Outbound Periode September – Oktober 2016

Menjadi media pembelajaran untuk menghadirkan impact sehingga setiap siswa terinspirasi untuk berubah, Outbound harus didesain dengan kegiatan yang menarik, seru, menggembirakan, menantang, dan tak ketinggalan penuh inspirasi sehingga memotivasi setiap siswa untuk berubah menjadi lebih baik. Hakikatnya outbound merupakan miniatur kehidupan. Sehingga manakala kita jumpai permasalahan menyangkut perilaku, kebiasaan, adaptasi, demotivasi dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa membuat terapinya dalam outbound. Dalam outbound bisa dilakukan intervensi kepada siswa dengan reward dan punishment misalnya untuk memunculkan semangat saat mandeg dan bosan.

Permainan Bersama : Burung Magpay

 Di permainan burung Magpay, semua siswa diwajibkan untuk mengumpulkan barang-barang yang tidak diletakkan pada tempatnya. Barang-barang yang tentunya keberadaannya menjadi sumber gangguan. Besi, pecahan kaca, sampah, batu. Setiap barang mempunyai nilai atau harga. Setiap kelompok berkompetisi mengumpulkan poin sebanyak-banyaknya. Dengan batasan waktu setiap anak menyapu bersih lapangan dari keberadaan benda yang tidak seharusnya berada di lapangan. Refleksinya : Segala sesuatu yang diletakkan bukan pada tempatnya (dholim) cenderung menjadi sumber gangguan, apapun itu. Menanamkan cinta lingkungan, menghargai berdasarkan usaha dan jerih payahnya, kepedulian sesama dengan saling membantu dan kemandirian.

Trusfall Net

  Permainan ini termasuk yang beresiko tinggi. Dilakukan untuk mengukur seberapa kepercayaan diri tiap peserta kepada rekan-rekannya. Setiap peserta menjatuhkan diri ke belakang, sedangkan teman-teman lainnya menangkap bersama menggunakan jaring. Untuk menjatuhkan butuh konfirmasi dahulu antara yang jatuh dan yang nangkap. Yang menangkap pertama mengatakan “siap jatuh?”, yang jatuh menjawan “Siap !!” lalu konfirmasi “Siap tangkap?” yang menangkap jawab “Siap !!” Baru menjatuhkan diri. Bagi yang percaya penuh sikap tubuhnya akan jatuh lurus. Tapi, yang masih ragu cenderung pantatnya dahulu yang dijatuhkan.

Ascending
Untuk sesi High Impactnya adalah Ascending. Yaitu naik ke atas menggunakan tali dan pengaman. Posisi peserta menggantung, mendaki tapak demi tapak pada tali webbing yang diinstall ke atas bangunan.


 Permainan ini membutuhkan koordinasi antara kekuatan kaki dan tangan. Sebagai kuncinya ada di tumpuan kaki. Jika kaki sudah kuat menapak, maka tangan tinggal mengangkat tubuh ke atas. Sedangkan untuk menahan berat badan tinggal menggantungkan saja pada tali pengaman.

Permainan Bersama : Penjual Minyak
Di kegiatan outbound bulan Oktober, permainan bersamanya adalah Penjual Minyak. Minyak tanah bukan minyak wangi. Kunci utama si penjual minyak agar mempunyai kredibilitas yang baik di penjual, dia harus menakar jumlah minyak pas. Tidak lebih dan kurang. Di sinilah kunci permainan ini. Setiap kelompok diminta untuk memenuhi galon mineral dengan air. Setiap anggota kelompok dibekali satu buah gelas. Mereka diminta mengambil air dari sungai di bawah. Semua kelompok berkompetisi untuk mendapatkan yang paling awal memenuhi galon. Bagi yang menuang air ke galon tidak dengan gelas penuh maka akan ditolak. Belum lagi kondisi jalan naik turun dengan berjubelnya peserta. Inilah titik peliknya.

Air Bridge

Permainan yang bisa digunakan untuk mengukur tanggung jawab bersama dalam kelompok. Kombinasi antara kekuatan, ketrampilan menyusun konstruksi jembatan dan keseimbangan. Dikarenakan kerja kelompok akan bisa dilihat anggota kelompok yang memegang tanggung jawab penuh dan yang terlihat supaya kelihatan kerja.


