Buka Tema Kelas 3 : Big Puzzle Game

Membuka tema pembelajaran baru di bulan Oktober ini, kelas tiga akan menikmati pembelajaran yang spesial. Karena tema yang dipilih pas dengan waktunya. Yaitu tema Sumpah Pemuda. Untuk mengawali pembelajaran tema Sumpah Pemuda diadakanlah kegiatan buka tema dahulu. Karena kegiatan buka tema sangat penting karena selain berfungsi untuk mengantarkan, buka tema juga sebagai media untuk mendorong rasa ingin tahu, curious booster. Harus kita sadari bahwa energi belajar setiap manusia itu adalah rasa ingin tahu, curiousity. Manakala sudah terpicu, siapapun akan mengejar dahaga ingin tahunya itu kemanapun dan kapanpun. Senekat apapun. Tak hanya harta bahkan nyawapun dikorbankan hanya untuk memuaskan rasa ingin tahunya. Dan itulah alasan mengapa menuntut ilmu itu termasuk jihad. Orang yang dalam proses perjalanan menuntut ilmu apabila meninggal termasuk yang mendapatkan pahala jihad.  
 Sumpah Pemuda dan materi sejarah sosial lainnya termasuk yang cukup berat dipahami oleh siswa. Mereka harus menghafal kronologi kejadian, waktu, nama tokoh, nama tempat, kaitan kejadian, konflik dan intrik yang terjadi. Sehingga untuk sebagian siswa, pelajaran sejarah itu termasuk berat. Nah, supaya anak-anak mengenal sejarah penting yang dilewati bangsa ini. Sehingga mampu mengambil pelajaran untuk masa depan, maka memahami sejarah terutama bangsa dan negara ini tetaplah penting. Namun, pilihan metode yang tepat, yang mampu masuk di dunia anak-anak lah yang paling penting direncanakan. Tidak asal disampaikan dengan ceramah, anak harus menghafal karena merasa berat berakibat anak muncul rasa tidak suka pada pelajaran sejarah, lebih parahnya lagi benci pada sejarah bangsa kita.
Pilihan metode untuk buka tema Sumpah Pemuda ini adalah dengan kegiatan big game, permainan besar. Yang melibatkan seluruh siswa kelas 3 yang berjumlah 84 anak. Permainan yang dijalankan adalah, seluruh siswa dibagi menjadi kelompok-kelompok. Setiap kelompok beranggotakan 5 – 6 anak. Setiap anak diberikan petunjuk berupa narasi kemana mereka harus pergi ke suatu tempat. Di setiap tempat itu mereka diharuskan menemukan satu lembar kertas untuk satu anggota kelompok. Di kertas tersebut akan ada berbagai bentuk coretan. Tugas mereka adalah menggabungkan kertas berisi coretan tersebut menjadi satu sehingga mempunyai makna dan bisa dipahami isi pesannya.
 Setiap kelompok mempunyai petunjuk yang berbeda urutan tempatnya. Sehingga tidak memungkinkan sama rute. Meskipun berpapasan antar kelompok masih sangat mungkin. Setiap kelompok bertugas memastikan seluruh anggota kelompoknya mendapatkan satu lembar kertas berisi coretan. Dilarang untuk mendapatkan lebih dari satu.
Tugas selanjutnya, setelah semua anggota memegang satu lembar kertas. Mereka harus menyusun setiap lembar kertas. Setiap kelompok diperkenankan melakukan kerjasama dengan kelompok lainnya. Yang penting setiap lembar kertas tersusun bisa terlihat pesannya.
Setiap kelompok bergerak untuk mendapatkan lembar kertas yang sesuai dengan didapatkan. Beberapa kelompok langsung menggabungkan diri. Ada sebuah dinamika menarik yang terjadi selama proses penggabungan lembaran kertas. Ada 2 kelompok besar yang bekerja untuk melakukan penggabungan kertas. Dua kelompok tersebut mayoritas dari kelas 3B dan 3C. Kelas 3A terpecah berdiaspora bergabung dalam 2 poros besar tersebut. Ada beberapa upaya untuk melakukan penggabungan 2 kelompok besar tersebut, beberapa anak nampak melakukan lobi namun belum juga berhasil. Mereka masih saja asyik untuk menyusun lembaran kertas. Meski sebagian sudah berhasil tersusun, rupanya belum sempurna. Beberapa anak terus melakukan lobi.
Terlihat potensi pemimpin dan diplomat di beberapa anak yang mempunyai inisiatif muncul. Mereka mencoba menyelami alasan mengapa penggabungan 2 poros tersebut tidak sukses dilakukan. Sampailah pada titik mereka sudah terkunci masing-masing. Di salah satu kelompok terjadi perbincangan. Rupanya, mereka harus meminta ijin dahulu pada salah satu anak untuk melakukan proses kerjasama dua kelompok. Karena si anak tersebut posisinya baru di kelas. Sejurus kemudian, beberapa anak nampak berlarian dengan wajah ceria sambil meneriakkan “Gabung ! Gabung !” jadi begitu si tokoh kunci sudah merestui, proses penggabungan tersebut segera dilakukan. Bersatulah mereka untuk bersama menyusun puzzle besar.
Tahukah Anda siapa tokoh kunci itu? Di luar dugaan, si tokoh kunci itu rupanya selama ini diluar dugaan siswa dan guru. Anaknya pendiam, dia termasuk siswa 3A yang kelasnya berdiaspora tadi. Rupanya dibalik diamnya, si anak tersebut mempunyai pengaruh dan sebagai penentu pemersatu 2 kelompok besar. Itulah the real leader !
  The Man of The Game
Dengan model pembelajaran sambil mengalami ini, selain anak mendapatkan pengalaman karena melakukan, mereka akan saling mengetahui sifat diantara mereka. Terlihat selama proses pengerjaan penyatuan puzzle, tak sedikit anak-anak yang justru asyik dengan kegiatan lain. Bermain kejar-kejaran, pergi tidak di tempat. Guru sangat terbantu sekali mendapatkan informasi sifat dan perilaku siswa melalui observasi di model pembelajaran permainan ini. 
Iklan

