Khotmil Qur’an dan Imtihan Metode Qiroaty Ke-7

Menjadi prosesi tahunan sebagai momen meresmikan ketuntasan para siswa yang sudah menempuh pembelajaran baca Qur’an dengan metode Qiroaty, Khotmil Qur’an dan Imtihan tahun ini sudah dilaksanakan pada hari Sabtu, 22 April 2017 kemarin. Alhamdulillah 35 wisudawan berhasil lulus dalam ujian akhir yang dilaksanakan sebelumnya. Acara Khotmil ini merupakan semacam walimah untuk merayakan keberhasilan sekaligus bentuk verifikasi akhir bahwa para wisudawan memang layak lulus.
Para wisudawan terdiri dari siswa kelas 4, 5 dan 6. Target ideal lulus sebenarnya adalah pada saat kelas 4 sehingga para siswa secara mandiri mampu untuk menambah sendiri hafalan dengan bacaaan yang tepat. 
Rangkaian acara dimulai dengan acara khataman membaca juz 30 dan surah pilihan kemudian dilanjutkan bacaan ghorib. Yaitu bacaan yang mempunyai kekhususan cara baca di beberapa tempat di al Qur’an. Kemudian semua wisudawan menjalani proses imtihan yaitu mereka menerima pertanyaan sebagai ujian dengan topik hukum bacaan yang diberikan oleh para hadirin. 
Menjadi kesyukuran guru dan orang tua wali serta siapapun jika menyaksikan para anak didik mampu berhasil lulus menjalani pembelajaran Qur’an. Harapan supaya mampu membaca Qur’an dengan baik dan benar menjadi hal yang layak menjadi kebanggaan disertai kesyukuran. Harapan selanjutnya semoga dari segi kuantitas para wisudawan semakin tahun semakin meningkat jumlahnya. Amin.
Tim Guru BTAQ metode Qiroaty

