Tutup Tema Kelas 1 : Menjamu Teh Ayah dan Bunda

Untuk menutup kegiatan pembelajaran tema Keluargaku, setelah outing, hari ini Kamis 28 September 2017, diadakan kegiatan jamuan minum teh. Ayah dan Bunda setiap siswa diundang untuk hadir ke sekolah. Di sekolah disediakan tempat jamuan yang diseting khusus dengan nuansa klasik jawa. 
Pada kegiatan tutup tema ini, ayah-bunda akan dipandu oleh ananda, putra-putrinya kelas 1 untuk menempati meja sesuai dengan tempatnya. Sebelumnya setiap keluarga berpose foto dulu di booth foto yang sudah disediakan dengan tema klasik jawa. Setelah semua orang tua hadir, acara dimulai dengan jamuan minum teh yang disediakan oleh putra-putrinya kelas 1. 
Setelah berfoto bersama, siswa mempersilahkan para orang tua untuk duduk di tempat yang sudah disiapkan. Di sana sudah tersedia beberapa cangkir dan teko berisi teh. Setiap siswa kemudian mengilingkan air teh ke cangkir. Kemudian dipersilahkan untuk meminumkan teh ke orang tua.
Selain air teh, para siswa juga menyuapkan snack makanan roti kepada orang tua. Ini saatnya para siswa melayani para orang tua setelah selama ini mereka mendapatkan layanan semenjak kecil. Tentu bagi anak yang belum biasa menjadi canggung. Pun juga orang tua. Namun yang paling penting, munculnya rasa sensasi melayani ini menjadi sesuatu yang baru dirasakan anak.
Begitu selesai semua siswa melayani para orang tua dengan baik, para hadirin mendapatkan sedikit hikmah dari pak Fauzan, salah seorang orang tua siswa. Memaknai tentang pentingnya mendidik adab kepada anak yang membutuhkan sebuah komunitas yang diciptakan dalam kondisi baik. Setelah itu ustadz/ah memberikan hadiah kepada keluarga yang hadir paling awal, terkompak baik dari segi kostum dan kelengkapannya.
Acara ditutup dengan foto bersama seluruh keluarga untuk menunjukkan kekompakan anak dan orang tua serta satu keluarga dengan keluarga lainnya.  
Iklan

Outing Kelas 1 : Panti Asuhan Sayap Ibu dan Hotel Galuh Waterboom

Untuk menajamkan nilai dari pembelajaran bertema Keluargaku, kelas 1
melakukan kegiatan outing ke panti asuhan Sayap Ibu Yogyakarta pada hari Selasa, 26 September 2017. Panti asuhan
Sayap Ibu Jogja beralamatkan di Jl. Rajawali No.3, Condongcatur, Sleman,
Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55581 sebelah utara selokan
mataram. Di panti asuhan ini, anak-anak mendapatkan kesempatan untuk
mengunjungi anak-anak panti asuhan yang rata-rata dalam kondisi memprihatinkan.
Kondisi cacat, baik fisik maupun psikis. Kondisi yang tidak dipedulikan oleh
orang tuanya. 
Anak-anak diajak berkenalan dengan para penghuni panti asuhan. Dengan
saling berjabat tangan, bertanya harapannya tumbuh empati dan syukur terhadap
kondisi mereka yang sehat dan lengkap orang tuanya. Tidak seberuntung teman
mereka yang berada di panti ashan tersebut.
Sungguh sangat menyayat hati melihat pemandangan anak-anak yang dibuang oleh orang tua yang tidak bertanggung jawab. Mereka harus lahir ke dunia inin dipaksa untuk mandiri tidak punya siapa-siapa. Selain berkenalan, para siswa juga menyerahkan sumbangan berupa beras yang baru saja dipakai untuk pembelajaran merasakan hamil. Setiap anak menyerahkan 2 kilogram beras. Sehingga kurang lebih ada 168 kilogram beras yang disumbangkan ke panti.
Ada juga Mbak Rani, yang sejak bayi sudah di tinggal di panti. Hobi nya bernyanyi dan buat puisi. Selalu ia dendangkan lagu “Aku …Rindu sekali dengan bunda”😭😭 Sekarang mbak Rani sudah masuk jenjang kuliah.  Cita citanya yang ingin menjadi guru TK semoga terkabul ya mbak… Amin.
Obyek akhir anak-anak berenang di kolam renang Hotel Galuh Prambanan. Semoga perasaan empati yang sudah terasah akan terpatri untuk sensitif merasakan penderitaan orang lain.

