Parenting School IV : Bahaya Bullying pada Perkembangan Psikis Anak

Dear SDIT Alamania, Parenting School kali ini merupakan kali yang ke-4 di tahun pelajaran 2014-2015. Di Jum’at 27 Februari 2015 kali ini, topik yang diangkat adalah terkait dengan bahaya Bullying. Bersama pemateri Pak Bayu Satriyo Wicaksono mengupas tetang aktivitas bullying paling sering dijumpai di sekolah. Meski juga tidak menutup kemungkinan bullying juga terjadi di rumah dan lingkungan sekitarnya. Yang paling awal harus dipahami adalah apa itu yang dinamakan bullying. Bullying adalah salah satu bentuk kekerasan yang dengan sengaja dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang yang merasa kuat/ berkuasa dengan tujuan menyakiti atau merugikan seseorang atau sekelompok orang yang merasa tidak berdaya, dapat berbentuk verbal, fisik dan sosial. Dari definisi tersebut tampaklah bahwa bullying bukanlah masalah yang sederhana.

Beliau sebagai terapis korban bullying memulai materi dengan memaparkan kasus nyata yang sedang beliau tangani. Ada seorang mahasiswa yang tanpa alasan yang jelas selalu marah-marah dengan membentur-benturkan kepala ke tembok. Setelah digali lebih dalam terungkap, ternyata si mahasiswa tersebut menjadi korban bullying sejak SD dengan selalu mendapatkan ejekan dan kekerasan fisik. Ada juga seorang pelajar yang selalu cemas dan takut manakala menghadapi ujian akhir. Akibatnya ia harus mengulang 2 tahun karena selalu gagal mengikuti ujian akhir. Terungkap bahwa dirinya menjadi korban bullying dengan selalu diolok-olok karena nilainya selalu jelek. Rupanya ia terpancing untuk membuktikan bahwa ia harus bisa menunjukkan nilai lebih yang berakibat selalu takut menghadapi ujian.

Ciri sebuah kenakalan termasuk dalam kategori bullying adalah manakala terjadi, pertama, adanya ketidakseimbangan power. Artinya yang merasa lebih (lebih kuat, kaya, pinter) berpotensi menjadi pelaku bullying kepada yang lebih lemah. Kedua, aktivitas itu terencana dan terselubung dengan baik. Artinya memang sudah diperhitungkan. Dan ketiga, korban mempunyai persepsi bahwa perbuatan itu akan terulang dan berlanjut. Sehingga korban semakin lama semakin takut untuk menyampaikan keluhan akibat dibully.

Untuk mengenali anak korban bullying bisa kita identifikasi sebagai berikut.

  • Tadinya ceria menjadi pendiam dan cenderung menyendiri
  • Takut diajak keluar rumah karena khawatir ketemu dengan pem-bully-nya
  • Tidak suka pergi ke sekolah dan prestasi akademisnya menurun
  • Tidak berangkat sekolah dengan alasan keluhan fisik yang setelah diperiksakan ternyata tidak ditemukan penyebab keluhan dan biasanya sakit hanya dirasakan hanya ketika akan berangkat sekolah
  • Di sekolah anak cenderung murung dan tidak mau bercengkerama dengan teman

Banyak informasi yang tersembunyi, lebih tepat disembunyikan oleh korban bullying karena rasa takutnya jika ketahuan oleh pelaku bully. Di titik inilah kesulitannya upaya penolongan korban bully, apalagi jika orang tua juga belum menyadari benar akan bahaya yang mengancam akibat perbuatan bullying.

Sedangkan selama ini penanganan kasus bullying masih ala kadarnya. Penanganan baru dilakukan jika sudah ada fenomena yang terlihat. Misal anak mogok sekolah, sering sedih. Belum pada taraf penggalian informasi. Lalu, kekerasan fisik lebih serius ditangani ketimbang kekerasan verbal maupun sosial. Padahal dampaknya bisa sangat parah kekerasan berupa verbal maupun sosial. Menghukum pembully juga bukan solusi paling baik. Pembully biasanya melakukan aksinya karena butuh pengakuan. Jika sekolah menghukum dia bisa jadi merasa ia semakin eksis untuk melakukan aksi yang lebih hebat. Jika dikeluarkan dari sekolah juga bukan akternatif penyelesaian yang baik. Karena hal itu justru malah meninggalkan contoh yang tidak baik. “Lho kan sekolah punya kuasa untuk melakukan apapun, Aku pun harusnya bisa !”

Sebagai penanganan awal kepada si korban, pertama kali lakukan intervensi secara psikologis. Bisa menggunakan terpis psikologi untuk membuka komunikasi. Karena komunikasi yang baik itu manakala meletakkan tanggung jawab komunikasi pada diri yang ngajak komunikasi. Bukan yang diajak berkomunikasi. Sehingga bisa menentukan cara yang pas supaya informasi banyak tergali. Orang tua menciptakan lingkungan yang aman, mendukung kepercayaan diri korban untuk tumbuh sehingga bisa nyaman menjalani kehidupannya. Jika tidak memungkinkan, isolasi dahulu si korban dari pengaruh lingkungan yang membuatnya tertekan akan efek pembully. Misalnya pindah kelas, pindah tempat tinggal.

Untuk penanganan pelaku, dilakukan dengan memberikan perhatian lebih kepada pelaku. Menggali pengalaman apa yang sudah dirasakan karena boleh jadi dia melakukan itu karena dahulu ia juga merupakan korban. Bangun mediasi dengan korban, menemukan dan bisa berubah sikap bahwa kelakuannya sebenarnya juga bukan murni dari sifatnya. Dengan tujuan akhir meminta maaf pada si korban.

Sedangkan upaya pencegahan supaya tidak terjadi bullying bisa dilakukan dengancara sebagai berikut.

 

  • Hindari pola asuh yang HANYA bersifat Authoritative
  • Meminimalisir akses film atau berita kekerasan baik lewat media cetak maupun elektronik, online maupun offline
  • Meningkatkan keterbukaan komunikasi dengan anak
  • Memfasilitasi pengalaman sosial yang positif
  • Menyamakan aturan-aturan di sekolah dengan di rumah
  • Orang tua dan guru menjadi model percontohan (Tidak mengejek, menyindir, melakukan hukuman fisik, bicara kasar)
  • Memberikan edukasi tentang Bullying di rumah dan disekolah (aturan jelas dsb)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s