Mini Rafting 

Pada permainan yang termasuk High Impact ini, nyali peserta diuji. Ditambah lagi aliran sungai yang deras, peserta secara berpasangan melakukan rafting dengan ban truk. Pegangan yang bisa dilakukan hanya dengan pasangannya. Sehingga kerjasama dibutuhkan untuk mengendalikan laju ban.

Iklan

Outbound Periode Agustus 2016

Bulan Agustus saatnya mengawali program yang termasuk favorit semua siswa, Outbound. Pengelolaan outbound tahun ini ada sedikit perubahan dengan tujuan supaya pelaksanaannya lebih optimal. Perubahan tersebut dimaksudkan untuk mendekati dari bentuk pengelolaan yang ideal. Peran guru kelas tidak lagi mengonsep materi outbound hingga detail pelaksanaannya. Tim guru kelas bertugas untuk menginventarisasi dinamika di kelas yang menyangkut permasalahan personal maupun komunal siswa. Daftar permasalahan disampaikan kepada tim outbound untuk dibuat desain outboundnya. Mulai dari bentuk fun game, dinamika kelompok, low impact hingga high impactnya. Sebelum pelaksanaan, tim outbound bertemu dengan tim guru level untuk melakukan koordinasi terkait dengan teknis skenario hingga nilai-nilai apa yang akan disasar untuk ditindaklanjuti perubahannya pada diri anak setelah pelaksanaan outbound.

Kali ini permasalahan siswa yang diangkat adalah terkait dengan lemahnyasiswa dalam memberikan perhatian pada instruksi. Faktor mendengarkan menjadi kunci utama siswa supaya setiap instruksi bisa dilakukan dengan baik. Halangan lemahnya perhatian tersebut disebabkan banyak hal. Ngobrol antar teman, benda-benda di sekitar terkhusus mainan, suka melamun, atau bisa jadi siswa kurang mengerti dalam mencerna isi instruksi tersebut. Untuk menterapi problem tersebut, permainan Kolam Ranjau menjadi pilihan. Tim membuat track yang diberi halangan di tengah-tengah sepanjang track. Dari 2 ujung track, satu per satu siswa diminta menyusuri tanpa harus mengenai halangan. Untuk berjalan mata mereka ditutup, mereka dipandu secara lisan oleh teman-temannya di luar track. Selama proses permainan, satu per satu bisa kita amati mana siswa yang benar-benar butuh terapi perhatian dan mana yang memang sudah siap dengan setiap instruksi. 

Permainan resiko tinggi / High Impact kali ini adalah Landing Net, atau Jaring Pendarat. Setiap siswa diwajibkan untuk menaiki jaring yang terbuat dari tali hinga mencapai ketinggian tertentu. Setelah mencapai tujuan mereka kemudian terjun dengan pengamanan tali karmantel yang digantung di tubuh mereka dengan pengaman harnes. Tujuan dari permainan ini adalah adanya tantangan personal sehingga setiap siswa ditantang untuk mengendalikan rasa takutnya agar tujuan memanjat tali bisa tercapai. Selain itu kepercayaan diri menjadi kunci keberhasilan permainan ini, keuletan dan kesungguhan menjadi pendorong setiap pemanjat bisa mencapai tujuan. Ketrampilan memanjat yang benar juga diharuskan dikuasai supaya secara praktis pemanjatan mudah dilakukan. Mendahulukan tangan yang menggapai tali sebagai tumpuan kekuatan awal menjadi keharusan yang kemudian disusul dengan pijakan kaki yang mengikuti gerak tangan. Posisi ini memudahkan badan menemukan keseimbangannya. Untuk kelas atas, 4 hingga 6, ketrampilan memasang pengaman harnest secara mandiri kemudian melakukan pengamanan melalui tali atau belay temannya, sehingga nilai tanggung jawab serta respek ikut ditanamkan secara tim.Keseluruhan pengalaman, pengetahuan dan nilai dishare bersama dalam forum Debriefing atau pemaknaan di akhir kegiatan. Di forum ini akan lebih kuat jika dilengkapi dengan dokumentasi gambar atau video. Penggalian pengalaman dan kesan yang dirasakan selama outbound digali untuk menemukan respon peserta dari desain outbound yang dibuat. Dari respon yang sudah tergali tersebut, guru kelas yang berperan sebagai fasilitator melakukan pengikatan makna seluruh aktivitas dikaitkan dengan nilai-nilai yang dituju. Di penghujungnya seluruh peserta diikat dengan komitmen perubahan melalui kebiasaan baru selanjutnya di kelas dan di rumah.