Outing Kelas 4 : Fakultas Kedokteran UMY dan Hutan Mangrove Kulonprogo

Untuk mempelajari anatomi organ manusia, siswa kelas 4 mengadakan outing ke Fakultas Kedokteran Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.. Sudah menjadi langganan SDIT Alam untuk berkunjung ke fakultas Kedokteran UMY terutama untuk tema khusus organ. Anak- anak melakukan kunjungan pembelajaran di Laboratorium FKIP UMY dan mendapatkan pemaparan materi terkait Human Body oleh Dr. Rizal (salah satu dosen di UMY)
 
 
 
  
  
  
  

 


Setelah selesai di fakultas kedokteran UMY perjalanan berlanjut Ke hutan Mangrove kulonprogo. Setibanya lokasi ke 2 anak anak melaksanakan sholat dan makan bersama. Setelah selesai makan anak-anak berkeliling  mengisi worksheet terkait ekosistem dan pembuatan karya sederhana. Pengamatan terkait ekosistem Mangrove atau Bakau langsung ke lokasi. Sehingga anak-anak bisa mengidentifikasi langsung.


Outing Kelas 3 : TPS Tambak Boyo, Stadion Internasional Maguwoharjo dan Tuk Pajangan

Untuk mempertajam dan memperdalam pembelajaran tematik, outing menjadi metode pembelajaran yang pas dan menarik baik oleh siswa maupun guru. Karena outing sangat memungkinkan para siswa dan guru untuk melakukan eksplorasi lebih dalam dan banyak. Obyek belajar diatangi langsung. Ditanya langsung. Dan Diindrai langsung. 
Termasuk dalam memahami lingkungan sehat dan tidak sehat. Salah satu penyebab lingkungan itu tidak sehat manakala keberadaan sampah tiadk terkelola dengan baik. Untuk membuktikan hal tersebut, kelas 3 melakukan outing ke Tempat Penampungan Sampah Sementara (TPS) Tambak Boyo. Di area ini anak-anak bisa menyaksikan berbagai macam jenis sampah yang berasal dari rumah tangga. Baik yang organik maupun yang anorganik.
 Anak-anak berjalan berkeliling TPS. Tampak aktivitas beberapa pekerja yang melakukan pemilahan terhadap sampah. Rupanya sampah-sampah yang masuk di TPS ini dalam kondisi yang belum terpisah. Sehingga tugas pekerja TPS adalah memilah mana yang merupakan bahan yang bisa iaur ulang, mana yang tidak bisa diaur ulang. Dengan menyaksikan langsung disertai dengan bau sampah yang sangat menyengat, anak-anak bisa tumbuh kepedulian untuk memilah sampah dari rumah, lebih jauh lagi sampai mendaur ulang sampah. Karena tanpa peran para karyawan TPS tersebut tentu bisa jadi sampah-sampah yang dihasilkan oleh setiap rumah akan tersebar memenuhi lingkungan sehingga memicu atangnya bibit penyakit.
   Dari TPS Tambakboyo perjalanan dilanjutkan dengan melakukan tracking menuju candi Gebang. Anak-anak berjalan menyusuri persawahan yang beberapa sisi sudah disulap menjadi perumahan. Setelah berjalan kurang lebih 1 kilometer, tibalah di lokasi candi Gebang. Candi yang tergolong kecil ini dari bentuk dan beberapa artefak yang tampak masuk ke golongan cani Hindu. Terdapat lingga, simbol kesuburan pria, yoni, simbol kesuburan wanita dan patung Ganesha, manusia berkepala gajah. Anak-anak mendapatkan informasi terkait candi ini dari papan informasi yang berada di dekat candi.
 dari candi Gebang, perjalanan berlanjut menuju stadion sepakbola Maguwoharjo. Letaknya hanya sekitar 500 meter dari candi Gebang sebelah timurnya. Di staion kebanggaan masyarakat Sleman ini, anak-anak dijelaskan oleh pak Sumadi selaku pengelola stadion. Stadion ini dibangun dengan gaya arsitektur Eropa meniru stadion di Barcelona Spanyol. Dibangun tahun 2005 dengan kapasitas penonton 30.000 orang ini masuk 6 besar stadion termegah di Indonesia setelah Gelora Bung Karno. 
Tidak hanya menyaksikan dan menyimak informasi terkait dengan stadion. Anak-anak juga berkesempatan menyentuh rumput lapangan yang dihadirkan ekslusif dari Italia. Mereka merasakan euforia dengan berguling-guling di atas rumput istimewa khusus stadion sepakbola ini. Terlebih lagi untuk anak yang sangat suka dengan sepakbola hingga yang bercita-cita menjai pemain sepakbola. Tentu momen ini menjadi peneguh jiwa cita-citanya.
Dari staidon Maguwoharjo, perjalanan berlanjut ke sumber mata air Saren yang berada di wilayah Pajangan Ngemplak Sleman. Di sini terapat kolam yang sumbernya dari mata air alami. Dikarenakan air yang keluar cukup deras sehingga kelimpahan airnya hingga menyamai kolam renang. Masyarakat memanfaatkan sumber mata air ini untuk berenang. Selain jernih tanpa kaporit, siapapun bebas gratis untuk berenang di mata air yang berada di Sultan Ground, atau tanah milik keraton Yogyakarta ini. 
Anak-anak bisa merasakan langsung alaminya air yang keluar dari mata air. Apalagi yang letaknya di tengah persawahan semakin membuat betah pengunjung yang suka berenang. Dari kegiatan outing ini, anak-anak mampu bisa mengidentifikasi lingkungan yang alami dan buatan. Sehat dan tidak sehat. Harapannya tumbuh kepedulian pada anak-anak kesadaran untuk melestarikan lingkungan dan menjaga kesehatannya. 

