Repacking Baca Tulis

          
        Menjelang tidur, suatu malam, bang Fatih (kelas 3) membaca buku “Hamba yang bersyukur” halaman 32. Pada halaman tersebut ada foto dan scan tulisan tangan kakaknya, yang saat itu kelas 3. “ Wah, tulisan mas Azzam bagus, kayak tulisanku he.. he.. he..”, kata bang Fatih. Mas Azzam dan bang Fatih adik-kakak bersekolah di tempat yang sama, dimana saya mengajar.
          Itulah rutinitas menjelang tidur di keluarga kami. Izinkan saya bercerita kegiatan sekolah, mungkin kemudahan menjalani rutinitas di rumah kami memiliki hubungan dengan kegiatan sekolah anak-anak saya.
         Di sekolah kami, setiap hari ada Program Tunurisba (Tujuh menit Nurul Islam memBaca). Setiap siswa boleh membaca di perpustakaan sekolah, membaca majalah dinding, membaca koran langganan sekolah (SKH Republika dan SKH Kedaulatan Rakyat), dan pojok buku di setiap kelas. 
          Di perpustakaan, layanan di buka pukul 07.30-14.30 WIB. Ustadz Wakhid dan ustadzah Walimah siap membantu guru dan murid untuk jenis peminjaman, pengembalian buku dan sumber belajar lain. Alhamdulillah, buku-buku sudah ter-barcode, sehingga sirkulasi peminjaman dan pengembalian dapat berjalan lancar. Begitu pula bila ada anggota perpustakaan yang terlambat mengembalikan atau belum mengembalikan buku akan otomatis diketahui. Menjelang pengambilan rapor, dari pustakawan akan mengedarkan daftar keterlambatan pengembalian buku melalui grup whatsapp dan juga ditempel di sudut-sudut sekolah. Nama, kelas, judul buku yang dipinjam. Kami selaku guru kelas melanjutkan grup whatsapp guru ke grup whatsapp kelas agar menjadi perhatian orang tua. Sekaligus mengingatkan murid di kelas yang diampu.
          Majalah dinding merupakan tugas tiap kelas untuk kelas 4, 5, dan 6. Wakil kepala bidang Kesiswaan membuat jadwal terbit, lokasi dan tema majalah dinding. Termasuk menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan siswa. Pengurus kelas menindaklanjuti berbagi tugas dengan teman sekelas untuk menyumbangkan tulisan, gambar, dan informasi. Tentunya di bawah bimbingan guru kelas masing-masing. Di akhir tahun akan diumumkan juara majalah dinding dengan kriteria yang telah disosialisasikan sebelumnya. 
Pojok buku di setiap kelas akan mengurangi kepadatan di perpustakaan, sekaligus melibatkan peran serta murid dalam kegiatan membaca. Pojok buku meminta kesediaan setiap siswa membawa buku dari rumah yang diletakkan di kelas selama satu bulan. Di kelas sudah disiapkan kotak kardus/ kotak plastik/ lemari kecil untuk tempat buku-buku tersebut. Tiap awal bulan buku akan diganti dengan buku yang lain. Selama sebulan itu, anak dapat membaca di kelas atau main ke kelas pararel yang lain untuk membaca koleksi kelasnya. Judul buku yang mendominasi pojok buku ialah komik sains, komik sejarah, dan cerita pendek kecil-kecil punya karya (KKPK). 
Pada saat pembukaan kelas atau penutupan kelas, beberapa anak secara bergantian dapat menceritakan informasi yang diperolehnya dari membaca. Hal ini dapat melatih anak agar berani menyampaikan pendapat, melatih berbicara dengan teman sekelas, bersedia berbagi informasi dengan teman, dan juga melatih mendengarkan bagi anak-anak yang lain.
        Setiap pekan ada pengembangan diri berupa membaca dan menulis. Alokasi waktunya setelah dzhuhur di hari yang berbeda. Terkadang bila cuaca mendukung, kegiatan membaca dan menulis ini bisa dilakukan di luar kelas. Kami sepakati dengan anak-anak terkait tempat, waktu, dan tema. Lalu kami bersama-sama berpindah tempat ke pinggiran sawah, pinggir sungai, sepanjang saluran air, samping kuburan, sekitar pemukiman penduduk, dekat pasar, dan tempat lainnya di sekitar sekolah. Setiap anak sudah membawa alat tulis atau buku bacaan. Sampai di lokasi, masing-masing tenggelam dengan ide dan pikirannya. Untuk menulis, disepakati minimal satu atau setengah halaman. Untuk membaca, anak-anak diminta menuliskan hal-hal penting ke dalam lembar kontrol bacaan. Kemudian guru kelas akan memeriksa dan memberikan umpan balik untuk perbaikan kegiatan membaca dan menulis berikutnya.
