Parenting School Ke-2 : Bahaya Kecanduan Game pada Anak dan Terapi Penyembuhannya

Dear SDITAlamania, pada kesempatan Parenting School kali ini mengangkat topik yang merupakan masalah pasti dialami oleh sebagian besar para orang tua. Yaitu, kecanduan Game. Terkhusus dalam hal ini Game Online. Hadir sebagai nara sumber dalam acara kali ini adalah Mas Bayu Satriyo Wicaksono. Beliau merupakan salah seorang fasilitator di OmahTentrem.com sebuah lembaga yang konsern terhadap problematika di bidang psikologi terutama pada usia anak dan remaja.

Menjadi event bulanan, Parenting School mengangkat topik yang hangat dan bisa segera dipahami kiat menanganinya. Termasuk kecanduan Game. Game atau istilahnya permainan merupakan sebuah aktivitas yang dilakukan dalam rangka untuk mencapai tujuan kesenangan. Menurut Freud dan Erikson Game itu adalah bentuk penyesuaian diri manusia untuk menguasai kecemasan dan konflik. Untuk melepaskan energi fisik yang berlebihan dan membebaskan perasaan-perasaan yang terpendam. Sehingga game bisa juga dijadikan sebagai media terapi kecemasan. Bahkan Piaget &VYgotsky mengatakan bahwa game itu adalah media untuk meningkatkan perkembangan kognitif anak karena dalam game ada unsur strategi dan memecahkan masalah. Dan game itu bisa juga merupakan media untuk memuaskan rasa ingin tahu anak, seperti yang dikatakan oleh Berlyne.

Jika kita renungkan perubahan terjadi di beberapa belas tahun ke belakang dibandingkan dengan masa sekarang. Dahulu media audiovisual sangatlah terbatas. Televisi baru hitam-putih yang acaranya hanya itu-itu saja. Sehingga model belajar anak sangat mudah untuk fokus dan konsentrasi. Belajar yang hanya duduk diam di kelas menyimak penuturan guru masih relevan. Namun, sekarang di masa yang media informasi sangatlah banyak dan beragam bentuk sangat memungkinkan untuk memancing ingin tahu dan selalu berpindah-pindah media. Sehingga model belajar yang hanya diharuskan untuk duduk diam menyimak bisa jadi sangat mengekang. Pembelajaran juga harus mengimbangi dengan aneka warna dan atraktif melibatkan aktivitas anak.

Apalagi pemakai jaringan internet semakin lama semakin berlipat banyaknya. Yang mana, internet sudah semakin menghunjam di sendi-sendi kehidupan. Belanja, hiburan, administrasi, birokrasi, dan pendidikan sudah semakin praktis dengan internet. Sehingga sangatlah tidak mungkin untuk membatasi dan melarang anak-anak kita untuk tidak mengakses internet. Padahal kita ketahui konten internet secara dominan yang menarik atau ‘Internet Addiction’ itu bisa dibagi dalam 3 hal : Pornografi, Social Media dan Game Online. Secara khusus untuk Game Online. Perkembangannya sungguh luar biasa. Sekarang orang di seluruh dunia bisa saling berhubungan untuk melakukan aktivitas game secara online. Bahkan tidak dibatasi bermain saja, sampe jauh menjurus ke tindakan ketemu membentuk komunitas sesuai dengan jenis fokus yang mereka gemari. Mengapa Game Online bisa menarik ? Karena di dalamnya penuh dengan visualisasi yang fantastis, dan suara yang menggelegar. Ada unsur tantangan untuk menuju ke level selanjutnya dan tidak terkecuali hadiahnya, meski bentuknya ada juga yang berupa taruhan judi. Dari data penelitian, kasus kecanduan game online di beberapa negara seperti pada data berikut, Indonesia (10,15 %), Cina (13,7 %), Korea (10,2 %) dan Amerika-Eropa (8,2%).

Ciri yang nampak dari seseorang yang sudah terjangkit candu game adalah : Berbohong atau menyembunyikan aktivitas nge-game, karena ia tidak pingin diketahui dan dimarahi dengan aktivitas game tersebut. Turunnya minat terhadap aktivitas lain, ia mulai mencari kesempatan untuk selalu melakukan game. Menarik diri dari pergaulan sosial, karena dunia yang sudah memenuhi relung hati dan fantasinya adalah game maka ia tak butuh lagi lingkunga sosial sekitarnya. Mudah marah dan ngeyel, karena ia merasa dipisahkan pada hal yang membuatnya senang. Cemas, Depresi, Turun konsentrasi. Menggunakan games sebagai pelarian masalah, di tingkat ini sudah pada candu yang akut.

Langkah untuk penyembuhan manakala anak kita sudah terjangkit pada candu game adalah sebagai berikut. Pertama, Berikan perhatian pada aktivitas Online anak : Tahu apa yang anak sukai (games, aktivitas browsingnya), Seleksi games yang diinstall, Maknai, games = kebersamaan dan Sambil install hal-hal yang positif.

Kedua, Penuhilah waktu luangnya dengan aktivitas yang bermanfaat. Biasanya game dilakukan pada saat-saat luang tidak ada kegiatan. Tapi juga anak kemudian diforsir dengan kegiatan yang padat dan ketat yang justru membuat anak lelah fisik dan psikis.

Ketiga, Jadilah role model untuk anak Anda. Artinya jika kita mengajak atau memerintahkan sesuatu, kita juga harus konsisten untuk melakukan hal tersebut. Bukannya menunjukkan sikap yang melanggar. Jika kita mengajak anak untuk tidak nonton Tv janganlah kita malah asyik nonton sendiri.

Keempat, Buat aturan yang jelas, Ini bukan punyamu, ini punya ayah/ ibu, kapan saja boleh bermain, reward and punishment dan sosialisasikan aturan. Gadget tidak langsung diberikan dan menjadi hak milik anak, tapi dipinjamkan karena hal tersebut bisa mudah untuk mengontrol.

Kelima, Orang tua juga harus menguasai dan menggunakan teknologi. Sehingga bisa memantau dengan tanpa terlalu membatasi. Misalnya kita pasangi filter dalam koneksi internet. Atau dipasang software yang bisa memantau aktivitas browsing anak-anak kita.

Kemdian alngkah berikutnya adalah, Batasi waktu bermain games, Minta anak untuk istirahat setiap 20 menit bermain, Arahkan aktivitas anak ke aktivitas yang sesuai dengan hobinya, Install games edukasi dan Cermati kondisi anak saat di sekolah (apakah bermain untuk pelampiasan nilainya yang jelek?)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s