Tutup Tema : Aku dan Keluargaku

Untuk menutup tema pembelajaran yang perdana ini, siswa kelas 1 mengadakan acara yang bertajuk ‘Aku dan Keluargaku’. Acara berlangsung pada hari Kamis, 25 Agustus 2016 di GOR SDIT Alam. Bentuk acaranya, para orang tua siswa diundang hadir ke sekolah. Para orang tua akan disambut dan dilayani hidangan oleh para putra-putrinya di tempat yang sudah disulap bernuansa resepsi pernikahan.
 Kegiatan tutup tema ini bertujuan sebagai media setiap siswa untuk mengungkapkan kasih sayangnya kepada orang tua mereka melalui kegiatan jamuan makan siang. Bagi anak yang sudah biasa diberi peluang orang tuanya untuk mandiri dan membantu keperluan meski kecil, pasti kegiatan ini menjadi hal yang sangat menarik. Namun, bagi anak yang masih mempunyai halangan dalam masalah kemandirian, kegiatan ini menjadi tantangan yang menarik. Apalagi dilakukan bersama-sama tentu satu anak dengan yang lain bisa saling mengamati sejauh mana ungkapan kasih sayang kepada orang tua masing-masing.

Sesuai undangan yang disampaikan kepada setiap orang tua siswa, berbondong orang tua hadir untuk segera mendapatkan layanan sebagai wujud kasih sayang putra-putri masing-masing. Setiap orang tua menebak-nebak, apa ya kejutanyang akan diberikan oleh anaku.

Di dalam GOR sudah menunggu putra-putri yang siap melayani para tamu yang merupakan orang tua mereka sendiri-sendiri. Para orang tua mencari-cari sebelah mana letak duduk putra-putrinya.

Begitu para orang tua sudah dipersilahkan duduk dengan nyaman, bersegera para siswa untuk mengambilkan hidangan snack kepada orang tuanya. Mereka akan pastikan layanan yang diberikan kepada orang tua masing-masing adalah yang terbaik. Setelah hidangan disajikan, orang tua dipersilahkan menyantap makan, bersama orang tua lain berbincang sesekali memberikan kesan pada layanan putra-putrinya. Tentu tak ketinggalan orang tua mengabadikan aksi putra-putrinya dengan kamera androidnya.

 Di penghujung acara, setiap orang tua dipersilahkan untuk berfoto bersama untuk menunjukkan kedekatan mereka melalui pose bebasnya Berfoto di tempat yang sudah disediakan khusus dengan bakcground seperti resepsi pernikahan.

Pengalaman di Alam Kubur

Siapapun pasti akan kesana. Tak satupun yang bisa pergi menghindarinya. Tapi, kebanyakan orang masih takut. Bahkan hanya untuk mengingatnya. Itulah kehidupan alam Kubur. Nah, untuk mengenal gimana rasanya menghuni alam Kubur, memasuki tema Tanah, siswa-siswi kelas 3 SDITAlam Nurul Islam berlatih untuk menjadi penghuninya.

Siswa belajar cara mengkafani jenazah.  Yang jadi jenazahnya gantian satu per satu. Sehingga semua anak merasakan menjadi jenazah. Tiap siswa berbaring di atas kain kafan. Kemudian dibungkus diikat di 3 bagian. Bawah, tengah dan atas.

Setelah dibungkus kain kafan, kemudian disholatkan. Siswa belajar bagaimana mensholatkan jenazah. Tentu sholatnya sangat beda dengan sholat-sholat lain. Karena dilakukan tanpa sujud dan ruku’. Hanya dengan 4 kali takbir dan diakhiri salam dengan posisi masih berdiri.

Setelah disholatkan, kemudian diantarkan menuju kuburnya. Bersama-sama karena disamping berat, juga sebagai bukti kecintaan kepada saudara sehingga ingin melepas hingga liang kuburnya.

Dimasukkanlah si mayit ke dalam liang kubur. Sebuah liang ukuran 0,5 x 1,5 meter. Setelah kubur ditutup, terasa gelap dan pengap. Sendiri tanpa teman. Sunyi sepi. Hitam kelam.

