Outing Kelas 5 : Candi Sambisari, Masjid Gedhe Kauman dan Sentra Tenun Lurik Krapyak

Rupanya kelas 5 melaksanakan kegiatan outing di waktu paling ujung dan menjelang pungkasan pembelajaran di semester 1 ini sebelum masuk ke waktu ujian akhir semester di akhir November. Hari Kamis, 26 November 2015, kelas 5 melaksanakan outing untuk menajamkan pembelajaran tema Sejarah dan Benda. Sejarah yang dipelajarai di kelas 5 ini terkait dengan proses perkembangan kerajaan Hindu, Budha dan Islam. Untuk Benda terkait dengan mempelajari bahan dasar pembuat benda.
Pertama kali tujuan outing adalah candi Sambisari. Letaknya di wilayah Purwomartani Kalasan Sleman. Candi Sambisari merupakan candi Hindu dibangun pada abad ke-9 pada masa pemerintahan raja Rakai Garung pada zaman Kerajaan Mataram Kuno. 
Candi ini ditemukan pada tahun 1966 oleh seorang petani di Desa
Sambisari yang sedang mencangkul dan cangkulnya nyangkut pada sebuah batu yang ternyata bongkahan batu dari candi tersebut. Candi dipugar pada tahun 1986 oleh Dinas Purbakala. Nama desa
ini kemudian diabadikan menjadi nama candi tersebut.
Posisi Candi Sambisari terletak 6,5 meter di bawah permukaan tanah, kemungkinan besar karena tertimbun lahar dari Gunung Merapi yang meletus secara besar-besaran pada awal abad ke-11 (kemungkinan tahun 1006). Hal ini terlihat dari banyaknya batu material volkanik di sekitar candi. Butuh waktu yang sangat lama untuk menyatukan serpihan bebatuan candi. Karena memang tidak semua serpihan masih utuh. 
Dikarenakan candi Hindu banyak arca dan simbol dewa Siwa yang bertebaran di area candi. Diantararanya ditemukannya Lingga sebagai lambang Siwa atau laki-laki dan Yoni sebagai lambang istri Siwa atau perempuan. Ditemukan juga arca Ganesa dan beberapa simbol yang terdapat dalam agama Hindu.
Perjalanan berlanjut ke masjid Gedhe Kauman. Tujuannya adalah untuk mengetahui sejarah pembuatan masjid Gedhe. Masjid Gedhe ternyata dibangun pada tahun 1775 oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I setelah kurang lebih 18 tahun berdirinya keraton Jogjakata Hadiningrat. Bangunan yang sebagian besar dari kayu ini masih terlihat kokoh meski sudah berumur ratusan tahun. Ada 36 tiang di bangunan utama. Tiang utama setinggi 28 meter utuh tanpa sambungan. Udah kebayang kan gimana cara mendirikannya padahal waktu itu belum ada alat crane?
Awal mula atap masjid berupa rapak dari daun rami kering. Dikarenakan tidak awet, maka semenjak tahun 1923 atap masjid diganti dengan bahan seng. Dinding masjid dibuat dari batu bata bukan dari tanah liat namun dari batu andesit. Setiap bata dilekatkan bukan dengan semen namun campuran antara putih telur dan air nira. 
Ini adalah prasasti setelah masjid Gedhe selesai dibangun yang membutuhkan waktu selama 2 tahun. Prasasti dibuat dalam 2 versi, yaitu bahasa Arab dan bahasa Jawa. Setiap kegiatan renovasi juga menyertakan prasasti sebagai penjelas setiap aktivitas pembangunan masjid.
Di dalam masjid Gedhe suasana nampak gelap dan senyap, namun bersih dan wangi. Di depan sisi utara ada bangunan kayu yang ada tangga di tengahnya, itu adalah mimbar khotib Jum’at. Di sebelah selatan ada sebuah bangunan mirip sangkar dari kayu. Namanya maksurah, itu adalah tempat Sri Sultan sholat jika berjama’ah di masjid. Namun, sekarang Sri Sultan tidak lagi bertempat di maksurah tapi sudah bergabung dengan jama;ah lainnya.

Lokasi outing terakhir adalah di industri tenun lurik di daerah Krapyak Jogja. Lokasinya berada di sebelah timur bangunan panggung Krapyak. Di lokasi kita disambut oleh mas Yosi sebagai pengelola Kain Tenun Lurik tersebut. Kami dijelaskan terkait proses pembuatan kain tenun lurik. Bahan utama tenun adalah benang yang berasal dari kapas. Benang-benang itu pertama dipintal atau digulung dahulu sesuai dengan kebutuhan. Selanjutnya gulungan benang diberi pewarnaan untuk menyesuaikan dengan warna desain tenunan.  Setelah diwarna, digulung lagi dan siap untuk ditenun. Alat tenun yang digunakan masih tradisional. Masih mengandalkan tenaga terampil manusia. Satu meter kain tenun kurang lebih membutuhkan 3000 benang yang akan ditenun.

Yang mengagumkan adalah, kebanyakan penenun tradisional disitu sudah berusia lanjut. Namun masih mempunyai pandangan yang tajam untuk memasukkan dan mencari benang yang kusut. Dalam satu hari rata-rata bisa menyelesaikan kain tenun sepanjang 8 meter.

Beberapa anak penasaran ingin mencoba menggulung dan menenun benang. Baru beberapa detik saja sudah ada benang yang putus. Butuh ketelitian dan ketekunan yang tinggi. Pantesan saja ya harga kainnya juga mahal. Karena memang hasil senin tenun dari tangan langsung.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s