Parenting School I : Membentuk Disiplin Anak dengan Bijak

Dear SDITAlamania, Alhamdulillah forum Parenting School SDIT Alam Nurul Islam kembali lagi digelar Jum’at, 3 Oktober 2014. Setelah beberapa saat vakum, Parenting School perdana ini mengangkat topik terkait dengan pembentukan disiplin pada anak. Hadir sebagai nara sumber adalah Bapak Arif Rahman Hakim. Seorang yang konsern bergerak di parenting, seorang yang mantan anggota dewan DIY sekaligus seorang ayah dengan orang anak.

Disiplin merupakan nilai yang sangat penting untuk dibentuk di diri anak. Apalagi negeri kita termasuk yang masyarakatnya masih kurang dalam sikap disiplin. Buktinya, bisa kita lihat dalam perilaku berkendaraan di jalan raya. Kita masih menemui atau bahkan diri kita yang menjadi pelaku kekurangdisiplin dalam berkendara. Namun menanamkan disiplin harus dengan cara atau metode yang tepat. Kesalahan dalam menanamkan kedisplinan justru malah berakibat muncul ketakutan dan trauma pada anak.

Ada tujuh kesalahan orang tua dalam mengajarkan disiplin pada anak, sehingga bukan disiplin yang didapat pada anak. Tapi malah efek negatif lain yang muncul.

Pertama, Orang tua yang Lepas Kontrol.
Kondisi anak yang sedang penuh dengan masa ingin tahu dan penuh ekplorasi menempatkan sebagian besar aktivitas anak itu diposisikan sebagai permainan. Bisa jadi dia akan melakukan hal-hal yang akan memancing kejengkelan dn kemarahan orang tua. Atau mana yang boleh dilakukan dan mana yang harus dihindari sepertinya sudah dipahami anak, namun tetap saja selalu dilanggar. Ditambah kondisi orang tua yang sudah lelah dan capek habis bekerja, menambah mudahnya faktor kemarahan itu muncul ke anak. Jangan sampai orang tua lepas kontrol dengan melakukan tindakan fisik kepada anak. Bisa jadi bukan pesan larangan yang dipahami anak tapi justru cara marah dengan fisik yang akan pahami bahkan ditiru anak. Cepatlah minta maaf mana kala orang tua lepas kontrol dan marah kepada anak.

Kedua, Melarang dengan Kalimat Negatif
Melarang dengan kalimat negatif terkadang justru seakan malah menyuruh untuk melakukan yang kita larang itu kepada anak. Misalkan ‘”Jangan teriak-teriak !” Yang ada di benak anak justru malah “Teriaklah!” Gantilah dengan kalimat yang positif, “Bicaralah pelan !”. Pernah ada diskusi terkait dengan hal ini, bukankah al Qur’an justru menggunakan kata “Laa” untuk Laa ilaha ilallah. Bukankah itu sama dengan Jangan !. Nah untuk perkecualian pada hal-hal yang sangat membahayakan baru boleh digunakan kata “Jangan !”. Mengilahkan pada bukan Allah adalah perkara yang sangat membahayakan maka Qur’an menggunakan kata “Laa”. Yang paling penting lagi adalah keharusan untuk menjelaskan kenapa anak tidak boleh melakukan larangan yang disampaikan. Karena keseringan melarang tanpa penjelasan akan membuat anak ragu dan takut untuk mencoba hal-hal yang baru.

Ketiga, Tidak Taati Aturan
Aturan yang sering dilanggar akan mengakibatkan tidak bergunanya lagi aturan itu sendiri. Begitu juga dengan orang tua yang membuat banyak aturan ke anak, tapi justru orang tua sendiri yang pertama melanggarnya. Anak akan langsung berkesimpulan bahwa melanggar itu boleh. Buatlah aturan bersama dengan anak dan berusahalah untuk selalu konsisten. Konsekuensi yang didapat bagi yang melanggar harus dikenakan dengan tegas.    

Keempat, Memberi Imbalan
Pemberian iming-iming supaya anak melakukan sesuatu yang kita inginkan bukanlah cara yang tepat. Justru hal tersebut kurang baik dalam menumbuhkan sikap sosial anak. Anak akan menjadi ‘materialis’ untuk melakukan sesuatu. Lebih bijak jika imbalan itu diganti dengan penghargaan. Hargailah setiap prestasi yang ditunjukkan anak. Misalnya mampu mandiri memakai pakaian sendiri. Berilah ungkapan yang menunjukkan penghargaan dengan ucapan terima kasih atau pelukan. Jika memang mau memberi sesuatu kepada anak, berilah anak tanpa dikaitkan karena iming-iming. Bisa jadi iming-iming yang disampaikan kepada anak saat waktunya harus diberikan kebetulan kita lupa atau ada kendala untuk memberikan, justru anak akan memahami jika kita tidak menepati janji.

Kelima, Disiplin tapi Tidak Konsisten
Tetapkan batas dan toleransi terhadap perilaku anak. Jika memang kesepakatannya tidak boleh ya tegas tidak boleh tanpa ada negosiasi. Yang tahu kondisi anak adalah kita, kapan anak itu memang dalam kondisi payah, kapan sedang berpura-pura payah. Setiap prestasi harus ada konsekuensi penghargaan, begitu juga pelanggaran ada hukuman. Tapi yang harus diingat, bahwa hukuman itu hakekatnya adalah adanya target anak tahu bahwa dia salah. Dan siap menerima konsekuensi. Bukan hukuman tanpa unsur pendidikan.

Keenam, Terlalu Banyak Harap
Jangan terlalu stress atas usaha kita untuk mendisiplinkan anak. Boleh jadi dia bertindak disiplin sesuai aturan, tapi lebih banyak melanggarnya. Kita harus pahami anak kita merupakan pribadi yang baru tumbuh sehingga banyak dinamika yang muncul. Berilah porsi kelembutan yang banyak supaya anak bisa berbuat baik. Jangan selalu menggunakan pendekatan kekerasan. Perkaya dengan bermacam emosi sehingga pribadinya menjadi mantap.

Ketujuh, Metode Disiplin yang Tidak Cocok
Setiap anak punya karakter dna sifat tertentu. Sehingga butuh cara yang tepat dalam menanamkan displin. Ada anak yang sekali disampaikan langsung jalan, tapi ada juga yang harus berulang. Pak Arif Rahman punya 8 orang anak yang masing-masingnya punya cara tersendiri dalam menanamkan displin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s