Workshop Bersama President of National Green School Network America

Menjadi sebuah kesempatan yang sangat menarik bisa berkesempatan untuk mengadakan workshop dengan narasumber dari luar negeri. Dari Florida Amerika. Bahkan seorang Presiden dari National School Green Network America. Presiden dari Jaringan Green School di Amerika. Dialah Allen Stenstrup. Al, panggilan Allen memberikan workshop tentang School Garden Project di SDIT Alam Nurul Islam, Rabu 9 November 2016.
 Workshop diikuti oleh guru-guru dari level PAUD hingga guru kelas 3 SD. Karena memang workshop ini ditujukan untuk guru-guru kelas awal. Par guru berasal dari 10 sekolah alam di wilayah DIY-Jateng dalam koordinasi Jaringan Sekolah Alam Nusantara (JSAN) Regional DIY-Jateng. Sesuai dengan tema workshop bahwa fokus utama dari pembelajaran yang diberikan guru kepada para siswa adalah tentang konservasi pohon, hutan. Karena pohon dan hutan adalah masa depan kita di bumi ini. Sehingga manakala para siswa kita memiliki kepedulian akan pohon dan hutan, kita sedang menyiapkan masa depan bumi ini dengan baik. Begitu awalan yang disampaikan oleh Al dalam workshop ini. Al sebelumnya merupakan guru yang sudah berpengalaman mengajar selam 40 tahun. Sebelumnya pernah menjadi Managing Director Program di lembaga Project Learning Tree yang konsern pada konservasi hutan. Kini ia mempunyai lembaga ‘Our First Garden’ yang berfokus untuk menyebarkan pentingnya setiap sekolah di seluruh dunia memiliki program berkebun untuk menanamkan kepedulian terhadap lingkungan.
    Di workshop ini peserta dilatih untuk memberikan pembelajaran kepada siswa dengan aktivitas di luar ruangan. Alasannya, dengan memberi kesempatan siswa untuk kontak dengan alam langsung memungkinkan siswa melakukan observasi langsung secara kongkrit. Menemukan kondisi setiap benda dalam bentuk sejatinya. Anak diasah untuk menemukan, berdiskusi atas temuannya karena kemungkinan persepsi yang berbeda. Seperti saat para peserta diminta membuat kalung dari berbagi bentuk bangun datar. Dengan kalung tersebut peserta diminta mencari benda di luar ruang yang bentuknya persis dengan bentuknya. Atau dengan benda-benda di luar ruangan siswa diajak berimajinasi membuat bentuk hewan.
    Bisa jadi dalm mengenalkan sebuah konsep kepada siswa tidak harus dijelaskan secara lisan. Tapi siswa dilibatkan dengan simulasi langsung yang akan membuat sebuah konsep menjadi riil, kongkrit dan mudah dipahami. Seperti saat Al mengenalkan cara mengajarkan tentang fungsi organ dalam pohon. Semua peserta dibagi menjadi beberapa kelompok yang memerankan sebagai akar, batang, daun, xilem, floem dengan gerakan khas masing-masing. Siswa tentu akan merasakan langsung dan konsep akan melekat kuat.
   Dengan media pohon, para peserta juga diajarkan bagaimana menghitung diameter pohon dengan mengukur pnjang lingkar batang pohon. Dengan memberikan tanda di setiap pohon, setiap tahun hasil hitungan diameter siswa tersebut menjadi data bagi sekolah dalam memantau keberdaan pohon di setiap sekolah. Ditambah lagi misal observasi terhadap kondisi daun yang difoto dan didokumentasikan tentu data setiap pohon akan menjadi lengkap. Di satu sesi, Al juga memaparkan tentang pentingnya membuat sekolah itu menjadi green school. Al memberikan sebuah poster yang mendeskripsikan bahwa sebuah sekolah itu merupakan green school.  
Para peserta diminta mengidentifikasi sekolahnya masing-masing, jika dibuat level dari 1 – 10 dimana letak masing-masing sekolah untuk menjadi green school. Tidak masalah kondisi sekolh sekarang, tetapi setiap tahun setiap sekolah harus berubah menuju kondisi ideal green school. Karena green school memberi kesempatan luas kepada siswa untuk belajar secara aktif, atraktif, riil dan kongkrit sekaligus menanamkan sikap peduli kepada kelestarian alam ini.    
Di akhir sesi, para peserta dikenalkan dengan cara menyemai biji tanaman Pollinator atau pemancing hewn penyerbuk di dalam pot. Dalam satu kemasan terdapat 3 sampai 5 jenis biji tanaman bunga penarik serangga. Keberdaan tanaman pollinator sangtlah penting untuk kelangsungan tanaman supaya secara alami diserbuk dengan bantuan hewan seperti serangga. Al juga menawarkan komitmen bantuna dana bagi sekolah peserta yang diperuntukkan untuk membangun kebun sekolah yang digunakan sebagai media pembelajaran bagi siswa.           

update :
Rilis di Kedulatan Rakyat

SDIT Alam di Konferensi International School Grounds Alliance Ke-5 di Swedia


Bertepatan dengan perayaan Idul Adha, tanggal 12 -13 September 2016, konferensi International School Grounds Alliance atau ISGA yang ke-5 digelar di kota Lund Swedia. Konferensi tersebut dihadiri oleh delegasi lebih dari 200 peserta yang berasal dari hampir 20 negara dan 5 benua. Pada konferensi kali ini yang diangkat berkaitan dengan tema Green Grounds for Helath and Learning, Halaman Sekolah Hijau untuk Kesehatan dan Pembelajaran. Sesuai dengan nama organisasinya, ISGA berkonsentrasi pada bagaimana membuat setiap sekolah untuk mengadakan pembelajarannya di luar kelas dengan memanfaatkan halamannya. Pada kesempatan kali ini, SDIT Alam Nurul Islam kembali diundang untuk hadir di konferensi. yang berbeda, pada konferensi kali ini mendapat kehormatan sebagai Keynote Speaker untuk memberikan kuliah terkait dengan Risk taking in the learning process gives students a better chance to succeed, bagaimana melibatkan faktor resiko dalam proses pembelajaran itu penting untuk memberikan kesempatan lebih baik setiap siswa untuk berhasil dalam belajarnya.
Lokasi konferensi bertempat di Lunds Stadshall atau Cityhall-nya kota Lund. Letaknya berada tepat di tengah-tengah kota Lund berdekatan dengan Domkyrkan atau Katedral terbesar di kota Lund. Pilihan tema dan tempat di Swedia memang mempunyai alasan kuat. Swedia sudah puluhan tahun masyarakat dan didukung oleh pemerintah melalui regulasinya terbukti mempunyai kultur untuk menjaga kelestarian lingkungan yang kuat. Hampir di setiap sudut kota orang-orang menggunakan sepeda sebagai moda transportasi disamping mobil dan bus umum. Untuk angkutan umumnya, Swedia sudah mengganti bahan bakarnya dengan gas yang dihasilkan dari proses daur ulang sampah dan limbah organiknya. Lund membangun kawasan hutan kota yang luas sudah cukup lama terlihat beberapa pohon berdiameter besar memenuhi hutan kota. Energi angin lebih digunakan untuk membangkitkan energi listrik dan menutup pembangkit tenaga nuklirnya. Pendek kata, teori tentang kelestarian lingkungan yang sering dipelajarai dan menjadi slogan itu benar-benar maujud bisa dinikmati di kota Lund secara khusus maupun kota lain di Swedia.

