Pelepasan Kelas 6 : Around The Lake Sermo

Dear SDITAlamania, belajar itu sejatinya tanpa batas waktu dan tempat. Hanya maut dan dunia ini saja sebagai batasnya. Tapi secara administratif, belajar tingkat dasar di SDIT Alam dibatasi 6 tahun. Bagaimana asyik dan serunya. Tetep 6 tahun. Karena harus melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Untuk itulah mengapa siswa kelas 6 harus dilepas. Ibarat sudah mengalami pembelajaran di SDIT Alam selama 6 tahun. Maka dari 6 tahun yang lalu semenjak para orang tua menyerahkan putra-putrinya untuk diamanahkan ke SDIT Alam, maka kini sudah saatnya amanah itu dikembalikan kepada para orang tua sebagai pendidik utama setiap anak. Menjadi prosesi yang akan terus dipertahankan, jika acara pelepasan siswa yang lulus dari kelas 6 harus diadakan di alam terbuka. Mengapa harus? Kembali ke pemahaman awal tadi akan belajar. Belajar itu tidak semata hanya untuk dapet nilai, ijazah, status. Tapi belajar itu untuk hidup. Kehidupan. Selama proses belajar di SDIT Alam, siswa sekeras mungkin didekatkan dengan kehidupan asli. Riil. Bukan di film, gambar, cerita saja. Tapi disentuhkan langsung, kerasnya, sulitnya, sedihnya, hasilnya, gembiranya . . .

Pelepasan dilaksanakan Sabtu-Ahad, 21-22 Juni 2014. Berlokasi di wilayah Suaka Margasatwa Waduk Sermo Kulonprogo Yogyakarta. Semua peserta adalah siswa kelas 6 yang akan lulus. Ikut serta semua ustadz/ah kecuali yang berhalangan. Berangkat dari SDIT Alam jam 16.00 bersama menuju lokasi pelepasan. Ust. Abdullah Imaduddin memberikan informasi terkait teknis acara dan hal-hal apa yang harus disiapkan untuk antsipasi kemungkinan dan resiko selama acara.

Sampe di lokasi menjelang maghrib. Rombongan langsung menuju basecamp di masjid Nurul Huda. Setelah sholat maghrib berjama’ah, dilanjut dengan santap malam. Lelah selama perjalanan diobati dengan nasi bungkus yang nikmatnya luar biasa meski hanya berlauk lele goreng. Setelah ‘Isya, seluruh peserta packing barang bawaan. Selama semalaman seluruh peserta akan tracking, menyusuri rute yang telah ditentukan panitia. Sebelumnya mereka menjalani kegiatan stretching dahulu supaya otot dan persendian menjadi lentur untuk jalan panjang. Seluruh peserta dikelompokkan menjadi 8 regu. Masing-masing regu akan diberangkatkan dengan jeda waktu. Mereka diharuskan menyusuri rute dengan tanda pathok bambu dengan rafia warna merah. Satu regu hanya diperkenankan maksimal 3 senter. Untuk menyusuri rute yang gelap gulita.

Meski hujan menggerimis, tapi perjalanan tetep harus dilanjut. Air mengguyur disertai tiupan angin. Suara gesekan dedaunan pohon-pohon di tengah hutan menambah suasana mencekam. Masing-masing peserta harus bisa saling mengendalikan rasa takutnya, saling memotivasi supaya seluruh anggota bisa sampe finish. Ada saja kelompok yang tersesat. Mereka susuri rute yang balik lagi ke jalur awal. Padahal sudah jauh menembus pekatnya malam. Beberapa anggota kelompok terlihat menahan emosi sambil berucap, sabar . . sabr ini ujian kawan . . . . kemudian lanjut balik ke rute yang benar.

Yang mengejutkan, di ujung perjalanan ternyata setiap peserta harus memperbesar nyalinya. Kelenjar Adrenal akan mengucurkan hormon adrenalinnya dengan deras. Efeknya jantung berdegup kencang, bulu kuduk berdiri, sebagian bahkan tak sadar disertai dengan jeritan. Rupanya perjalanan berakhir di kuburan. Satu per satu mereka diminta untuk mencari pesan yang tersembunyi di setiap nisan makam. Taku harus dilawan karena pesan harus didapat.

