Parent Teaching Buka Tema Pekerjaan

Waktuny sudah memasuki tema baru lagi. Kelas tiga membukanya dengan rangkaian kegiatan wawancara di pasar dan parent teaching. Kebetulan lokasi pasar dekat dengan sekolah. Sehingga siswa bisa dekat untuk berkunjung. Tidak semata wawancara tapi siswa juga akan berbelanja di pasar. Mereka diberi cacatan belanjaan orang tua berikut uangnya seharga Rp. 10.000.
Sebelum masuk pasar anak-anak dibrifing dahulu. Diberi pengarahan adab masuk pasar. Mengingatkan bahwa pasar termasuk tempat favorit tempat tinggal setan untuk beranak pinak. Sehingga semewah apaun bentuknya, kita disunnahkn untuk membaca ta’awudz untuk menjaga diri dari gangguan setan. Bahkan pasar secanggih Hypermart pun. Kemudian adab dalam berbicara sewaktu wawancara. Karena mayoritas penjual pasar adalah ibu-ibu yang sudah tua bisa jadi tidak lancar bahasa Indonesia. Unggah-ungguh jawa harus dilakukan.
  Yang harus diketahui anak-anak dari wawancara adalah, berapa lama berjualan, berapa rata-rata penghasilannya serta suka duka berjualan. Wawancara dibagi tugs secara bergantian sehingga semua saling merasakan interksi dengan orang lain dalam berkomunikasi. Sambil mereka lengkapi daftar belanjaan dari orang tua. Rata-rata belanja sayur dan bumbu. Meski sisa uang digunakan untuk membeli snack.

 Selesai di pasar, kegiatan berlanjut pindah ke rumah salah seorang siswa kelas 3. Rumahnya Sheira 3B. Di rumah Sheira siswa-siswa akan mendapat informasi tentang pekerjaan yang dilakukan ayahnya. Ayahnya Sheira kebetulan berkebangsaan Swiss, Pak Serge namanya. Karena sulit nyebutnya maka bisa dipanggil pak Sarjo. Pak Sarjo seorang Carpenter atau tukang kayu di Swiss. Setiap 6 bulan sekali beliau pulang ke Swiss untuk menjalani pekerjaannya. Enam bulan berikutnya pulang berkumpul dengan keluarganya.

Pertama kali pak Sarjo menjelaskan beberapa tempat di Swiss. Seperti Air mancur di pusat kota Genewa yang dinamai Jet d’eau de Geneve. Air mancur ini bisa mempunyai ketinggian sampai 100 – 150 meter. Wuih tinggi banget ya. Lalu ada gedung PBB di kota Genewa juga. Pusat kantor PBB di dunia itu ada 2, selain di Genewa juga ada di New York Amerika Serikat. Selain itu juga diterangkan pabrik coklat dan pusat perkebunan anggur di Swiss. Swiss terkenal akan 3 hal : Coklat, Uang dan Jam. Uang karena di Swiss terkenal dengan banyaknya Bank yang dipergunakan para konglomerat di dunia.

 Pak Sarjo kerja berdasarkan proyek. Hampir selalu perusahaanya pak Sarjo mendapatkan pesanan perusahaan besar dunia. Seperti Louise Vuitton, yaitu perusahaan fashion besar dunia. Tugas yang diberikan adalah diminta untuk membuat hiasan toko yang terletak di 9 negara selama waktu 2 bulan. Pak Sarjo harus berlembur-lembur, sehari bisa bekerja 12 jam supaya sesuai target. Dan tidak asal jadi, hasil kerjanya juga dipantau kualitasnya. Presisi kerapian garapannya hingga ukuran milimeter. Itu yang membuat perusahaan pak Sarjo selalu dipercaya.

Memang tukang kayu seperti pak Sarjo kelasnya sudah Internasional, global. Sudah wajar jika kualitas menjadi taruhan kepercayaan. Dan tidak tanggung-tanggun nilai proyeknya sampai bernilai milyaran. Jika anak-anak ingin bekerja dengan taraf internasional, modal awal yang harus dikuasai adalah bahasa Inggris. Karena itu sebagai alat komunikasi internasional. Mental kerja profesional juga harus menjadi kepribadian. Bekerja keras dengan deadline waktu yang tepat. Sekali saja telat maka tidak lagi menjadi kepercayaan. Pak Sarjo mengagumi karakter orang Jogja yang ramah tapi dalam hal kerja masih jauh diperbaiki. Karena masih kurang disiplin. 