Terakhir, bagi yang masih hidup mendoakannya. Menghibur keluarga yang ditinggalkan. Sedang si mayit, menunggu hingga kelak hari dibangkitkan.

Pameran Kaktus

Memasuki tema Batu di pembelajaran kali ini, kelas 3 mengadakan event pameran. Pameran Kaktus. Loh apa sih hubungannya dengan tema batu? Kaktus adalah tanaman yang bisa bertahan di daerah yang sangat sedikit air. Artinya di daerah yang dipenuhi bebatuan yang sangat sulit air, seperti di gurun pasir adalah tempat hidup yang pas untuk Kaktus.
Banyak macamnya dan unik-unik bentuknya. Harganya berkisar dari Rp. 5000 untuk yang sederhana, sedangkan yang berwarna dan unik sekali bisa sampai Rp. 20.000.

Ternyata banyak juga peminatnya. Begitu dibuka, langsung banyak siswa yang berkumpul. Ada yang sekedar melihat, tapi banyak juga yang memang bener-bener beli.

Sepertinya trend pameran akan sering diadakan. Selain mengasah sense menjual, anak-anak juga belajar bagaimana membuat kemasan menarik supaya dilirik oleh calon pembeli.

Pasar Satwa

Di tema Makhluk Hidup kali ini, kelas 2 menyelenggarakan kegiatan yang menarik seluruh siswa SDIT Alam. Apaan tu? Ya pasar Satwa dong. Maksudnya? Seperti pasar Ngasem yang dulu itu pa? Yach, mirip dikit. Tapi idenya gak jauh beda kok. Kalo pasar Ngasem sudah pasti lebih lengkap.

Lokasinya ada di 3 ruang kelas 2. Begitu ada woro-woro pasar satwa sudah dibuka, berhamburlah seluruh siswa menuju kelas 2. Satu per satu kandang satwa diliat. Apa isi penghuninya. Anehkah atau biasa aja? Ternyata, hampir semuanya pada bawa hewan piaraan yang mungil-mungil. Ada Jangkrik, Hamster, Belalang, Kepompong, Ikan Hias, dan lain-lain.

Ni dia yang aneh. Di kelas 2 C ada sebuah kandang dari bambu. Di dalamnya ada 2 ekor Ayam. Di atas kandang itu tertulis Rp. 6000 per ekor dalam kurung TIDAK DIJUAL. Nah loh, apa maksudnya ni? O pasti Ayam ntu cuma dipamerin aja. Bukan dijual.

Wow, ternyata peminatnya banyak juga. Meski tanpa pemberitahuan sebelumnya, ada juga yang bawa uang trus langsung deh terjadi transaksi. Yang paling banyak laku terutama untuk hewan-hewan kecil. Disamping murah harganya, bawanya pun enak.


Dalang and The Sugar Factory

Wah judulnya kayak film. Charlie and The Chocolate Factory. Emang sengaja dibuat gitu. Sebab postingan ini akan berkisah gak jauh kok sama gula dan dalang. Begini ceritanya. Kelas 4 kan baru saja ngadain outing tuh. Tempatnya ngambil obyek di pabrik gula Madukismo Jogja. Kebayang kan gimana pabrik gula tu. Nah, yang masih gelap belum kebayang, ikuti terus kisah ini.

Di pabrik gula Madukismo, temen-temen kelas 4 disambut di aula. Di aula mereka diterangkan tentang gimana sih proses pembuatan gula dari bahan asalnya. Yak bener dari batang pohon Tebu.  Pohon-pohon Tebu yang sudah masak diangkut menuju pabrik gula. Sebelum masuk penggilingan ditimbang dahulu. Untuk mengangkut Tebu menuju mesin penggilingan ada sebuah kendaraan seperti kereta api tapi mini ukurannya. Orang menyebutnya Lori. Bagi tamu yang berkunjung diberi fasilitas naik Lori menuju pabrik.

Sepanjang perjalanan bisa dinikmati pemandangan mesin-mesin pengolah Tebu. Buesar-buesar deh ukurannya. Ya iyalah lha wong Tebu yang diolah juga banyak. Berton-ton jumlahnya.

