Pelepasan Siswa Kelas VI : Bermalam di ‘Hotel Bintang Ribuan’

Enam tahun sudah para siswa menjalani proses pembelajaran di tingkat dasar. Enam tahun sudah proses itu harus diakhiri. Enam tahun lalu mereka diserahkan para orang tuanya kepada sekolah, kini sudah tiba saatnya sekolah mengembalikan amanah yang sudah dipercayakan kepada para orang tua. Bak anak burung yang masih kecil mungil, selama enam tahun menjalani masa pendidikan dan pembinaan. Ilmu, pola pikir, ketrampilan dan sikap dibangun selama enam tahun. Saatnya pribadi-pribadi yang sudah tertempa itu dilepas untuk terbang menuju jenjang kehidupan selanjutnya. Prosesi Pelepasan Siswa Kelas VI SDIT Alam Nurul Islam dilaksanakan pada hari Sabtu-Ahad, 4 – 5 Juni 2016. Prosesi Pelepasan merupakan kegiatan khas untuk menandai, memastikan bahwa setiap siswa sudah mantap bekalnya dalam menapaki jenjang kehidupan selanjutnya. 

 Kegiatan Pelepasan dimulai dengan acara makan malam bersama. Siswa kelas VI sudah merasakan bahwa saat-saat perpisahan setelah kebersamaan selama 6 tahun tinggal menghitung hari lagi. Tentu mulai muncul perasaan sedih, kehilangan bercampur mengiringi perpisahan diantara mereka. Untuk merasakan kebersamaan lebih mendalam diwujudkan dalam acara makan malam bersama. Namun makan bersama ini lain daripada yang lain.

Siswa berkumpul berpasangan dan duduk berhadapan. Sambil menunggu jatah makan malam setiap pasangan diminta untuk memperhatikan wajah sahabat yang akan segera berpisah itu dengan penuh makna.

Begitu makan malam sudah siap di depan masing-masing anak. Mereka diminta untuk membuka bungkusan makan tersebut. Setelah lengkap tersaji, mereka belum diperbolehkan untuk menyantap.
 
 Setiap anak diminta untuk mengambil nasi, sayur dan lauknya. Setelah diambil dengan tangan, mereka diminta untuk saling menyuap makan kepada sahabat pasangan di depannya. Dipastikan suapannya disantap dengan baik. Tidak tumpah atau keliru masuk. Suapan diulang sebanyak lima kali. Setelah itu, bungkusan makan digeser ke arah kiri. Setiap anak diminta mengambil makan, kini suapannya diberikan kepada sahabat sebelah kirinya sebanyak tiga kali. Begitu juga untuk arah ke kanannya. Sungguh rasa kebersamaan menjadi lebih dalam terasa. Sepertinya sudah lama suapan terakhir dari bunda saat makan di usia yang belum benar terampil menyantap. Kini sahabat kita memberi suapan itu, nuansa kedekatan bunda seakan hadir dari tiap suap yang diberikan oleh si sahabat. Bukan semata rasa makanan yang dikecap oleh lidah. Rasa kedekatan dan kebersamaan mendalam muncul di hati.
 