Buka Tema : Menyimak Cerita Perjuangan dari Veteran

Bulan Oktober adalah bulan yang mempunyai nilai sejarah bagi bangsa kita, bangsa Indonesia. Tanggal 28 Oktober adalah waktu diperingatinya hari Sumpah Pemuda. Peristiwa tonggak awal kemerdekaan negara Republik Indonesia. Bersamaan dengan momen tersebut, tema pembelajaran siswa kelas 3 juga pas dengan peristiwa Sumpah Pemuda. Untuk membuka tema pembelajaran, siswa kelas 3 mengadakan kegiatan nonton film Sumpah Pemuda dan menyimak cerita perjuangan dari nara sumber.
Para siswa melihat film sejarah singkat terjadinya peristiwa Sumpah Pemuda. Diawali dari masuknya para penjajah Belanda yang sangat lama melakukan penguasaan terhadap wilayah di Indonesia. Penjajah melakukan pemecahan wilayah dan kekuasaan sehingga kekuatan untuk membebaskan diri dari penjajah tidak berarti. Baru setelah Belanda memberlakukan politik Etis dengan membangun beberapa lembaga pendidikan bagi anak-anak Indonesia serta memberi kesempatan pendidikan ke negeri Belanda, hasilnya, mereka tercerahkan dan menyadari untuk melakukan gerakan membebaskan diri dari penjajahan. Hasil didikan Belanda menghasilkan pemuda yang justru membentuk perkumpulan seperti Jong Java, Jong Celebes, Jong Sumatra, Jong Bataks dan lain-lain. Mereka berkumpul mengadakan Konggres Pemuda hingga 2 kali kesempatan yang akhirnya melahirkan Sumpah Pemuda, sebuah tekad persatuan untuk bergerak bersama membebaskan diri dari penjajahan.
Selesai menonton film, anak-anak kehadiran tamu dari Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) yaitu lembaga yang mewadahi mantan prajurit angkatan bersenjata republik Indonesia yang telah berjasa dalam perjuangan kemerdekaan maupun mempertahankan kemerdekaan RI. Beliau adalah Kapten (Purn) Suwarno. Pak Suwarno bercerita tentang sejarah kemerdekaan Republik Indonesia, mulai dari awal mula dijajah hingga mampu memproklamirkan diri sebagai negara merdeka.
Pak Suwarno sewaktu masih aktif sebagai tentara pernah menjalani penugasan ke luar Jawa. Diantaranya ke pulau kalimantan. Program yang dilaksanakan saat itu adalah ABRI masuk desa, untuk mengadakan pembangunan di wilayah-wilayah terpencil. Menyimak terlalu lama memang untuk anak terasa membosankan, sehingga acara dilanjut dengan tanya jawab.
 Begitu dibuka sesi tanya jawab, siswa-siswa langsung segera mengacungkan jari. Namun pertanyaan yang mereka sampaikan unik-unik dan tidak ada hubungannya dengan yang dibicarakan pak Suwarno tadi. Seperti, dahulu bapak pernah kena peluru belum, warna seragam bapak dulu apa, dulu TKnya dimana, polos dan lucu-lucu.
Unik lagi, di akhir acara setelah ditutup, tanpa diperintah, tanpa ada penugasan, anak-anak meminta tanda tangan pak Suwarno. Bahkan saking banyaknya yang mau minta tanda tangan mereka harus antri memanjang. Rasa nasionalisme memang harus tertanam sejak dini di era global tanpa batas antar negara ini.

