Outing Energi Hibrid PLTH Bayu Baru

Target pembelajaran tidak semata hanya tahu. Tapi lebih jauh dan dalam lagi apabila pembelajaran yang dilakukan itu mampu membuat siswa mampu untuk melakukan sesuatu atas pengetahuan yang didapat. Tidak mesti setiap pengetahuan itu akan membuat orang yang memilikinya mampu berbuat. Hanya pengetahuan yang memicu motivasi saja yang mampu melahirkan action untuk berbuat. Untuk mencapai target itu, pembelajaran bertema Energi dan Gerak kelas 3 ditutup dengan kegiatan outing. Tujuan yang pas ada ke PLTH, Pembangkit Listrik Tenaga Hibrid Bayu Baru di Pantai Baru Srandakan Bantul.
Pertama kali yang dikunjungi adalah Bengkel Workshop Kincir Angin milik PLTH Bayu Baru. Di sini anak-anak mendapat menu yang lengkap. Penjelasan, melihat dan memegang kincir angin beserta perlengkapannya. Meski dengan tempat yang terbatas, tapi anak-anak menyimak penjelasan dari narasumber dengan antusias. Baru tahu, ternyata jumlah baling-baling kincir angin mempunyai pengaruh. Semakin sedikit baling-baling semakin cepat, semakin banyak baling-baling semakin kuat putarannya. Anak-anak juga diajak belajar cara membuat generator atau dinamo. Inti utama generator adalah adanya lilitan kawat di antara magnet. Magnet-magnet akan berputar dari tenaga kincir yang dihembus angin diantara lilitan kawat yang akan menghasilkan aliran listrik. Jumlah lilitan mempengaruhi tingginya tegangan. 
 Untuk menghitung jumlah lilitan kawat ada alat khusus yang digunakan. Sehingga jumlahnya pasti. Kemampuan mekanik menjadi wajib dikuasai bagi yang ingin menjadi ahli pembuat kincir angin listrik. Selain mekanik, kemampuan kelistrikan juga dibutuhkan. Karena aliran listrik yang dihasilkan dari dinamo selanjutnya akan dinaikkan tegangannya. Karena hasil tegangan dari dinamo adalah 12 volt. Sedangkan listrik konsumsi rumah tangga bertegangan rerata 220 volt. Selain itu arus listriknya juga harus diubah. Arus yang keluar dari dinamo adalah DC harus diubah menjadi Ac menggunakan inverter.
Selain dinamo, anak-anak juga diberitahu bagaimana cara membuat baling-baling. Bahan yang digunakan adalah fiberglass. Selain ringan, fiberglass awet tidak mudah kena karatan. Baling-baling dibuat dengan cetakan dengan model dan bentuk yang sudah tentu. Setelah jadi, dites simetrinya supaya putaran yang dihasilkan seimbang dan maksimal.
Tahap akhir adalah pengecekan arus listrik dari dinamo. Dinamo diputar menggunakan mesin dengan kecepatan tertentu. Di aliran outputnya disambungkan dengan pembalik arus dan penaik tegangan lalu dihubungkan dengan bola lampu sebagai indikator. Semakin cepat putaran, nyala lampu akan semakin terang. Menandakan besarnya arus listrik yang dihasilkan. Nah, untuk mencegah overflow atau arus yang terlalu besar yang akan merusak peralatan listrik, dipasanglah pengontrol arus. Sehingga kelebihan arus bisa dibuang dengan alat tersebut.
 Setelah memahami kincir angin secara mekanik dan kelistrikan, perjalanan outing dilanjut ke lokasi tempat stasiun PLTH berada, yaitu di pantai  Baru Srandakan Bantul. Di sini anak-anak dikelompokkan menjadi 3 grup yang akan dipandu petugas keliling di instalasi PLTH sambil dijelaskan.
Berbagai macam jenis kincir angin dipasang di stasiun PLTH Bayu Baru. Perbedaanya pada ukuran kincir dan dinamo. Untuk memasang kincir angin dibutuhkan tiang setinggi 10-15 meter. Investasi yang harus dikeluarkan untuk memasang 1 unit kincir angin kurang lebih 50 juta. Itu belum keengkapan seperti baterai aki, inverter, penaik tegangan dan instalasi listrik lainnya.