Parenting Dewan Kelas 3B : Mendampingi Anak Sesuai Fitrah Perkembangan Bersama Heri Maulana, M. Si

Dewan Kelas menjadi forum penting para orang tua. Selain sebagai media komunikasi informasi perkembangan siswa antara guru dan orang tua, Dewan Kelas juga sebagai media untuk meningkatkan ilmu dan kemampuan dalam mendampingi perkembangan putra-putri para orang tua. Termasuk juga Dewan Kelas 3B periode Oktober 2017 ini. Menu parenting menjadi sajian para orang tua. Topik yang dipilih adalah tentang bagaimana mendampingi perkembangan putra-putri sesuai dengan fitrahnya. Nara sumbernya adalah Bapak Heri Maulana, seorang konselor anak dan keluarga dan juga dosen di BSI.
 Pak Heri mengalawi paparannya dengan menyinggung terkait dengan Genogram. Usaha awal untuk mendampingi putra-putri adalah dengan melakukan observasi dan pemetaan sifat dan karakter. Banyak metode yang digunakan untuk melakukan. Salah satunya dengan ilmu yang disebut Genogram.
Genogram adalah sebuah ilmu yang digunakan untuk memetakan sifat dan karakter keturunan. Ternyata hasil dari riset, anak itu mendapatkan turunan genetis dari orang tuanya, ayah-ibu sebesar 50%. Dari kakek dan neneknya sebesar 25%, lalu dari buyutnya sebesar 12,5%. Sisanya dipengaruhi dari lingkungan serta informasi dari media yang masuk dicernanya. Hal tersebut memperkuat pemahaman mengapa Rasulullah itu salah satu misi pentingnya adalah memperbaiki akhlaq. Serta nasab itu mendapat perhatian yang penting dalam Islam.
   Usia 0 sampai 7 tahun fokus utama yang dilakukan orang tua adalah membangun ikata yang kuat dengan anak. Dan itu yang dibutuhkan anak pada usia tersebut. Kegagalan membangun kedekatan pada usia ini, biasanya pada kasus keluarga yang kedua orang tuanya bekerja. Akan berakibat pada tahap usia selanjutnya si anak agak ‘susah diatur’. Mereka cenderung sudah mempunyai figur lekatan yang lain. Baby sitter, kakek, nenek, teman. salah satu upaya untuk membangun ikatan adalah secara praktis dilakukan dengan belaian. Itu alasan mengapa Rasulullah bertanya siapa yang suka mencium anak. Sehingga saat memasuki usia 8 – 9 tahun di waktu tahap memulai kedisiplinan, anak akan lebih cenderung untuk mudah mengalami prosesnya. Pada usia ini kelekatan anak mulai berkurang dikarenakan sudah mulai merasakan indahnya berteman. Kebersamaan anak dengan orang tua itu sebenarnya hanya butuh waktu hingga usia 15 tahun. Karena di usia ini, anak sudah baligh dan harapannya juga sudah aqil, mampu mandiri memenuhi kebutuhan sendiri. Berpikir dewasa menentukan pilihan dan mampu menghadapi konsekuensi pilihan keputusannya.
Satu lagi yang harus dipahami para orang tua. Bahwa sifat itu tidak sama dengan bakat. Bakat adalah sifat yang produktif mampu menghasilkan kemanfaatan terutama nominal uang yang berperan penting di masa depan anak. Karena setiap manusia selain sebagai hamab Allah, Abdulloh, ia juga diberi misi untuk memakmurkan bumi, khalifatullah. Upaya pemakmuran itu dilakuakan dengan peran-peran yang muncul dari bakat anak. Untuk mengetahui bakat anak ada metode yang bisa dipakai menggunakan software yang bisa diklik di www.temubakat.com.
 Jika kita menemukan kondisi anak kita yang terlanjur ‘salah asuhan’ atas kesalahan kita sebagai orang tua dalam mendidik, ada satu upaya untuk ‘instal ulang’ program anak kita. Caranya, setiap tengah malam upayakan bangun. Kita belai saat anak kita tidur dan bisikkan ke telinga kiri, doa harapan dengan menyebut nama serta bin ayah, kakek hingga buyutnya. Cara ini untuk mempengaruhi kesadaran dan tentunya doa harapan kepada Allah akan adanya perubahan sikap dan karakter. Kedua, disusul dengan perubahan sikap perlakuan orang tua dalam interaksi dengan anak. Hadirkan sentuhan kasih sayang yang itu akan mempercepat adanya perubahan sikap yang diharapkan.