Begitu masuk pabrik. Subhanalloh, lebih gede-gede lagi mesinnya. Banyak pipa-pipa besar bergelantungan ke sana ke mari. Bau agak kurang sedap juga memenuhi ruangan pabrik. Bau itu berasal dari limbah Tebu yang sudah diperas sari manisnya.

Ini dia gula yang udah jadi. Mmm . . . so sweeet. Manis banget deh. Lebih mantep karena kluar langsung dari mesin pengristal. Cairan perasan Tebu tadi rupanya harus dikristalkan dulu sehingga bentuknya seperti pasir. Makanya kemudian banyak orang menyebutnya gula pasir

Untuk pengemasan mash dibutuhkan tenaga manusia. Dimasukkan plastik, ditimbang dan disegel. Banyak supermarket besar di Jogja yang meminta pesanan di Madukismo. Gak krasa waktu udah siang. Begitu pada puas, perjalanan outing berlanjut ke Godean. Tujuannya untuk mendatangi rumah mbah Harjo. Seorang dalang yang sudah berpengalaman dalam dunia pewayangan. Temen-temen akan belajar tentang wayang, gamelan. Eh, mereka akan dikenalkan juga dengan mas Banar. Dalang yang juga baru menginjak kelas 4 SD.

Begitu sampe lokasi, anak-anak langsung menyerbu gamelan. Berebut ingin membunyikan. Oleh mbah Harjo langsung diterangkan satu per satu nama gamelan dan bagaimana cara membunyikannya.

Selanjutnya mereka dikenalkan dengan beberapa tokoh wayang. Siapa yang namanya Bagong, Petruk, Bima dan lain-lain. Di situ juga telah hadir mas Banar, sang dalang cilik. Temen-temen kelas 4 disuguhi unjuk kebolehan mas Banar. Semua menunjukkan wajah heran dan kagum. Ternyata bisa ya, meski kecil tapi mampu menjalankan wayang dan ceritanya.

Finding Neverland

Seluruh tema pembelajaran selesailah sudah. Yang terakhir adalah tema Tanah. Untuk memperdalam pembelajaran tentang tanah seperti biasa ada Outing Time ! Dipilih obyek Bebeng Kaliadem. Tepatnya berada di kaki gunung Merapi. Di Bebeng kita akan lihat bekas-bekas letusan Merapi tahun 2006. Tidak ketinggalan, kita akan liat juga bunker, tempat perlindungan letusan Merapi. Tapi bunker itu di letusan terakhir 2006 tidak berfungsi baik. Ada 3 korban meninggal saat berlindung di dalamnya.

Ini dia bunkernya. Karena ruangannya di dalam tanah, sehingga untuk masuk harus turun dulu

Beginilah suasana di dalam bunker. Meski anak-anak tahu kalo di dalamnya ada 3 korban meninggal, ternyata keingintahuan mengalahkan ketakutannya. Di dalam bunker dengan luas 7 x 10 meter denga atap bebentuk melengkung. Setelah letusan Merapi, bunker ini tertutup lahar panas. Bahkan ada yang masuk. Terlihat adanya banyak lapisan pasir di dalam bunker bekas lahar yang sudah mendingin. Setelah puas mengamati bunker, perjalanan lanjut untuk menemukan gua Jepang.Sebelum melakukan perjalanan yang cukup jauh, berpose dulu di atas lava yang kini sudah menjai lapisan batu dan pasir.

Disana banyak ibu-ibu yang kerjaannya mencari rumput untuk dijual. Mereka mencari di tempat-tempat yang tinggi kemudian diusung ke bawah. Karena rumput di lereng Merapi kualitasnya baik sekali.

Perjalanan berlanjut dengan menyeberangi kali Bebeng. Kali ini dulunya juga dilewati lahar panas. Lihat saja bekas alirannya yang kini sudah menjadi batu dan pasir.

