SDIT Alam di Konferensi International School Grounds Alliance Ke-5 di Swedia


Bertepatan dengan perayaan Idul Adha, tanggal 12 -13 September 2016, konferensi International School Grounds Alliance atau ISGA yang ke-5 digelar di kota Lund Swedia. Konferensi tersebut dihadiri oleh delegasi lebih dari 200 peserta yang berasal dari hampir 20 negara dan 5 benua. Pada konferensi kali ini yang diangkat berkaitan dengan tema Green Grounds for Helath and Learning, Halaman Sekolah Hijau untuk Kesehatan dan Pembelajaran. Sesuai dengan nama organisasinya, ISGA berkonsentrasi pada bagaimana membuat setiap sekolah untuk mengadakan pembelajarannya di luar kelas dengan memanfaatkan halamannya. Pada kesempatan kali ini, SDIT Alam Nurul Islam kembali diundang untuk hadir di konferensi. yang berbeda, pada konferensi kali ini mendapat kehormatan sebagai Keynote Speaker untuk memberikan kuliah terkait dengan Risk taking in the learning process gives students a better chance to succeed, bagaimana melibatkan faktor resiko dalam proses pembelajaran itu penting untuk memberikan kesempatan lebih baik setiap siswa untuk berhasil dalam belajarnya.
Lokasi konferensi bertempat di Lunds Stadshall atau Cityhall-nya kota Lund. Letaknya berada tepat di tengah-tengah kota Lund berdekatan dengan Domkyrkan atau Katedral terbesar di kota Lund. Pilihan tema dan tempat di Swedia memang mempunyai alasan kuat. Swedia sudah puluhan tahun masyarakat dan didukung oleh pemerintah melalui regulasinya terbukti mempunyai kultur untuk menjaga kelestarian lingkungan yang kuat. Hampir di setiap sudut kota orang-orang menggunakan sepeda sebagai moda transportasi disamping mobil dan bus umum. Untuk angkutan umumnya, Swedia sudah mengganti bahan bakarnya dengan gas yang dihasilkan dari proses daur ulang sampah dan limbah organiknya. Lund membangun kawasan hutan kota yang luas sudah cukup lama terlihat beberapa pohon berdiameter besar memenuhi hutan kota. Energi angin lebih digunakan untuk membangkitkan energi listrik dan menutup pembangkit tenaga nuklirnya. Pendek kata, teori tentang kelestarian lingkungan yang sering dipelajarai dan menjadi slogan itu benar-benar maujud bisa dinikmati di kota Lund secara khusus maupun kota lain di Swedia.

 Di selasar gedung para peserta disuguhi dengan informasi terkait dengan program, jaringan dan perkembangan school ground di beberapa negara. Baik yang sudah mapan jaringannya sehingga semua sekolah sudah mengubah konsep pembelajarannya dengan menggunakan halaman, maupun yang baru merintis seperti informasi school ground dari wilayah Chile Amerika selatan.

 Acara dibuka dengan penampilan konser kecil dari para pelajar seni di kota Lund. Ikut membuka acara konferensi adalah Elin Gustafsson yang merupakan anggota dewan di kota Lund. Dukungan untuk kegiatan ISGA sangat kuat dikarenakan sesuai dengan visi yang dijalankan oleh kota Lund.

Hari pertama dan kedua diisi oleh presentasi para pembicara keynote speaker. Hari pertama tampil Cam Collyer (Canada) yang mengangkat topik Nature and the child : changing landscape, disusul oleh Dr. Petter Åkerblom (Swedia) yang berbicara tentang The importance of children’s public space dan Helle Nebelong (Denmark) yang membahas tentang Children’s landspaces in cityscapes. Hari kedua tampil sebagai pembicara Muhammad Ariefuddin (Indonesia) berbicara tentang Risk taking in the learning process gives students a better chance to succeed, kemudian Dr. Peter Gärdenfors (Swedia) membahas topik The role of the body and the senses in learning and understanding dilanjutkan Fredrika Mårtensson (Swedia) berbicara tentang Green play props for learnin, terakhir adalah Susan Humphries (Inggris) yang menyanmpaikan refleksi tentang Reflections on wellbeing and sense of self. Ada sesuatu menarik sewaktu Dr. Peter Gärdenfors membahas materinya, selalu merujuk apa yang disampaikan oleh Muhammad Ariefuddin di tingkat praksisnya.

