Mukhayyam 2014 di Lereng Merapi

Dear SDIT Alamania, Mukhayyam kelas atas semester ini dilaksanakan selama 3 hari (Kamis – Sabtu, 30 Oktober – 1 November 2014) bertempat di Bumi Perkemahan Lereng Merapi Nganggring Turi Sleman. Lokasinya berjarak sekitar 11 km dari gunung Merapi. Sebelum mengikuti Mukhayyam kali ini mereka menjalani masa pelatihan selama 3 hari (baca Pra Mukhayyam Pramuka SIT SDIT Alam) sehingga dimungkinkan di kegiatan Mukhayyam sudah bisa langsung on.

Perjalanan menuju bumi perkemahan seperti biasa menggunakan ‘special transporter’ menggunakan truk yang lebih memuat banyak. Mukhayyam bukanlah piknik atau rekreasi semata, tapi ia adalah media penerapan nilai, pemahaman dan ketrampilan hidup. Kebayang kan transportasi apa yang digunakan untuk mengungsikan korban bencana alam? Apakah jetbus? Apakah Limousine? tentu transportasi berdaya muat banyak dan tangguh. Dari proses keberangkatan saja semua peserta sudah masuk pembelajaran penerapan untuk siap berempati, siap ditata, siap berpayah, berterik karena cuaca sambil berdiri sampai tujuan mukhayyam. Peserta juga belajar untuk packing bawaan. Mentang-mentang mau kemah 3 hari semua peralatan makan, make up, baju  dibawa. Cukup yang praktis-praktis saja serta cara menata juga harus paham supaya tidak membutuhkan tas yang gede banget. Dan ingat sewaktu ditata di truk gak akan sempat memilah mana barang yang mudah pecah dan mana yang nggak. Semua ditata jadi satu. Ingat kan kalo mau terbang pesawat syarat bawaan juga banyak banget ribetnya.

Sampe di lokasi setelah packing langsung sholat ‘Ashar berjama’ah. Bau tanah pertanda barusan hujan turun. Semakin membuat segar hawa di tengah musim kemarau ini. Di lokasi yang cukup tinggi membuat hawa sejuk mendominasi udaranya. Peserta kemudian siap-siap melakukan upacara pembukaan Mukhayyam. Peserta dengan seragam dinas harian Pramuka SIT segera menuju ke lapangan berbaris menghadap tiang bendera. Di lapangan sudah siap para petugas upacara dari ustadz-ustadzah.

Selesai upacara semua ketua regu langsung dikumpulkan untuk mendapat penjelasan terkait dengan pendirian tenda. Area tenda sudah dibuat kavling untuk regu putra dan putri tersendiri. Masing-masing regu mendapatkan paket tenda tinggal dan tenda dapur. Setelah mendapatkan undian kavling setiap anggota diminta segera mendirikan tenda sesuai dengan simulasi pada waktu pra Mukhayyam.

 Setelah tenda berdiri seluruh barang segera dimasukkan dan ditata. Tak lupa membuat parit dan memastikan kekokohan tenda untuk antisipasi hujan dan angin datang. Segera semua peserta mengambil air wudhu untuk sholat Maghrib berjama’ah di aula. Setelah ‘Isya akan ada materi pertama yaitu P3M, Pertolongan Pertama Pada Musibah. Setelah makan malam, siap semua peserta membuat lingkaran di aula. Ust. Mufti akan memberikan materi praktis terkait penanganan musibah. Diambil kasus patah tulang, luka terkilir, sobek dan mimisan. Materi disampaikan langsung praktek sehingga peserta memahami benar kiat pertolongan pertama pada penderita.

Setelah sesi selesai semua peserta diharuskan masuk ke tenda dan beristirahat. Tidak ada acara hura-hura malam. Karena bagian dari mukhayyam adalah disiplin untuk siap menerima perintah. Termasuk perintah untuk tidur. Setiap regu diharuskan membagi waktu untuk tetap terjaga memastikan keamanan tenda. Jam 03.00 semua peserta dibangunkan untuk sholat Tahajjud berjama’ah. Dengan usaha melawan rasa masih kantuk tetep bangun dan mengambil air wudhu untuk mengusir kantuk. Sebanyak 11 raka’at berjama’ah tahajjud bersama imam ust. Santo, dilanjutkan dengan taushiyah yang disampaikan oleh ust. Abdullah Imaduddin. Di tausyiahnya beliau mengingatkan akan betapa banyaknya nikmat Allah yang telah dianugerahkan kepada kita. Kita harus bersyukur. Dengan menghadirkan kesholihan di diri kita. Jangan sampai kita melupakan nikmat Allah semuanya. Jika Allah takdirkan malam tadi gunung Merapi meletus bisa jadi kita semua sudah binasa. Itulah Maha KuasaNya Allah yang layak atas kesyukuran kita.

Selesai sholat Shubuh langsung menuju ke lapangan. Hawa dingin masih kuat, langit belum ditinggalkan gelap. Dengan iringan lagu Bingkai Kehidupannya ShouHar peserta menghentak-hentak pemanasan. Peregangan sendi, dari kepala hingga kaki. Siap untuk jalan menjelajah lingkungan  sekitar.