Merasakan Hamil dengan Beras 2 Kg

Pembelajaran dengan mengalami memberikan makna lebih kaya. Bisa jadi tanpa uraian lisan dan narasi, tapi justru perasaan yang tak terdokumentasi sangat bisa jadi muncul spontan. Sehingga guru tinggal mengajak bersama mendiskusikan makna yang terucap untuk menanamkan kesadaran yang akhirnya melahirkan perilaku hingga kebiasaan dari nilai pembelajaran yang ingin ditanamkan. Mengangkat tema pembelajaran ‘Keluargaku’, setiap siswa kelas 1 ditargetkan untuk lebih mengenal lebih dalam lagi peran setiap anggota keluarga. Mengapa harus ada yang namanya Ayah, Ibu dan Anak. Menyadari peran tersebut dalam keluarga, idealnya siswa akan dengan penuh kesadaran berperan di keluarganya masing-masing dengan memberikan peran terbaiknya. Nah, peran Ibu bisa jadi seru untuk dibahas. Ibu yang bertanggung jawab lahirnya setiap anak dan memastikan pertumbuhan dan perkembangannya dengan baik bahkan terbaik. Ketidakpahaman betapa besar pengorbanan sang Ibu bisa jadi menyumbangkan perilaku tidak hormat, taat dan patuh pada setiap Ibunya. Untuk merasakan betapa beratnya mengandung bayi, diambillah metode, setiap siswa diharuskan menggendong beras seberat 2 kilogram selama sehari penuh di sekolah.
Metode ini pernah dilakukan juga dahulu saat mengangkat tema tentang peran Ibu. Baca juga : 72 Siswa Hamil ?
Aktivitas siswa dalam sehari seperti biasa. Saat bermain, belajar di kelas, sholat, tiduran, semua dilakukan dengan posisi menggendong beras.
Tanpa banyak menjelaskan, guru akan mendapati kesan yang langsung keluar dari lisan anak-anak terkait dengan apa yang sedang mereka jalani. Ada yang tetap ceria, berulang kali repot membenarkan posisi gendongan, diam saja hingga yang menangis karena merasa terlalu berat.
Itu semua menjadi bahan guru untuk mengikat makna yang lebih dalam kepada siswa setelah proses pembelajaran. di benak mereka sudah tergambar beratnya Ibu mengandung. Dengan pemaknaan yang tepat idealnya akan mengubah sikap siswa dengan ibunya.