Tahun lalu saya mengajar di kelas 4, kami sepakati dengan guru kelas dan siswa untuk membuat proyek buku komik. Cukup setiap anak membuat satu halaman berupa gambar dan sedikit teks. Lalu dikumpulkan, discan, dan diedit. Saya ke tempat fotokopian untuk digandakan dan disteples dengan cover bukunya. Sebelumnya saya minta bantuan teman untuk membuatkan cover buku yang fullcolour. Jadilah buku “Komik SIP, asli buatan anak sekolah alam Jogja”.
         Di akhir semester genap ada Lomba Pustaka. Panitia inti ialah pustakawan sekolah yang melibatkan guru-guru sebagai juri. Jenis perlombaan dari tahun ke tahun tidak monoton. Berkisar antara lain lomba membuat puisi, membaca puisi, membuat pantun, meresensi buku, membuat cerita pendek, menggambar, mewarnai, dan lain sebagainya. Dari karya yang terkumpul dibuat buku, antaralain “Geng penyelamat bumi, Ibuku tukang sulap, dan Sahabat”. Ikon lomba pustaka ialah Raja dan Ratu Buku. Diambil dari lomba resensi buku perpustakaan, diseleksi bertahap. Hingga tahap presentasi buku. Juaranya bergelar Raja dan Ratu Buku. Di samping itu juga ada peminjam buku terbanyak dari siswa dan guru, tentunya disiapkan hadiah menarik dari pustakawan.
Dan setiap akhir semester setiap anak menerima Rapor Kepribadian, yang salah satunya melaporkan kegiatan membaca murid. Sebagai contoh, murid kelas 3 membaca minimal 15 buku per semester. Guru kelas memberi keterangan: konsisten (KS), kadang (KD), dan belum tampak (BT).
         Buku yang dibaca Fatih adalah dokumentasi kelas 3. Saat itu saya mengajar kelas 3, bersama guru kelas 3 yang lain, kami memberi tugas kepada murid untuk membuat tulisan pengalaman pribadi. Lalu tulisan dikumpulkan, discan dan diedit dengan tambahan foto masing-masing anak pada halaman tulisan mereka. Dokumentasi kelas tersebut disusun menjadi buku “Hamba yang bersyukur”. Menyusul buku berikutnya dari Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaaan yang berusaha mengumpulkan komentar, pendapat, pengalaman siswa kelas 3-6 selama mengikuti dua kegiatan sekolah (Mukhoyam dan GPS). Terbitlah buku “1001 cerita Mukhoyam”-kegiatan perkemahan Pramuka- dan “Cerita pendek Gelar Potensi Siswa (GPS)”-persembahan seni dari tiap kelas berupa pagelaran seni tari, drama musikal, tarik suara, pertunjukkan memainkan alat musik (drum, biola, gitar, piano, seruling), pertunjukkan beladiri, olah bola sepak, dan lain lain-.
         Darimana biaya mencetak buku? Pembiayaan berasal dari sukarela orang tua/ pihak lain, sponsor, tabungan anak-anak, dan anggaran sekolah. Bila pembiayaan mencetak buku dari bantuan sukarela, maka kita cukup memberikan ucapan terima kasih dalam pengantar buku atas dukungan bapak/ ibu sehingga buku sederhana ini dapat terbit. Berbeda bila pembiayaa dari sponsor. Maka biasanya ada imbal balik berupa logo usaha dicantumkan di buku, bisa dicover depan, belakang, atau dalam. Sesuaikan dengan perjanjian. Bisa juga pembiayaan dengan melibatkan sepenuhnya kemandirian anak-anak. Inilah proyek berdikari. Guru dan murid berusaha mengumpulkan uang jajan untuk mewujudkan buku. Walau membutuhkan waktu yang cukup sehingga perlu pengaturan kapan mulai menabung dan akhir tahun terkumpul uang untuk mencetak buku. Rasanya inilah yang paling heroik dan mendebarkan. Opsi terakhir ini tidak terlalu menjanjikan, mengingat pemasukan sekolah yang terbatas, sementara pengeluaran sekolah semakin waktu semakin bertambah. Namun paling tidak dapat dialokasikan selama setahun untuk mencetak satu judul dengan jumlah yang terbatas, sebagai dokumentasi perkembangan membaca dan menulis murid tahun itu. Semacam lomba membuat cerita pendek yang di bagi kelas atas dan bawah. Bila pesertanya melimpah bisa dilanjutkan dengan seleksi juara. Namun bila tidak terlalu banyak, cukuplah karya anak-anak dibukukan menjadi buku. Sebagai hadiahnya ialah buku yang dicetak itu.
Oh ya, tahun ini ada program baru dari Kepala Sekolah. Yaitu Pembinaan Olimpiade Bahasa Indonesia, Matematika, dan IPA. Setiap kelas diminta menyetorkan dua anak untuk mengisi masing-masing pembinaan olimpiade tersebut. Dari kelas 4, 5, dan 6 terkumpullah 18 murid untuk setiap pembinaan olimpiade. Diampu satu orang guru pembinaan ini berjalan setiap pekan, sepulang sekolah. Bila ada perlombaan yang memungkinkan sekolah berpartisipasi, maka sekolah akan mengirimkan jagonya.
Iklan