Tutup Tema : Mengolah Hasil Ternak Ikan

Pembelajaran tema akan lebih mantap dan kuat lagi pesan yang akan dipahami siswa jika dilakukan berbasis proyek. Sehingga siswa tidak semata sebatas menghafal atau memahami konsep materi pembelajaran saja, tapi lebih jauh lagi ada realisasi bagaimana materi yang terpahami menjadi maujud nyata. Bisa diindrai, bisa dinikmati serta bermanfaat bagi lainnya. Mengangkat tema Makhluk Hidup, siswa kelas 3 mengakhirinya dengan kegiatan pengolahan hasil pemeliharaan ternak ikan Nila. Meski pemeliharaan tidak lama karena targetnya adalah adanya data yang bisa untuk membuktikan proses pertumbuhan yang ditunjukkan makhluk hidup. Indikator yang digunakan adalah berat badan. Pun juga, setiap proses pelaksanaan proyek tidak semulus perencanaannya. Ikan-ikan yang sudah diukur berat badan awalnya ternyata tidak bertahan lama. Mati sebelum tumbuh. Tapi fakta tersebut tidak kemudian menggagalkan segalanya. Masih bisa digali argumentasi kenapa ikan-ikan itu mati. Faktanya lagi, karena mati sudah tentu tidak akan ada penambahan berat badan, tidak ada proses tumbuh. Yang mati digantikan oleh yang hidup. Sehingga, ikan-ikan yang akan diolah di akhir proyek nanti memang bukan hasil dari proses pemeliharaan.
Karena tema harus ditutup maka kegiatan akhir yang harus dilaksanakan. Kegiatannya adalah, semua siswa diwajibkan untuk menangkap ikan dengan tangan kosong. Selanjutnya, ikan tersebut dibersihkan dari sisik, dan organ dalamnya. Lalu dimasak, jenis olahan yang dipilih adalah barbeque alias dibakar. Terakhir hasil olahan akan dinikmati bersama-sama. Semua proses harus dilakukan setiap anak, masing-masing.
Sesi tangkap ikan dilakukan bergiliran untuk setiap kelompok. Kelompok yang tercepat dalam memecahkan persoalan dengan penyelesaian yang membutuhkan hitungan matematika, dialah kelompok yang paling awal untuk menangkap ikan. Ada sebuah fenomena menarik, kelompok yang cepat menyelesaikan hitungan matematika, giliran saat menangkap ikan membutuhkan waktu yang cukup lama. Alasannya bermacam, karena takut, jijik, bingung caranya gimana. Tapi, giliran kelompok yang sangat lama dalam menyelesaikan soal matematika begitumendapat giliran tangkap ikan, kurang dari satu menit ada yang langsung dapat 3 ekor ikan. Besar-besar lagi. Masing-masing anak mempunyai wilayah juaranya sendiri-sendiri.
Setelah dapat tangkapannya, setiap anak diharuskan untuk membersihkan organ dalam ikan, sisik serta bagian-bagian yang tidak enak dimakan. Ada sih yang takut karena ikannya masih gerak-gerak. Ada juga yang jijik karena bau amis dan kotoran yang bau. Tapi semua bertanggung jawab pada tangkapannya. Jika tak dibersihkan tanggung sendiri ikannya kotor atau tidak mendapatkan jatah makan ikan.
Setelah dipastika bersih benar, ikan-ikan di bawa untuk dibakar. Sebelum dibakar, bumbu-bumbu sudah dipersiapkan dahulu. Ikan sebelum dibakar digoreng dahulu setengah matang, supaya saat dibakar nanti tidak ada bagian ikan yang mentah. 
Saatnya makan. Setelah semua ikan matang dibakar, setiap kelompok menyiapkan diri makan siangnya. Tidak pake piring tapi pake daun pisang. Nasi dan lauk diwadahi jadi satu, satu kelompok makan bareng dengan nuansa kali yang bergemericik. Beberapa anak memang sudah terbiasa dengan makan di tempat yang bersih, rapi bahkan lux. Namun di tempat yang ‘sangat darurat’ ini pun mereka tetap lahap. Harapannya, akan tercipta manusia yang tidak katrok dengan layanan Bintang 5 dan tetap nyaman dengan yang Kaki 5.
Lahapnya anak-anak makan, ada juga yang nyeletuk “Sebenarnya aku gak suka ikan lho, tapi karena makannya di sini jadi mau makan”. Memang kebersamaan itu indah rasanya. Kegiatan ini sarat dengan pemaknaan. Saat menangkap ikan. Cara menangkap ikan secara bersama-sama dengan tanan kosong serta masuk ke kolam akan membuat kondisi kolam keruh, ikan-ikan stress bahkan beberapa darinya lepas masuk ke sungai. Berbeda jika cara menangkap ikannya dengan memancing. Meski satu-satu mendapatkannya, kondisi air tetap jernih. Ikan tidak stress dan panik. Begitulah jika kita menangani sebuah masalah. Jangan sampai kita buat kondisinya menjadi semakin keruh dengan cara generalisir, pemburuan tersangka. Tapi masalah akan segera selesai dengan elegan manakala diselesaikan dengan cara melokalisir, konfirmasi cek dan ricek, sehingga tidak ada pihak-pihak yang terdholimi.

