Merasakan Hamil dengan Beras 2 Kg

Pembelajaran dengan mengalami memberikan makna lebih kaya. Bisa jadi tanpa uraian lisan dan narasi, tapi justru perasaan yang tak terdokumentasi sangat bisa jadi muncul spontan. Sehingga guru tinggal mengajak bersama mendiskusikan makna yang terucap untuk menanamkan kesadaran yang akhirnya melahirkan perilaku hingga kebiasaan dari nilai pembelajaran yang ingin ditanamkan. Mengangkat tema pembelajaran ‘Keluargaku’, setiap siswa kelas 1 ditargetkan untuk lebih mengenal lebih dalam lagi peran setiap anggota keluarga. Mengapa harus ada yang namanya Ayah, Ibu dan Anak. Menyadari peran tersebut dalam keluarga, idealnya siswa akan dengan penuh kesadaran berperan di keluarganya masing-masing dengan memberikan peran terbaiknya. Nah, peran Ibu bisa jadi seru untuk dibahas. Ibu yang bertanggung jawab lahirnya setiap anak dan memastikan pertumbuhan dan perkembangannya dengan baik bahkan terbaik. Ketidakpahaman betapa besar pengorbanan sang Ibu bisa jadi menyumbangkan perilaku tidak hormat, taat dan patuh pada setiap Ibunya. Untuk merasakan betapa beratnya mengandung bayi, diambillah metode, setiap siswa diharuskan menggendong beras seberat 2 kilogram selama sehari penuh di sekolah.
Metode ini pernah dilakukan juga dahulu saat mengangkat tema tentang peran Ibu. Baca juga : 72 Siswa Hamil ?
Aktivitas siswa dalam sehari seperti biasa. Saat bermain, belajar di kelas, sholat, tiduran, semua dilakukan dengan posisi menggendong beras.
Tanpa banyak menjelaskan, guru akan mendapati kesan yang langsung keluar dari lisan anak-anak terkait dengan apa yang sedang mereka jalani. Ada yang tetap ceria, berulang kali repot membenarkan posisi gendongan, diam saja hingga yang menangis karena merasa terlalu berat.
Itu semua menjadi bahan guru untuk mengikat makna yang lebih dalam kepada siswa setelah proses pembelajaran. di benak mereka sudah tergambar beratnya Ibu mengandung. Dengan pemaknaan yang tepat idealnya akan mengubah sikap siswa dengan ibunya.

 

Iklan