Buka Tema Kelas 3 : Big Puzzle Game

Membuka tema pembelajaran baru di bulan Oktober ini, kelas tiga akan menikmati pembelajaran yang spesial. Karena tema yang dipilih pas dengan waktunya. Yaitu tema Sumpah Pemuda. Untuk mengawali pembelajaran tema Sumpah Pemuda diadakanlah kegiatan buka tema dahulu. Karena kegiatan buka tema sangat penting karena selain berfungsi untuk mengantarkan, buka tema juga sebagai media untuk mendorong rasa ingin tahu, curious booster. Harus kita sadari bahwa energi belajar setiap manusia itu adalah rasa ingin tahu, curiousity. Manakala sudah terpicu, siapapun akan mengejar dahaga ingin tahunya itu kemanapun dan kapanpun. Senekat apapun. Tak hanya harta bahkan nyawapun dikorbankan hanya untuk memuaskan rasa ingin tahunya. Dan itulah alasan mengapa menuntut ilmu itu termasuk jihad. Orang yang dalam proses perjalanan menuntut ilmu apabila meninggal termasuk yang mendapatkan pahala jihad.  
 Sumpah Pemuda dan materi sejarah sosial lainnya termasuk yang cukup berat dipahami oleh siswa. Mereka harus menghafal kronologi kejadian, waktu, nama tokoh, nama tempat, kaitan kejadian, konflik dan intrik yang terjadi. Sehingga untuk sebagian siswa, pelajaran sejarah itu termasuk berat. Nah, supaya anak-anak mengenal sejarah penting yang dilewati bangsa ini. Sehingga mampu mengambil pelajaran untuk masa depan, maka memahami sejarah terutama bangsa dan negara ini tetaplah penting. Namun, pilihan metode yang tepat, yang mampu masuk di dunia anak-anak lah yang paling penting direncanakan. Tidak asal disampaikan dengan ceramah, anak harus menghafal karena merasa berat berakibat anak muncul rasa tidak suka pada pelajaran sejarah, lebih parahnya lagi benci pada sejarah bangsa kita.
Pilihan metode untuk buka tema Sumpah Pemuda ini adalah dengan kegiatan big game, permainan besar. Yang melibatkan seluruh siswa kelas 3 yang berjumlah 84 anak. Permainan yang dijalankan adalah, seluruh siswa dibagi menjadi kelompok-kelompok. Setiap kelompok beranggotakan 5 – 6 anak. Setiap anak diberikan petunjuk berupa narasi kemana mereka harus pergi ke suatu tempat. Di setiap tempat itu mereka diharuskan menemukan satu lembar kertas untuk satu anggota kelompok. Di kertas tersebut akan ada berbagai bentuk coretan. Tugas mereka adalah menggabungkan kertas berisi coretan tersebut menjadi satu sehingga mempunyai makna dan bisa dipahami isi pesannya.
 Setiap kelompok mempunyai petunjuk yang berbeda urutan tempatnya. Sehingga tidak memungkinkan sama rute. Meskipun berpapasan antar kelompok masih sangat mungkin. Setiap kelompok bertugas memastikan seluruh anggota kelompoknya mendapatkan satu lembar kertas berisi coretan. Dilarang untuk mendapatkan lebih dari satu.
Tugas selanjutnya, setelah semua anggota memegang satu lembar kertas. Mereka harus menyusun setiap lembar kertas. Setiap kelompok diperkenankan melakukan kerjasama dengan kelompok lainnya. Yang penting setiap lembar kertas tersusun bisa terlihat pesannya.
Setiap kelompok bergerak untuk mendapatkan lembar kertas yang sesuai dengan didapatkan. Beberapa kelompok langsung menggabungkan diri. Ada sebuah dinamika menarik yang terjadi selama proses penggabungan lembaran kertas. Ada 2 kelompok besar yang bekerja untuk melakukan penggabungan kertas. Dua kelompok tersebut mayoritas dari kelas 3B dan 3C. Kelas 3A terpecah berdiaspora bergabung dalam 2 poros besar tersebut. Ada beberapa upaya untuk melakukan penggabungan 2 kelompok besar tersebut, beberapa anak nampak melakukan lobi namun belum juga berhasil. Mereka masih saja asyik untuk menyusun lembaran kertas. Meski sebagian sudah berhasil tersusun, rupanya belum sempurna. Beberapa anak terus melakukan lobi.
Terlihat potensi pemimpin dan diplomat di beberapa anak yang mempunyai inisiatif muncul. Mereka mencoba menyelami alasan mengapa penggabungan 2 poros tersebut tidak sukses dilakukan. Sampailah pada titik mereka sudah terkunci masing-masing. Di salah satu kelompok terjadi perbincangan. Rupanya, mereka harus meminta ijin dahulu pada salah satu anak untuk melakukan proses kerjasama dua kelompok. Karena si anak tersebut posisinya baru di kelas. Sejurus kemudian, beberapa anak nampak berlarian dengan wajah ceria sambil meneriakkan “Gabung ! Gabung !” jadi begitu si tokoh kunci sudah merestui, proses penggabungan tersebut segera dilakukan. Bersatulah mereka untuk bersama menyusun puzzle besar.
Tahukah Anda siapa tokoh kunci itu? Di luar dugaan, si tokoh kunci itu rupanya selama ini diluar dugaan siswa dan guru. Anaknya pendiam, dia termasuk siswa 3A yang kelasnya berdiaspora tadi. Rupanya dibalik diamnya, si anak tersebut mempunyai pengaruh dan sebagai penentu pemersatu 2 kelompok besar. Itulah the real leader !
  The Man of The Game
Dengan model pembelajaran sambil mengalami ini, selain anak mendapatkan pengalaman karena melakukan, mereka akan saling mengetahui sifat diantara mereka. Terlihat selama proses pengerjaan penyatuan puzzle, tak sedikit anak-anak yang justru asyik dengan kegiatan lain. Bermain kejar-kejaran, pergi tidak di tempat. Guru sangat terbantu sekali mendapatkan informasi sifat dan perilaku siswa melalui observasi di model pembelajaran permainan ini. 

Mini Ensiklopedia Karya Zamora Pagaraga

Raga panggilannya. Nama lengkapnya Zamora Pagaraga. Ada yang menarik dari hasil karya yang dibuat oleh Raga. Sebagai siswa kelas 3C, karyanya tersebut tergolong high level untuk ukuran siswa kelas 3 yang masih dalam tahap pematangan kemampuan kemampuan membaca dan menulisnya. Di sela waktu bermainnya, ia sempatkan untuk bercerita tentang karya miliknya. Yaitu berupa Mini Ensiklopedi.