 Di selasar gedung para peserta disuguhi dengan informasi terkait dengan program, jaringan dan perkembangan school ground di beberapa negara. Baik yang sudah mapan jaringannya sehingga semua sekolah sudah mengubah konsep pembelajarannya dengan menggunakan halaman, maupun yang baru merintis seperti informasi school ground dari wilayah Chile Amerika selatan.

 Acara dibuka dengan penampilan konser kecil dari para pelajar seni di kota Lund. Ikut membuka acara konferensi adalah Elin Gustafsson yang merupakan anggota dewan di kota Lund. Dukungan untuk kegiatan ISGA sangat kuat dikarenakan sesuai dengan visi yang dijalankan oleh kota Lund.

Hari pertama dan kedua diisi oleh presentasi para pembicara keynote speaker. Hari pertama tampil Cam Collyer (Canada) yang mengangkat topik Nature and the child : changing landscape, disusul oleh Dr. Petter Åkerblom (Swedia) yang berbicara tentang The importance of children’s public space dan Helle Nebelong (Denmark) yang membahas tentang Children’s landspaces in cityscapes. Hari kedua tampil sebagai pembicara Muhammad Ariefuddin (Indonesia) berbicara tentang Risk taking in the learning process gives students a better chance to succeed, kemudian Dr. Peter Gärdenfors (Swedia) membahas topik The role of the body and the senses in learning and understanding dilanjutkan Fredrika Mårtensson (Swedia) berbicara tentang Green play props for learnin, terakhir adalah Susan Humphries (Inggris) yang menyanmpaikan refleksi tentang Reflections on wellbeing and sense of self. Ada sesuatu menarik sewaktu Dr. Peter Gärdenfors membahas materinya, selalu merujuk apa yang disampaikan oleh Muhammad Ariefuddin di tingkat praksisnya.

 
 
Pada hari kedua konferensi, setelah menyimak presentasi dari para keynote speaker, diadakan fieldtrip di beberapa sekolah di sekitar Lund. Diantaranya adalah Nyponbacken, yaitu taman kanak-kanak yang menerapkan pembelajaran pendekatan murni natural. Siswa dibiarkan berinteraksi langsung di alam yang sudah dilengkapi dengan kelengkapan seperti struktur bangunan seperti kapal, rumah, mobil dari kayu, cara memotong kayu dengan gergaji, memaku dengan palu, memasak, berinteraksi langsung di hutan. Total aktivitas di luar ruangan, bangunan yang ada ada satu rumah kecil sebagai tempat berlindung di kala cuaca tidak mendukung. Byskolan, meski modifikasi antara in dan outdoor, tetapi pembelajarannya menekankan nilai demokrasi pada anak. Mereka sudah mampu memenuhi makanannya sendiri yang dihasilkan dari kebun yang 100% organik dan lokal, dapurnya mendapat sertifikat eco-certifikat. Sankt Hansgården, merupakan kebun sebagai pusat aktivitas para remaja yang memadukan antara kebun dan taman imajinasi. Mampu menghasilkan produk makanan sendiri yang memungkinkan siapapun untuk memberikan respek terhadap upaya pelestarian lingkungan.Vinden, taman kanak-kanak yang dilengkapi dengan arena bermain anak yang menantang baik bisa digunakan untuk anak maupun orang dewasa. Österskolan, sekolah yang terus mengembangkan diri dengan memanfaatkan halaman untuk menarik pembelajaran siswa. Norpan, meski mempunyai lahan sempit namun bisa menyajikan kejutan-kejutan yang bisa membuat anak bermain dengan riangnya. Hijau di waktu musim panas ataupun perbukitan untuk meluncur di saat musim dingin. Tåget, taman kanak-kanak yang menyajikan lahan untuk tantangan bagi setiap anak.
 
