Mukhayyam : Terus Tetap Asah Kekuatan

Mukhayyam di akhir semester ganjil sangat pas dengan dukungan musim hujan yang saat deras-derasnya. Lho, pas gimana. Maunya berkemah kan pingin senang-senang bisa tidur di tenda bareng temen-temen. Ngobrol asyik hingga larut malam. Nah, kalo hujan deras melanda, semua itu jadi bubar deh. Sedih dong. Itulah kesan yang sering dipahami anak-anak. Padahal mengapa harus ada kegiatan mukhayyam, justru sebenarnya jika ikut kegiatan tersebut harus siap mendatangi ketidaknyamanan. Dari mulai tidur di alam terbuka, dingin, beralas tikar, makan masak sendiri, harus sabar antri, siap disuruh, banyak tugas baik yang fisik maupun pikir, bangun malam, harus siap tampil percaya diri di pentas seni. Pokoknya seperti mendatangi penyakit deh bagi yang biasa enak-enak dimanja selalu dilayani dan dilindungi. Kita siap untuk menempa diri, menyiapkan diri untuk menghadapi kondisi paling kritis sekalipun. Kita harus selalu mengasah segala kekuatan yang kita miliki. Itulah perintah Allah SWT dalam surah Al Anfal : 60, begitu amanat ust. Ariefuddin dalam pembukaan apel Mukhayyam. Sedini mungkin kekuatan harus kita asah. Apa hasil yang akan didapat? Di jaman Rasulullah ada seorang shohabat yang sangat belia bernama Usamah bin Zaid. Di usia 18 tahun sudah dipilih Rasulullah untuk menjadi panglima perang memimpin para shohabat senior. Tentu pilihan rasul bukan tanpa pertimbangan, karena Usamah sudah mengasah kekuatannya terutama di bidang perang sejak dini. Kita juga mengenal Imam Syafi’i yang baru 14 tahun sudah berani berfatwa di Makkah, tempat dimana banyak ulama besar tinggal. Bahkan, terakhir ada seorang bocah bernama Husain Tabataba’i yang sudah hafal Qur’an hingga tafsirnya di usia 5 tahun sehingga ia digelari Doktor Honoris Causa. Tentu mereka sudah siapkan kekuatan itu sejak dinin mungkin. Jangan sampai kebiasaan ikut-ikutan selalu dilakukan. Seperti sekarang banyak trend Ngepop bahkan menghafal syair lagunya, koleksi posternya, bergaya seperti artisnya tapi giliran diminta untuk menyanyi malu, gak mau. Nah bukankah hal itu mubazir saja. Maka mulailah saat ini untuk fokus terhadap bakat dan kegemaran sehingga kekuatan itu menjadi terasah baik sedini mungkin. Begitu sekali lagi pesan pembina apel.

Di awali dengan mendirikan bivak yang berasal dari plastik terpal setiap suku memastikan kekuatannya. Memastikan ikatan tali kuat, tancapan patok dalam tak tergoyah.

Bivak sudah berdiri kokoh, saatnya mengangkut barang ke dalam bivak. Juga menikmati istirahat sambil santap makanan ringan. Tak begitu lama berselang, hujan datang mengguyur deras. Kekokohan bivak diuji. Memang sih kokoh tapi yang kurang diperhitungkan belum dibuatnya saluran air. Sehingga air bebas menggenangi bivak. Seluruh tikar hingga kasur. Beberapa tas tergenang. Yang paling parah ada satu bivak yang tak sejumputpun terlihat lapisan tanah di dalam bivak. Rupanya lokasi yang didirikan bivak itu tempat paling rendah dibanding yang lainnya. Semua peserta merelokasi barang ke kelas. Ustadz-ustadzah berkeliling melihat situasi yang mendadak itu. Namun tak satupun siswa yang panik hingga terekspresikan dalam tangisan. Mereka tetap tenang menyelamatkan setiap barang kepunyaan sukunya.

Setelah berbenah dari ujian pertama, tak terasa betapa kosongya perut. Tanpa melihat kondisi sekitar asal ada makanan langsung disantap dengan lahapnya. Tapi, jangan santai dulu, boleh jadi hujan yang tak kalah dahsyat kan datang lagi. Tapi tekad di awal sudah terpatri, kita akan bertahan apapun yang terjadi akan tetap di tenda.

Subhanallah, rupanya seluruh air tlah Allah tumpahkan di hujan siang tadi. Malam ini Allah anugrahkan untuk dinikmati bersama dalam kegiatan pentas seni yang dilengkapi api unggun. Namun, kewaspadaan tetap penuh. Boleh jadi tengah malam saat terlelap hujan datang membangunkan tidur nyenyak kita.

Pentas seni berjalan lancar. Berikut penyulutan api unggunnya. Selama nyalanya berpijar, satu per satu suku menampilkan pentas seninya di depan khalayak. Di sini kekuatan percaya diri dan spontanitas diuji. Karena, tak ada waktu persiapan untuk melatihnya. Hanya kekuatan ide dan keberanian tampil di depan. Setelah selesai, segera setiap suku diminta untuk segera mempersiapkan diri mengistirahatkan badannya. Tengah malam di tengah kumpulan penat akan tetap dibagunkan untuk berjama’ah sholat Tahajjud.

Pagi hari setelah sholat Shubuh diteruskan dzikir al-Ma’tsurat dilanjut jalan pagi keliling kampung dan jalan di wilayah sekitar SDIT Alam. Udara yang masih jernih membuat segar menghirupnya. Tempaan selama mukhayyam seharusnya terus berlanjut. Seperti besi yang ditempa dengan bara api, ia akan keras dan kokoh membaja. Seperti otot yang dilatih terus, ia akan kuat menahan dan mengangkat beban. Seperti batu bara yang meski hitam kelam saat mengalami tempaan terus akan berubah memutih cemerlang nan keras, jadilah intan batu permata nan mahal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s