Workshop Bersama President of National Green School Network America

Menjadi sebuah kesempatan yang sangat menarik bisa berkesempatan untuk mengadakan workshop dengan narasumber dari luar negeri. Dari Florida Amerika. Bahkan seorang Presiden dari National School Green Network America. Presiden dari Jaringan Green School di Amerika. Dialah Allen Stenstrup. Al, panggilan Allen memberikan workshop tentang School Garden Project di SDIT Alam Nurul Islam, Rabu 9 November 2016.
 Workshop diikuti oleh guru-guru dari level PAUD hingga guru kelas 3 SD. Karena memang workshop ini ditujukan untuk guru-guru kelas awal. Par guru berasal dari 10 sekolah alam di wilayah DIY-Jateng dalam koordinasi Jaringan Sekolah Alam Nusantara (JSAN) Regional DIY-Jateng. Sesuai dengan tema workshop bahwa fokus utama dari pembelajaran yang diberikan guru kepada para siswa adalah tentang konservasi pohon, hutan. Karena pohon dan hutan adalah masa depan kita di bumi ini. Sehingga manakala para siswa kita memiliki kepedulian akan pohon dan hutan, kita sedang menyiapkan masa depan bumi ini dengan baik. Begitu awalan yang disampaikan oleh Al dalam workshop ini. Al sebelumnya merupakan guru yang sudah berpengalaman mengajar selam 40 tahun. Sebelumnya pernah menjadi Managing Director Program di lembaga Project Learning Tree yang konsern pada konservasi hutan. Kini ia mempunyai lembaga ‘Our First Garden’ yang berfokus untuk menyebarkan pentingnya setiap sekolah di seluruh dunia memiliki program berkebun untuk menanamkan kepedulian terhadap lingkungan.
    Di workshop ini peserta dilatih untuk memberikan pembelajaran kepada siswa dengan aktivitas di luar ruangan. Alasannya, dengan memberi kesempatan siswa untuk kontak dengan alam langsung memungkinkan siswa melakukan observasi langsung secara kongkrit. Menemukan kondisi setiap benda dalam bentuk sejatinya. Anak diasah untuk menemukan, berdiskusi atas temuannya karena kemungkinan persepsi yang berbeda. Seperti saat para peserta diminta membuat kalung dari berbagi bentuk bangun datar. Dengan kalung tersebut peserta diminta mencari benda di luar ruang yang bentuknya persis dengan bentuknya. Atau dengan benda-benda di luar ruangan siswa diajak berimajinasi membuat bentuk hewan.
    Bisa jadi dalm mengenalkan sebuah konsep kepada siswa tidak harus dijelaskan secara lisan. Tapi siswa dilibatkan dengan simulasi langsung yang akan membuat sebuah konsep menjadi riil, kongkrit dan mudah dipahami. Seperti saat Al mengenalkan cara mengajarkan tentang fungsi organ dalam pohon. Semua peserta dibagi menjadi beberapa kelompok yang memerankan sebagai akar, batang, daun, xilem, floem dengan gerakan khas masing-masing. Siswa tentu akan merasakan langsung dan konsep akan melekat kuat.
   Dengan media pohon, para peserta juga diajarkan bagaimana menghitung diameter pohon dengan mengukur pnjang lingkar batang pohon. Dengan memberikan tanda di setiap pohon, setiap tahun hasil hitungan diameter siswa tersebut menjadi data bagi sekolah dalam memantau keberdaan pohon di setiap sekolah. Ditambah lagi misal observasi terhadap kondisi daun yang difoto dan didokumentasikan tentu data setiap pohon akan menjadi lengkap. Di satu sesi, Al juga memaparkan tentang pentingnya membuat sekolah itu menjadi green school. Al memberikan sebuah poster yang mendeskripsikan bahwa sebuah sekolah itu merupakan green school.  
Para peserta diminta mengidentifikasi sekolahnya masing-masing, jika dibuat level dari 1 – 10 dimana letak masing-masing sekolah untuk menjadi green school. Tidak masalah kondisi sekolh sekarang, tetapi setiap tahun setiap sekolah harus berubah menuju kondisi ideal green school. Karena green school memberi kesempatan luas kepada siswa untuk belajar secara aktif, atraktif, riil dan kongkrit sekaligus menanamkan sikap peduli kepada kelestarian alam ini.    
Di akhir sesi, para peserta dikenalkan dengan cara menyemai biji tanaman Pollinator atau pemancing hewn penyerbuk di dalam pot. Dalam satu kemasan terdapat 3 sampai 5 jenis biji tanaman bunga penarik serangga. Keberdaan tanaman pollinator sangtlah penting untuk kelangsungan tanaman supaya secara alami diserbuk dengan bantuan hewan seperti serangga. Al juga menawarkan komitmen bantuna dana bagi sekolah peserta yang diperuntukkan untuk membangun kebun sekolah yang digunakan sebagai media pembelajaran bagi siswa.           