 
 
Hari ketiga diisi dengan agenda fieldtrip penuh seharian. Peserta dibagi menjadi 4 kelompok. Kelompok pertama mengunjungi tempat bermain dan belajar di daerah Lund, kelompok kedua menggunakan kereta dan bersepeda keliling Copenhagen melihat landscape play for child, kelompok ketiga menggunakan bis keliling Copenhagen melihat child landscape for play dan kelompok keempat dengan bis keliling kota Malmo melihat sekolah dan playground yang didesain sebagai tempat publik yang ramah anak. 
Di hari kedua konferensi juga diisi dengan kegiatan breakout session, yaitu sesi workshop yang bisa dipilih oleh para peserta sesuai dengan minat yang dipilihnya. Metode mengaktifkan siswa di luar kelas, mengaktifkan gerak siswa, kiat menjadi kepala sekolah yang berdaya dalam mewujudkan sekolah hijau, desain kebun yang ramah dengan serangga, seni dan imajinasi, pembelajaran sejarah yang kongkrit dan menarik adalah beberapa materi breakout session. Lokasi yang digunakan ada yang di indoor maupun outdoor menggunakan taman-taman di sekitar Lunds Stadshall.
 Di penghujung konferensi disampaikan kegiatan konferensi yang ke-6 tahun 2017 yang akan bertempat di berlin Jerman. Untuk konferensi tahun depan akan mengangkat tema terkait dengan Schoolyard Diversity.

Update :

Sesi Praktek Training Joyful Learning in Mathematic QITEP SEAMEO 2016

Sebanyak 31 guru-guru sekolah dasar dari 8 negara anggota SEAMEO melakukan praktek mengajar pembelajaran Matematika metode Joyful Learning in Mathematic. Jum’at, 2 September 2016 seluruh peserta hadir di SDIT Alam Nurul Islam, mereka akan masuk ke kelas 5 dan kelas 6. Para peserta berasal dari Brunei Darussalam sebanyak 2 orang, dari Laos, Vietnam, Timor Leste, Malaysia, Thailand masing-masing 1 peserta. Sisanya berasal dari Indonesia. Sesuai dengan pelatihannya, mereka akan mempraktekkan pembelajaran yang menarik siswa dalam memahami Matematika.
 Seluruh peserta dibagi menjadi 6 kelompok yang akan mengampu 6 kelas. Masing-masing kelompok melaksanakan skenario pembelajaran Matematika sesuai kelasnya. Karena menggunakan Joyful Learning tentu siswa tidak pasif mengikuti pembelajaran. Tapi mereka dikondisikan aktif untuk memahami konsep Matematika dengan melakukan. Di awal pembelajaran mereka diberi permainan menarik dahulu supaya gembira mengikuti pembelajaran Matematika. Materi kelas 5 adalah KPK sedangkan untuk kelas 6 adalah Debit dan Volume.
 Karena sudah biasa dengan kegiatan outdoor, sehingga dengan model pembelajaran yang dilakukan oleh para peserta pelatihan para siswa sangat enjoy sekali. Mereka sudah sigap dengan instruksi yang diberikan.
 Menjadi sebuah tantangan bagi guru Matematika untuk menghadirkan pembelajaran yang joyful, karena memang usia sekolah dasar level pengetahuannya masih kongkrit sehingga selain harus gembira mereka harus mempelajarai sesuatu yang nyata.
Karena jika pembelajaran hanya mengandalkan di kelas saja, untuk siswa yang mempunyai modalitas belajar baik akan bisa cepat mengikuti dan memahami materi. Namun bagi siswa yang punya kecenderungan motorik yang tinggi tentu butuh cara belajar dengan melakukan.