 

Parent Teaching Buka Tema Pekerjaan

Waktuny sudah memasuki tema baru lagi. Kelas tiga membukanya dengan rangkaian kegiatan wawancara di pasar dan parent teaching. Kebetulan lokasi pasar dekat dengan sekolah. Sehingga siswa bisa dekat untuk berkunjung. Tidak semata wawancara tapi siswa juga akan berbelanja di pasar. Mereka diberi cacatan belanjaan orang tua berikut uangnya seharga Rp. 10.000.
Sebelum masuk pasar anak-anak dibrifing dahulu. Diberi pengarahan adab masuk pasar. Mengingatkan bahwa pasar termasuk tempat favorit tempat tinggal setan untuk beranak pinak. Sehingga semewah apaun bentuknya, kita disunnahkn untuk membaca ta’awudz untuk menjaga diri dari gangguan setan. Bahkan pasar secanggih Hypermart pun. Kemudian adab dalam berbicara sewaktu wawancara. Karena mayoritas penjual pasar adalah ibu-ibu yang sudah tua bisa jadi tidak lancar bahasa Indonesia. Unggah-ungguh jawa harus dilakukan.
  Yang harus diketahui anak-anak dari wawancara adalah, berapa lama berjualan, berapa rata-rata penghasilannya serta suka duka berjualan. Wawancara dibagi tugs secara bergantian sehingga semua saling merasakan interksi dengan orang lain dalam berkomunikasi. Sambil mereka lengkapi daftar belanjaan dari orang tua. Rata-rata belanja sayur dan bumbu. Meski sisa uang digunakan untuk membeli snack.

 Selesai di pasar, kegiatan berlanjut pindah ke rumah salah seorang siswa kelas 3. Rumahnya Sheira 3B. Di rumah Sheira siswa-siswa akan mendapat informasi tentang pekerjaan yang dilakukan ayahnya. Ayahnya Sheira kebetulan berkebangsaan Swiss, Pak Serge namanya. Karena sulit nyebutnya maka bisa dipanggil pak Sarjo. Pak Sarjo seorang Carpenter atau tukang kayu di Swiss. Setiap 6 bulan sekali beliau pulang ke Swiss untuk menjalani pekerjaannya. Enam bulan berikutnya pulang berkumpul dengan keluarganya.

Pertama kali pak Sarjo menjelaskan beberapa tempat di Swiss. Seperti Air mancur di pusat kota Genewa yang dinamai Jet d’eau de Geneve. Air mancur ini bisa mempunyai ketinggian sampai 100 – 150 meter. Wuih tinggi banget ya. Lalu ada gedung PBB di kota Genewa juga. Pusat kantor PBB di dunia itu ada 2, selain di Genewa juga ada di New York Amerika Serikat. Selain itu juga diterangkan pabrik coklat dan pusat perkebunan anggur di Swiss. Swiss terkenal akan 3 hal : Coklat, Uang dan Jam. Uang karena di Swiss terkenal dengan banyaknya Bank yang dipergunakan para konglomerat di dunia.

 Pak Sarjo kerja berdasarkan proyek. Hampir selalu perusahaanya pak Sarjo mendapatkan pesanan perusahaan besar dunia. Seperti Louise Vuitton, yaitu perusahaan fashion besar dunia. Tugas yang diberikan adalah diminta untuk membuat hiasan toko yang terletak di 9 negara selama waktu 2 bulan. Pak Sarjo harus berlembur-lembur, sehari bisa bekerja 12 jam supaya sesuai target. Dan tidak asal jadi, hasil kerjanya juga dipantau kualitasnya. Presisi kerapian garapannya hingga ukuran milimeter. Itu yang membuat perusahaan pak Sarjo selalu dipercaya.