Napak Tilas Perjuangan Kemerdekaan

Untuk memperingati hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-71 ini, siswa kelas 3 mengadakan kegiatan lain daripada yang lain. Kenapa? Karena mereka bukan mengadakan lomba-lomba seperti yang dilaksanakan pada umumnya peringatan kemerdekaan. Tapi, mereka mengadakan kegiatan diberi judul Napak Tilas Perjuangan Kemerdekaan. Apa sih kegiatannya? Kegiatannya berupa melakukan jalan kaki sejauh kurang lebih 3 kilometer. Kegiatan tersebut diadakan pada hari Selasa, 16 Agustus 2016.
Sebelum melakukan perjalanan, siswa dikumpulkan dahulu di halaman untuk mendapatkan penjelasan dari ustadz-ustadzah. Setiap siswa diwajibkan untuk membawa bekalnya sendiri menggunakan tas puggungnya. Setiap barang bawaan menjadi tanggung jawab setiap siswa. Setelah dipastikan semua siswa sehat dan memahami aturan selama perjalanan, maka dengan berbaris satu-satu mereka berangkat menuju tujuan menyusuri medan yang sengaja dipilih lebih alami.
Meski hanya jalan-jalan, kedisiplinan barisan harus menjadi perhatian setiap pasukan. Ditambah lagi manakala perjalanan sudah memasuki jarak yang lumayan jauh. Saat capek sudah mulai muncul, semangat untuk jalan semakin berat, ketangguhan mulai diuji. Suara keluhan mulai bersahutan, wajar karena memang seusia mereka memang banyak yang belum pernah jalan jauh. Tapi tekad sudah bulat, perjalanan terus berlanjut.
Suasana istirahat menjadi saat yang akrab. Masing-masing siswa mengeluarkan bekalnya untuk kemudian saling bertukar atau memberi bagi yang bekalnya kurang. Selain melepas lelah sambil menyantap bekal, sesekali berbincang disertai candaan ternyata cukup mengurangi lelah yang dari tadi membebani perjalanan.
Ingat, perjalanan masih jauh sehingga waktu istirahat harus segera diselesaikan. Segera siswa berkemas merapikan tas punggungnya dan, eits, sampah dari bungkus makanan segera dikemasi. Tanda-tanda kelelahan memang benar-benar melanda terlihat dari bentuk barisan. Dari awal satu per satu sudah mulai menggerombol. Tas punggung tidak lagi ditenteng nempel punggung tapi sudah mulai diangkat-angkat.