Outbound April : Human Bridge

Pekan kedua April ini saatnya kegiatan outbound setiap kelas berlangsung. Dimulai dari kelas atas, kelas 4, 5 dan 6 untuk hari Selasa, Rabu dan Kamis. Untuk pekan berikutnya disusul oleh kelas kecil, kelas 1, 2 dan 3. Setiap kelas merancang menu outboundnya sendiri-sendiri. Disesuaikan dengan target karakter yang akan dibentuk atau masalah kelas yang akan diterapi melalui permainan dan simulasi di outbound. 
Dari semua kelas boleh jadi berbeda, namun untuk kegiatan low/high impact-nya mempunyai desain sama. Untuk menu low impact kali ini adalah permainan Human Bridge, Jembatan Manusia. Semua anak dalam satu kelas berpasangan untuk membawa satu bilah bambu. Bambu itu harus dipegang kuat dan diletakkan dengan ketinggian yang pas untuk dinaiki. Satu per satu anak harus melewati bilah bambu. Begitu melewati, dengan pasangannya si anak tersebut kemudian membentuk formasi seperti jembatan yang terbuat dari bambu yang dipegang. 
Keseimbangan badan menjadi keharusan bagi anak yang melewati jembatan. Kekuatan mencengkeram bambu menjadi keharusan bagi pasangan yang memegang bilah bambu. Semua anak dipastikan aman melewati jembatan. Berurutan memanjang jembatan itu bergerak hingga semua anak selamat menyeberang. Saat ada satu pun penyeberang yang jatuh, maka menjadi konsekuensi kelompok untuk mengulang formasi dari awal. Kebersamaan menjadi keharusan bangkit lagi dari kegagalan.

Keberhasilan dari permainan ini sangat dipengaruhi pada kesolidan tim. Pasangan laki-laki dan perempuan sengaja dipilih karena biasanya dengan formasi itu beresiko untuk saling ejek. Itu menjadi ujian tim secara keseluruhan. Kemampuan menahan beban dari setiap anak dari yang ringan hingga terberat juga menjadi penentu keberhasilan usaha tim. Observer bisa mengamati detail satu-per satu anak. Terutama anak yang diindikasikan bermasalah dalam bersosialisasi untuk interaksi dalam grup. Anak yang masih asyik dengan egonya sendiri. Anak yang masih mempunyai kekhawatiran untuk gagal. Bahkan anak yang takut dengan air. Semuanya sangat cocok diterapi dengan permainan high impact ini.
 