 

baterai aki yang digunakan ada 2 macam. Aki kering dan aki basah. Memang sangat butuh banyak aki yang berfungsi sebagai penyimpan energi listrik yang dihasilkan oleh kincir angin dan panel surya. Oya mengapa disebut hibrid, karena listrik yang dihasilkan berasal dari 2 sumber. Kincir angin dan panel surya. 
Listrik yang dihasilkan selain disalurkan kepada 60 unit warung makan yang berada di pantai, juga digunakan untuk menaikkan air dengan pompa. Air itu ditampung terpusat di tandon yang juga dialirkan ke konsumsi penduduk. Pengembangan lain dari PLTH adalah adanya lahan pertanian di pasir pantai dan tambak udang galah yang energi listrknya diambil dari PLTH.
Selain kincir angin dan panel surya, PLTH Baru Baru juga mengembangkan energi biogas yang dihasilkan dari kotoran Sapi. Selain budidaya ternak Sapi, kotoran yang dihasilkan bisa diolah untuk diambil biogasnya. Dua Sapi sudah cukup untuk konsumsi biogas satu buah rumah tangga. Butuh 40an kilogram kotoran yang diendapkan dalam tabung reaksi yang besar selama 12 – 14 hari. Baru gas metana akan keluar dan bisa dimanfaatkan untuk kompor gas. Hasil biogas juga didistribusikan ke warung dan penduduk sekitar pantai Baru. Selain dari Sapi, kotoran manusia ternyata juga bisa dimanfaatkan. Butuh minimal kotoran dari 200 orang supaya mampu bisa mencukupi konsumsi biogas 1 unit rumah tangga.

Untuk mengetahui sejauh mana internalisasi para siswa dari pembelajaran tema Energi dan Gerak serta ditutup dengan kegiatan outing perlu dilakukan dengan pengisian worksheet setelah outing. Mengapa dilakukan setelah outing. Untuk siswa kelas bawah, membawa worksheet saat kegiatan outing justru akan menyusahkan proses pengamatan dan pemenuhan ingin tahunya. Kita bisa panggil ingatan mereka melalui worksheet yang dibuat khusus.

Kita bisa minta 3 hal yang yang paling diingat dari kegiatan outing, baik dengan tulisan maupun gambar. Kita bisa lihat, bahkan kejadian guru yang salah ucap ATV dengan TVS saja melekat kuat sehingga diungkapkan dengan gambar dalam worksheet.

Bisa jadi target harapan motivasi kita dengan pembelajaran tema Energi dan Gerak supaya anak lebih menyukai dunia mekanik dan sains agak meleset. Justru anak malah tertarik dengan fenomena sepanjang outing meski tidak menjadi bahan utama penjelasan di outing. Karena minat anak kita tidak bisa kita batasi.

Yang ideal pun juga bisa kita jumpai. Dengan pembelajaran dan outing ada anak yang terpicu untuk mentarget cita dan berbuat menghasilkan karya yan bermanfaat bagi lainnya. 