update :
Rilis di Kedulatan Rakyat

Tutup Tema : Pentas Produksi Teater Kelas 3 “anak Ingusan berSUMPAH PEMUDA”

Bulan Oktober merupakan bulan yang bersejarah untuk negeri kita. Tepatnya setiap tanggal 28 Oktober peristiwa Sumpah Pemuda menjadi peristiwa penting dalam perjalanan kemerdekaan Republik Indonesia ini. Untuk memahamkan pengetahuan sejarah dan menanamkan nilai-nilai Sumpah Pemuda, kelas 3 menjalankan pembelajaran dengan tema Sumpah Pemuda. Sudah menjadi rahasia umum, jika pembelajaran menyangkut sejarah pasti dominan berupa hafalan. Tanggal, nama tempat, nama tokoh dan kronologi peristiwanya. Yang suka hafalan untuk menghafal semua itu bukan merupakan masalah. Tapi bagi yang butuh energi dalam menghafal, semua materi itu menjadi beban untuk dipelajari. Supaya siswa senang dan mencintai sejarah bangsa tentu pembelajaran diformat dengan metode yang menyenangkan. Dipilihlah metode teater untuk mempelajari terkait dengan pengatahuan dan nilai-nilai yang terkandung dalam peristiwa Sumpah Pemuda. Karena teater pilihannya, produk akhir dari pembelajaran tema ini adalah pertunjukan teater.

Pentas teater dilaksanakan di gedung Pertunjukan 2 Tejakusuma Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Acara ini bisa terselenggara berkat dukungan penuh para orang tua siswa yang memberikan bantuan berupa finansial dan material. Sehingga anak-anak mampu mendapatkan pengalaman yang kaya melalui pentas teater di panggung teater beneran. 
Pentas teater tersebut disertai dengan rangkaian penampilan dari beberapa anak yang mempunyai bakat seni. Seperti drummer, biola dan nanyanti. Tidak ketinggalan penampilan ustadz/ah kelas 3 juga turut serta menyemarakkan pentas. Ustadzah Sri dan Tari berduet menyanyikan lagu Gebyar-gebyar. Sedangkan ustadz-ustadznya turut tampil dengan menampilkan lakon ‘Londo ndeso’ sebagai pembuka pentas inti teater anak-anak. 

 
Tetaer terdiri 5 adegan. adegan pertama menceritakan kondisi para pribumi yang merupakan bangsa Indonesia yang mempunyai mata pencaharian sebagai petani mencoba berusaha untuk mempertahankan tanah air mereka dari penjajah. Sejurus kemudian datanglah pasukan penjajah Belanda yang merebut dan terlibat konflik dengan pribumi.

Adegan selanjutnya berupa perjumpaan noni-noni belanda dengan gadis pribumi. Noni-noni dengan sikap kesombongan meremehkan permainan yang dilakukan oleh gadis pribumi. Pesan penindasan sangat tampak dari adegan ini. Bahwa kapanpun dan dimanapun yang namanya penjajahan tidak pernah akan menghadirkan kebaikan.