Outbound Versi Maret

Salah satu komponen penting dalam untuk membangun karakter adalah mengenalkan ‘resiko’ pada siswa. Sebagian besar proses pembelajaran diseting secara linier. Artinya, guru dan siswa memahami apa yang akan dikuasainya itu berjalan secara ideal. Sehingga untuk mencapai kondisi ideal tersebut ada syarat dan kompetensi yang harus dikuasai. Saat siswa belum tuntas menguasai maka siswa dikatakan harus melakukan remedial. Mengulang kembali pelajaran untuk menjalani evaluasi kembali. Jarang proses gagal itu masuk dalam proses pembelajaran. Bahkan kegagalan memperoleh nilai bagus lebih cenderung diopinikan negatif. Padahal kenyataanya, kehidupan ini berjalan tidak selamanya ideal. Kadang berhasil, dan lebih sering tidak mencapai target dan tujuan. Kadang naik, kadang turun. Life is never flat, kata sebuha iklan. Dan itulah resiko. Sehingga menjadi penting untuk memasukkan dan mengenalkan resiko dalam proses pembelajaran.
Salah satu pembelajaran yang mengajarkan pentingnya resiko adalah outbound. Karena di outbound sudah dirancang aktivitas semacam permainan yang didesain melibatkan resiko dari level terendah atau sering disebut low impact hingga resiko level tinggi sering disebut high impact. 
Masing-masing desain permainan dalam outbound mempunyai target dan tujuan masing-masing. Meski dengan resiko kecil, permainan low impact dalam outbound sejatinya untuk menjelaskan dengan mengalami langsung. Jika kita ingin memahamkan pentingnya konsentrasi tidak cukup hanya melalui penjelasan lisan saja. Berbeda jika setiap siswa diminta untuk mengikuti permainan ‘Apa kata saya’. Di mana setiap peserta diharuskan mengikuti apa yang menjadi kata yang diucapkan oleh instruktur, bukan yang dipraktekkan. Bisa saja instruktur mengatakan “Pegang telinga !” tapi ia memegang pipi. Bagi peserta yang konsentrasi pasti akan sesuai dengan perintahnya, bagi yang kurang konsentrasi, dia hanya mengikuti apa yang dilihat dari instruktur. 
Untuk yang high impact harus dilakukan oleh tim instruktur profesional serta alat yang mendukung kemanan yang tinggi. Yang dibutuhkan di permainan ini adalah resiko tinggi tersebut. Dengan resiko yang tinggi tersebut berpotensi mengundang setiap orang untuk mengumpulkan energi dalam menghadapinya. Dia seperti sedang berhadapan dengan sebuah tembok tebal yang kokoh padahal dia harus melewatinya. Ini adalah tantangan yang diberikan setipa siswa. Kita kan melihat reaksi setiap siswa dalam menghadapinya. Reaksi normal adalah takut, jatuh, terluka. Tapi itu harus dilewati untuk kesuksesan. Bagi siswa yang mampu mengatasi ketakutan resiko, dia akan melangkah, memasangalat pengaman, melakukan dan berhasil. Tembok penghalang mampu dihancurkan berkeping-keping. Muncul perasaan lega dan bangga. Tapi bagi yang tidak mampu mengatasi kekhawatirannya, dia muncul keraguan. Tidak mau melangkah dan mundur. Di sini peranan fasilitator untuk memberikan motivasi, semangat hingga ke tingkat paksaan hingga berhasil melakukan meski dengan linangan air mata. Begitu melakukan dan berhasil, rasa ketakutan akan ditutupi dengan kepuasan dan bahagia ternyata dia mampu melewati tantangan beresiko tinggi tersebut. 
Yang tidak kalah penting dari seluruh proses aktivitas outbound ini adalah pemaknaan atau debriefing. Di kegiatan pemaknaan ini fasilitator membantu untuk memanggil kembali kesan yang diperoleh saat menjalani keseluruhan aktivitas. Bebaskan mereka memberikan respon, tidak udah dikomentari dahulu. Setelah semua terungkapkan, ambil beberapa kata kunci yang sudah tersampaikan setiap siswa untuk membawa dari tujuan yang sudah kita rencanakan. Siswa akan merasa tersentuh sekali dengan poin-poin yang kita sampaikan. Setiap kata yang kita sampaikan menjadi berenergi penuh disebabkan mereka sudah dikayakan rasa sudah mengalami. Di penghujung, tutup kegiatan outbound dengan komitmen untuk berubah serta siap untuk meluruskan sesuai dengan komitmen yang sudah dibangun.

Tangga Cita-cita

Outbound perdana semester 2 kali ini sudah dimulai oleh kelas atas, kelas 4 hingga 6. Setiap kelas menjalani outbound berdasarkan perencanaan masing-masing tim guru kelas. Nuansa outbound biasanya tidak terlepas dengan tema pembelajaran yang sedang dilaksanakan. Mulai dari warming up, Fun Games, Low Impact semua dipersiapkan permainannya oleh tim guru. Pun juga dalam pelaksanaan hingga pemaknaannya atau debriefing. Sedangkan untuk High Impact-nya dipersiapkan oleh tim outbound yang lebih profesional dikarenakan permainan yang dilakukan menyangkut resiko yang tinggi sehingga butuh tenaga dan ekstra pengamanan yang tinggi pula.
Untuk permainan High Impact kali ini adalah Tangga Cita-cita. Di permainan ini setiap anak diwajibkan untuk meniti tangga yang terbuat dari bambu. Tangga itu diikat menggantung menggunakan karmantel di bawah sebuah jembatan. Ujung bawah tangga berada di sungai. Bambu itu akan selalu bergerak, untuk mengendalikannya ada 4 buah tali sebagai penahan yang harus ditarik saat ada yang naik.
Sedangkan yang naik diharuskan memakai tali harnes untuk pengamanan yang ujungnya diikat dengan karmantel yang fleksibel bergerak diikat dengan karabiner. Ujung karmantel juga dikendalikan oleh tenaga ahli.
Begitu sudah sampai pada tangga paling atas, tantangan tidak lantas selesai. Meski bola sebagai target yang harus disentuh tidak dengan mudahnya untuk langsung disentuh. Karena masih harus membutuhkan keseimbangan di ujung tangga. Begitu bola sudah tersentuh, misi sudah berhasil dilaksanakan.
Bagi yang sudah berhasil lantas melepaskan diri dari tangga dan meluncur ke bawah mendarat di atas air. Byuur. Meski kondisi cuaca hujan, kegiatan high impact tetep dilaksanakan dengan tetep waspada manakala banjir datang. Alhamdulillah kegiatan bisa dilaksanakan dengan sukses