Peringatan Tahun Baru Hijriyah 1439

Tahun Baru Hijriyah baru saja kita masuki. Tidak sedikit yang mengetahui sejarah mengapa kalender Hijriyah itu ditetapkan. Adalah khalifah Umar bin Khaththab yangpertama kali menetapkan jika perhitungan kalender untuk kaum muslim itu menggunakan momen pertama kali Rasulullah SAW melakukan hijrah. Saat hijrah tersebut dihitung sebagai tahun 1 hijriyah. Hingga sekarang berarti peristiwa hijrah Rasulullah sudah 1439 tahun yang lalu. Sedangkan tahun hijriyah sendiri perhitungannya berdasarkan revolusi bulan pada bumi. Atau dikenal dengan kalender Qamariyah.
Peristiwa hijrah inilah inilah yang diangkat dalam teatrikal peringatan tahun baru Hijriyah 1439 kali ini. Kegiatan peringatan dilaksanakan di lapangan upacara. Hari Senin, 25 September 2017 pagi semua siswa berkumpul di lapangan. Barisan siswa kali ini diatur berbeda. Tidak urut seperti sewaktu upacara. Dikarenakan akan ada prosesi tukar kado saat akhir acara, sengaja barisan disusun antara adik dan kakak kelas berbaris berdampingan.
Diawali dengan Rasulullah yang sedang berada di kediaman rumahnya. Rupanya malam itu adalah saat para kafir Quraisy ingin menghabisi nyawa Rasulullah. Dikarenakan dakwah Rasulullah yang dianggap mengancam ajaran nenek moyang kafir Quraisy.
Para kafir Quraisy mengepung rumah Rasulullah. Namun Rasulullah sudah mengetahui rencana jahat para kafir tersebut. Diutuslah Ali Radhiallohu anhu untuk tidur menggantikan Rasulullah SAW. Dengan ajaibnya, para kafir Quraisy tiba-tiba terkantuk. Dan tertidurlah di sekiar rumah Rasulullah. Pada waktu para kafir tertidur itulah Rasulullah keluar rumah dan pergi hijrah ke Madinah ditemani oleh Abu Bakar Ash-Shidiq. 
 Sungguh terkejutnya para kafir, begitu ingin membunuh Rasulullah ternyata yang tidur di dipan bukanlah Rasulullah namun Ali bin Abi Thalib. Mereka merasa marah dan langsung mengadakan pengejaran kepada Rasulullah.
Demi keamanan, Rasulullah dan Abu Bakar bersembunyi di gua Tsur. Di tempat inilah ada keajaiban yang muncul. Tiba-tiba laba-laba dan burung membuat sarangnya di mulut gua. Sehingga sewaktu para kafir akan mencari masuk ke dalam gua, mereka dapati mulut gua sudah dipenuhi dengan sarang laba-laba dan burung. Mereka berkesimpulan di dalam gua adalah kosong meski kenyataannya Rasulullah SAW dan Abu Bakar sedang sembunyi di dalam gua. Itulah pertolongan Allah dengan tentara-Nya berupa laba-laba dan burung.
 Sampai di Madinah, Rasulullah disambut denga meriah sekali oleh penduduk kaum Anshor dan para Muhajirin yang merupakan muslimin dari Makkah yang sudah duluan pergi hijrah. Rasulullah disambut di tengah-tengah kerumunan manusia yang masing-masing menawarkan diri rumahnya sebagai tempat tinggal Rasulullah. Namun Rasulullah memilih sendiri tempat untuk dibangun masjid pertama sekaligus sebagai tempat tinggal beliau. Masjid itu kini dikenal dengan masjid Nabawi.