Menyusuri pedesaan dan hutan yang dinominasi oleh pepohonan yang masih rindang membuat sejuk suasana. Bagi yang tinggal di perkotaan, suasana semacam ini pasti sangat jarang ditemui. Semerbak wangi bunga kopi yang baru mekar menambah sensasi bau pedesaan bercampur dengan aroma masakan pagi mbok-mbok di dapur. Suara burung dan ternak yang bersahutan layak deh untuk dikatakan damai di sini.

 Ritual memasak di pagi hari untuk membuktikan hasil pelatihan singkat Pra Mukhayyam. Menu yang jadi favorit adalah nasgor dan telur goreng. Sampe-sampe ada kelompok yang saking banyaknya bawa telur, setiap makan pasti ada telurnya.

 Makan pagi bareng hasil masakan sendiri memang seru. Suasana sejuk di lereng Merapi bebarengan di satu wadah merekatkan kebersamaan. Yang agak sulit makan jadi semangat makan.

Sesi pagi setelah selesai makan pagi hasil masakan sendiri adalah Latihan Baris Berbaris. Waktu sudah ditentukan, setelah masuk semua peserta harus siap di lapangan. Rupanya masih ada saja yang terlambat. Iqob push up menjadi makanan untuk peserta putra.

Satu per satu materi baris berbaris diajarkan oleh ust. Yunarko. Mulai dari gerakan di tempat, sikap siap, istirahat, lencang depan, kanan-kiri, setengah lengan lencang kanan-kiri, hadap kanan-kiri, balik kanan. Dan materi pindah tempat, geser langkah, jalan biasa. Sikap yang mantap akan memperlihatkan barisan yang rapi dan tertib. Tak lupa peserta diharuskan siap minum air yang banyak untuk mencegah dehidrasi di terik hawa panas.

Ust. Sarwidi siap dengan sesi Pionering atau tali temali. Peserta akan diperkenalkan terkait dengan simpul. Yang dimaksud simpul itu adalah cara buatnya mudah, punya kemanfaatan dan dilepasnya juga mudah. Mereka diharuskan menghafal simpul-simpul yang akan diaplikasikan dalam kegiatan proyek setelah Jum’atan nanti.

 Pemandangan cantik terlihat di siang hari. Saat tak ada awan menutupi di sebelah utara. Tampak gunung Merapi yang kokoh berdiri menjadi latar. Setelah jum’atan langsung menyantap makan siang dan siap-siap untuk menuju sesi berikutnya yaitu Proyek. Semua regu diminta untuk melakukan perencanaan proyek berupa pembuatan Tripod untuk regu putri dan Gapura untuk regu putra. Bahan yang digunakan adalah tongkat, tali dan pathok. Setiap perencanaan diminta sekalian nominal harganya, jumlah tenaga serta estimasi waktu penyelesaian.

Setiap regu diminta untuk presentasi kedepan terkait dengan rencana proyeknya. Disini setiap regu akan dinilai seberapa serius dan matang dalam rencananya. Karena tim penilai akan mengukur kesesuaian antara rencana dan realisasi proyek.

 

 Waktunya proyek dilaksanakan. Dengan didampingi oleh ustadz pendamping masing-masing setiap regu mewujudkan rencana proyeknya. Inilah pentingnya perencanaan, sehingga pas pelaksanaan proyek tidak dimungkinkan saling nyontek bentuk proyek.

Malam terkahir di bumi perkemahan. Acara haflah atawa pentas seni digelar. Dengan penerangan api unggun setiap regu menampilkan spontanitasnya. Dari nyanyi, drama, hingga atraksi yang cukup berbahaya ditampilkan. Meski malam gembira dengan tampilan dan sorakan tapi tetep berbatas untuk istirahat. Untuk malam ini semua peserta harus istirahat, tidur. Tengah malam akan ada acara spesial menanti.

Tepat jam 00.30 semua peserta dibangunkan dan berkumpul di lapangan. Akan ada penjelajahan malam hari. Satu regu hanya diperkenankan membawa satu senter. Dari pos pemberangkatan mereka berbekal misi yang berisi tugas termasuk menghafal potongan surat Juz 30. Mereka diharuskan mencari pos sesuai dengan rute yang sudah ditentukan. Setiap peserta diberikan pengalaman untuk melawan rasa takut akan kegelapan. Puncak ujian yaitu di pos terakhir yang berada di mulut masuk menuju kuburan. Di sini misi tiap regu adalah menemukan pesan yang ditempel di pintu masuk kuburan yang tak satupun ada lampu yang menerangi.

Seluruh rangkaian mukhayyam akhirnya berakhir juga. Upacara penutupan menjadi akhir dari kegiatan mukhayyam. Di amanatnya, ust. Ariefuddin menyampaikan apresiasinya atas keikutsertaan siswa dalam mukhayyam kali ini. Akan banyak pengalaman didapat. Sedih, bangga, lelah, lucu, bahkan ada yang sedih karena gak kebagian makan. Tapi itu semua hanya bisa didapat di mukhayyam ini. Yang menggembirakan adalah ada peserta yang biasanya selalu ijin di setiap pelaksanaan mukhayyam dengan alasan yang dibuat harus ada, tapi alhamdulillah di mukhayyam ‘panjang’ kali ini mereka hadir. Pesan untuk menceritakan pengalaman mukhayyam kepada anggota keluarga di rumah. Dan terpenting adalah tunjukkan perubahan setelah mukhayyam. Kemandirian, empati, disiplin, rajin, tertib. Semoga kita semua bisa diberi kemampuan Allah untuk selalu dalam kebaikan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s