Ninja Warrior Save The Eggs

Nyawa penting aktivitas pembelajaran adalah keingintahuan. Manakala semua siswa sudah tumbuh rasa ingin tahunya, maka proses pembelajaran dijamin menekati targetnya. Tapi sebaliknya, sebuah pembelajaran menjadi seakan beban yang membosankan manakala siswa belum menjalaninya dengan motivasi dari rasa ingin tahunya. Sehingga menjai sebuah kewajiban untuk memulai pembelajaran itu dibutuhkan metode atau aktivitas sebagai media untuk menghantarkan masuk pembahasan yang memancing rasa ingin tahu siswa. Memulai tema Gerak, siswa kelas 3 mengikuti kegiatan buka tema yang diberi tajuk game Ninja Warrior Save The Eggs, Ninja Warrior menyelamatkan telur-telur. Apa hubungannya Ninja Warrior dan telur? Nah, judulnya saja sudah memancing ingin tahu kan? 🙂
  Untuk memulai game ini, anak-anak dijelaskan dahulu aturan mainnya. Setiap anak diharuskan membawa satu butir telur utuh yang dibungkus plastik bening. Telur itu ibarat nyawa bagi para ninja, jika tetap utuh maka selamatlah ninja, namun, jika pecah maka si ninja gagal dalam mengemban misi ini. Mereka bergerak sesuai kelompok. Setipa kelompok menapatkan bahan berupa tali plastik, koran bekas, kotak kardus dan karet gelang. Setiap kelompok dipersilahkan berembug untuk mendesain bentuk alat untuk mengamankan telur. Dikarenakan setiap anak harus membawa telurnya sepanjang perjalanan. Jalur yang harus ditempuh sengaja dipenuhi halangan dan rintangan. Inilah tantangan yang harus diselesaikan oleh setiap ninja.
 Setiap anak harus memastikan telurnya aman dari goncangan dan benturan. Karena setiap ninja akan menyusuri jalur dengan loncat, meluncur, hanyut, mendaki, lari, jatuh. 
Jalur bahaya pertama, ninja diharuskan untuk melompat ari ketinggian satu setengah meter. Tidak sembarang lompat karena mereka juga harus pikirkan keselamatan telur yang dibawanya.
Tak kalah menantangnya, jalur ini setiap ninja iharuskan melewati jembatan jaring setinggi 5 meter. Keseimbangan tubuh wajib ada. Setelah itu mereka diharuskan untuk turun melalui tiang pipa dengan meluncur. Bagi yang membawa telur di sakunya, ancaman pecah sewaktu meluncur sangatlah besar.

Bagian ini tak kalah serunya. Apapun bisa kemungkinan terjadi. Selain basah, mereka juga berjuang melawan arus sungai yang mengalir. Kekompakan tim juga diuji, apakah masing-masing anggota mementingkan keselamatannya sendiri atau bersama kelompok.

Persis dengan diibaratkan dengan kehiupan ini yang tidak selalu datar terus. Kadangkala harus mendaki yang membutuhkan segenap energi untuk melewatinya. Mereka selain mengangkat dirinya sendiri juga memikirkan telur supaya tidak pecah.

Selesai menyusuri track, setiap kelompok memeriksa kondisi telur setiap anggota. Keselamatan telur an ketepatan waktu selesai kembali ke tempat akan menentukan kemenangan setiap kelompok. Setelah semua selesai, masing-masing anggota memasak telur dengan menu sesuai selera masing-masing. Apalagi makan siang suah menjelang. Dengan semangatnya mereka masak untuk mendapatkan tambahan lauk sesuai dengan seleranya.

Kiranya seru sekali acara buka tema kali ini. Harapannya ingin tahunya mulai tumbuh untuk kemudian menjadi bahan bakar pembelajaran selama satu bulan ke depan. 

Panen Hiroponik dan Masak Omelet

Proses pembelajaran tidak saja melulu hanya yang dipahami, dihafalkan dan diingat. Tapi sampai pada apa yang dirasakan sehingga menjadi refleksi hidupnya. Menjadi ketrampilan dan sikap yang merupakan kelengkapan dalam menjalani kehidupan keseharian si anak. Oleh karena itu proses pembelajaran akan lengkap saat anak juga melakukan apa yang menjadi pemahamannya. Jika ia memahami bahwa sampah itu kotor dan sumber penyakit, maka ia harus bisa meletakkan sampah pada tempat yang selayaknya hingga menjadi kebiasaan serta sikap. Jika sholat itu dipahami merupakan aktivitas sangat penting, maka anak harus bisa melakukannya dengan benar hingga menjadi kebiasaan yang jika terlambat saja melakukan, tubuhnya sudah bereaksi menandakan rasa bersalah yang sangat.
 Mengajari anak bahwa menjaga lingkungan dengan melestarikan tumbuhan tidaklah cukup hanya dengan hafalan istilah reboisasi, terasering, intensifikasi dan sebagainya. Tapi mereka juga harus melakukan upaya penjagaan lingkungan tersebut. Mereka harus melakukan proses menanam tanaman. Untuk menghadirkan suasana asyik dan gembira dipilihlah kegiatan berkebun. Sekarang ini berkebun tidak harus mempunyai lahan yang luas karena di perkotaan pun sudah berkembang urban farming. Berkebun menggunakan lahan rekayasa. Sebagai contoh metode bertanam hidroponik.
   Ditambah lagi sayur menjadi jamak tidak disukai anak-anak. Begitu mereka ikut merasakan usaha menanam sayur, sedikit demi sedikit bisa ditumbuhkan rasa suka terhadap sayur. Anak-anak dilibatkan langsung menanam tanaman mulai dari bibit kecilnya. Mereka akan merasakan betapa tanaman yang masih kecil itu seperti bayi yang masih lemah, rapuh sehingga butuh kehati-hatian alam memegang dan melatakkan. 