Rasulullah kemudian melakukan prosesi mempersaudarakan antara muslimin dari Makkah atau yang disebut Muhajirin dengan muslimin dari Madinah yang dikenal dengan Anshor. Anak-anak di setiap kelas melakukan tukar kado dengan kakak dan adik kelasnya. Setelah itu mereka dipersilahkan berpelukan sebagai ungkapan persaudaraan. Kemudian di akhiri dengan menyantikan lagu ‘One Big Family’ karya Maher Zain.
Berikut video dokumentasinya

Qurban 1438 H : Seberapa Taatkah Dirimu pada Tuhanmu ?

Sebagai kegiatan tahunan, Qurban selalu dilakukan karena sarat dengan pembelajaran. Semenjak disyariatkan pertama kali oleh nabi Ibrahim ‘Alaihisalam, Qurban setiap tahun dijalankan sebagai bentuk ketaatan kepada Allah Subhanahuwata’ala. Taat bukanlah paksaan, tapi sebuah bentuk sikap tunduk penuh percaya kepada Dzat yang memegang kuasa Jagat Raya. Ada satu proses dialog bagaimana ketaatan nabi Ibrahim ‘Alaihisalam itu disampaikan kepada putranda Ismail ‘Alaihisalam kecil. Sebenarnya perintah apalagi yang berasal dari Allah, suka dan tidak suka harus dilaksanakan. Namun, komunikasi yang disampaikan oleh nabi Ibrahim sangatlah elegan. “Ismail anakku, tadi malam aku bermimpi Allah perintahkan aku untuk menyembelihmu, bagaimana menurutmu?” Nabi Ibrahim menyentuh kemanusiaan Ismail dalam merespon perintah Allah. Tentu momen itu bukanlah tiba-tiba menguji Ismail. Ismail sudah dididik sejak kecil untuk mengamalkan apa itu sebuah ketaatan. Sehingga jawaban “Jika itu perintah Allah, maka lakukanlah Ayahku !” mengalir ringan dengan penuh kepasrahan merespon pesan Ayahanda Ibrahim. Subhanallah.
Tahun ini alhamdulillah SDIT Alam Nurul Islam diamanahi oleh para pengkurban sebanyak 1 ekor sapi dan 12 ekor kambing. Kegiatan qurban dilaksanakan pada hari Senin, 4 September 2017 yang merupakan hari ketiga tasyrik. Kegiatan qurban ini diikuti oleh seluruh siswa, guru dan karyawan SDIT Alam Nurul Islam. Dikarenakan sudah menjadi kegiatan tahunan, dari segi pengelolaannya dilakukan semakin baik. 
  Dari mulai penyembelihan, pengulitan, pengirisan, pembersihan jerohan hingga pembagian kepada masyarakat dikelola penugasannya antara siswa dan guru. Siswa yang ikut serta langsung dalam proses Qurban mulai kelas 4 hingga kelas 6. Mereka dibagi dalam kelompok-kelompok tugas yang dipimpin oleh guru. Sehingga dipastikan semua siswa berperan dalam proses Qurban. 