Bahagianya suasana hati, raut muka yang kusut berubah menjadi ceria saat rute perjalanan tiba di sungai yang jernih airnya. Pasukan tidak sabar untuk bersegera masuk ke sungai merasakan dinginnya air setelah dterpa terik mentari selama perjalanan. Mereka tak pedulikan pakaian basah tercelup air, justru itu yang diinginkan supaya kesegaran segera merata ke sekujur tubuh.
Tak cukup berbasah-basah, berlanjut setelah tas bekal dipastikan aman disimpan, mereka langsung nyebur berenang di sungai membasahi seluruh tubuh. Air dan anak-anak, rupanya dua hal yang tidak bisa dipisahkan satu dan lainnya.
Tak jauh dari situ, ada tukang tambang pasir yang sedang mengumpulkan pasir kali. Anak-anak segera antusias untuk ikut membantu menggerakkan alat angkut pasir kali yang berupa ban dalam truk yang dipompa sehingga bisa mengambang sedangka di tengah-tengahnya ditempatkan wadah tempat pasir kali diangkut.
Alhamdulillah, sampai di tujuan sudah menjelang Dhuhur sehingga bersegera seluruh siswa untuk bersih dir dan ganti pakaian. Setelah berwudhu mereka menuju ruang kelas untuk melaksanakan sholat Dhuhur berjama’ah. Ruang yang digunakan merupakan ruang kelas baru TKIT Nurul Islam yang sudah kurang lebih 60% jadi dengan target Februari 2017 sudah bisa difungsikan. Area TKIT Nurul Islam yang baru ini menjadi tujuan akhir dari perjalanan panjang siswa kelas 3.
Setelah makan siang, acara dilanjutkan dengan menonton film Jendral Sudirman karya siswa kelas 3 juga pada tahun 2009 dahulu. Di film tersebut anak-anak bersama memaknai kegiatan perjalanan panjang yang barusan dilakukan. Hampir semua siswa merasakan lelah dan letih. Dan itu adalah normal. Justru yang tidak normal jika tidak merasakan letih dengan perjalanan panjang tersebut. Tapi, jendral Sudirman juga melakukan perjalanan panjang, bahkan lebih panjang. Dari Jogja, Gunung Kidul, Wonogiri hingga Pacitan Jawa Timur. Itu bisa dilakukan dan merupakan bagian dari perjuangan melawan penjajah. Bahkan dalam kondisi Jendral Sudirman sakit paru-paru yang parah tapi tetap memimpin pasukan. Ternyata, sama-sama lelah yang membedakan adalah adanya semangat pantang menyerah. Dengan semangat pantang menyerah tersebut apapun keinginan dan tujuan meskipun halangan merintang akan ditembus juga.

Sensus Makhluk Hidup

Selesai menjalani orientasi, harapannya semua siswa sudah segar dan panas mesin belajarnya. Rasa keingintahuan menjadi energi belajar yang akan menyertai selama proses pembelajaran. Untuk membuka tema pembelajaran pertama yaitu tema Makhluk Hidup, siswa kelas 3 mengadakan kegiatan Sensus Makhluk Hidup. Sensus ini dilakukan di wilayah dusun Cambahan yang berdekatan dengan lokasi sekolah.
 Sebelum melakukan sensus, siswa berkumpul untuk mendapatkan penjelasan dari ustadz/ah. Semua siswa dikelompokkan menjadi 15 grup. Setiap grup diberi bekal berupa lembar pendataan dan stiker sensus. Lembar pendataan digunakan untuk menuliskan nama kepala keluarga beserta jumlah anggota keluarganya, jumlah hewan piaraan dan jumlah tumbuhan yang dimiliki. Stiker digunakan untuk penanda bahwa rumah tersebut sudah dilakukan sensus. Tak lupa sebelum meluncur ke rumah-rumah, ustadz memberikan contoh dalam melakukan wawancara dengan sopan-santun dan tata krama yang benar.
Bersegeralah semua siswa menuju dusun Cambahan, mereka menyusuri setiap rumah. Bagi yang mendapatkan rumah yang berpenghuni langsung bahagia langsung diwawancara. Bagi yang berulang kali ketuk pintu tidak ada reaksi dari dalam rumah, terpaksa pindah rumah lainnya. Mengingat waktu wawancara banyak penduduk yang sedang bekerja keluar.
 Secara bergantian siswa dalam satu grup bertanya pada warga yang mempersilahkan. Dengan sopan dan pelan pertanyaan disampaikan terkhusus lagi saat bertemu dengan penghuni rumah yang sudah tua. Ada satu kelompok yang cukup kesulitan mewawancarai saat bertemu dengan penghuni rumah, karena selain sudah tua, si kakek tidak bisa berbahasa Indonesia.
Siswa mampu secara langsung menyesuaikan diri dengan kondisi yang diwawancara. Mereka tidak segan untuk mengulang pertanyaan saat yang ditanya kurang paham. Tidak terkecuali sikap pun bisa langsung menyesuaikan dengan langsung mengalami. 
Bahagianya grup yang mendapatkan rumah yang diwawancara ternyata adalah milik pak RT. Seperti mendapatkan bonus poin dalam permainan game, mereka semangat untuk memberikan pertanyaan.
 Tak lupa, setelah wawancara selesai dilakukan, stiker sensus ditempel di depan rumah sebagai tanda bahwa rumah tersebut sudah disensus. Supaya grup sensus lain tidak datang di rumah tersebut.