Berkat perjuangan para pemuda yang tergabung dari jong-jong organisasi pemuda senusantara, mereka hingga membuat 2 kali konggres pemuda baru pada satu kesepakatan bahwa : seluruh pemuda senusantara mengakui bahwa bertanah air satu, tanah air Indonesia. Berbangsa yang satu bangsa Indonesia dan, Berbahasa yang satu bahasa Indonesia. Peristiwa sumpah pemuda tersebut merupakan tonggak penting Indonesia mampu membebaskan diri dari penjajahan yang sudah sangat lama mengungkungi negeri kita tercinta ini.

update :

Outbound Periode September – Oktober 2016

Menjadi media pembelajaran untuk menghadirkan impact sehingga setiap siswa terinspirasi untuk berubah, Outbound harus didesain dengan kegiatan yang menarik, seru, menggembirakan, menantang, dan tak ketinggalan penuh inspirasi sehingga memotivasi setiap siswa untuk berubah menjadi lebih baik. Hakikatnya outbound merupakan miniatur kehidupan. Sehingga manakala kita jumpai permasalahan menyangkut perilaku, kebiasaan, adaptasi, demotivasi dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa membuat terapinya dalam outbound. Dalam outbound bisa dilakukan intervensi kepada siswa dengan reward dan punishment misalnya untuk memunculkan semangat saat mandeg dan bosan.

Permainan Bersama : Burung Magpay

 Di permainan burung Magpay, semua siswa diwajibkan untuk mengumpulkan barang-barang yang tidak diletakkan pada tempatnya. Barang-barang yang tentunya keberadaannya menjadi sumber gangguan. Besi, pecahan kaca, sampah, batu. Setiap barang mempunyai nilai atau harga. Setiap kelompok berkompetisi mengumpulkan poin sebanyak-banyaknya. Dengan batasan waktu setiap anak menyapu bersih lapangan dari keberadaan benda yang tidak seharusnya berada di lapangan. Refleksinya : Segala sesuatu yang diletakkan bukan pada tempatnya (dholim) cenderung menjadi sumber gangguan, apapun itu. Menanamkan cinta lingkungan, menghargai berdasarkan usaha dan jerih payahnya, kepedulian sesama dengan saling membantu dan kemandirian.

Trusfall Net

  Permainan ini termasuk yang beresiko tinggi. Dilakukan untuk mengukur seberapa kepercayaan diri tiap peserta kepada rekan-rekannya. Setiap peserta menjatuhkan diri ke belakang, sedangkan teman-teman lainnya menangkap bersama menggunakan jaring. Untuk menjatuhkan butuh konfirmasi dahulu antara yang jatuh dan yang nangkap. Yang menangkap pertama mengatakan “siap jatuh?”, yang jatuh menjawan “Siap !!” lalu konfirmasi “Siap tangkap?” yang menangkap jawab “Siap !!” Baru menjatuhkan diri. Bagi yang percaya penuh sikap tubuhnya akan jatuh lurus. Tapi, yang masih ragu cenderung pantatnya dahulu yang dijatuhkan.

Ascending
Untuk sesi High Impactnya adalah Ascending. Yaitu naik ke atas menggunakan tali dan pengaman. Posisi peserta menggantung, mendaki tapak demi tapak pada tali webbing yang diinstall ke atas bangunan.


 Permainan ini membutuhkan koordinasi antara kekuatan kaki dan tangan. Sebagai kuncinya ada di tumpuan kaki. Jika kaki sudah kuat menapak, maka tangan tinggal mengangkat tubuh ke atas. Sedangkan untuk menahan berat badan tinggal menggantungkan saja pada tali pengaman.

Permainan Bersama : Penjual Minyak
Di kegiatan outbound bulan Oktober, permainan bersamanya adalah Penjual Minyak. Minyak tanah bukan minyak wangi. Kunci utama si penjual minyak agar mempunyai kredibilitas yang baik di penjual, dia harus menakar jumlah minyak pas. Tidak lebih dan kurang. Di sinilah kunci permainan ini. Setiap kelompok diminta untuk memenuhi galon mineral dengan air. Setiap anggota kelompok dibekali satu buah gelas. Mereka diminta mengambil air dari sungai di bawah. Semua kelompok berkompetisi untuk mendapatkan yang paling awal memenuhi galon. Bagi yang menuang air ke galon tidak dengan gelas penuh maka akan ditolak. Belum lagi kondisi jalan naik turun dengan berjubelnya peserta. Inilah titik peliknya.