Sepanjang proses kegiatan siswa belajar tentang bagaimana mengorganisasi kegiatan sehingga kerjasama dan koordinasi antar kelompok berjalan baik. Obyek kambing tak lepas dari perhatian ingin tahunya anak-anak. Mulai dari proses ajal kematian hewan, saat dikuliti, dikeluarkan organ dalamnya, dipisahkan dagingnya, bentuk tulangnya. Rasa takut dan jijik muncul di awal namun perlahan sirna dengan rasa ingin tahu siswa. Menimbang dan membagi dengan adil juga kemampuan yang terasah dalam kegiatan ini. 
Khusus siswa kelas 1 hingga 3, ada kegiatan tersendiri. Mereka belum dilibatkan secara langsung dalam kegiatan Qurban. Acara mewarnai dan menghias hewan Qurban dilengkapi dengan menyimak dongeng dari kak Ranger diharapkan nilai Qurban dapat terinternalisasi dalam hati mereka. 
 Nilai sosial dan empati terasah manakala siswa secara langsung menjalani proses pembagian ke masyarakat. Bagaimana mereka membaca kebahagiaan wajah para warga menerima daging Qurban. Karena ketaatan kepada Allah untuk membahagiakan yang di langit dan juga yang di bumi.

Pelepasan Kelas 6 Angkatan 13 : Tubing Selokan Mataram

Prosesi pelepasan siswa kelas 6 menjadi agenda yang dinantikan baik dari siswa yang akan dilepas maupun para guru. Pasalnya, bentuk kegiatan yang outdoor activity dan tidak formal menjadi alasan kenapa kegiatan pelepasan banyak disukai. Bukan semata tampil dengan bentuk yang lain dan unik saja, kegiatan pelepasan siswa yang akan lulus dibuat. Tapi, tujuan kegiatan tersebut lah yang mengharuskan untuk dilakukan di alam bebas. Tujuan setiap kegiatan pelepasan adalah untuk tersampaikannya pesan kepada siswa yang akan lulus bahwa lulus itu bukanlah tuntasnya proses belajar di kehidupan ini. Perjalanan kehidupan ini masih panjang, kebutuhan bekal dalam menjalani kehidupan ini harus menjadi kesadaran setiap siswa yang lulus untuk kesuksesan kehidupannya. 
Pelepasan kali ini berlokasi di selokan Mataram. Ritual perjalanan di malam hari akan dilakukan sepanjang 15 kilometer dari lokasi sekolah. Untuk mengawali kegiatan, seluruh siswa kelas 6 berkumpul memulai kegiatan di sekolah sore hari. Setelah sholat Maghrib, siswa akan melakukan santap makan malam. Tapi, santap malam kali ini dilakukan dengan cara unik. Anak-anak duduk berhadapan dengan pasangannya. Kemudian mereka saling menyuap makanan di depannya.

 Begitu selesai makan malam kemudian berjama’ah ‘Isya untuk kemudian dilanjut dengan packing perbekalan. Setiap anak diwajibkan untuk membawa bekalnya sendiri, termasuk di dalamnya nack dan minum. Yang terpenting lagi ialah mereka harus membawa satu buah galon air mineral. Galon tersebut akan digunakan sebagai pelampung saat mereka merakit di selokan Mataram.

Peserta dibariskan sesuai dengan kelompoknya. Mereka menyimak pengantar dari wakil kepala sekolah, ust. Mukhtasar. Supaya selama perjalanan nanti tidak merepotkan, setiap barang bawaan dipacking dan dikemas sehingga mudah untuk dibawa. Tidak merepotkan selama peserta berjalan. 
Track yang dilalui bermacam-macam. Terkadang masuk kampung, jalan raya, persawahan dan hutan. Tak terkecuali juga tracking naik ke bukit dan melewati kuburan. Panjang dan berlikunya track tidak menyurutkan langkah para peserta. Beberapa waktu rehat dilakukan untuk menyegarkan badan dari kelelahan.
Meski hari semakin malam, dengan track naik tetap ditapaki dengan penuh semangat. Peserta tidak hanya dari siswa, namun guru dan karyawan. Yang hebat lagi, karyawan catering yang dari segi usia sudah cukup senior namun tidak mematahkan semangat dalam menyusuri track. Setelah sampai puncak bukit, perjalanan tetap berlanjut menuruni bukit. Di ujung kaki bukit setiap peserta diminta untuk berhenti sejenak. Satu per satu kelompok diberi tugas untuk mengambil surat yang terdapat di dalam lokasi kuburan. Satu anak satu surat.