Ide pembuatan Mini Ensiklopedia ini murni dari dirinya setelah tertarik dengan bentuk buku ensiklopedia. Ensiklopedia menarik dikarenakan kombinasi antara gambar dan tulisan. Termasuk juga di Mini Ensiklopedianya.
Sudah ada 3 karya Mini Ensiklopedia yang dibuat oleh Raga. Seri Organ tubuh manusia, Sejarah Dunia dan Rumah Adat. Alasan mengapa ia membuat ensiklopedia Rumah Adat, supaya generasi selanjutnya dapat mengenali warisan budaya nenek moyang. “Jadi gak cuma kenal yang pake listrik-listrik saja”, katanya. Karena asal kedua orang tuanya dari tanah Padang, banyak informasi terkait dengan bumi Padang yang ia uraian. Seperti Kelok Sembilan, Rumah Gadang, Menara Gadang.
 Kombinasi antara gambar dan tulisan dengan narasi sepert bertutur ini menjadikan Mini Ensiklopedia yang dibuat Raga nuansanya mirip Komik. Ia mendapatkan informasi yang dicantumkan di Mini Ensiklopedianya itu digali dari melihat langsung, googling, wawancara dan baca majalah. Semua diramu dengan sudut pandang seorang Raga yang masih kelas 3 SD. Tentu kemasan ini akan sangat menarik bagi anak-anak seusianya. 
  Rupanya kegemarannya ini sudah ia mulai semenjak kelas 1. Kemampuan membaca dan menulis tentu tidaklah berhenti pada titik “sudah bisa membaca” dan “sudah bisa menulsi” saja. Tapi terus dilanjutkan hingga membuat karya yang mampu menjadi media untuk menyampaikan pesan. Proses membaca yang baik pastilah akan memicu proses menulis selanjutnya. Apa yang sudah diserap dari hasil bacaan akan bereaksi dengan berbagai informasi yang sudah diserap akan menghasilkan sebuah ide, konsep, inspirasi baru yang manakala sudah memuncak akan mendorong untuk dilahirkan dalam bentuk tulisan.  

Parenting Dewan Kelas 3B : Mendampingi Anak Sesuai Fitrah Perkembangan Bersama Heri Maulana, M. Si

Dewan Kelas menjadi forum penting para orang tua. Selain sebagai media komunikasi informasi perkembangan siswa antara guru dan orang tua, Dewan Kelas juga sebagai media untuk meningkatkan ilmu dan kemampuan dalam mendampingi perkembangan putra-putri para orang tua. Termasuk juga Dewan Kelas 3B periode Oktober 2017 ini. Menu parenting menjadi sajian para orang tua. Topik yang dipilih adalah tentang bagaimana mendampingi perkembangan putra-putri sesuai dengan fitrahnya. Nara sumbernya adalah Bapak Heri Maulana, seorang konselor anak dan keluarga dan juga dosen di BSI.
 Pak Heri mengalawi paparannya dengan menyinggung terkait dengan Genogram. Usaha awal untuk mendampingi putra-putri adalah dengan melakukan observasi dan pemetaan sifat dan karakter. Banyak metode yang digunakan untuk melakukan. Salah satunya dengan ilmu yang disebut Genogram.
Genogram adalah sebuah ilmu yang digunakan untuk memetakan sifat dan karakter keturunan. Ternyata hasil dari riset, anak itu mendapatkan turunan genetis dari orang tuanya, ayah-ibu sebesar 50%. Dari kakek dan neneknya sebesar 25%, lalu dari buyutnya sebesar 12,5%. Sisanya dipengaruhi dari lingkungan serta informasi dari media yang masuk dicernanya. Hal tersebut memperkuat pemahaman mengapa Rasulullah itu salah satu misi pentingnya adalah memperbaiki akhlaq. Serta nasab itu mendapat perhatian yang penting dalam Islam.
   Usia 0 sampai 7 tahun fokus utama yang dilakukan orang tua adalah membangun ikata yang kuat dengan anak. Dan itu yang dibutuhkan anak pada usia tersebut. Kegagalan membangun kedekatan pada usia ini, biasanya pada kasus keluarga yang kedua orang tuanya bekerja. Akan berakibat pada tahap usia selanjutnya si anak agak ‘susah diatur’. Mereka cenderung sudah mempunyai figur lekatan yang lain. Baby sitter, kakek, nenek, teman. salah satu upaya untuk membangun ikatan adalah secara praktis dilakukan dengan belaian. Itu alasan mengapa Rasulullah bertanya siapa yang suka mencium anak. Sehingga saat memasuki usia 8 – 9 tahun di waktu tahap memulai kedisiplinan, anak akan lebih cenderung untuk mudah mengalami prosesnya. Pada usia ini kelekatan anak mulai berkurang dikarenakan sudah mulai merasakan indahnya berteman. Kebersamaan anak dengan orang tua itu sebenarnya hanya butuh waktu hingga usia 15 tahun. Karena di usia ini, anak sudah baligh dan harapannya juga sudah aqil, mampu mandiri memenuhi kebutuhan sendiri. Berpikir dewasa menentukan pilihan dan mampu menghadapi konsekuensi pilihan keputusannya.
Satu lagi yang harus dipahami para orang tua. Bahwa sifat itu tidak sama dengan bakat. Bakat adalah sifat yang produktif mampu menghasilkan kemanfaatan terutama nominal uang yang berperan penting di masa depan anak. Karena setiap manusia selain sebagai hamab Allah, Abdulloh, ia juga diberi misi untuk memakmurkan bumi, khalifatullah. Upaya pemakmuran itu dilakuakan dengan peran-peran yang muncul dari bakat anak. Untuk mengetahui bakat anak ada metode yang bisa dipakai menggunakan software yang bisa diklik di www.temubakat.com.
 Jika kita menemukan kondisi anak kita yang terlanjur ‘salah asuhan’ atas kesalahan kita sebagai orang tua dalam mendidik, ada satu upaya untuk ‘instal ulang’ program anak kita. Caranya, setiap tengah malam upayakan bangun. Kita belai saat anak kita tidur dan bisikkan ke telinga kiri, doa harapan dengan menyebut nama serta bin ayah, kakek hingga buyutnya. Cara ini untuk mempengaruhi kesadaran dan tentunya doa harapan kepada Allah akan adanya perubahan sikap dan karakter. Kedua, disusul dengan perubahan sikap perlakuan orang tua dalam interaksi dengan anak. Hadirkan sentuhan kasih sayang yang itu akan mempercepat adanya perubahan sikap yang diharapkan.