Setiap hari mereka pantau pertumbuhan tanaman sayuran tersebut. Apakah tumbuh dengan normal ataukah ada yang kurang. Sedihnya hati ini manakala mendapati tanaman sayuran yang melayu, kering dan mati. Rasa empati tergugah dengan melihat tanaman yang menjadi tanggung jawab setiap anak tersebut. Bagi yang mendapati tanaman yang tumbuh membesar dan sehat, rasa gembira ikut memenuhi rasa hatinya. Hingga tak sabar menantikan masa panen tiba.

Panen sayuran bukan semata dipanen saja. Acara panen massal kali ini akan dilanjut dengan memasak bersama. Menu yang dipilih adalah Omelet. Setiap anak dikelompokkan menjadi beberapa regu. Mereka berbagi tugas untuk membawa perlengkapan masak dan bahannya. Setiap anak memanen tanamannya sendiri, digabung dalam dalam satu kelompok untuk dijadikan Omelet bersama.
Bagi yang awalnya tidak suka sayur, dengan memasak sendiri ini mereka jadi suka. Apalagi rame-rame. Seakan-akan baru kali itu makan Omelet. Ditambah lagi hiasan masakan setiap omelet yang dikreasi sesuai dengan selera mereka sendiri. Aktivitas masak menjadi menyenangkan. Idealnya memang kegiatan berkebun itu harus terkoneksi dengan kegiatan masak. Kita sudah secara langsung mengajarkan kepada anak tentang pentingnya ketahanan pangan.  

Mukhayyam Semester Ganjil 2016

Bulan Oktober ini adalah jadwalnya kegiatan mukhayyam atau kemah berlangsung. Seperti tahun yang lalu, kegiatan mukhayyam ini dibagi dua. Untuk anggota pramuka SIT siaga, kelas 1 hingga 3 dan anggota penggalang, kelas 4 hingga 6. Untuk anggota siaga dilaksanakan di sekolah, mulai hari Kamis, 13 Oktober 2016 sore hingga Jum’at sore harinya. Sedangkan untuk anggota Penggalang berlokasi di bumi perkemahan Payaman di daerah Argosari Sedayu Bantul. Untuk anggota Penggalang dimulai hari Kamis hingga sabtu pagi.
Pemilihan lokasi tentu juga mengikutkan pertimbangan tantangan yang akan diberikan oleh setiap anggota Pramuka SIT. Bulan Oktober adalah saatnya memasuki musim penghujan. Turunnya hujan juga ikut menjadi komponen yang akan digunakan sebagai pembentuk tantangan pembelajaran setiap anggota. Target kegiatan mukhayyam ini secara umum adalah untuk membentuk karakter yang mandiri, bertanggung jawab. Kerjasama dengan orang lain, mampu menahan diri dan kemampuan bertahan dengan tantangan dan cobaan yang dihadapi.

 Kemandirian yang dibangun menyangkut aspek ketrampilan hidup dan relijiusitas. Ketrampilan hidup sebagai bekal mereka untuk survive alias bertahan hidup dalam menjalani kehidupan. Dengan menguasai ketrampilan hidup mereka diharapkan akan bisa menyelesaikan kesulitan-kesulitan praktis kehidupan. Setiap masalah praktis akan ditangani dengan baik. Relijius menjadi pondasi yang akan menyertai kemanapun di kehidupan ini berada dan menjadi apa. Sehingga dalam kondisi apapun, longgar, sibuk, kurang-lebih, sulit-mudah, mereka akan senantiasa dekat dan mendekat kepada Pencipta Jagat Raya.