Peringatan Kemerdekaan RI Ke-71

Untuk menyambut hari ulang tahun Republik Indonesia yang ke-71, semua kelas di SDIT Alam Nurul Islam mengangkat tema pembelajaran bersama yaitu kemerdekaan. Hari Selasa, 16 Agustus 2016 dipilih sebagai hari peringatan bersama kemerdekaan Republik Indonesia. Setiap kelas dipersilahkan membuat aktivitas sendiri-sendiri sesuai dengan semangat dan kesukaannya. Bagian yang tak ketinggalan adalah kegiatan menghias kelas dengan berbagai asesoris bernuansa merah putih untuk mensuasanakan peringatan kemerdekaan RI.

 Selain dekorasi ruangan, dilengkapi pula dengan kostum bermotif merah putih. Seperti kelas satu ini, mereka tidak mau ketinggalan untuk bersama merayakan ulang tahun kemerdekaan kali ini yang diekspresikan melalui kostum pakaian yang dilengkapi asesoris merah putih. Kelengkapan senjata dari bambu turut disandang untuk mencirikan bahwa mereka meniru para pejuang kemerdekaan.

Tidak cukup di sekolah para siswa berkostum pejuang, karena mereka akan jalan berparade mengelilingi lingkungan sekitar sekolah untuk menyampaikan pesan gembira merayakan kemerdekaan Indonesia tercinta yang ke-71.

Tak kalah seru dengan parade, lomba-lomba khas peringatan kemerdekaan turut melengkapi kegiatan anak-anak. Seperti ambil koin dari buah melon ini menjadi lomba yang seru. Dengan pantang menyerah mereka mengeluarkan koin-koin di tubuh melon seperti pantang menyerahnya para pejuang mengeluarkan para penjajah dari bumi Indonesia ini.

Lomba tarik tambang juga menjadi aktivitas menarik untuk digunakan sebagai wahana ikut merasakan usaha kerasnya para pejuang dalam mengusir penjajah dari bumi pertiwi. Sehingga bukan semata gembira berseru-seruan namun yang lebih penting adalah pesan untuk mensyukuri nikmat kemerdekaan yang tentu tidak bisa kita rasakan saat ini betapa beratnya perjuangan dalam merebutnya.

Rangkaian kegiatan peringatan kemerdekaan RI ke-71 ditutup dengan kegiatan upacara pengibaran bendera Merah-Putih tanggal 17 Agustus 2016. Seluruh siswa dan guru hadir untuk melaksanakan kegiatan upacara bendera yang dipimpin langsung oleh kepala sekolah, ustadzah Sunarsih.

Dalam amanatnya pembina upacara menyampaikan pentingnya kita untuk mensyukuri atas kemerdekaan yang sudah diberikan Allah pada negeri kita. Karena masih banyak negeri, terutama negeri Islam yang masih dalam kungkungan penjajahan. Tentu sangat beda suasana negeri merdeka dan negeri terjajah. Dalam kondisi merdeka kita bisa melakukan aktivitas apapun dengan aman. Sedangkan dalam kondisi terjajah perasaan was-was dan takut akan selalu menyertai dimanapun aktivitas kita. Semoga dengan usia yang ke-71 ini negeri kita segera dibebaskan dari permasalahan dan Allah berkenan menurunkan kemakmuran dan keberkahan bagi rakyatnya.

