisinya menjadi semakin keruh dengan cara generalisir, pemburuan tersangka. Tapi masalah akan segera selesai dengan elegan manakala diselesaikan dengan cara melokalisir, konfirmasi cek dan ricek, sehingga tidak ada pihak-pihak yang terdholimi.

Outbound Periode Agustus 2016

Bulan Agustus saatnya mengawali program yang termasuk favorit semua siswa, Outbound. Pengelolaan outbound tahun ini ada sedikit perubahan dengan tujuan supaya pelaksanaannya lebih optimal. Perubahan tersebut dimaksudkan untuk mendekati dari bentuk pengelolaan yang ideal. Peran guru kelas tidak lagi mengonsep materi outbound hingga detail pelaksanaannya. Tim guru kelas bertugas untuk menginventarisasi dinamika di kelas yang menyangkut permasalahan personal maupun komunal siswa. Daftar permasalahan disampaikan kepada tim outbound untuk dibuat desain outboundnya. Mulai dari bentuk fun game, dinamika kelompok, low impact hingga high impactnya. Sebelum pelaksanaan, tim outbound bertemu dengan tim guru level untuk melakukan koordinasi terkait dengan teknis skenario hingga nilai-nilai apa yang akan disasar untuk ditindaklanjuti perubahannya pada diri anak setelah pelaksanaan outbound.

Kali ini permasalahan siswa yang diangkat adalah terkait dengan lemahnyasiswa dalam memberikan perhatian pada instruksi. Faktor mendengarkan menjadi kunci utama siswa supaya setiap instruksi bisa dilakukan dengan baik. Halangan lemahnya perhatian tersebut disebabkan banyak hal. Ngobrol antar teman, benda-benda di sekitar terkhusus mainan, suka melamun, atau bisa jadi siswa kurang mengerti dalam mencerna isi instruksi tersebut. Untuk menterapi problem tersebut, permainan Kolam Ranjau menjadi pilihan. Tim membuat track yang diberi halangan di tengah-tengah sepanjang track. Dari 2 ujung track, satu per satu siswa diminta menyusuri tanpa harus mengenai halangan. Untuk berjalan mata mereka ditutup, mereka dipandu secara lisan oleh teman-temannya di luar track. Selama proses permainan, satu per satu bisa kita amati mana siswa yang benar-benar butuh terapi perhatian dan mana yang memang sudah siap dengan setiap instruksi. 

Permainan resiko tinggi / High Impact kali ini adalah Landing Net, atau Jaring Pendarat. Setiap siswa diwajibkan untuk menaiki jaring yang terbuat dari tali hinga mencapai ketinggian tertentu. Setelah mencapai tujuan mereka kemudian terjun dengan pengamanan tali karmantel yang digantung di tubuh mereka dengan pengaman harnes. Tujuan dari permainan ini adalah adanya tantangan personal sehingga setiap siswa ditantang untuk mengendalikan rasa takutnya agar tujuan memanjat tali bisa tercapai. Selain itu kepercayaan diri menjadi kunci keberhasilan permainan ini, keuletan dan kesungguhan menjadi pendorong setiap pemanjat bisa mencapai tujuan. Ketrampilan memanjat yang benar juga diharuskan dikuasai supaya secara praktis pemanjatan mudah dilakukan. Mendahulukan tangan yang menggapai tali sebagai tumpuan kekuatan awal menjadi keharusan yang kemudian disusul dengan pijakan kaki yang mengikuti gerak tangan. Posisi ini memudahkan badan menemukan keseimbangannya. Untuk kelas atas, 4 hingga 6, ketrampilan memasang pengaman harnest secara mandiri kemudian melakukan pengamanan melalui tali atau belay temannya, sehingga nilai tanggung jawab serta respek ikut ditanamkan secara tim.Keseluruhan pengalaman, pengetahuan dan nilai dishare bersama dalam forum Debriefing atau pemaknaan di akhir kegiatan. Di forum ini akan lebih kuat jika dilengkapi dengan dokumentasi gambar atau video. Penggalian pengalaman dan kesan yang dirasakan selama outbound digali untuk menemukan respon peserta dari desain outbound yang dibuat. Dari respon yang sudah tergali tersebut, guru kelas yang berperan sebagai fasilitator melakukan pengikatan makna seluruh aktivitas dikaitkan dengan nilai-nilai yang dituju. Di penghujungnya seluruh peserta diikat dengan komitmen perubahan melalui kebiasaan baru selanjutnya di kelas dan di rumah.