Tentu bukan semata hanya formalitas kecakapan dan kompetensi pramuka yang dikejar. Harapan jauhnya, peserta mengalami pembelajaran dengan mengalami langsung. Mengalami dan merasakan setiap masalah alami yang muncul. Hujan, masak untuk memenuhi makan, kerjasama untuk menyelesaikan tugas, kenyamanan tidur, lelah, capek. Yang kesemuanya pasti akan memberi bekas yang kuat di dalam setiap pribadi siswa. Membuat lapisan mental yang akan memperkokoh keutuhan jiwanya dalam menghadapi kehidupan di masa depan.

Outing perdana tahun ajaran 2016-2017

Mengakhiri tema pembelajaran kedua di semester 1 ini, beberapa kelas sudah mulai melaksanakan kegiatan outing. Kegiatan yang bertujuan untuk memberi kesempatan lebih kepada siswa untuk melakukan pengamatan lebih dalam, luas dan kongkrit terhadap obyek pembelajarannya. Karena di outing ini para siswa lebih mudah untuk melakukan observasi langsung, menggunakan panca indra sebagai perangkat pembelajaran karunia dari Pencipta. Untuk mengenal ciptaan-Nya.
 Membawa tema Kerukunan, siswa kelas 1 mengadakan outing ke desa wisata Grogol Godean Sleman. Di sini anak-anak melakukan serangkaian permainan yang seru. Seperti tarik tambang, halang rintang dan beberapa kegiatan lain yang memungkinkan anak untuk melakukan aktivitas yang mengeratkan kerukunan di antara mereka. 
Setelah selesai melakukan permainan seru, anak-anak bersih diri dilanjutkan sholat Dhuhur berjama’ah. Untuk makan siangnya mereka melakukan santap siang secara bersamaan. Satu tempat berupa nampan besar yang berisi nasi, lauk, sayur disantap bersama untuk setiap kelompok. Kerukunan setiap anak diuji dengan makan seperti ini. yang biasanya selalu mendapatkan apa yang disukai, dengan bersama-sama mereka diharuskan untuk saling tenggang rasa, berbagi untuk tujuan bersama.
  Belajar tema makhluk hidup, siswa kelas 2 melakukan pengamatan langsung berbagai jenis hewan di kebun binatang Gembira Loka. Siswa disediakan obyek belajar yang bervasiasi. Aktivitas menginderai seperti menyentuh, membaui bisa dilakukan. Terkhusus di bagian satwa reptil. Siswa dipersilahkan untuk menyentuh langsung ular Phyton dengan pengawasan petugas dari kebun binatang.
Mempelajari tema makhluk Hidup dan Lingkungan, siswa kelas 3 mengunjungi WRC, Wildlife Rescue Center. Pusat penangkaran hewan liar yang sebelum dilepas ke hutan secara bebas. Ternyata, banyak hewan liar yang dilindungi oleh undang-undang dipelihara oleh per seorangan bahkan diperjualbelikan secara bebas. hal tersebut tentu makin lama akan berakibat pada keberadaan hewan liar tersebut. WRC dengan luas lahan 14 hektar sebagai lembaga konservasi hewan fokus pada hal tersebut. Di sini siswa sambil mengamati hewan-hewan yang ditangkarkan mendapat penjelasan dari fasilitator WRC. Semua hewan di sini akan dilepas ke hutan liar, di sini mereka sedang sekolah untuk menjadi liar. Aneh ya, kalo manusia sekolah itu supaya beradab, eh hewan-hewan ini sekolah supaya jadi liar. Betul, karena kebanyakan hewan liar itu sudah tidak liar karena dipelihara manusia. Mereka jinak bahkan mempunyai nama jika dipanggil namanya akan menoleh, makan juga sudah disediakan sama pemiliknya. Dengan kondisi tersebut hewan dilepas di hutan tentu dia tidak akan bisa survive mempertahankan hidupnya sendiri.
Bagi hewan yang sakit akan diobati dan disembuhkan. Untuk yang mati akan dilakukan pembedahan di ruang Incenerator dengan tujuan diketahui penyebab kematiannya. Jika kematiannya diakibatkan penyakit menular jasad hewan mati tersebut akan dibakar untuk menghindari penularan ke hewan lainnya. Para pengunjung sebelum masuk area hewan diwajibkan melumuri badannya dengan lotion anti nyamuk supaya terhindar dari gigitan nyamuk yang merupakan media penularan penyakit. Selama di area satwa pengunjung juga harus tenang tidak diperkenankan melakukan aktivitas yang menarik perhatian satwa bahkan memberi makan satwa. Saat di lokasi kita juga sempat menjumpai 2 orang warga asing menjadi relawan pemelihara satwa di situ. 
 Selesai di WRC perjalanan outing berlanjut ke waduk Sermo untuk mengamati kenampakan alam buatan dan alami. Waduk dengan luas 157 hektar ini dibangun dengan tujuan sebagai penyangga air pertanian di Yogyakarta secara umum dan Kulonprogo khususnya. Selain untuk pengairan, waduk Sermo dimanfaatkan sebagai obyek wisata. Di lokasi bisa dijumpai beberapa dermaga untuk kapal motor keliling waduk. Beberapa spot untuk foto selfi juga disediakan sebagai bentuk menikmati panorama indahnya waduk.
 Mempelajari tema Makhluk Hidup juga, siswa kelas 4 melakukan outing di pusat peternakan kambing Ettawa di desa Nanggring Turi Sleman. Kambing-kambing ini diternakkan dalam rangka untuk dimanfaatkan susunya yang diproduksi dan dijual dengan tujuan konsumsi rumah tangga. Para siswa berkesempatan untuk melakukan simulasi memerah susu kambing ini. Tentu sangat berbeda dengan memeras susu pada sapi.
Selain memerah susu, para siswa juga ikut belajar bagaimana mengolah susu hasil perahan kambing ini untuk dimatangkan siap konsumsi. Beberapa perlakuan khusus supaya steril dan awet dilakukan.
Selesai darai pusat peternakan kambing Ettawa, perjalanan berlanjut ke kantor pemerintah kabupaten Sleman. Siswa belajar terkait dengan tata pemerintahan kabupaten. Di pemerintahan kabupaten mereka mengenal struktur dan fungsi pemerintahan. Mengenal nama pejabat hingga ke wilayah dan penghasilan utama kabupaten Sleman.