 Selesai makan malam dan sholat ‘Isya berlanjut keberangkatan menuju lokasi Pelepasan yaitu Gumuk Pasir pantai Parangkusumo. Perjalanan tidak langsung menuju Gumuk Pasir namun berhenti dahulu di titik transit. Untuk menuju titik lokasi ditempuh menggunakan jalan kaki. 
Perjalanan malam menjadi ciri khas kegiatan Pelepasan. Sebagai simbol bahwa menjalani kehidupan ini harus ditempuh terus maju. Meski sudah lulus SD, perjalanan kehidupan terus berlanjut. Setiap siswa menapaki pematang sawah untuk menuju di titik keberangkatan. Setiap peserta tidak diperkenankan membawa alat penerang kecuali para pemandu ustadz/ah.
Di titik keberangkatan rombongan istirahat untuk menyantap snack sebagai sumber energi dalam melakukan perjalanan panjang. Sekaligus memastikan keperluan kamar mandi dituntaskan di titik keberangkatan. Kegiatan dilanjut dengan peregangan yang bertujuan untuk menghindari resiko keseleo sendi sewaktu jalan. 
Rombongan dibagi menjadi 3 kelompok besar. Setiap kelompok disertai dengan ustadz/ah dalam menyusuri perjalanan. Jalur yang dilalui merupakan hutan cemara yang sangat gelap. Dengan penerangan yang terbatas setiap kelompok menyusuri perjalanan. Meski langit tampak cerah dengan bintang gemintang, lebatnya pepohonan menyebabkan malam terlihat lebih pekat. Suara binatang malam terdengar jelas, dari kejauhan suara deburan ombak laut selatan bersahutan. Selain pekatnya malam, sepanjang perjalanan ditemui jalur basah lengket melintas. Setelah diamati rupanya jejak seekor binatang keluarga molusca. Lintah.
Lintah-lintah melintasi jalan meninggalkan jejak berupa lendir. Di kanan-kiri merupakan semak belukar yang bisa jadi merupakan sarang mereka. Perasaan geli campur takut melihat pergerakan lintah sambil membayangkan jika menempel di kulit kaki. Tentu dengan leluasa akan menyedot darah hingga kenyang karena di mulutnya yang dilengkapi zat anti beku darah.
Start jam 23.00 sampai titik akhir di Gumuk Pasir jam 12.30. Kaki-kaki sudah terasa pegal ditambah lagi mata yang sudah berat menahan kantuk. Sampai di titik finish segera setiap peserta mengambil tempat untuk istirahat. Beberapa di bawah bangunan, ada juga yang menuju tengah Gumuk Pasir langsung merebahkan diri. Beratapkan langit yang bertaburan bintang sehingga seperti menginap di Hotel Berbintang. Bintangnya ribuan.
Jam 03.00  para peserta dibangunkan untuk melaksanakan sholat Tahajud. Keterbatasan air wudhu, para peserta menggunakan air mineral yang dibawa selama perjalanan. Setiap peserta membawa air sebanyak 3000 ml memang sengaja untuk memenuhi keperluan minum dan bersuci selama perjalanan. Tahajud dilaksanakan sendiri-sendiri, suasana sunyi bertabur bintang menambah khusyuk di sepertiga malam terakhir.
Shubuh menjelang, para peserta melaksanakan sholat Shubuh dilanjutkan dzikir al Ma’tsurat. Menunggu hari terang dilanjutkan dengan pemaknaan perjalanan malam yang baru saja dilakukan. Ibarat kehidupan yang sedang dijalani, perjalanan malam tadi adalah kehidupan yang sedang ditapaki. Meski jelas jalannya terkadang mengundang kekhawatiran yang harus diputuskan setiap pilihan yang muncul. Kegelapan dalam berjalan sangat membutuhkan petunjuk dan panduan. Di kehidupan ini semua petunjuk menguatkan pilihan yang tersedia di depan kita. Bagi yang meninggalkan petunjuk, kehidupannya sering diliputi kegalauan. Lulus SD dihadapkan pada pilihan kemana harus meneruskan. Jika cita sudah mantap dipilih tentu petunjuk akan semakin memperjelas pilihan.
 Hari makin cerah, acara dilanjut dengan kegiatan bersih pantai. Budaya membuang sampah pada tempatnya masih kurang sehingga tempat wisata seperti pantai Parangtritis ini banyak diliputi sampah ulah oknum pengunjung. Peserta Pelepasan berbekal tas kresek memburu sampah liar untuk dikumpulkan dan dibuang pada tempatnya.
Langit makin terang, mentari makin meninggi. Acara terakhir adalah pesan dan kesan guru dan siswa sebelum dilepas. Seluruh peserta berkumpul di tengah Gumuk Pasir membuat forum bujur sangkar sambil menikmati birunya langit.
Ustadz Ariefuddin memberikan pesan kepada para siswa kelas VI, bahwa 6 tahun bukanlah waktu yang pendek, sebentar. Tentu akan banyak perubahan yang dialami setiap siswa semenjak masuk Sd 6 tahun yang lalu. Jika perubahan hanya fisik saja tak ada bedanya dengan Kuda Nil di kebun binatang. tentu bukan semata fisik. Harus ada perubahan pengetahuan, pola pikir dan sikap. Seperti sebuah tanaman, orang tua kalian berinvestasi dengan uang dan waktu supaya setiap siswa menjadi manusia yang berguna. Sudahkah diantara siswa yang bertanya kepada orang tua, “Sudahkah Aku sesuai yang Engkau harapkan wahai Ayah Bunda?”. Jika belum, sepulang dari kegiatan ini segera tanyakan hal tersebut kepada orang tua kalian. Lulus dari SD bukanlah segala-galanya, kalian akan masuk ke jenjang pendidikan berikutnya. Meski hanya 3 tahun jika kalian terlena maka bisa-bisa kalian akan tergelincir dari tujuan cita-cita kalian. Ingatlah selalu baik-buruk seseorang ditentukan oleh 3 hal. Kawan, Konfirmasi kepada orang yang lebih tahu dan pengalaman dan Perasaan hati untuk mengukur seberapa salah diri yang kita lakukan. Coba kita buktikan, kalau orang bisa kecanduan rokok, narkoba, pornografi itu siapa penularnya. Adakah sekolah yang mengajarkan itu semua, atau guru yang secara khusus mengajarkan itu semua. Maka tepatlah dalam memilih teman. Jika kita selalu konfirmasi, bertanya kepada orang yang lebih tahu dan pengalaman, orang tua, guru, tentu kita akan selamat dari ketergelinciran perbuatan yang melanggar. Jika kita bisa merasakan bahwa manakala kita diperlakukan buruk itu tidak enak tentu hal tersebut juga tidak enak dikenakan kepada orang lain. Tiga Juni lalu ada superstar yang meninggal, dia adalah Muhammad Ali, dia mempunyai kata-kata bagus : “Aku selalu bawa korek meski bukan perokok, saat hatiku mau berbuat dosa lalu kubakar kulitku sambil berkata : “Hai Ali beranikah kau menahan panas api ini sedangkan api neraka lebih panas dari api ini”
 Berikutnya, satu per satu siswa memberikan kesan dan pesannya selama mereka menjadi siswa di SDIT Alam Nurul Islam. Kesan mereka dengan setiap guru, fasilitas dan kegiatan selama ini. Meski ada yang hingga tak terkatakan namun para guru memahami betapa rasa terima kasih mereka yang telah dibersamai dalam perkembangan dan pertumbuhannya selama ini.
Selamat menapaki kehidupan selanjutntya anak-anakku. Semoga Allah senantiasa memberikan kekuatan untuk selalu meliputimu dengan kebaikan. Dan memberimu kekuatan untuk menyebarkan kebaikan itu menyebar di atas bumi ini. Selamat berpisah anak-anaku angkatan 12 SDIT Alam Nurul Islam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s