Grand Launching Marketday

Marketday adalah salah satu program yang termasuk daftar favorit di siswa SDIT Alam. Pasalnya, aturan tidak diperbolehkannya jajan membuat rasa rindu yang mendalam di hati anak-anak 🙂 Bayangkan, jajan dan anak-anak itu seperti 2 mata uang logam yang tidak pernah dipisahkan. Larangan untuk jajan bukan semata mutlak tidak boleh. Tapi, hasrat jajan masih diberi ruang anak-anak untuk melepas dahaganya. Di marketday-lah rasa kangen jajan itu bisa dipenuhi.
Loh, katanya marketday. Kok malah ada monster gurita dan Wiro Sableng sih. Jangan kaget dulu, ini adalah bagian dari acara pembukaan launching atau pembukaan marketday di tahun ajaran 2016-2017 ini. Sengaja untuk menghibur dan menarik perhatian, pengunjung disuguhi dahulu drama pendek Monster Gurita vs Wiro Sableng. Marketday dibuka pada hari Jum’at, 5 Agustus 2016, dan setiap Jum’at mulai jam 14.00 semua siswa bisa berjajan ria di marketday.
Berbagai dagangan digelar. Memang sih yang paling laku adalah dagangan berupa makanan atau minuman. Es dengan berbagai bentuk menjadi barang yang sangat laku. Para pengunjung diperingatkan supaya menikmati jajannya dengan duduk serta menjaga kebersihan dari sampah bungkus makanan.
Sebagai awalan, yang menjadi penjual adalah ustadz/ah. Sehingga para siswa bisa modelling, mencontoh barang apa yang harus mereka jual nantinya. Ternyata tidak hanya makanan yang laku keras. Ikan hias Cupang juga tidak ketinggalan minat para siswa untuk membelinya. Pilih-pilih warna ikan mana yang paling disuka.
Tidak hanya ikan hias, ada juga stand yang memberikan layanan pijat elektrik. Dengan menggunakan alat pijat elektrik dengan bersumber listrik, cukup dengan Rp. 1000, anak-anak bisa merasakan sensasi pijat elektrik. Ustadz ingin memberikan gambaran bahwa untuk menjadi penjual marketday tidak harus jualan barang. Bisa juga menjual jasa seperti jasa pijat elektrik ini. Harapannya, marketday ini akan menjadi media inspirasi setiap siswa untuk menumbuhkan sense wirausahanya. Memahami apa yang layak dijual dan menjadi minat pembeli hingga kiat bagaimana mendapatkan keuntungan. Bukan sebaliknya, hanya menjadi konsumen semata. 

Teacher Morning Motivation

Guru dan pendidikan adalah pasangan klop dalam membangun suatu bangsa. Kemajuan suatu negara sangat bergantung pada kualitas dan karakter manusia di sebuah negara tersebut. Dan hal tersebut sangat bergantung pada bagaimana bentuk pendidikannya. dan pendidikan sendiri aktor pelaku utamanya adalah guru. Pentingnya peran guru ini sangat tentu harus ditopang dengan penyiapan dan pemeliharaan kualitas guru. Karena guru akan menjalankan peran perubahan anak manusia yang menjadi peserta didik yang akan tidak semata menguasai kemampuan akademik namun lebih penting lagi adalah peserta didik mampu mempunyai kepribadian dari nilai-nilai yang ditransformasikan oleh guru. Sehingga menjadi sosok guru yang selalu berenergi setiap saat mengimbaskan semangat dan motivasi untuk menjadi lebih baik tidak bisa ditawar lagi.
 Dalam proses aktivitasnya, guru memang sudah terpandu dengan segenap perencanaan kurikulum yang sudah dstandarisasi dan dibakukan. Tapi untuk menggerakkan perubahan lebih nyata dan mantap, guru harus selalu disuntikkan motivasi yang akan menyegarkan cita-cita besar membangun peradaban. Tanpa hal ini niscaya aktivitas guru akan hanya menjadi rutinitas mekanis tanpa ruh besar yang mengerakkan dan mengubah menjadi lebih baik.
Sangat tentu pula forum motivasi guru ini bukanlah forum pengajian. Bukanlah forum yang harus ada sebagai bentuk formalitas lembaga. Sehingga pilihan materi harus rutin, singkat tak bertele, tepat mengena,  memberikan energi yang akan bereaksi menjadi semangat sehingga sesederhana apapun dalam aktivitas yang dilakukan guru ditangkap peserta didik penuh ruh dan mengimbaskan semangat untuk menjadi lebih baik.