Pawai Tarhib Ramadhan 1436 H : Pangeran Diponegoro Vs Tuan Meneer

 

Dear SDIT Alamania, Ramadhan 1436 H tahun ini sudah tiba. Bulan yang lebih mulia dari seribu purnama sudah hadir di tengah-tengah kita. Hanya satu cara bijak untuk menyambutnya. Dengan bergembira bertemunya kerinduan yang sudah terasa lama tak jumpa. Bergembira untuk selalu bersama nan tak pernah berakhir dalam perpisahan. Kegembiraan itulah yang selalu dibagikan civitas SDIT Alam dalam kegiatan Pawai Tarhib Ramadhan. Setiap Tarhib setiap itu pula menampilkan satu tema dramatikal untuk mengiringi selam kegiatan pawai. Kali ini tema yang diangkat adalah Pangeran Diponegoro vs Tuan Meneer.

Pasukan Pawai Tarhib sudah disiapkan di lapangan. Setiap kelas menampilkan tema tentu dengan kostum kelengkapannya masing-masing. Acara diawali dengan tilawah Qur’an dan sambutan. Di acara pawai ini sekaligus juga dirangkai dengan momen pembukaan Lomba Pustaka 2015. Ust. Santo membuka Lomba Pustaka ditandai dengan naiknya tulisan Lomba Pustaka 2015 yang diikat dengan balon udara.

Di tengah acara ceking peserta untuk pawai, tiba-tiba datang masuk ke tengah arena seorang dengan pakaian surjan pake blangkon berkalung ban dalam bekas dengan kendaraan sepeda butut dengan atribut balon berbentuk Marsha lalu sepeda itu menarik sampah bebotolan yang kedengaran berisik sewaktu berjalan. Orang tersebut kemudian merebut perhatian peserta pawai. Ia mengenalkan diri, namanya Ki Demang Pethuk. Ck . . ck . . nama yang aneh dan pas dengan cerminan asesoris yang dipakainya. Katanya, ia kenal orang yang sangat kaya. Asalnya dari luar negeri. Belanda.

 Tiba-tiba datanglah mobil Jip Willis terbuka yang dinaiki 3 orang. Seorang dengan pakaian putih-putih berambut pirang tapi kumis n jenggotnya item. Dua yang lain berseragam tentara. Mobil itu berbendarakan 3, Merah-Putih-Ijo. Begitu datang orang yang berpakaian putih turun dan kemudian disambut penuh takzim oleh Ki Demang Pethuk. O . . . ternyata ini to orang yang dimaksud Ki Dimang. Dialah Tuan Meneer. Orang Belanda yang sangat kaya raya. Ki Demang kemudian mempersilahkan Tuan Meneer untuk menyapa masyarakat. ‘Hai para inlander, kenalkan . .. ik . . . Meneer dari Amsterdam. Si Tuan Meneer menjanjikan akan memberikan uang yang banyak bagi mereka yang membatalkan ikut pawai Tarhib. Tuan Meneer kemudian mengeluarkan uang dari dompetnya dan mendatangi peserta pawai satu per satu untuk merayunya. Tak satu pun peserta tergiur. Lalu Tuan Meneer memarahi Ki Demang, kenapa rakyat tetep mau mengadakan pawai tidak menerima rayuannya.

Di tengah usaha keras Ki Demang Pethuk dan Tuan Meneer untuk menggagalkan Pawai Tarhib Ramadhan, tiba-tiba datanglah Pangeran Diponegoro dengan kuda gagah. Tuan Diponegoro langsung bertanya kepada Ki Demang, siapakah orang berambut pirang itu? Ki Demang dengan malu-malu mengenalkan jika ia adalah tamunya yang sedang mau lihat kegiatan pawai Tarhib. Sepontan langsung diprotes oleh anak-anak, “Bohoooooong !!” Ki Demang jadi malu-malu trus Tuan Meneer juga langsung marah menanyakan sikap Ki Demang yang plin-plan. Jangan ditiru ya kawan sifat Ki Demang itu. Itu sikap yang munafik.

Pangeran Diponegoro tidak ingin Pawai Tarhib Ramadhan ini digagalkan oleh siapapun. Kemudian, dengan ketegasan ia menantang Tuan Meneer untuk angkat kaki dari arena pawai. Tapi ternyata Tuan Meneer keras kepala. Ia justru menantang balik kepada Pangeran Diponegoro. Terjadilah perang tanding antara pengikut Tuan Meneer dan pasukan Diponegoro. pengikut Tuan Meneer kalah tanding. Tinggal Tuan Meneer dan Pangeran Diponegoro. Tuan Meneer mengeluarkan senapan laras panjang dan menembak beberapa kali kepada Pangeran Diponegoro yang kesemuanya luput tak mengenai badan Pangeran sedikitpun. Lalu, Pangeran Diponegoro menghunus kerisnya dan menyerang Tuan Meneer yang tak kuasa melawan serangan Pangeran. Akhirnya Tuan Meneer kalah dan Pawai Tarhib Ramadhan tetep berjalan sesuai rencana.

Pasukan Pawai Tarhib berjalan dengan gagahnya. Sepanjang jalan mereka menebarkan senyum gembira menyambut Ramadhan. Beberapa tampak membagikan jadwal Imsakiyah kepada para penduduk yang dijumpai di sepanjang jalan. Anak-anak tetep semangat meski teriknya mentari menerpa badan. Meski Ramadhan kali ini hadir di penghujung berakhirnya tahun pelajaran 2014-2015 namum semangat gembira Ramadhan terus disebarkan menghiasi sepanjang bulan selama Ramadhan.

Ini dia videonya :

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s