 Setelah semua kegiatan sensus selesai, setiap grup melakukan rekap data dari hasil sensus. Grup terbanyak berhasil melakukan sensus ke 9 kepala keluarga. Hasil rekap dan semua data sensus bersama-sama diserahkan kepada kepala Dukuh sebagai bentuk tanggung jawab kegiatan sensus di dusun Cambahan. Pak Dukuh mengapresiasi positif kegiatan pembelajaran siswa yang langsung kepada warga. Harapannya, mereka mendapatkan banyak pengalaman tidak saja secara materi namun pengalaman interaksi dengan warga masayarakat dusun.

Bike To Fun

Sepedaan atau istilah Jawanya Pit-pitan jadi satu aktivitas pilihan yang menarik untuk refreshing. Ditambah lagi jika sepedaan dilakukan secara bersama-sama, tambah seru. Selain mengandung unsur olahraga dikarenakan gerakan kayuhan kaki yang berkoordinasi dengan tangan, sepedaan juga mengandung unsur relaksasi untuk mengurangi stress dengan menikmati pemandangan sepanjang perjalanan. Tentu track yang pas untuk sepedaan dipilih tempat yang alami dan dimulai sepagi mungkin agar udara segar sebanyak-banyaknya kita nikmati.
  Wilayah perkampungan dan persawahan yang hijau sangat tepat dipilih sebagai jalur sepedaan. Selain relatif sepi juga sebagi media mengenal nama wilayah serta kondisinya. Terutama sepedaan secara bersama sangat perlu memperhatikan etika selama perjalanan, satu per satu tidak memenuhi jalan.
Selain manfaat personal untuk kebugaran dan kesehatan fisik dan mental, dengan sepedaan kita bisa gunakan sebagai media untuk memupuk kebersamaan. Terutama manakala anak yang sudah mulai menginjak usia baligh, pola pergaulan akan mulai menunjukkan interaksi secara in group, pilih-pilih kelompok sesuai dengan identitasnya. Ego sudah mulai ditonjolkan sehingga untuk mengikis kompetisi yang tidak sehat berujung konflik sangat perlu diikat dengan rasa kebersamaan.
Tidak perlu memforsir energi karena memang tujuan sepedaan adalah refreshing. Manakala lelah sudah muncul, bersama-sama rehat dengan menikmati bekal minum serta snack yang dinikmati bersama-sama menambah serunya suasana.
Satu hal yang mungkin terjadi diluar dari dugaan. Musibah selama kegiatan sepedaan bisa saja menerpa. Tentu penyikapan akan fenomena musibah ini sangat tergantung dari bagaimana melihatnya. Bisa jadi, niat untuk senang-senang berubah menjadi kekecewaan manakala satu anggota mengalami musibah yang otomatis akan menggagalkan kelanjutan sepedaan. Atau bisa jadi peristiwa musibah akan melahirkan perdebatan seru dengan topik utama siapa tersangkanya. Namun, kesyukuran yang tak terhingga saat kita melihat sebuah musibah itu dilihat sebagai ujian yang diberikan oleh Sang Maha Kuasa untuk mengetes seberapa tangguh kebersamaan.
Sebuah kelegaan yang tak terhingga saat satu anak terkena musibah, beberapa anak langsung sigap mencari informasi mana letak bengkel dan tukang las. Allah pasti lebih tahu bahwa setiap ujian disesuaikan dengan kemampuan hamba-Nya. Rupanya bengkel dan tukang las tidak begitu jauh dari lokasi musibah. Bergegas anak-anak langsung mengambil serpihan sepeda yang terpotong menjadi beberapa bagian untuk di bawa ke bengkel dan tukang las. Tidak sampai disitu, ternyata si korban tidak membawa uang cukup untuk biaya pembetulan sepeda. Beberapa anak langsung memberikan uangnya supaya biaya pembetulan sepeda lunas terbayar. 
Salut atas kesigapan untuk menemukan solusi tanpa berdebat mencari siapa yang salah. Satu soal ujian yang bisa sukses diselesaikan bersama-sama. Sangat benar Allah SWT memberikan setiap masalah itu untuk menaikkan derajat hamba-Nya yang diuji. Selamat nak, kalian naik derajat !!