Tidak hanya fisik saja yang dibutuhkan dalam acara pelepasan ini. Mental juga harus dikendalikan dari rasa takut. Meski berkelompok dengan waktu menunjukkan jam 01.30 sudah memberi nuansa menakutkan sendiri di dalam kuburan. Tapi semua peserta berhasil mendapatkan suratnya masing-masing.
Pagi harinya meski dengan istirahat yang singkat, mengawali pagi dengan pemanasan dahulu. Kegiatan awal adalah pembuatan rakit dari galon dan bambu. Setiap kelompok dibrifing dahulu oleh ust. Irman teknis pembuatan rakit. Setiap kelompok harus dipastikan memahami dan mampu membuat rakit. Karena rakit itu yang akan digunakan sebagai kendaraan pulang. Jika rakit tidak kuat bisa jadi akan hancur di tengah selokan. 

Perjalanan selesai dan ditutup dengan pemaknaan dan ucapan secara resmi pelepasan kelas 6 di rumah makan Sego Wiwit

Tarhib Ramadhan 1438 H

Menjelang bulan Ramadhan tiba, kegiatan yang ditunggu-tunggu adalah pawai tarhib Ramadhan. Mengajak orang lain untuk bergembira dan bersiap menyambut Ramadhan. Bergembira untuk menjemput anugrah Allah dengan dilipatgandakannya pahala ibadah. Bergembira menikmati ibadah puasa dengan bukanya. Meramaikan masjid dengan berbagai aktivitas yang meningkatkan iman dan taqwa. 
Tema pawai tarhib kali ini adalah Aku Cinta Al Qur’an. Karena Qur’an turun di waktu Ramadhan sehingga sangat tepat di bulan Ramadhan kecintaan Al Qur’an diserukan supaya sepanajang Ramadhan kegiatan tilawah, tadabur, menghafal Al Qur’an selalu menghiasi. Anak -anak setiap kelas merancang kostumnya sendiri-sendiri sesuai dengan tema tarhib Ramadhan. 
   Kreativitas anak ditantang disini. Bagaimana inti pesan gembira beramadhan yang akan disampaikan kepada audiens sepanjang pawai bisa dipahami dan mensuasanakan bahwa benar memang Ramadhan kan tiba. Tentu supaya audiens melihat, peserta pawai harus sepandai mungkin menarik perhatiannya. Kostum, suara, marchandise harus pelengkap wajib pasukan pawai.
Di awal, sebelum pasukan pawai dilepas, ada fragmen singkat dahulu untuk memperkuat tema yang akan dibawa di pawai kali ini. Fragmen diawali dengan adegan ada 2 orang santri yang membacakan Qur’an surah Al Baqarah ayat 138 – 135 beserta terjamahnya. Tampak khusyuk dan bersuara merdu lantunan tilawah para santri. Para siswa menyimak dan merenungi perintah puasa dari Sang Maha Khalik melalui surat cintaNya, Al Qur’anul Karim.
Tiba-tiba datanglah di tengah acara sesosok orang berkacamata yang langsung menghentikan tilawah 2 santri tersebut. Santri kaget dengan wajah penuh heran. Orang berkacamata tersebut kemudian mengatakan supaya jangan percaya kepada apa yang sudah dibaca oleh santri tadi. Melarang untuk mempercayai Qur’an, tapi yang harus dipercayai adalah koran, sambil mengeluarkan secarik koran. Orang itu beralasan, karena koran lebih lengkap dengan gambar penuh warna serta beritanya up to date tidak kuno seperti Al Qur’an. Para siswa menjadi heboh, dan santripun berubah menjadi marah mendengar perkataan orang berkacamata itu. Tapi terus saja si kacamata itu terus menjelekkan Al Qur’an dan mengunggulkan koran.
 Suasana makin memanas hingga orang berkacamata juga terpancing emosi yang membuatnya melakukan tindakan fisik dengan memberikan tendangan kepada kedua santri. Kedua santri terjatuh tapi masih tetapi bertahan bahwa Al Qur’an adalah kitab yang paling benar terjaga hingga hari Qiamat. Isinya harus diyakini sebagai pedoman hidup seluruh manusia. Merasa usahanya tidak berhasil, orang berkacamata menelepon aparat untuk membantunya.
  Dengan waktu cepat aparat yang ditelepon hadir. Orang berkacamata tersebut lantas menceritakan peristiwa yang baru saja dialaminya. Orang tersebut melaporkan bahwa dirinya baru saja dianiaya oleh kedua santri saat lewat. Dirinya dijelekkan di depan umum hingga dilakukan pemukulan kepada dirinya. Mendengar laporan orang berkacamata seluruh anak langsung berteriak “Huuuuu” sambil berkata “Bohong !!” Orang berkacamata tadi memutar balikkan fakta yang terjadi. Aparat yang menerima laporan itu langsung menerima dan akan segera menindaklanjuti. Anehnya lagi, aparat malah menahan kedua santri karena laporan si orang berkacamata itu. Anak-anak berteriak-teriak untuk membela kedua santri yang sudah difitnah. 