Karakter adalah Medali Emas Siswa

   

         
Di hari Selasa yang cerah ini. Langit tampak membiru tak diliputi awan sedikitpun. Anak-anak bergegas berlarian kecil
menuju lapangan untuk mengikuti salah satu pelajaran favoritnya. Pelajaran Olahraga. Di sana pak Agus sudah menunggu lengkap dengan peluit dan bolanya. Hari Selasa juga menjadi hari yang ditunggu-tunggu pula oleh kami. Para guru
kelas 3 yang rutin menjadikan Selasa sebagai hari meeting pekanan. Ada 3 kelas pararel dengan setiap kelas ada 2 guru. Kami menyebutnya guru Pendamping dan guru Pembina. Guru Pendampingbertugas fokus pada pelaksanaan program akademik siswa. Sedangkan guru Pembinakhusus memantau perkembangan psikologi siswa.

            “Gimana ya caranya supaya anak-anak fokus mendengarkan di saat gurunya berbicara?” Bu Laila membuka pembicaraan. “Beberapa anak mempunyai kebiasaan ngobrol dengan temannya di saat sayamenerangkan. Meski sudah berulang kali diingatkan, sebentar berhenti kemudian ngobrol lagi.”
Pertemuan rutin Selasa adalah forum resmi yang harus dilakukan setiap level kelas untuk membahas perencanaan dan evaluasi pelaksanaan pembelajaran setiap pekannya. Sebagai Koordinator Level Kelas 3, sudah menjadi kewajibanku untuk memastikan pertemuan rutin itu terselenggara dengan baik. Namun, kami bisa mengubah forum yang harusnya resmi itu menjadi bernuansa cair. Sehingga permasalahan yang ditemukansetiap guru di kelas satu per satu menjadi pembahasan kami.
            “Anak-anakitu sepertinya butuh penanda” kataku. “Maksudnya?” sahut bu Dina. “Sayaterinspirasi dengan sebuah sekolah di Tangerang yang mengajarkan suatuaktivitas dengan prosedur Start and Finish. Sebagai contoh, untuk aktivitas makan bersama, yang disebut Start itu adalah saat anak-anak mengambil piring untuk makan. Dan yang disebut Finish itu adalah saat anak selesai mencuci piring. Tujuan dari prosedurini adalah adanya ketuntasan setiap aktivitas. Jika tidak tuntas maka hal tersebut masuk pelanggaran. Nah, kita bisa memodifikasi prosedur Start and Finish ini untuk membiasakan
sikap anak dalam forum. Kita bisa menggunakan salam pembuka forum sebagai titik Start dan salam penutup forum sebagai
titik Finish. Setelah Start anak-anak tidak diperkenankan melakukan aktivitas apapun tanpa mengajukan ijin dahulu kepada pemimpin forum. Baru setelah titik Finish anak-anak boleh melakukan aktivitas apapun tanpa seijin pemimpin forum. Jika prosedur ini tidak dilakukan dengan baik, misal ada anak yang ngobrol padahal pemimpin forum sudah mengucapkan salam, maka anak tersebut termasuk melanggar. Pemimpin forum bisa memberikan tanda menggunakan karet gelang misalnya. Dengan prosedur Start and Finish ini harapannya anak-anak akan terbiasa mendengarkan dan fokus
saat pembelajaran”, jelasku. “Bisa juga tuh dicoba” sahut bu Laila.
            Kami sering menemukan kasus permasalahan baru dari kelas setiap pekannya. Baik yang menyangkut masalah akademik, seperti kemampuan berhitung yang belum cepat, atau terkait dengan perilaku bullying anak. Kami menyimpulkan bahwa, kunci keberhasilan pembelajaran setiap siswa itu sangat ditentukan oleh perilaku dan sikapnya. Tidak jarang kami temui anak-anakyang mempunyai potensi akademik baik namun tidak didukung oleh perilaku dan
sikap yang baik berakibat langsung pada hasil akademiknya. Sikap anak yang ingin menang sendiri biasanya diikuti dengan sikap meremehkan kepada teman maupun pembelajaran. Si anak tidak menyadari bahwa materi pembelajaran yang harus dikuasai itu meningkat. Serta belajar itu membutuhkan kerjasama tidak individualis. Justru anak-anak yang tampak bersahaja namun mempunyai perilaku baik secara konsisten, kemudian menampakkan prestasi yang melonjak. Anak model seperti ini lebih mudah mendengarkan sehingga lebih cepat tersentuh dengan motivasi belajarnya.
            “Menurutku,prosedur pemilahan sampah itu terlalu rumit. Untuk membentuk kebiasaan itu, anak harus paham mengapa sampah harus dipilah. Kalau perlu tayangkan saja video yang menunjukkan parahnya sampah yang tak terkelola. Juga video tentang sampah yang setelah dipilah dan didaur ulang akan nampak indah dan bernilai. Setelah
itu adakan simulasinya. Pemantauannya, lebih bagus lagi ada Punish and Reward untuk memastikan pemilahan sampah itu suah menjadi kebiasaan dan bahkan budaya.” Komentarku terhadap penjelasan Bu Nurul terkait dengan prosedur Pemilahan Sampah yang baru saja disosialisasikan kepada para guru Pembina.