Pembelajaran Tema Teknologi Kelas 5

Memasuki semester 2 ini, kelas 5 sudah merencanakan beberapa tema pembelajaran. Tema yang diramu sendiri dari kurikulum 2006 ini untuk melaksanakan pembelajaran berbasis proyek. Tema pembelajaran yang akan dilakukan adalah Teknologi. Dengan basis mata pelajaran IPA mengangkat materi gaya dan pesawat sederhana. Dari perencanaan satu bulan pelaksanaan, tema ini mempunyai proyek pembuatan teknologi sederhana untuk mengatasi permasalahan keseharian yang dijumpai di sekitar, rumah maupun sekolah.
Kegiatan awal adalah para siswa menyaksikan video-video tentang presentasi karya para siswa SD tentang teknologi sederhana. Yang menjadi tujuan bukan pada bentuk teknologinya namun lebih pada keunikan dan orisinalitas ide dalam membuat teknologi. Rupanya para siswa tertegun meski mungkin karyanya memang sangat sederhana. Dari aktivitas nonton tersebut siswa diminta untuk mengungkapkan inspirasi apa yang muncul di kepala mereka. Berdiskusi, ngobrol dan muncul ungkapan takjub dan terinspirasi. Bahkan rupanya mereka sudah bisa mendefinisikan apa itu teknologi. Alat bantu untuk mempermudah kehidupan memanfaatkan bahan bekas.

Setelah hari pertama keingintahuan mereka terpantik dan mulai ada banyak inspirasi yang menggelitik satu hari selesai untuk diendapkan dalam perenungan mereka. Hari berikutnya, siswa dikelompokkan dalam beberapa regu dan melaksanakan tugas untuk inventarisasi masalah di sekitar sekolah. Muncullah masalah seperti alas kaki yang tidak tertata dengan baik, masih ada sampah dibuang sembarangan, bau kamar mandi, terlambat masuk kelas, tanaman kering dan lain-lain. Sebanyak mungkin mereka kumpulkan masalah, karena di momen ini mereka sedang diasah sensitivitasnya untuk mengenali masalah di sekitar. Menekan rasa egois yang tak peduli pada sekitar. Setelah semua masalah dikumpulkan, mulailah setiap kelompok untuk memilih satu masalah yang akan dibuatkan teknologi solusinya. Mereka mulai melakukan desain dan kelayakan proyek teknologi dalam mengatasi masalah yang dipilih.
Perencanaan dimulai, desain gambar, bentuk rangkaian dan fungsi yang akan bekerja di alat teknologinya dikerjakan dengan seksama. Beberapa kelompok mencoba menggunakan instrumen yang sudah jadi, akibatnya biaya yang harus dikeluarkan cukup besar. Sehingga perlu mengubah masalah yang akan dicari solusinya. Setelah desain sempurna, instalasi dimulai. Saat sudah tuntas terinstall saatnya untuk melakukan kelayakan fungsi. Uji coba alat dilaksanakan untuk mengetahui titik kekurangan. Setelah seluruh proses dilakukan tibalah saatnya untuk dikomunikasikan ke publik atas karya teknologi tersebut. Tema pembelajaran ditutup dengan kegiatan ekspo gelar teknologi sederhana. Para siswa menjelaskan tentang kegunaan dan fungsi alat yang mereka buat. Serta pentingnya dalam mengatasi masalah.