  Di tengah kegaduhan audiens, tiba-tiba datanglah sesosok yang mengenakan sorban dan berkacamata. Bersuara lantang berusaha untuk menenangkan massa. Setelah massa terkendali, Orang bersorban tersebut kemudian mengajak dialog aparat yang tadi menahan kedua santri. Orang bersorban mencari tahu kejadian sebenarnya. Karena informasi yang dipahami aparat tidak sesuai dengan kenyataan, audiens kembali gaduh mengatakan bahwa yang salah adalah orang berkacamata. Karena telah melakukan penistaan terhadap Al Qur’an dan melakukan tindak kekerasan kepada kedua santri. Menyimak seluruh informasi, orang bersorban menginginkan supaya aparat bertindak adil. Mendindak setiap pelanggaran sesuai dengan fakta yang terjadi. Bukan sebaliknya. Karena manakala aparat tidak bertindak adil sesuai hukum, pasti akan terjadi kegaduhan. Tapi, anehnya, aparat masih saja tetap bertahan bahwa laporan dari orang yang berkacamata lah yang benar. Karena situasi semakin gaduh, kemudian aparat menelepon presiden untuk menengahi situasi.
 Presiden kemudian hadir di tengah situasi ketidakpastian dikarenakan aparat tidak bertindak sesuai dengan hukum yang berlaku. Bahwa penista agama sesuai hukum merupakan pelanggaran yang harus ditindak tegas. Kemudian Bapak Presiden memberikan arahan kepada aparat dan yang berselisih serta massa audiens. Intinya, Bapak Presiden meminta supaya aturan ditegakkan, serahkanlah urusan kepada pihak yang berwenang. Janganlah bertindak main haim sendiri. Tapi, orang bersorban tidak terima dan mendesak Presiden supaya bertidak tegas kepada Penista Al Qur’an. Sekali lagi, Presiden mengatakan supaya kembali pada aturan dan prosedur yang berlaku serta diminta menyerahkan urusan hukum kepada aparat yang berwenang. Massa tidak segera tenang, justru makin gaduh dikarenakan Penista tidak jelas tindakannya. 
  Bapak Presiden mendapat telepon dari raja Arab., jika ia akan hadir berkunjung. Tak begitu lama, rombongan raja Arab datang dengan perlengkapan yang megah. Kendaraan, pengawal serta karpet yang digelar sebagai tempat untuk berjalan.
Raja Arab kemudian berkeliling menyapa para audien dengan memberikan salam. Anak-anak pada takjub kepada kemegahan raja Arab beserta rombongannya. 
Selanjutnya, raja Arab memberikan sambutannya di depan para hadirin. Bahwa Al Qur’an sebagai kitab suci berisi nilai–nilai yang jika diikuti akan memberikan arah manusia dalam kehidupan ini. Sehingga siapapun sudah selayaknya untuk menghormati, mensucikannya. Sangatlah tidak bijak dan merupakan pelanggaran bagi yang menistakannya. Bagi penista sudah selayaknya untuk mempetanggungjawabkan perilakunya. 
Sebagai penghormatan atas kunjungannya, raja Arab memberikan hadiah berupa Al Qur’an raksasa kepada sang Presiden. Raja berpesan supaya selalu senantiasa menjaga Al Qur’an, memahami isi dan mengamalkan isinya, maka kehidupan bangsa dan negara akan aman makmur dan sentosa dengan berkeadilan dan beradab.
Selanjutnya barisan pawai tarhib Ramadhan berjalan mengelilingi wilayah di sekitar sekolah. Al Qur’an raksasa dibawah di barisan depan untuk membuka barisan. 
Tak lupa sepanjang jalan para peserta membagikan asesoris untuk menyampaikan pesan bergembira sambut Ramadhan. Para penduduk yang menyaksikan pawai tampak antusias dan bergembira menerima asesoris. Energi gembira sambut Ramadhan menyebar, suasana Ramadhan pun makin terasa.
Seperti biasa, setelah pawai anak-anak melakukan tugas kebersihan masing-masing kelas. Untuk penilaian kebersihan pada kesempatan kali ini, tim yang bertugas mengenakan ksotum bertema putri-putri Arab. Semarakkan Ramadhan 1438 kali ini, semoga ketaqwaan tergapai dan semua amal ibadah kita diterima Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Memulai Tahun Ajaran dengan Orientasi