Chained Water – Time Bomb – Tarzan Swing

Dear SDIT Alamania, outbound pekan ini adalah jadwal untuk kelas atas. Kelas 4, 5 dan 6. Hari Rabu adalah hari outbound untuk kelas 5. Satu kegiatan outbound akan berlangsung dalam 3 sesi. Pemanasan, Fun Game dan High Impact berikut Low Impactnya. Pada kesempatan kali ini siswa kelas 5 melakukan pemanasan menggunakan gerakan senam yang diiringi lagu. Senam bernuansa aerobik ini cukup membuat panas siswa-siswi. Tak heran jika keringan langsung mengucur deras di sela-sela rambut kepala. Setelah pemanasan rehat sebentar untuk meneguk air sebanyak mungkin supaya dehidrasi bisa tercegah. Segar kembali dilanjut kemudian dengan fun game. Kali ini yang dimainkan adalah Air beranting. Semua siswa dibawagi menjadi 6 kelompok. Setiap kelompok bertugas untuk memindahkan air yang dikantongi dalam sebuah plastik secara beranting setiap anggota kelompok. Kelompok yang menang mereka yang mampu memindahkan air paling banyak.

 Siswa akan belajar untuk mengatur strategi. Antara kecepatan dan kehati-hatian dalam merantingkan air dalam plastik. Dari fungame ini akan mudah sekali teramati siapa saja yang sudah well-cooperated, mudah bekerjasama. Siapa yang justru egois, asal dirinya sudah melewatkan air. Bagi anggota kelompok yang tidak berhasil merantingkan air dan justru menjatuhkan maka dipersilahkan untuk tidak ikut kelanjutannya.

Selesai fungame dilanjutkan dengan game low impact dan high impact. Tiga kelas secara bersiklus keliling 3 pos. Pos Time Bomb, pos kepramukaan dan pos Tarzan Swing. Di Time Bomb setiap kelas dibagi 4 kelompok yang terdiri dari 5-6 anggota. Setiap kelompok bertugas untuk menyelesaikan misi menjinakkan bom dengan waktu 10 menit. Mereka hanya diperkenankan menggunakan tali dan karet ban. Bom berupa botol kecil berisi air yang harus dipindahkan ke dalam area radioaktif. Sehingga setiap anggota tidak diperkenankan melewati batas area. Jika botol yang dipindah tumpah maka bom akan meledak dan misi gagal.

Kecermatan dan kerjasama full dibutuhkan supaya misi berhasil. Perintah pimpinan harus jelas dan semua harus taat. Sedikit saja ada yang bergerak sendiri akan mengakibatkan bom tumpah dan dummmm . . . Sedikit nuansa rasa kecewa ketika bom gagal terjinakkan. Tapi kesempatan masih ada.

Selesai pos Time Bomb berpindah ke pos Kepramukaan. Materi Kepramukaan kali ini adalah menyanyikan lagu Mars Pramuka SIT. Lagunya termasuk baru dan wajib dinyanyikan oleh anggota Pramuka SIT dalam setiap kegiatan Pramuka SIT.

 Adzan Dhuhur berkumandang, istirahat bersih diri bersiap untuk sholat Dhuhur di masjid. Tak lupa santap makan siang bersama di kelas untuk menambah kekuatan di pos terakhir, Tarzan Swing.

Selesai makan siang segera menuju ke pos Tarzan Swing. Lokasinya di kali Bedog. Kebetulan kondisi debit airnya lumayan kenceng karena hujan kemarin. Di tengah kali sudah nampak instalasi high impact berupa 4 bambu besar disilangkan dan ditali di tengahnya. Pas di tengah menjulur tali yang akan digunakan untuk berayun menyeberang kali.

Kelihatannya mudah, tapi begitu melakukan butuh koordinasi antara kekuatan, ketepatan mendarat, dan paling penting, keberanian saat mengayun. Di bawah mengalir sungai Bedog yang deras. Meski sudah pake pelampung tapi masih saja ketakutan datang menghinggap.