Memang tukang kayu seperti pak Sarjo kelasnya sudah Internasional, global. Sudah wajar jika kualitas menjadi taruhan kepercayaan. Dan tidak tanggung-tanggun nilai proyeknya sampai bernilai milyaran. Jika anak-anak ingin bekerja dengan taraf internasional, modal awal yang harus dikuasai adalah bahasa Inggris. Karena itu sebagai alat komunikasi internasional. Mental kerja profesional juga harus menjadi kepribadian. Bekerja keras dengan deadline waktu yang tepat. Sekali saja telat maka tidak lagi menjadi kepercayaan. Pak Sarjo mengagumi karakter orang Jogja yang ramah tapi dalam hal kerja masih jauh diperbaiki. Karena masih kurang disiplin. 

Buka Tema : Menyimak Cerita Perjuangan dari Veteran

Bulan Oktober adalah bulan yang mempunyai nilai sejarah bagi bangsa kita, bangsa Indonesia. Tanggal 28 Oktober adalah waktu diperingatinya hari Sumpah Pemuda. Peristiwa tonggak awal kemerdekaan negara Republik Indonesia. Bersamaan dengan momen tersebut, tema pembelajaran siswa kelas 3 juga pas dengan peristiwa Sumpah Pemuda. Untuk membuka tema pembelajaran, siswa kelas 3 mengadakan kegiatan nonton film Sumpah Pemuda dan menyimak cerita perjuangan dari nara sumber.
Para siswa melihat film sejarah singkat terjadinya peristiwa Sumpah Pemuda. Diawali dari masuknya para penjajah Belanda yang sangat lama melakukan penguasaan terhadap wilayah di Indonesia. Penjajah melakukan pemecahan wilayah dan kekuasaan sehingga kekuatan untuk membebaskan diri dari penjajah tidak berarti. Baru setelah Belanda memberlakukan politik Etis dengan membangun beberapa lembaga pendidikan bagi anak-anak Indonesia serta memberi kesempatan pendidikan ke negeri Belanda, hasilnya, mereka tercerahkan dan menyadari untuk melakukan gerakan membebaskan diri dari penjajahan. Hasil didikan Belanda menghasilkan pemuda yang justru membentuk perkumpulan seperti Jong Java, Jong Celebes, Jong Sumatra, Jong Bataks dan lain-lain. Mereka berkumpul mengadakan Konggres Pemuda hingga 2 kali kesempatan yang akhirnya melahirkan Sumpah Pemuda, sebuah tekad persatuan untuk bergerak bersama membebaskan diri dari penjajahan.
Selesai menonton film, anak-anak kehadiran tamu dari Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) yaitu lembaga yang mewadahi mantan prajurit angkatan bersenjata republik Indonesia yang telah berjasa dalam perjuangan kemerdekaan maupun mempertahankan kemerdekaan RI. Beliau adalah Kapten (Purn) Suwarno. Pak Suwarno bercerita tentang sejarah kemerdekaan Republik Indonesia, mulai dari awal mula dijajah hingga mampu memproklamirkan diri sebagai negara merdeka.
Pak Suwarno sewaktu masih aktif sebagai tentara pernah menjalani penugasan ke luar Jawa. Diantaranya ke pulau kalimantan. Program yang dilaksanakan saat itu adalah ABRI masuk desa, untuk mengadakan pembangunan di wilayah-wilayah terpencil. Menyimak terlalu lama memang untuk anak terasa membosankan, sehingga acara dilanjut dengan tanya jawab.
 Begitu dibuka sesi tanya jawab, siswa-siswa langsung segera mengacungkan jari. Namun pertanyaan yang mereka sampaikan unik-unik dan tidak ada hubungannya dengan yang dibicarakan pak Suwarno tadi. Seperti, dahulu bapak pernah kena peluru belum, warna seragam bapak dulu apa, dulu TKnya dimana, polos dan lucu-lucu.
Unik lagi, di akhir acara setelah ditutup, tanpa diperintah, tanpa ada penugasan, anak-anak meminta tanda tangan pak Suwarno. Bahkan saking banyaknya yang mau minta tanda tangan mereka harus antri memanjang. Rasa nasionalisme memang harus tertanam sejak dini di era global tanpa batas antar negara ini.