Sudah menjadi budaya setiap masuk awal semester, SDIT Alam Nurul Islam selalu mengadakan masa orientasi untuk seluruh siswa. Tidak hanya siswa baru kelas 1 saja. Orientasi ini penting mengingat masa liburan yang panjang sangat beresiko untuk ‘menghapus’ kebiasaan baik saat kegiatan pembelajaran di sekolah berlangsung. Tiga hari awal semester dipergunakan untuk orientasi dengan muatan : motivasi ulang semangat belajar siswa, peneguhan cita-cita dan harapan, penyegaran kembali tata tertib dan budaya SIP berikut simulasinya, menyusun perangkat kepengurusan kelas.
Momen masuk setelah libur Idul Fitri dimanfaatkan sekalian untuk berhalal bi halal. Semua siswa bersamalan dengan guru dan siswa lainnya. Sebelumnya diumumkan lokasi kelas serta guru yag baru bagi siswa. Karena posisi kelas di SDIT Alam disusun tidak secara linier, urut. Namun lokasinya disusun dengan maksud adanya pola pengasuhan antar siswa. Kelas 4 letaknya di atas kelas 1, kelas 6 di atas kelas 3 dan kelas 5 letaknya di atas kelas 2. Ada siswa yang mendapatkan guru lama tapi banyak siswa yang mendapatkan guru baru. Baru dalam artian belum pernah diajar. Dalam kesempatan ini juga selain kelas dan guru baru, kepala sekolah pun di tahun ajaran ini juga baru. Ustadzah Sunarsih sekarang menjadi kepala sekolah dan ustadz Mukhtasar menjadi wakilnya.
Siswa kelas 1 disambut oleh guru-guru yang spektakuler. Para guru berkostum wayang dengan senyum cerianya menyambut setiap siswa. Tentu para siswa menjadi tertarik perhatiannya. Yang paling penting untuk untuk siswa baru adalah berkenalan dengan para siswa dan guru serta tempat-tempat yang berada di sekolah. 
Sosialisasi tata tertib dan budaya SIP (Sholih-Ilmuwan-Pemimpin) dilakukan bersama di GOR. Tahun ajaran ini ada penekanan budaya di aktivitas bersuci atauThaharah. Sehingga secara detail dan praktis siswa dipastikan memahami prosedur dan tata cara melakukan bersuci. Untuk memastikan budaya ini berlangsung, setiap siswa dibimbing untuk melakukan simulasi bersuci, cara buang air kecil/besar dan cara berwudhu. 
Sosialisasi budaya ini akan diteruskan kepada para orang tua dan wali siswa di forum Dewan Kelas yang dilaksanakan per level kelas. Harapannya, budaya dan karakter yang dibangun bisa bersama-sama secara sinergi dilakukan baik oleh sekolah maupun orang tua di rumah.