Buka Tema : Menyimak Cerita Perjuangan dari Veteran

Bulan Oktober adalah bulan yang mempunyai nilai sejarah bagi bangsa kita, bangsa Indonesia. Tanggal 28 Oktober adalah waktu diperingatinya hari Sumpah Pemuda. Peristiwa tonggak awal kemerdekaan negara Republik Indonesia. Bersamaan dengan momen tersebut, tema pembelajaran siswa kelas 3 juga pas dengan peristiwa Sumpah Pemuda. Untuk membuka tema pembelajaran, siswa kelas 3 mengadakan kegiatan nonton film Sumpah Pemuda dan menyimak cerita perjuangan dari nara sumber.
Para siswa melihat film sejarah singkat terjadinya peristiwa Sumpah Pemuda. Diawali dari masuknya para penjajah Belanda yang sangat lama melakukan penguasaan terhadap wilayah di Indonesia. Penjajah melakukan pemecahan wilayah dan kekuasaan sehingga kekuatan untuk membebaskan diri dari penjajah tidak berarti. Baru setelah Belanda memberlakukan politik Etis dengan membangun beberapa lembaga pendidikan bagi anak-anak Indonesia serta memberi kesempatan pendidikan ke negeri Belanda, hasilnya, mereka tercerahkan dan menyadari untuk melakukan gerakan membebaskan diri dari penjajahan. Hasil didikan Belanda menghasilkan pemuda yang justru membentuk perkumpulan seperti Jong Java, Jong Celebes, Jong Sumatra, Jong Bataks dan lain-lain. Mereka berkumpul mengadakan Konggres Pemuda hingga 2 kali kesempatan yang akhirnya melahirkan Sumpah Pemuda, sebuah tekad persatuan untuk bergerak bersama membebaskan diri dari penjajahan.
Selesai menonton film, anak-anak kehadiran tamu dari Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) yaitu lembaga yang mewadahi mantan prajurit angkatan bersenjata republik Indonesia yang telah berjasa dalam perjuangan kemerdekaan maupun mempertahankan kemerdekaan RI. Beliau adalah Kapten (Purn) Suwarno. Pak Suwarno bercerita tentang sejarah kemerdekaan Republik Indonesia, mulai dari awal mula dijajah hingga mampu memproklamirkan diri sebagai negara merdeka.
Pak Suwarno sewaktu masih aktif sebagai tentara pernah menjalani penugasan ke luar Jawa. Diantaranya ke pulau kalimantan. Program yang dilaksanakan saat itu adalah ABRI masuk desa, untuk mengadakan pembangunan di wilayah-wilayah terpencil. Menyimak terlalu lama memang untuk anak terasa membosankan, sehingga acara dilanjut dengan tanya jawab.
 Begitu dibuka sesi tanya jawab, siswa-siswa langsung segera mengacungkan jari. Namun pertanyaan yang mereka sampaikan unik-unik dan tidak ada hubungannya dengan yang dibicarakan pak Suwarno tadi. Seperti, dahulu bapak pernah kena peluru belum, warna seragam bapak dulu apa, dulu TKnya dimana, polos dan lucu-lucu.
Unik lagi, di akhir acara setelah ditutup, tanpa diperintah, tanpa ada penugasan, anak-anak meminta tanda tangan pak Suwarno. Bahkan saking banyaknya yang mau minta tanda tangan mereka harus antri memanjang. Rasa nasionalisme memang harus tertanam sejak dini di era global tanpa batas antar negara ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s