Air Bridge

Permainan yang bisa digunakan untuk mengukur tanggung jawab bersama dalam kelompok. Kombinasi antara kekuatan, ketrampilan menyusun konstruksi jembatan dan keseimbangan. Dikarenakan kerja kelompok akan bisa dilihat anggota kelompok yang memegang tanggung jawab penuh dan yang terlihat supaya kelihatan kerja.


Mini Rafting 

Pada permainan yang termasuk High Impact ini, nyali peserta diuji. Ditambah lagi aliran sungai yang deras, peserta secara berpasangan melakukan rafting dengan ban truk. Pegangan yang bisa dilakukan hanya dengan pasangannya. Sehingga kerjasama dibutuhkan untuk mengendalikan laju ban.

Mukhayyam Semester Ganjil 2016

Bulan Oktober ini adalah jadwalnya kegiatan mukhayyam atau kemah berlangsung. Seperti tahun yang lalu, kegiatan mukhayyam ini dibagi dua. Untuk anggota pramuka SIT siaga, kelas 1 hingga 3 dan anggota penggalang, kelas 4 hingga 6. Untuk anggota siaga dilaksanakan di sekolah, mulai hari Kamis, 13 Oktober 2016 sore hingga Jum’at sore harinya. Sedangkan untuk anggota Penggalang berlokasi di bumi perkemahan Payaman di daerah Argosari Sedayu Bantul. Untuk anggota Penggalang dimulai hari Kamis hingga sabtu pagi.
Pemilihan lokasi tentu juga mengikutkan pertimbangan tantangan yang akan diberikan oleh setiap anggota Pramuka SIT. Bulan Oktober adalah saatnya memasuki musim penghujan. Turunnya hujan juga ikut menjadi komponen yang akan digunakan sebagai pembentuk tantangan pembelajaran setiap anggota. Target kegiatan mukhayyam ini secara umum adalah untuk membentuk karakter yang mandiri, bertanggung jawab. Kerjasama dengan orang lain, mampu menahan diri dan kemampuan bertahan dengan tantangan dan cobaan yang dihadapi.

 Kemandirian yang dibangun menyangkut aspek ketrampilan hidup dan relijiusitas. Ketrampilan hidup sebagai bekal mereka untuk survive alias bertahan hidup dalam menjalani kehidupan. Dengan menguasai ketrampilan hidup mereka diharapkan akan bisa menyelesaikan kesulitan-kesulitan praktis kehidupan. Setiap masalah praktis akan ditangani dengan baik. Relijius menjadi pondasi yang akan menyertai kemanapun di kehidupan ini berada dan menjadi apa. Sehingga dalam kondisi apapun, longgar, sibuk, kurang-lebih, sulit-mudah, mereka akan senantiasa dekat dan mendekat kepada Pencipta Jagat Raya.

Tentu bukan semata hanya formalitas kecakapan dan kompetensi pramuka yang dikejar. Harapan jauhnya, peserta mengalami pembelajaran dengan mengalami langsung. Mengalami dan merasakan setiap masalah alami yang muncul. Hujan, masak untuk memenuhi makan, kerjasama untuk menyelesaikan tugas, kenyamanan tidur, lelah, capek. Yang kesemuanya pasti akan memberi bekas yang kuat di dalam setiap pribadi siswa. Membuat lapisan mental yang akan memperkokoh keutuhan jiwanya dalam menghadapi kehidupan di masa depan.