            Pendidikan yang berhasil itu saat mampu melakukan perubahan pada peserta didiknya. Baik perubahan pengetahuan, perasaan dan yang lebih penting lagi adalah perubahan perilaku menjadi lebih baik. Agar sampai pada kemantapan untuk mengubah sikapnya menjadi baik, siswa butuh motivasi yang mampu menyentuh perasaannya sehingga yakin dan bersemangat untuk berubah. Sering para guru sudah merasa kehabisan cara untuk mengubah perilaku siswa menjadi baik karena sudah berulang kali menasehati, memperingatkan, menegur bahkan menghukum. Yang lebih parah lagi si anak sudah terlanjur dicap sebagai “anak nakal” yang tidak mungkin berubah lagi menjadi lebih baik. Menjelaskan, memotivasi, menjelaskan prosedur,
melakukan simulasi, memantau, mengevaluasi, memberi penghargaan dan hukuman, adalah siklus yang harus dilakukan untuk membentuk kebiasaan hingga menjadi karakter pada siswa.
            “Kemarin Aku baru saja bertemu dengan ayahnya Aliyya, secara lengkap Aku jelaskan terkait dengan kronologi kejadian serta mengapa hal tersebut terjadi”, bu Dina membuka kasusnya. “Aliyya itu adalah anak perempuan, mendidik anak perempuan sangatlah berbeda dengan anak laki-laki. Aku melihat pak Agung itu bersikap kepada Aliyya disamakan dengan anak laki-lakinya. Perempuan butuh sentuhan dan penampilan. Tidak seperti laki-laki yang dibiarkan seadanya saja tidak masalah. Aku melihat itu yang menjadi latar belakangnya.” Penjelasan bu Dina.
            Sikap dan perilaku anak sangat dipengaruhi bagaimana orang tua memperlakukannya. Sehingga pendidikan orang tua kepada anak akan membentuk pola yang kelak bisa jadi akan diturunkan kepada generasi selanjutnya. Seorang ayah tentara akan cenderung untuk memilih disiplin sebagai pola pendidikannya. Yang itu sangat mungkin juga menjadi pola pendidikan anaknya kelak saat sudah menjadi orang tua, meski tidak menjadi tentara.
            Kerjasama antara orang tua dan sekolah dalam hal ini guru kelasnya menjadi sangat penting. Keberhasilan proses pendidikan siswa sangat menuntut komunikasi efektif antara orang tua dan guru bahkan hingga tingkat harmoni. Karena
manakala hubungan antara orang tua dan guru sudah sampai harmoni, dinding psikologi antara orang tua dan guru bisa dihilangkan. Baik guru dan orang tua tidak canggung lagi menyampaikan masalah dan masukan antar mereka.
            “Saya memang tidak memaksakan kemampuan akademiknya. Mas Kaka tidak Saya ikutkan les ini les itu. Tapi untuk belajar al-Qur’an dan sholatnya itu yang lebih penting dan selalu saya pantau.” Penjelasan bu Witri di tengah kesibukannya mengelola bus Pariwisata masih tetap menempatkan pendidikan anaknya yang paling utama. Pendidik utama itu adalah orang tua bukan sekolah. Karena Tuhan mempercayakan amanah anak itu kepada orang tua bukan sekolah. Sekolah aalah mitra orang tua dalam mendidik putra-putrinya. Sehingga sangatlah tidak tepat manakala ada orang tua yang telah merasa menginvestasikan dana cukup besar kepada sekolah kemudian menyerahkan sepenuhnya pendidikan kepada sekolah. Dan saat terjadi masalah yang menimpa kepada anaknya, sekolah dikritik dan dituntut habis-habisan telah dianggap gagal mendidik anaknya. Begitu juga sekolah, karena merasa yang mempunyai konsep dan kurikulum, orang tua ditutup
kesempatannya untuk memberikan masukan kepada sekolah. Tentunya sekolah model seperti ini lambat laun akan ditinggalkan oleh para orang tua sebagai mitra untuk mendidik putra-putrinya.
            Perhatian para guru untuk mengawal pembentukan karakter siswa adalah agenda utama yang seharusnya mendominasi pembicaraan setiap kesempatan. Guru akan terasah ketrampilannya dalam mengidentifikasi masalah dan menemukan metode yang tepat dalam kaitannya dengan usaha untuk membentuk karakter siswa. Selain sebagai guru, tentunya para guru adalah para orang tua bagi anak-anaknya. Pengalaman menanamkan karakter kepada siswa-siswanya tentu sangat bermanfaat diaplikasikan kepada anak-anaknya sendiri.
“Saya usul, bagaimana kalau pertemuan rutin ini dibuat dua kali sepekan?” usul Bu Murni guru yang baru saja bergabung di sekolah. “Saya merasa banyak ilmu dan solusi permasalahan kelas yang Saya dapatkan sebagai guru baru”. “Saya sih mau-mau saja, cuma waktunya yangsudah tidak ada Bu” jawab Saya sambil disambut tawa guru-guru lainnya.   