 
 
Pada hari kedua konferensi, setelah menyimak presentasi dari para keynote speaker, diadakan fieldtrip di beberapa sekolah di sekitar Lund. Diantaranya adalah Nyponbacken, yaitu taman kanak-kanak yang menerapkan pembelajaran pendekatan murni natural. Siswa dibiarkan berinteraksi langsung di alam yang sudah dilengkapi dengan kelengkapan seperti struktur bangunan seperti kapal, rumah, mobil dari kayu, cara memotong kayu dengan gergaji, memaku dengan palu, memasak, berinteraksi langsung di hutan. Total aktivitas di luar ruangan, bangunan yang ada ada satu rumah kecil sebagai tempat berlindung di kala cuaca tidak mendukung. Byskolan, meski modifikasi antara in dan outdoor, tetapi pembelajarannya menekankan nilai demokrasi pada anak. Mereka sudah mampu memenuhi makanannya sendiri yang dihasilkan dari kebun yang 100% organik dan lokal, dapurnya mendapat sertifikat eco-certifikat. Sankt Hansgården, merupakan kebun sebagai pusat aktivitas para remaja yang memadukan antara kebun dan taman imajinasi. Mampu menghasilkan produk makanan sendiri yang memungkinkan siapapun untuk memberikan respek terhadap upaya pelestarian lingkungan.Vinden, taman kanak-kanak yang dilengkapi dengan arena bermain anak yang menantang baik bisa digunakan untuk anak maupun orang dewasa. Österskolan, sekolah yang terus mengembangkan diri dengan memanfaatkan halaman untuk menarik pembelajaran siswa. Norpan, meski mempunyai lahan sempit namun bisa menyajikan kejutan-kejutan yang bisa membuat anak bermain dengan riangnya. Hijau di waktu musim panas ataupun perbukitan untuk meluncur di saat musim dingin. Tåget, taman kanak-kanak yang menyajikan lahan untuk tantangan bagi setiap anak.
 
 
 
Hari ketiga diisi dengan agenda fieldtrip penuh seharian. Peserta dibagi menjadi 4 kelompok. Kelompok pertama mengunjungi tempat bermain dan belajar di daerah Lund, kelompok kedua menggunakan kereta dan bersepeda keliling Copenhagen melihat landscape play for child, kelompok ketiga menggunakan bis keliling Copenhagen melihat child landscape for play dan kelompok keempat dengan bis keliling kota Malmo melihat sekolah dan playground yang didesain sebagai tempat publik yang ramah anak. 
Di hari kedua konferensi juga diisi dengan kegiatan breakout session, yaitu sesi workshop yang bisa dipilih oleh para peserta sesuai dengan minat yang dipilihnya. Metode mengaktifkan siswa di luar kelas, mengaktifkan gerak siswa, kiat menjadi kepala sekolah yang berdaya dalam mewujudkan sekolah hijau, desain kebun yang ramah dengan serangga, seni dan imajinasi, pembelajaran sejarah yang kongkrit dan menarik adalah beberapa materi breakout session. Lokasi yang digunakan ada yang di indoor maupun outdoor menggunakan taman-taman di sekitar Lunds Stadshall.
 Di penghujung konferensi disampaikan kegiatan konferensi yang ke-6 tahun 2017 yang akan bertempat di berlin Jerman. Untuk konferensi tahun depan akan mengangkat tema terkait dengan Schoolyard Diversity.

Update :

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s