Buka Tema : Menyimak Cerita Perjuangan dari Veteran

Bulan Oktober adalah bulan yang mempunyai nilai sejarah bagi bangsa kita, bangsa Indonesia. Tanggal 28 Oktober adalah waktu diperingatinya hari Sumpah Pemuda. Peristiwa tonggak awal kemerdekaan negara Republik Indonesia. Bersamaan dengan momen tersebut, tema pembelajaran siswa kelas 3 juga pas dengan peristiwa Sumpah Pemuda. Untuk membuka tema pembelajaran, siswa kelas 3 mengadakan kegiatan nonton film Sumpah Pemuda dan menyimak cerita perjuangan dari nara sumber.
Para siswa melihat film sejarah singkat terjadinya peristiwa Sumpah Pemuda. Diawali dari masuknya para penjajah Belanda yang sangat lama melakukan penguasaan terhadap wilayah di Indonesia. Penjajah melakukan pemecahan wilayah dan kekuasaan sehingga kekuatan untuk membebaskan diri dari penjajah tidak berarti. Baru setelah Belanda memberlakukan politik Etis dengan membangun beberapa lembaga pendidikan bagi anak-anak Indonesia serta memberi kesempatan pendidikan ke negeri Belanda, hasilnya, mereka tercerahkan dan menyadari untuk melakukan gerakan membebaskan diri dari penjajahan. Hasil didikan Belanda menghasilkan pemuda yang justru membentuk perkumpulan seperti Jong Java, Jong Celebes, Jong Sumatra, Jong Bataks dan lain-lain. Mereka berkumpul mengadakan Konggres Pemuda hingga 2 kali kesempatan yang akhirnya melahirkan Sumpah Pemuda, sebuah tekad persatuan untuk bergerak bersama membebaskan diri dari penjajahan.
Selesai menonton film, anak-anak kehadiran tamu dari Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) yaitu lembaga yang mewadahi mantan prajurit angkatan bersenjata republik Indonesia yang telah berjasa dalam perjuangan kemerdekaan maupun mempertahankan kemerdekaan RI. Beliau adalah Kapten (Purn) Suwarno. Pak Suwarno bercerita tentang sejarah kemerdekaan Republik Indonesia, mulai dari awal mula dijajah hingga mampu memproklamirkan diri sebagai negara merdeka.
Pak Suwarno sewaktu masih aktif sebagai tentara pernah menjalani penugasan ke luar Jawa. Diantaranya ke pulau kalimantan. Program yang dilaksanakan saat itu adalah ABRI masuk desa, untuk mengadakan pembangunan di wilayah-wilayah terpencil. Menyimak terlalu lama memang untuk anak terasa membosankan, sehingga acara dilanjut dengan tanya jawab.
 Begitu dibuka sesi tanya jawab, siswa-siswa langsung segera mengacungkan jari. Namun pertanyaan yang mereka sampaikan unik-unik dan tidak ada hubungannya dengan yang dibicarakan pak Suwarno tadi. Seperti, dahulu bapak pernah kena peluru belum, warna seragam bapak dulu apa, dulu TKnya dimana, polos dan lucu-lucu.
Unik lagi, di akhir acara setelah ditutup, tanpa diperintah, tanpa ada penugasan, anak-anak meminta tanda tangan pak Suwarno. Bahkan saking banyaknya yang mau minta tanda tangan mereka harus antri memanjang. Rasa nasionalisme memang harus tertanam sejak dini di era global tanpa batas antar negara ini.