Setelah berakhir di kuburan, semua regu berjalan balik ke basecamp. Masjid Nurul Huda. Jam sudah menunjuk pukul 02.00 bahkan ada yang baru sampe menjelang shubuh. Dengan mata berat karena kantuk, mereka mengambil tempat untuk istirahat. Tak begitu lama, Shubuh tiba. Smua bangun untuk berjama’ah sholat Shubuh. Dilanjutkan dzikir al Ma’tsurat dengan mata penuh kantuk, lalu ust. Ariefuddin memberikan pemaknaan atas kegiatan tadi malam. Semua kegiatan tak akan sampe tujuan tanpa adanya pemaknaan. Bisa jadi dimaknai, dipersepsi, dipahami lain oleh yang menjalaninya. Maka pemaknaan menjadi penting untuk setiap kegiatan. Apalagi penuh muatan pembelajaran. Perjalanan tadi malam adalah sama dengan perjalanan kehidupan yang akan dirasakan anak-anak setelah lepas dari SDIT Alam. Lulus SD bukan berarti selesai segalanya. Selesai belajar, selesai berbuat baik, selesai disiplin . . . Masih panjang perjalanan yang akan ditempuh. Suasana gelap gulita adalah dunia ini. Jalan di kegelapan sangat butuh penerang dan petunjuk. Tanpa keduanya, bisa jadi arah tujuan kita sedang menuju tebing curam berbahaya. Begitu juga kehidupan ini, sangat butuh penerang dan petunjuk. Hidup yang hanya ikut-ikutan saja tanpa mempertimbangkan baik-buruk, celaka-selamat, ujungnya hanya penyesalan jika sudah dalam kondisi terpuruk. Sekolah lanjutan yang akan ditempuh siswa-siswi sekalian ibarat dunia yang baru. Teman, guru, lingkungan, kebiasaan baru. Ada yang baik, juga bahkan ekstrim berbeda dengan saat di SDIT Alam. Pembelajar yang tepat manakala bisa menerapkan filosofi ikan. Meski berenang, hidup di lautan yang asin tapi tidak ikut menjadi asin. Begitu juga siswa-siswi sekalian. Harus mampu menjaga kuat karakter baik bahkan mengajak teman-teman yang belum baik. Dan perjalanan itu akan penuh dinamika . . . Life is never flat kata iklan. Masalah adalah media untuk mendewasakan kita. Dan akir dari kehidupan ini kita akan menjalani ujian akhir. Yaitu sakaratul maut. Hasilnya ada dua, husnul khatimah ataukah su’ul khatimah. Dan alam kubur sebagai tempat transit menuju alam akhirat. Bagaimanapun, menjadi apapun kita saat hidup, semua akan berahir mati. Kata rasul SAW, orang yang cerdas adalah orang yang selalu ingat akan kematian. Ia akan selalu perhitungkan baik-buruknya selama hidup.

Pagi hari, seluruh rangkaian pelepasan kelas 6 dilanjut ke pinggir waduk Sermo. Disini semua meikmati sarapan pagi dan ramah tamah. Ustadz/ah bergantian menyampaikan kesan dan pesan kepada siswa kelas 6. Ada banyak hal baik gembira, sedih, mengharukan selama 6 tahun mereka belajar di SDIT Alam.

Sarasehan rampung, di bawah aduk terlihat 2 kapal penumpang sudah mendekat. Wah tiba saatnya untuk keliling waduk bareng kapal. Cukup Rp. 5000 kalian bisa keliling waduk menikmati pemandangan. Ayo bergegas turun ke bawah di tempat pemberhentian kapal.

Pelepasan kali ini semoga cukup memberikan bekal para siswa untuk lanjut belajar di jenjang yang lebih tinggi. Apapun sekolahnya. Jangan bosan untuk menjadi orang baik. Bahkan kelak menjadi orang yang luar biasa!!

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s