Outing Kelas 4 : Berkereta ke Solo Melihat Warisan Budaya Lokal

Pembelajaran yang berhasil manakala siswa mampu mendapatkan informasi dan pengalaman yang baru. Terlebih lagi dari penemuan baru itu, siswa mendapatkan inspirasi untuk melakukan perubahan cara pandang, sikap bahkan kebiasaan menjadi yang lebih baik.. Tentu pembelajaran seperti yang tersebut itu haruslah memenuhi daya tarik siswa. Memancing siswa untuk penasaran menggali dan menemukan. Pembelajaran secara langsung dan  mengalami adalah salah satu bentuk cara untuk membuat sebuah pembelajaran bisa dikatakan berhasil.
  Rabu, 4 Mei 2016, siswa kelas 4 mengadakan outing ke Solo. Transportasi yang dipilih untuk menuju Solo adalah dengan menggunakan kereta Prameks. Prambanan Ekspress. Yang memang mempunyai jurusan Jogja – Solo. Untuk berangkatnya, pagi hari jam 06.00, setiap siswa diantar orang tuanya menuju stasiun Tugu Jogja. Dengan tiket seharga Rp. 9000 tiap anak menunggu kedatangan kereta Prameks. Sambil menunggu, anak-anak diberi penugasan pengamatan terkait fenomena sosial yang terdapat di sekitar Stasiun Kereta. Pedaganag Kakilima, para pemudik mengingat sebentar lagi masuk Liburan Long Weekend, pengantar, transportasi.
 Alhmadulillah kereta datang tepat waktu. Para siswa bergegas masuk dan menempati bangku yang masih kosong. Bagi yang tidak kedapatan bangku, bisa duduk lesehan atau berdiri dengan berpegangan pada besi pegangan. Selama perjalanan, anak-anak tidak lepas dari tugas pengamatan. Baik mengamati fenomena sosial di dalam kereta selama perjalanan, maupun fenomena di sepanjang perjalanan jalur kereta dari Jogja ke Solo. Berbeda dengan kereta jarak jauh, kereta Prameks hampir selalu berhenti di beberapa stasiun kereta sepanjang jalur Jogja-Solo. Sehingga bisa diamati penampakan penumpang sesuai dengan tujuannya masing-masing.
Di Solo, anak-anak berhenti di stasiun Balapan. Dari stasiun Balapan perjalanan berlanjut ke kampung Batik Kauman. Tepatnya di sentra Batik Gunawan. Di sini anak-anak dapat mengamati berbagai macam Batik berikut bagaimana langkah pembuatannya. Tidak luput juga bisa diamati berbagai produk olahan yang berbasis bahan dari Batik. Tidak hanya pakaian saja, da cinderamata yang berbasis Batik. Seperti tas, peci dan lain-lain.
 
Secara langsung anaka-anak juga bisa menyaksikan proses pembuatan batik tulis. Bagaimana membuat pola kemudian melapisi pola tersebut dengan malam cair, kemudian pewarnaan pada batik tulis tersebut. Tentu Batik tulis ini lebih mahal dibandingkan dengan Batik cap. Ketelitian dan kesabaran diharuskan bagi Pembatik yang ingin menghasilkan Batik yang berkualitas tinggi.   
 
Selesai dari kampung Batik, perjalanan berlanjut ke Museum Radya Pustaka. Di museum ini anak-anak bisa menyaksikan koleksi warisan budaya bernilai dari kebudayaan Surakarta. Kebudayaan tersebut tentu tidak terlepas dari keberadaan Keraton Surakarta Hadiningrat dan Kasunanan Surakarta.  
  
 
Secara rapi dan terawat koleksi benda-benda disimpan. Masing-masing menunjukkan fungsi dan kapan tahun pembuatannya. Dari benda-benda warisan tersebut dapat dilihat bagaimana bentuk kebudayaan yang berkembang saat itu.
 

Selain berupa benda-benda, ada juga koleksi wayang. Sebagai benda seni, wayang mampu menggambarkan sejarah dari sudut budaya masyarakat yang berkembang dan menjadi alat pertunjukan seni saat itu.

  Setelah seluruh agenda kunjugan selesai, perjalanan pulang kembali menggunakan transportasi Kereta Prameks. Sungguh outing yang menarik, kaya dengan informasi dan pengalaman. Tentu sangat menarik temuan-temuan baru itu dikemas dalam bentuk tulisan berupa diary ataupun laporan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s