Outing perdana tahun ajaran 2016-2017

Mengakhiri tema pembelajaran kedua di semester 1 ini, beberapa kelas sudah mulai melaksanakan kegiatan outing. Kegiatan yang bertujuan untuk memberi kesempatan lebih kepada siswa untuk melakukan pengamatan lebih dalam, luas dan kongkrit terhadap obyek pembelajarannya. Karena di outing ini para siswa lebih mudah untuk melakukan observasi langsung, menggunakan panca indra sebagai perangkat pembelajaran karunia dari Pencipta. Untuk mengenal ciptaan-Nya.
 Membawa tema Kerukunan, siswa kelas 1 mengadakan outing ke desa wisata Grogol Godean Sleman. Di sini anak-anak melakukan serangkaian permainan yang seru. Seperti tarik tambang, halang rintang dan beberapa kegiatan lain yang memungkinkan anak untuk melakukan aktivitas yang mengeratkan kerukunan di antara mereka. 
Setelah selesai melakukan permainan seru, anak-anak bersih diri dilanjutkan sholat Dhuhur berjama’ah. Untuk makan siangnya mereka melakukan santap siang secara bersamaan. Satu tempat berupa nampan besar yang berisi nasi, lauk, sayur disantap bersama untuk setiap kelompok. Kerukunan setiap anak diuji dengan makan seperti ini. yang biasanya selalu mendapatkan apa yang disukai, dengan bersama-sama mereka diharuskan untuk saling tenggang rasa, berbagi untuk tujuan bersama.
  Belajar tema makhluk hidup, siswa kelas 2 melakukan pengamatan langsung berbagai jenis hewan di kebun binatang Gembira Loka. Siswa disediakan obyek belajar yang bervasiasi. Aktivitas menginderai seperti menyentuh, membaui bisa dilakukan. Terkhusus di bagian satwa reptil. Siswa dipersilahkan untuk menyentuh langsung ular Phyton dengan pengawasan petugas dari kebun binatang.
Mempelajari tema makhluk Hidup dan Lingkungan, siswa kelas 3 mengunjungi WRC, Wildlife Rescue Center. Pusat penangkaran hewan liar yang sebelum dilepas ke hutan secara bebas. Ternyata, banyak hewan liar yang dilindungi oleh undang-undang dipelihara oleh per seorangan bahkan diperjualbelikan secara bebas. hal tersebut tentu makin lama akan berakibat pada keberadaan hewan liar tersebut. WRC dengan luas lahan 14 hektar sebagai lembaga konservasi hewan fokus pada hal tersebut. Di sini siswa sambil mengamati hewan-hewan yang ditangkarkan mendapat penjelasan dari fasilitator WRC. Semua hewan di sini akan dilepas ke hutan liar, di sini mereka sedang sekolah untuk menjadi liar. Aneh ya, kalo manusia sekolah itu supaya beradab, eh hewan-hewan ini sekolah supaya jadi liar. Betul, karena kebanyakan hewan liar itu sudah tidak liar karena dipelihara manusia. Mereka jinak bahkan mempunyai nama jika dipanggil namanya akan menoleh, makan juga sudah disediakan sama pemiliknya. Dengan kondisi tersebut hewan dilepas di hutan tentu dia tidak akan bisa survive mempertahankan hidupnya sendiri.
Bagi hewan yang sakit akan diobati dan disembuhkan. Untuk yang mati akan dilakukan pembedahan di ruang Incenerator dengan tujuan diketahui penyebab kematiannya. Jika kematiannya diakibatkan penyakit menular jasad hewan mati tersebut akan dibakar untuk menghindari penularan ke hewan lainnya. Para pengunjung sebelum masuk area hewan diwajibkan melumuri badannya dengan lotion anti nyamuk supaya terhindar dari gigitan nyamuk yang merupakan media penularan penyakit. Selama di area satwa pengunjung juga harus tenang tidak diperkenankan melakukan aktivitas yang menarik perhatian satwa bahkan memberi makan satwa. Saat di lokasi kita juga sempat menjumpai 2 orang warga asing menjadi relawan pemelihara satwa di situ. 
 Selesai di WRC perjalanan outing berlanjut ke waduk Sermo untuk mengamati kenampakan alam buatan dan alami. Waduk dengan luas 157 hektar ini dibangun dengan tujuan sebagai penyangga air pertanian di Yogyakarta secara umum dan Kulonprogo khususnya. Selain untuk pengairan, waduk Sermo dimanfaatkan sebagai obyek wisata. Di lokasi bisa dijumpai beberapa dermaga untuk kapal motor keliling waduk. Beberapa spot untuk foto selfi juga disediakan sebagai bentuk menikmati panorama indahnya waduk.
 Mempelajari tema Makhluk Hidup juga, siswa kelas 4 melakukan outing di pusat peternakan kambing Ettawa di desa Nanggring Turi Sleman. Kambing-kambing ini diternakkan dalam rangka untuk dimanfaatkan susunya yang diproduksi dan dijual dengan tujuan konsumsi rumah tangga. Para siswa berkesempatan untuk melakukan simulasi memerah susu kambing ini. Tentu sangat berbeda dengan memeras susu pada sapi.
Selain memerah susu, para siswa juga ikut belajar bagaimana mengolah susu hasil perahan kambing ini untuk dimatangkan siap konsumsi. Beberapa perlakuan khusus supaya steril dan awet dilakukan.
Selesai darai pusat peternakan kambing Ettawa, perjalanan berlanjut ke kantor pemerintah kabupaten Sleman. Siswa belajar terkait dengan tata pemerintahan kabupaten. Di pemerintahan kabupaten mereka mengenal struktur dan fungsi pemerintahan. Mengenal nama pejabat hingga ke wilayah dan penghasilan utama kabupaten Sleman.