Buka Tema : Game Pokemon Go

Untuk membuka sebuah tema pembelajaran dibutuhkan sebuah kegiatan yang memancing perhatian, keingintahuan dan motivasi belajar para siswa. Manakala tiga hal tersebut bisa tumbuh bersemi di setiap siswa, bisa dijamin selama satu tema penuh mereka akan antusias mengikuti dan memuaskan dahaga ingin tahunya dengan pengetahuan dan pengalaman. Di tema baru Lingkungan ini, siswa kelas 3 akan mempelajari terkait dengan lingkungan, baik alami maupun buatan, sehat dan tidak sehat, lalu mempelajari terkait dengan denah, tata aturan dan pentingnya. Nah, sebagai pemantik untuk masuk ke dalamnya  kelas 3 membuka tema pembelajaran Lingkungan dengan sebuah permainan yang diberi judul ‘Pokemon Go’. Serius? pake gadget, trus jalan-jalan memburu monster-monster gitu? Tunggu dulu, Pokemon Go yang ini tidak menggunakan perangkat gadget. Tapi pemain diharuskan memburu benda-benda yang dinamakan Pokemon.
Hari Kamis pagi 1 September 2016, semua siswa dikumpulkan di lapangan untuk menjalani pembagian kelompok dan mendengarkan penjelasan terkait dengan permainan ini. Seluruh siswa dibagi menjadi 15 kelompok. Setiap kelompok diberi misi untuk menyelesaikan tugas serta mengikuti petunjuk yang diberikan di setiap pos. Karena di setiap pos pasti akan ada petunjuk untuk berjalan ke pos berikutnya. Mereka dilengkapi dengan 2 lembar kertas berupa denah dan tabel kontrol. Di lembar denah mereka diharuskan memberi nomor urut tempat mana saja yang disinggahi ketika menemukan pos. Sedangkan di lembar kontrol mereka diwajibkan menuliskan nomor pos yang disinggahi, jawaban tugas yang muncul serta berapa jumlah pokemon yang didapatkan. Mereka juga diinformasikan bahwa di setiap pos akan terdapat pokemon yang letaknya tersembunyi tersebar di sekitar pos. Pokemon tersebut berbentuk snack dengan bentuk beraneka rupa. Setiap kelompok diperkenankan mencari pokemon dengan syarat di setiap pos hanya satu macam pokemon saja yang boleh dikumpulkan.