Kekurangtepatan dalam mendarat bisa berakibat tercebur ke air. Biasanya diakibatkan tali yang dipegang terlalu pendek. Atau bisa jadi karena kaki yang harusnya ditekuk keburu lurus jadinya nginjak air deh. Sesi pertama ngayunnya dari tempat yang tinggi ke rendah. Nah sesi keduanya lumayan menantang karena posisi pendaratan sedikit naik. Ngayunnya butuh lebih kuat.

Tapi alhamdulillah semua anak antusias dan berani menjalani. Karena setelah mereka selesai menyelesaikan semua tantangan akan dapat bonus. Bermain di kali.

Itu bonus yang sangat ditunggu-tunggu. Meski tetep hati-hati, di musim hujan ini banjir bandang kadang datang tiba-tiba. Ustadz-ustadzah tetep mengawasi dan juga mendokumentasikan aksi mereka.

Outbound Ke-1 Maret 2012 : Bedog Rafting

Pelaksanaan outbound sudah satu tahun ini berbeda dengan pelaksanaan sebelumnya. Jika sebelumnya setiap kelas tiap pekan pasti outbound namun dengan waktu yang tidak full satu hari, kini tiap kelas bisa full satu hari namun dijadwalkan 2 pekan sekali. Sebuah kegiatan utuh outbound itu terdiri dari pertama warming up, untuk memastikan semua otot lemas dan siap beraktivitas. Kedua, Fun games, yaitu berupa permainan ringan dinamika kelompok yang sarat dengan makna dan pemecahan persoalan. Ketiga adalah Inti, biasanya diisi dengan jenis permainan Middle dan High impact, permainan dengan resiko sedang dan tinggi. Terakhir adalah pemaknaan seluruh aktivitas sehari outbound.

Untuk bulan Maret kali ini game pos yang dilakukan ada 3. Pertama ada semacam kotak yang mengharuskan setiap peserta menggelayut di palang-palang bambu di atas dengan kaki tanpa menyentuh tali bawah. Kemudian setelah sampai ujung, diharuskan berjalan di atas tali tanpa pegangan. Instruktur memberikan contoh dan cara yang benar dan aman. Disusul satu per satu peserta mengikutinya.

Pos kedua adalah gerakan merayap dalam track yang terbuat dari jaring berbentuk kotak memanjang. Tiap peserta tidak diperkenankan menyentuh sedikitpun jaring. Jika sekali tersentuh maka harus mengulang dari awal.

Pos ketiga adalah arung jeram. Nah ini yang paling seru. Setiap anak mendapatkan satu buah pelampung untuk kemudian setiap 3 anak mendapat jatah satu ban untuk dinaiki selama arung jeram.

Instruktur mendahului untuk dan meminta segera tiap anak bersegera menghanyutkan diri. Aliran sungai saat itu memang baru kecil namun di beberapa titik cukup memancing andrenalin.

Seperti di titik ini, terdapat pusaran air diantara bebatuan sehingga menyebabkan setiap ban tersedot masuk. Jika kurang waspada bisa terjepit alirannya. Dengan sedikit jeritan anak-anak menghalau setiap rintangan selama perjalanan.

Di kiri kanan terlihat ‘hiasan’ sampah gantung. sampah-sampah yang tergantung itu bekas aliran banjir yang membawa sampah dan tersangkut di akar-akar tanaman bambu. Nampak menjadi seni instalasi begitu air sungai surut. Bagus, . . . . atau malah menjijikkan sih ?

Ada di satu titik mungkin akibat dari hujan dan angin, ada segerombol pohon bambu tumbang melintang sungai. Meski ujung sudah dipotong tetep butuh kehati-hatian ekstra sehingga tidak meluncur masuk onggokan bambu. Bisa-bisa tergores ranting yang cukup tajam.

Aliran sudah mulai melambat. Dasar sungai juga mulai mendangkal. Kiranya titik finish sudah dekat, anak-anak diminta untuk mendayung ke pinggir kiri supaya bisa mendarat dengan mulus.

Setiap tiga anak bertanggung jawab membawa ban kembali ke sekolah. Perjalanan ditempuh menggunakan jalan darat, menyusuri pematang sawah. dan Kampung sekitar. Nampak para penduduk melihat penuh heran. Anak-anak pake pelampung bawa ban rame-rame.Mirip pasukan Katak masuk desa.