Muhammad Ariefuddin, guru kelas 3 

Calistung Bukan Sekedar Baca, Tulis dan Hitung

Jika kita menengok para ilmuwan mengkategorisasikan sebuah jaman, secara sederhana ada yang disebut
jaman sejarah dan jaman pra sejarah. Dua kategorisasi tersebut yang membedakan terletak pada budaya baca-tulis yang dibuktikan melalui artefak berupa tulisan. Jika bukti yang diketemukan bukan merupakan tulisan maka belum masuk masa sejarah.

Aktivitas baca-tulis tentu menjadi sebuah revolusi dalam proses komunikasi. Yang sebelumnya
komunikasi lisan atau isyarat lebih dominan digunakan antar manusia pada saat itu. Dengan baca-tulis komunikasi bisa dilakukan tidak harus ketemu, face-to-face. Sehingga berkembang aktivitas baca-tulis dari sekedar untuk komunikasi menjadi alat untuk dokumentasi. Memotret realita dan fakta yang terjadi di dalam tulisan-tulisan.
Sehingga muncullah cerita, kisah dalam bentuk karya tulis. Tidak berhenti disitu, rupanya karya-karya tulisan tersebut mampu menggerakkan pikiran orang untuk melahirkan ide baru. Sehingga sebuah tulisan seperti sebuah bola salju,
yang semakin lama berkaitan dengan tulisan lain menjadi ide baru yang lebih besar. Dan lebih dahsyat.

Tentu mengajarkan kemampuan baca-tulis harus dilandasi dengan kesadaran tersebut di atas. Sehingga mengajarkan baca-tulis kepada anak didik bukan sekedar sudah bisa membaca atau sudah bisa menulis, saja. Yang lebih penting lagi memunculkan minat dari dua aktivitas tersebut. Paling penting lagi adalah, menggunakan aktivitas membaca dan menulis itu untuk memahami ide lalu mengekspresikan ide itu menjadi ide baru yang lebih dahsyat.

Sudah pasti mengajarkan baca-tulis itu harus dipenuhi dengan suasana menyenangkan, memancing penasaran
hingga membuat ketagihan. Bukan malah penuh paksaan, membuat beban dan akhirnya menjadi sesuatu yang dibenci.

Mengajarkan membaca pada siswa kelas kecil tentu harus menyesuaikan dunianya yang kongkrit dan dengan permainan. Bukan aktivitas monoton yang membosankan. Motivasi mengapa harus bisa membaca lebih dominan dikisahkan daripada paksaan untuk segera menghabiskan buku jilid baca. Permainan mencari jejak yang menggunakan tulisan akan semakin memancing keranjingan mereka untuk bisa segera membaca.

Anak bisa membaca memang membanggakan, namun itu bukan akhir dari segalanya. Langkah berikut adalah membangun minat bacanya seperti minat makannya. Artinya jika sebentar saja tak membaca si anak akan merasakan dahaga atau lapar sehingga mencari buku untuk dilahapnya. Untuk bisa seperti itu tentu buku harus menjadi sesuatu yang menggiurkan di mata anak. Membiasakan selalu di perpustakaan, di rumah selalu melihat orang membaca buku, rekreasi ke toko atau pameran buku, memberi hadiah spesial berupa buku, ngobrol selalu tentang buku menjadikan mileu anak dominan dengan buku. Target idealnya adalah aktivitas membaca menggantikan aktivitas mendengarkan.

Menilik Kondisi minat baca bangsa Indonesia memang cukup memprihatinkan. Berdasarkan studi “Most Littered Nation In the World” yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu,
Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca. Indonesia persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61). Padahal, dari segi penilaian infrastuktur untuk mendukung membaca
peringkat Indonesia berada di atas negara-negara Eropa. Kondisi ini tentu menjai pemicu kita untuk lebih serius dalam menanamkan kemampuan membaca anak didik kita.

Langkah berikut adalah memantau bacaannya dicerna, bereaksi menjadi ide baru. Dengan bertanya ringan,
“Apa sih serunya buku yang kau baca itu nak?” menjadi pancingan seberapa besar reaksi yang terjadi di kepalanya tentang tulisan-tulisan yang baru saja dibaca. Saat anak sudah lebih suka ngobrolkan isi bacaan berarti reaksi sudah
berlangsung sesuai yang diharapkan. Terus pancing dengan pertanyaan sehingga semakin sering untuk ngomong tentang apa yang dibacanya. Manakala sudah dirasa pada titik maksimal, ajaklah anak untuk menuangkan omongannya ke dalam tulisan-tulisan. Bebas, tidak usah dibatasi dulu dengan aturan tulisan. Biarkan mengalir. Dan orisinal. Di titik ini fase masuk ke aktivitas menulis . Tujuan idealnya, menulis menggantikan aktivitas berbicara.

Yang terpenting dalam mengajarkan kemampuan menulis untuk kelas bawah bisa dimulai dengan menyalin
huruf, tulisan. Untuk melatih motorik halusnya dalam menggoreskan tulisan.

Tahap selanjutnya untukmengajarkan menulis adalah memastikan anak memiliki apa yang ditulis. Apa yang ditulis itu yang paling sering berkeliaran di benaknya. Jika si anak melihat sesuatu yang menarik perhatiannya tentu di benaknya akan ada sesuatu yang dipikirkan. Dengan meminta mengamati sebuah benda kemudian menuliskan apa yang dipikirkan merupakan pancingan awal anak untuk menuliskan apa yang dipikirnya.