 Regu yang langsung menemukan pos segera mengerjakan tugas dari pos tersebut. Meski sempat juga mencari pokemon, tapi tujuan utama mereka tak terlupakan. Menyelesaikan misi menemukan semua pos.

Meski sudah ditegaskan di awal bahwa misi utama mereka adalah mengikuti petunjuk di setiap pos dengan menyelesaikan soalnya. Tapi ternyata perilaku yang paling dominan di peserta adalah, mereka justru berusaha memburu pokemon-pokemon. Banyak kelompok yang justru tidak memperdulikan pos bernomor berapa, asal ada pokemon yang muncul segera langsung diburu. Satu tempat sudah habis jatah pokemonnya segera berpindah ke tempat lainnya yang belum ditemukan pokemonnya. Bahkan antar kelompok saling tukar informasi tempat mana yang banyak pokemonnya.

 Tak tanggung-tanggung. Tempat yang tinggi pun mereka raih untuk mendapatkan pokemon. Pengorbanan yang luar biasa atas daya tarik kenikmatan pokemon.

 Hingga, diskusi-diskusi yang muncul di setiap kelompok bukannya diskusi untuk memecahkan soal pos atau diskusi menemukan petunjuk berikutnya. Tapi, diskusi seberapa banyak pokemon yang berhasil didapat, macamnya apa saja, gimana cara membaginya, kapan bisa dinikmati.

 Bagi regu yang menganggap pokemon adalah harta paling berharga, mereka akan sekuat tenaga menjaganya. Ada beberapa yang malah dipamerkan perolehan pokemon sehingga mengundang iri kelompok lainnya.
Waktu permainan akhirnya habis, saatnya istirahat dan sholat Dhuhur. Setelah istirahat, semua peserta berkumpul untuk melakukan pemaknaan dan pembagian hadiah. Sebelumnya mereka menyaksikan video rekaman saat mereka melakukan permainan pokemon go tadi. Betapa lucu dan konyolnya perilaku setiap pemain di permainan, mereka saling buru dengan sekuat tenaga. Bahkan tidak segan rela berkorban naik memanjat tempat yang tinggi hanya untuk mendapatkan pokemon. Semua anak-anak tertawa. Menertawakan perilaku mereka sendiri.
Akhirnya sang juara diumumkan. Siapakah yang juara? Tentulah yang juara adalah mereka yang taat pada perintah, taat pada misi. Yang juara adalah kelompok yang berhasil menemukan kelima pos dengan urut. Mereka bisa menemukan kelima pos artinya semua soal di setiap pos dijawab dengan benar. Yang mengagumkan, kelompok ini tidak tergiur untuk mengumpulkan pokemon seperti kelompok-kelompok lainnya. Ada sih mereka dapatkan pokemon cuma ala kadarnya. Sehingga mereka layak untuk mendapatkan hadiah yang nilainya melebihi jauh dibandingkan dengan jika semua pokemon terkumpulkan. Pemaknaannya : Itulah kehidupan di dunia ini. Kita oleh Allah telah diberi petunjuk berupa al-Qur’an. Seluruh isi al-Qur’an adalah petunjuk yang akan menuntun di setiap pos di kehidupan dunia ini. Yang ujung akhirnya adalah kebahagian di Surga abadi. Jika selama mengikuti petunjuk kok malah tergiur dengan keindahan dunia, mencari harta hingga seluruh waktu, perhatian dan tenaga hanya untuk mencari dunia saja, sudah pasti nasibnya seperti kelompok-kelompok yang hanya mencari pokemon-pokemon itu. Mereka terlupakan akan tujuan akhir, Surga yang justru balasannya sangat berlipat dibandingkan dunia ini. Semoga dengan game ini anak-anak menjadi tersadar untuk selalu istiqomah dengan petunjuk. Dari game ini pula anak-anak mendapatkan pengetahuan tentang membaca denah, memahami pentingnya aturan, mengenal lingkungan dan yang terpenting adalah muatan religinya.