Masuklah ke dalam hutan. Rupanya disini tidak tampak ada bekas -bekas lahar yang menerjang. Terlihat tetumbuhan yang menghijau. Selama perjalanan setiap siswa harus disiplin. Jalan satu-satu. Serta selalu menunggu saat barisan paling belakang tertinggal.

Subhanalloh. Betapa hijau dan sejuknya pemandangan di dalam hutan. Di kanan-kiri terdengar bunyi kicauan burung.

Saatnya jalan curam. Semua berjalan harus penuh kewaspadaan. Dengan jalan selebar dua kaki dan di samping adalah jurang yang curam sekali. Menuruni jurang jalan itu berkelok kanan dan kiri.

Lihat betapa tingginya jurang. Sempat ragu untuk mengurungkan niat. Tapi keingintahuan mengalahkan kekhawatiran. Seluruh siswa diharuskan berjalan merapat ke dinding.

Alhamdulillah, sampailah ke dasar jurang. Tapi perjalanan masih berlanjut. Karena gua Jepang memang letaknya sangat tersembunyi. Di area itu ada 3 goa. Dua gua berdekatan terletak dalam sebuah ceruk bukit. Satunya lagi masuk mengikuti aliran sungai.

Kita akan menuju gua yang di ujung aliran sungai. Kebetulan sungainya tidak ada aliran air. Meski ada beberapa bekas genangan yang tertinggal.

Eureka !! Ini dia guanya.  Setelah perjalanan yang cukup melelahkan dan mencengangkan terobati dengan penemuan ini. Wah pose dulu ah !

Di depan gua terdapat air terjun. Dulunya sengaja dibuat dekat dengan sumber air. Sehingga kebutuhan akan air jadi terjamin. Sengaja kita gak masuk gua. Takut kalo ada hewan berbisanya. Atau gas beracun, karena sudah lama sekali gak dihuni manusia. Apalagi jarang orang yang merambah sekitar situ.

Merayakan penemuan dengan mengguyur diri dengan air. Ufh . . . dingin sekali.

Istirahat dulu, sambil mengisi energi untuk perjalanan pulang. Sambil menikmati suasana alam yang masih hijau dengan bunyi-bunyi burung serta serangga. Enak ya kalo menyatu dengan alam.

Alhamdulillah, penemuan gua Jepang kali ini membawa pengalaman yang tak terlupakan. “Baru kali ini outing yang paling menengangkan” komentar anak-anak.

Toys Fair Kelas 1

Mengakhiri tema pembelajaran Mainan, kelas satu mengadakan pameran mainan. Pameran Mainan itu serentak diselenggarakan oleh kelas 1 A, B dan C. Bertempat di selasar kelas 1 menggunakan meja-meja kecil. Seluruh Mainan hasil karya mereka dipajang menanti apresiasi dan tentu saja rupiah yang akan membelinya.

Ini stand-nya mbak Diva. Mainan buatannya adalah wayang kupu-kupu kertas. “Ini semua aku yang buat lho Ust” Akunya. “Trus idenya dari siap?” tanya ustadz. Dari baca buku di perpustakaan. Ck. . ck. . bener-bener trampil nih anak

Bahan yang digunakan bermacam-macam. Mulai dari kertas, logam, kayu, plastik hingga kulit jeruk. Dari yang tradisional hingga yang modern. Dari yang kecil mungil hingga yang gede mantep.

Memang sih, beberapa ada yang masih dibuatin sama orang tuanya. Gak apa-apa deh, ayng penting bisa ikut pameran dan memajang Mainannya.

Nah, untuk yang ini, satu perangkat pakaian perang. Mulai dari pedang, tameng hingga baju besinya yang semuanya terbuat dari kertas.

Ini dia stand-nya mas Abit kecil. Liat betapa banyak dan variasi boneka kertas. Tuh bonekanya mas Fahim. Lucu ya. Boneka Sponsebob tu bisa digerakin lidahnya naik-turun loh. Katanya, itu murni buatannya. Idenya liat-liat di internet. Wuih . .wuih cakep bener. Sukses deh buat anak-anak kelas 1. Moga-moga besar kelas bisa buat pameran yang lebih besar lagi. Bisa mendatangkan penonton ribuan. Amiin.