SDIT Alam di Konferensi International School Grounds Alliance Ke-5 di Swedia


Bertepatan dengan perayaan Idul Adha, tanggal 12 -13 September 2016, konferensi International School Grounds Alliance atau ISGA yang ke-5 digelar di kota Lund Swedia. Konferensi tersebut dihadiri oleh delegasi lebih dari 200 peserta yang berasal dari hampir 20 negara dan 5 benua. Pada konferensi kali ini yang diangkat berkaitan dengan tema Green Grounds for Helath and Learning, Halaman Sekolah Hijau untuk Kesehatan dan Pembelajaran. Sesuai dengan nama organisasinya, ISGA berkonsentrasi pada bagaimana membuat setiap sekolah untuk mengadakan pembelajarannya di luar kelas dengan memanfaatkan halamannya. Pada kesempatan kali ini, SDIT Alam Nurul Islam kembali diundang untuk hadir di konferensi. yang berbeda, pada konferensi kali ini mendapat kehormatan sebagai Keynote Speaker untuk memberikan kuliah terkait dengan Risk taking in the learning process gives students a better chance to succeed, bagaimana melibatkan faktor resiko dalam proses pembelajaran itu penting untuk memberikan kesempatan lebih baik setiap siswa untuk berhasil dalam belajarnya.
Lokasi konferensi bertempat di Lunds Stadshall atau Cityhall-nya kota Lund. Letaknya berada tepat di tengah-tengah kota Lund berdekatan dengan Domkyrkan atau Katedral terbesar di kota Lund. Pilihan tema dan tempat di Swedia memang mempunyai alasan kuat. Swedia sudah puluhan tahun masyarakat dan didukung oleh pemerintah melalui regulasinya terbukti mempunyai kultur untuk menjaga kelestarian lingkungan yang kuat. Hampir di setiap sudut kota orang-orang menggunakan sepeda sebagai moda transportasi disamping mobil dan bus umum. Untuk angkutan umumnya, Swedia sudah mengganti bahan bakarnya dengan gas yang dihasilkan dari proses daur ulang sampah dan limbah organiknya. Lund membangun kawasan hutan kota yang luas sudah cukup lama terlihat beberapa pohon berdiameter besar memenuhi hutan kota. Energi angin lebih digunakan untuk membangkitkan energi listrik dan menutup pembangkit tenaga nuklirnya. Pendek kata, teori tentang kelestarian lingkungan yang sering dipelajarai dan menjadi slogan itu benar-benar maujud bisa dinikmati di kota Lund secara khusus maupun kota lain di Swedia.

 Di selasar gedung para peserta disuguhi dengan informasi terkait dengan program, jaringan dan perkembangan school ground di beberapa negara. Baik yang sudah mapan jaringannya sehingga semua sekolah sudah mengubah konsep pembelajarannya dengan menggunakan halaman, maupun yang baru merintis seperti informasi school ground dari wilayah Chile Amerika selatan.

 Acara dibuka dengan penampilan konser kecil dari para pelajar seni di kota Lund. Ikut membuka acara konferensi adalah Elin Gustafsson yang merupakan anggota dewan di kota Lund. Dukungan untuk kegiatan ISGA sangat kuat dikarenakan sesuai dengan visi yang dijalankan oleh kota Lund.

