Qurban adalah Pembuktian

Dalam surat al-Kautsar, Allah tlah mengingatkan kita betapa besar dan banyaknya nikmat yang diberikan kepada kita, Kautsar dari kata katsir, banyak. Tak satupun pernah Allah perintahkan atas itu semua kita diminta untuk membalasnya. Jangankan membalas, ngitungin satu-satu saja mana bisa dan sempat. Tapi Allah hanya minta kita bersyukur. Dibuktikan dengan sholat dan qurban, Anhar.

Bukankah iman tu gak cukup di hati atau lisan saja, tapi harus sampe ‘amal. Action. Bahkan ‘amal itu harus yang terbaik, ikhlas dan sesuai tauladan Rasul SAW kalo yang umum. Kalo ‘amal yang berupa ibadah, ritual harus persis sama dengan juklak dan juknis Rasul SAW.  Tambah lagi harus istiqomah, kontinyu. Syukur lagi dilakukan secara jama’i, kerja tim.

Kegiatan qurban meski pelaksanaannya persis dengan tahun lalu, tapi tidak sekedar rutinitas tahunan semata asal terlaksana. Terkadang kegiatan yang rutin bisa menggerus tujuan awal mengapa kegiatan itu dilakukan sehingga asal terlaksana saja. Qurban kali ini semua unit, KBTKIT-SDIT dan SMPIT bersatu untuk melaksanakan qurban bersama. Dari penawaran ke wali murid tiga unit terkumpul ada 25 shohibul qurban. Diwujudkan dalam 2 sapi dan 10 kambing, satu kambing dari lembaga. Siswa dari KBTKIT dan kelas 1-2 dikelompokkan tersendiri dalam kegiatan dongeng dan keliling pos kerja untuk melihat proses penanganan daging qurban. Sedangkan siswa kelas 3 SDIT hingga kelas 9 SMPIT dikelompokkan ke dalam regu kerja. Regu pencucian jeroan, pengirisan daging, pemotongan tulang, pengirisan jeroan, penimbangan dan pembungkusan serta regu distribusi. Kelompok bawah memang orientasi pengenalan untuk menarik keingintahuan, munculnya pertanyaan. Sedangkan kelompok atas memang sudah diterjunkan dengan aktivitas kerja, bekerja sama, taat prosedur dan hasil terbaik secara kualitasnya. Dari aktivitas ini sangat bisa kita amati. Ternyata beberapa anak menunjukkan perilaku masing-masing. Ada yang hanya mencukupkan kerja beberapa menit saja, yang penting sudah pegang. Ada yang harus diberi perintah berulang, pengingatan akan tugas, baru bergerak. Ada yang hanya bermain. Tapi tidak sedikit anak yang berpindah-pindah pos dengan melakukan kegiatan sesuai dengan pos tersebut. Sewaktu ditanya, “Lho, emangnya kamu masuk pos mana sih?”. “Aku anggota pos distrubusi, ust”. “Lho ngapain sekarang udah kerja, energimu kan nanti untuk keliling distrubusi paket qurban?”. “Gak papa ust, aku senang kok ngebantuin”. Bisa dilihat kan, satu perintah bisa berbagai hasil pelaksanaan. Sekali lagi ‘amal, Action adalah pembuktiannya.

  Muatan pendidikan dasar di tingkat SD dominan berupa lifeskill. Ketrampilan hidup. Dan ketrampilan hidup bisa dibentuk dengan pembiasaan. Pendidikan dasar yang miskin dengan pembiasaan akan kurang sempurna dalam pembentukan ketrampilan hidup anak. Prosesnya akan terjebak pada ranah kognisi saja yang disasar. Jadi anak banyak tahu informasi tapi sebatas hafalan. Rasa tanggun gjawab, mandiri, kritis, dialogis, sikap menghargai, motivasi tinggi, ingin tahu hampir terlewat tak sempat dibentuk.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s