Langkah selanjutnya dengan menggunakan diary. Cocok dimulai dari kelas 3. Setiap hari yang mereka alami di sekolah merupakan bahan penting untuk dituangkan dalam tulisannya. Sehingga kewajiban menghadirkan pengalaman yang menarik di setiap aktvitasnya adalah merupakan hal yang sangat penting. Diary juga bisa digunakan sebagai alat untuk menumpahkan perasaan hatinya. Perkembangan anak yang semakin mendekati pubernya tentu butuh media yang paling dipercaya untuk menumpahkan curahan-curahan hatinya. Diary menjadi media tepat untuk menajamkan kemampuan tulisnya.

Kemampuan berhitung cenderung relatif lebih cepat dikuasai dibandingkan tulis-baca. Namun begitu mengajarkan tetap wajib dengan penuh keceriaan dan memancing penasaran. Berhitung kongkrit menjadi awalan yang harus mengharuskan menggunakan alat dan benda yang kongkrit. Kepahaman konsep menjadi proritas ketuntasan. Bukan semata habisnya materi. Berhitung merupakan kemampuan yang mempunyai ciri khas adanya penjenjangan syarat yang harus tuntas dikuasai. Sehingga tidak tuntasnya satu syarat menjadikannya beban untuk menempuh tahap berikutnya. Di titik ini yang menyebabkan anak membenci pelajaran matematika. Kata kuncinya adalah ketuntasan
konsep matematika menjadi kewajiban yang tidak bisa ditawar lagi.

Melihat hasil ujian nasional kelas 6 di SDIT Alam Nurul Islam beberapa tahun terakhir bisa dianalisis. Dari 4 mata pelajaran, hasil ujian mata pelajaran PAI dan IPA relatif mendapatkan nilai yang mempunyai rerata tinggi. Analisis yang muncul, pembelajaran yang implementatif untuk PAI di kehidupan sehari-hari di sekolah seperti sholat berjama’ah, pembelajaran BTAQ, doa makan, akhlaq turut menjadi nilai yang sudah terinternalisasi sehingga dengan tes tertulis siswa mengaku belajar tidak terlalu berat. Tiga tahun terakhir siswa yang mendapatkan nilai 100 untuk PAI lebih dari 5 anak. Begitu juga untuk mata pelajaran IPA. Melalui pembelajaran tematik berbasis proyek, outing, konsep dan materi IPA ikut terinternalisasi sehingga turut mempermudah siswa dalam mengerjakan ujian akhir.

Untuk materi ujian akhir Matematika dan Bahasa Indonesia relatif masih belum cukup seberhasil mata pelajaran IPA dan PAI. Matematika dan Bahasa Indonesia adalah 2 mapel yang sangat menggantungkan siswa pada kemampuan Calistung. Dengan demikian hasil UN Matematika dan Bahasa Indonesia yang kurang bisa disimpulkan bahwa kemampuan Calistung anak memang belum tuntas.

Sebuah optimisme bahwa hasil Ujian Akhir akan gemilang dengan model pembelajaran yang menitikberatkan pada metode internalisasi nilai dan konsep tentu akan lebih mengakar pada pemahaman. Mewujudkan pembelajaran Calistung yang lebih menginternalisasi tidak semata bertujuan sukses mengerjakan soal ujian akhir semata. Lebih jauh lagi menjadi anak yang mempunyai kemampuan literasi yang mantap menjadi dasar yang kuat untuk menapak ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi apapun passion ataupun ambisi hidupnya. 

Muhammad Ariefuddin, guru kelas 3 

Tutup Tema Kelas 1 : Menjamu Teh Ayah dan Bunda

Untuk menutup kegiatan pembelajaran tema Keluargaku, setelah outing, hari ini Kamis 28 September 2017, diadakan kegiatan jamuan minum teh. Ayah dan Bunda setiap siswa diundang untuk hadir ke sekolah. Di sekolah disediakan tempat jamuan yang diseting khusus dengan nuansa klasik jawa. 
Pada kegiatan tutup tema ini, ayah-bunda akan dipandu oleh ananda, putra-putrinya kelas 1 untuk menempati meja sesuai dengan tempatnya. Sebelumnya setiap keluarga berpose foto dulu di booth foto yang sudah disediakan dengan tema klasik jawa. Setelah semua orang tua hadir, acara dimulai dengan jamuan minum teh yang disediakan oleh putra-putrinya kelas 1. 
Setelah berfoto bersama, siswa mempersilahkan para orang tua untuk duduk di tempat yang sudah disiapkan. Di sana sudah tersedia beberapa cangkir dan teko berisi teh. Setiap siswa kemudian mengilingkan air teh ke cangkir. Kemudian dipersilahkan untuk meminumkan teh ke orang tua.
Selain air teh, para siswa juga menyuapkan snack makanan roti kepada orang tua. Ini saatnya para siswa melayani para orang tua setelah selama ini mereka mendapatkan layanan semenjak kecil. Tentu bagi anak yang belum biasa menjadi canggung. Pun juga orang tua. Namun yang paling penting, munculnya rasa sensasi melayani ini menjadi sesuatu yang baru dirasakan anak.
Begitu selesai semua siswa melayani para orang tua dengan baik, para hadirin mendapatkan sedikit hikmah dari pak Fauzan, salah seorang orang tua siswa. Memaknai tentang pentingnya mendidik adab kepada anak yang membutuhkan sebuah komunitas yang diciptakan dalam kondisi baik. Setelah itu ustadz/ah memberikan hadiah kepada keluarga yang hadir paling awal, terkompak baik dari segi kostum dan kelengkapannya.
Acara ditutup dengan foto bersama seluruh keluarga untuk menunjukkan kekompakan anak dan orang tua serta satu keluarga dengan keluarga lainnya.