Hari pertama dan kedua diisi oleh presentasi para pembicara keynote speaker. Hari pertama tampil Cam Collyer (Canada) yang mengangkat topik Nature and the child : changing landscape, disusul oleh Dr. Petter Åkerblom (Swedia) yang berbicara tentang The importance of children’s public space dan Helle Nebelong (Denmark) yang membahas tentang Children’s landspaces in cityscapes. Hari kedua tampil sebagai pembicara Muhammad Ariefuddin (Indonesia) berbicara tentang Risk taking in the learning process gives students a better chance to succeed, kemudian Dr. Peter Gärdenfors (Swedia) membahas topik The role of the body and the senses in learning and understanding dilanjutkan Fredrika Mårtensson (Swedia) berbicara tentang Green play props for learnin, terakhir adalah Susan Humphries (Inggris) yang menyanmpaikan refleksi tentang Reflections on wellbeing and sense of self. Ada sesuatu menarik sewaktu Dr. Peter Gärdenfors membahas materinya, selalu merujuk apa yang disampaikan oleh Muhammad Ariefuddin di tingkat praksisnya.

 
 
Pada hari kedua konferensi, setelah menyimak presentasi dari para keynote speaker, diadakan fieldtrip di beberapa sekolah di sekitar Lund. Diantaranya adalah Nyponbacken, yaitu taman kanak-kanak yang menerapkan pembelajaran pendekatan murni natural. Siswa dibiarkan berinteraksi langsung di alam yang sudah dilengkapi dengan kelengkapan seperti struktur bangunan seperti kapal, rumah, mobil dari kayu, cara memotong kayu dengan gergaji, memaku dengan palu, memasak, berinteraksi langsung di hutan. Total aktivitas di luar ruangan, bangunan yang ada ada satu rumah kecil sebagai tempat berlindung di kala cuaca tidak mendukung. Byskolan, meski modifikasi antara in dan outdoor, tetapi pembelajarannya menekankan nilai demokrasi pada anak. Mereka sudah mampu memenuhi makanannya sendiri yang dihasilkan dari kebun yang 100% organik dan lokal, dapurnya mendapat sertifikat eco-certifikat. Sankt Hansgården, merupakan kebun sebagai pusat aktivitas para remaja yang memadukan antara kebun dan taman imajinasi. Mampu menghasilkan produk makanan sendiri yang memungkinkan siapapun untuk memberikan respek terhadap upaya pelestarian lingkungan.Vinden, taman kanak-kanak yang dilengkapi dengan arena bermain anak yang menantang baik bisa digunakan untuk anak maupun orang dewasa. Österskolan, sekolah yang terus mengembangkan diri dengan memanfaatkan halaman untuk menarik pembelajaran siswa. Norpan, meski mempunyai lahan sempit namun bisa menyajikan kejutan-kejutan yang bisa membuat anak bermain dengan riangnya. Hijau di waktu musim panas ataupun perbukitan untuk meluncur di saat musim dingin. Tåget, taman kanak-kanak yang menyajikan lahan untuk tantangan bagi setiap anak.
 
 
 
Hari ketiga diisi dengan agenda fieldtrip penuh seharian. Peserta dibagi menjadi 4 kelompok. Kelompok pertama mengunjungi tempat bermain dan belajar di daerah Lund, kelompok kedua menggunakan kereta dan bersepeda keliling Copenhagen melihat landscape play for child, kelompok ketiga menggunakan bis keliling Copenhagen melihat child landscape for play dan kelompok keempat dengan bis keliling kota Malmo melihat sekolah dan playground yang didesain sebagai tempat publik yang ramah anak. 
Di hari kedua konferensi juga diisi dengan kegiatan breakout session, yaitu sesi workshop yang bisa dipilih oleh para peserta sesuai dengan minat yang dipilihnya. Metode mengaktifkan siswa di luar kelas, mengaktifkan gerak siswa, kiat menjadi kepala sekolah yang berdaya dalam mewujudkan sekolah hijau, desain kebun yang ramah dengan serangga, seni dan imajinasi, pembelajaran sejarah yang kongkrit dan menarik adalah beberapa materi breakout session. Lokasi yang digunakan ada yang di indoor maupun outdoor menggunakan taman-taman di sekitar Lunds Stadshall.
 Di penghujung konferensi disampaikan kegiatan konferensi yang ke-6 tahun 2017 yang akan bertempat di berlin Jerman. Untuk konferensi tahun depan akan mengangkat tema terkait dengan Schoolyard Diversity.

Update :