Mycycling MyAdventure

Untuk mengawali kegiatan pembelajaran tambahan di setiap hari Sabtu, siswa kelas 6 mengadakan kegiatan Petualangan. Cuma, petualangan yang dilakukan menggunakan sepeda. Sabtu, 27 Agustus 2016 pagi mereka berkumpul di sekolah yang diawali dengan prosesi pembukaan dahulu. Secara beregu mereka dikelompokkan untuk menyelesaikan misi dari petualangan hari itu.
 Setiap regu diharuskan membuat yel-yel dan diminta untuk performance di depan teman-teman lainnya. Yel-yel ini berfungsi untuk membuat kompak regu selama menjalani perjalanan petualangan nanti. Setelah itu setiap regu diberikan soal dalam bahasa Inggris yang harus dipecahkan persoalannya. Kemampuan Inggris menjadi wajib dikuasai supaya isi persoalan bisa dipahami dengan baik.
     Setelah persoalan dipecahkan, regu yang selesai dahulu segera melakukan pemberangkatan. Mereka harus memastikan semua anggota regu lengkap berikut perbekalannya. Tantangan berikutnya adalah mereka harus memahami petunjuk perjalanan dalam bahasa Inggris. Jika tidak memahami bisa dipastikan perjalanan yang akan mereka lalui tidak sesuai dengan rute alias tersesat. Selama perjalanan mereka akan melalui beberapa pos yang akan berisi penugasan yang harus diselesaikan sebagai syarat untuk melanjutkan perjalanan.
Dengan berbagai gaya mereka memberi identitas pada grupnya masing-masing dengan menggunakan asesoris pendukung. Dikarenakan masih suasana kemerdekaan, asesoris yang dominan adalah merah-putih. Satu per satu regu berangkat dengan bekal petunjuk yang sudah diberikan. 
Beberapa regu terlihat kebingungan saat sampai di persimpangan. Mereka berdiskusi dalam mencerna isi petunjuk. Ke kanan atau ke kirikah. Di sebelah kanan atau di sebelah kiri kah. Selain itu, penyebab tersesatnya regu karena disebabkan adanya anggota yang sok tahu lalu memaksa diri regu untuk terus, ada juga yang hanya ikut-ikutan regu lainnya yang sebenarnya tersesat. Karakter asli setiap anak nampak selama prosesi perjalanan.
 
Khusus di kegiatan ini para peserta diperbolehkan membawa gadget yang dipergunakan untuk mengambil gambar sebagai bukti bahwa rute setiap regu sudah benar. Hasil jepretan dikirim ke guru yang memantau perjalanan setiap grup. 
 Pos ke-2 adalah Matematika. Setiap regu diharuskan menyelesaikan soal cerita yang berisi hitungan. Strategi dalam memecahkan soal harus tepat, dikarenakan untuk menyelesaikan hitungan bisa jadi lebih dari satu cara. Bisa cepat, bisa lama. Bisa pendek, bisa panjang. Ditambah lagi kemampuan dasar Matematika juga sebagai syarat wajib juga supaya dalam memecahkan persoalan menjadi lebih mudah. Penambahan, pengurangan, perkalian dan pembagian merupakan kemampuan dasar Matematika untuk memahami berbagai konsep hitungan.

Pos ke-3 mereka disodori persoalan IPA. Dengan mengandalkan pemahaman konsep akan Sains, melalui diskusi berusaha untuk mendapatkan pemecahan jawaban yang tepat.

 Setelah melalui perjalanan yang cukup jauh dengan menyelesaikan tugas di setiap pos berikut lika-liku memahami petunjuk, akhirnya sampailah mereka di garis finish. Perasaan lega bersemburat di setiap wajah anak yang sudah memasuki garis finish. Selain tantangan berupa pemikiran dengan tugas soal, mereka juga diuji secara fisik dengan ketahanan dalam bersepeda dan menahan teriknya mentari. Sambil menikmati segarnya es kelapa muda mereka menerima pemaknaan dari ustadz-ustadzah. Hikmah dalam petualangan ini adalah Petunjuk tidak cukup hanya dibawa dan dibaca, tapi harus dipahami, diamalkan dan disampaikan agar semua perjalanan bisa tetap dalam rute dan jalur yang benar. Terpenting lagi sudah pasti tujuan akhir akan tercapai. Itulah al Qur’an yang merupakan petunjuk hidup manusia. Ia yang akan menuntun kita untuk selalu istiqomah menyusuri rute menuju surga.